Suamiku Kakak Iparku

Suamiku Kakak Iparku
Istrimu Istriku


__ADS_3

Cintia terus menangis menyaksikan sang kekasih yaitu Imran menikahi wanita lain pilihan kedua orang tua Imran


Cintia berlari keluar dari acara Imran dan berakhir ke club malam


-


Sementara dikamar Imran


Imran terus merutuki nasibnya. Rasa benci terhadap Kinan bertambah tinggi ke angkasa


-


Lain Imran lain pula dengan Kinan


Kinan terus memikirkan nasibnya


Ucapan Imran terus terngiang difikirannya


Tadi Imran jelas-jelas mengancamnya. Jika Imran akan segera menceraikannya setelah usia pernikahannya berumur 1 tahun


Kinan mengusap airmatanya yang tiba-tiba mengalir tanpa mau dibendung


"Sesak sekali ya Allah"


Kinan menghela nafas panjang "Oke, jika pernikahan keduaku akan terancam pisah. Aku bisa apa. Aku harus tegar menghadapi kemelut rumah tangga yang baru Aku bina"


Kinan beranjak keluar dari kamarnya. Ternyata Zirapun sudah keluar dari kamarnya


"Zira,"


Zira dan Kinan usianya hampir sama. Hanya saja Kinan tidak melanjutkan kuliah karena terburu menikah


Tiba-tiba dari kamar atas, Imranpun turun kemudian dengan cueknya, Imran melewati Kinan begitu saja


Zira yang tak sengaja menyaksikan ada yang aneh, Iapun berjalan mendekati Kinan "Kak, Kak Imran kenapa" Tunjuk Zira dengan dagunya


Kinan mengerjapkan matanya "Mungkin ada masalah yang harus diselesaikan"


"Masalah apanya" Zira menatap Kinan lekat "Jangan-jangan kalian ada masalah ya?" Tebak Zira sambil mengacungkan telunjuknya


Kinan menyingkirkan jemari Kinan "Apaan sih" Kinan berlalu dari hadapan Zira. Zira mengikuti


"Itu mata Kak Kinan berkaca-kaca" Zira berhenti dipojokan meja saat Kinan menuangkan air minum kedalam gelas


"Apa tidak boleh jika mataku berkaca-kaca? Kelilipan kan bisa" Ucapnya terus menghindar


"Boleh, tapi alasannya apa. Kalian kan pengantin baru. Atau jangan-jangan semalam Aku menginap dirumahnya Kak Sayra, Kalian bertengkar ya?" Tebak Zira mengikuti kemana kaki Kinan melangkah


Kinan terus menyingkirkan Zira dan masuk kekamarnya


"Loh loh loh. Kok Kakak..." Zira tidak meneruskan ucapannya seakan tau jawabannya


Zira manggut-manggut kemudian merangkul Kinan "Bilang padaku. Kak Imran ngomong apalagi ke Kakak" Sambungnya lalu mendudukkan pantatnya dikasur Kinan


Tangan Zira masih bergelayut diantara pundak dan tangan Kinan


Kinan menyingkirkan tangan Zira yang semakin lama semakin berat


"Tidak ada yang harus Aku bilang. Masalah rumah tangga itu biasa, ya? Enggak usah bilang sama Bunda. Oiya, Kamu mau ikut nggak. Aku mau ke supermarket. Sekalian mencari stand"


"Stand ??? Buat apaan"


"Ya daganglah cari kesibukan"


"Dagang donat?" Tanya Zira semangat

__ADS_1


Kinan mengangguk


"Hayukkk. Siapa takut"


-


Beberapa hari berlalu


Imran sibuk dengan pacar dan kantornya. Sedangkan Kinan sibuk dengan membernya yang semakin hari semakin bertambah


Uang dalam ATM pun membengkak meskipun Imran tidak memberinya uang


Sekarang class online milik Kinan bertambah. Semuanya berkat Tati yang setia menjadi admin grup sekaligus tangan kanan Kinan


-


Sebulan kemudian di pagi hari


Kinan dan Zira sedang sarapan. Entah ada angin apa, Imran turun dan ikut bergabung


Imran sudah duduk. Namun Zira yang sebagai adik juga tidak peka bertanya meskipun sekedar basa-basi


Akhirnya Kinan berinisiatif mengambil piring untuk Imran "Mas Imran mau sarapan??" Tanya Kinan yang sudah bergeser dari meja


Imran menatap Kinan "Iya" Jawaban datar tentunya


"Sebentar, Aku ambilkan piring"


Imran mengangguk. Setelah menjawab Kinan Imranpun menoleh pada Zira "Bagaimana kuliahmu"


"Hari ini Aku sudah mulai liburan semester. Aku ingin ikut Kak Kinan jualan. Dan besok Aku ingin pulang ke Semarang"


Imran terdiam 'Maksudnya jualan apa?' Bathinnya namun gengsi meminta penjelasan "Kamu ada uang?" Akhirnya itu yang bisa Ia tanya


"Memangnya Kakak nggak bangkrut kalau memberi uang padaku" Sindirnya karena entah kenapa perhatian Imran sungguh sangat buruk dibanting mendiang Altaaf


"Iyalah. Perhatianmu sangat buruk"


Bersamaan itu Kinan sudah kembali dihadapan mereka


Imran mengangkat ponselnya "Berapa nomer rekeningmu" Tanya Imran pada Zira


"Beneran?"


"Iya, berapa?"


Zira langsung menyodorkan ponselnya "Nih. Isi yang banyak. Biar berkah"


Imranpun tak main-main mentansfer uangnya kepada Zira "Tuh" Imran mendorong ponsel Zira kembali "Aku tuh sibuk. Jadi nggak bisa berfikir satu-persatu"


Zira tersenyum lebar. Uang yang ditransfer Imran cukup banyak "Daddy juga sibuk. Tapi tetep transferannya mengalir"


"Itu kan Daddy karena Kamu tanggung jawab Daddy"


"Kak Altaaf juga gitu waktu masih hidup-" Ucapan Zira terputus


Semuanya saling tatap dan berakhir menatap Kinan


Kinan langsung berkaca-kaca kemudian mengerjabkannya dan langsung menata hatinya


Kinan mengambilkan nasi untuk Imran, untuk pertama kalinya "Nasinya segini cukup?"


Imran mengangguk


"Maaf, lauknya hanya seperti ini. Tadi Aku membelinya hanya sedikit pilihannya" Jujur Kinan

__ADS_1


Imran kembali mengangguk


"Mas Imran maunya lauk yang mana?" Tanya Kinan kembali


Imran mengabsen lauknya yang berada dipiring-piring


"Jangan pilih-pilih terlalu lama. Kak Kinan bukan pembantu" Celetuk Zira


Imran dan Kinan spontan menatap Zira


Akhirnya "Terserah. Tapi sedikit saja" Jawab Imran


Kinanpun patuh "Ini Mas"


Mereka bertiga sarapan dalam diam. Kedua pasangan ini makan seperti ada batu yang mengganjal ditenggorokan. Susah ditelan


Sedangkan Zira makan dengan enjoy


-


Setelah sarapan usai Kinan dan Zira keluar


"Kalian naik apa?"


'Tumben tanya' Bathin Zira dan Kinan


"Ditanya kok diam" Tanya Imran lagi


"Kami mau naik mobillah, tuh" Jawab Zira menunjuk mobilnya sendiri


"Pakai mobil yang didalam. Sayang tu nggak pernah Aku pakai. Nih kontaknya" Tangan Imran mengudara


"Yang mana?" Tanya Zira sambil berjalan menuju carport


Imran mengikutinya "Pencet alarmnya"


Zira menurut "Lah, terlalu dalam. Males ah"


"Sini kontaknya. Mobilmu singkirin dulu"


"Ih, bikin lama" Gerutunya namun Zira tetap patuh


Imran sudah mengeluarkan mobilnya yang masih baru dan sedikit ada pembungkusnya


"Wah. Baru ngeh Aku kalau ada mobil baru. Warnanya cakep lagi. Tuker ya? Cakep tu warnanya" Zira malah kegirangan sampai ngiler-ngiler


"Bukan untuk Kamu pakai. Tapi Dia" Tunjuk Imran pada Kinan


Zira kegirangan kembali "Wah.. Ternyata ini hadiah untukmu, Kak" Zira langsung lemas "Sayangnya Kak Kinan belum pandai menyetir"


Imran terkejut dan baru tau "Masa??"


"Makanya ajarin dong. Sebagai suami yang baik. Kakak harus pengertian"


"Kenapa dulu tidak minta diajarin Al-" Imran tidak meneruskan ucapannya


Kinan kembali berkaca-kaca "Zira, pakai mobilmu aja. Aku memang tidak pandai menyetir. Apalagi mobil itu sudah tak berbentuk. Ayo Zira, kawan-kawan sudah menunggu" Kinan segera menarik lengan Zira kearah mobil yang biasa Zira pakai


Zirapun menurut kemudian melempar kontak yang tadi sudah berada ditangannya "Tu Kak. Kak Kinan nggak mau yang itu"


"Zira, ayo" Tarik Kinan kembali


Sepeninggal mereka berdua, Imran terdiam


Imran teringat saat dirinya debat dengan Altaaf perihal uang pelangkah "Ini mobil Kamu Taaf. Dan Aku akan kembalikan lagi padamu. Lewat Dia" Ucapan terakhirnya langsung teringat pada mata Kinan yang sering berkaca-kaca

__ADS_1


"Istrimu ternyata cengeng" Imran tersadar "Istri Altaaf, sekarang menjadi istriku? Istrimu, istriku? Repot banget"


BERSAMBUNG....


__ADS_2