
Cintia terus menangis menyaksikan sang kekasih yaitu Imran menikahi wanita lain pilihan kedua orang tua Imran
Cintia berlari keluar dari acara Imran dan berakhir ke club malam
-
Sementara dikamar Imran
Imran terus merutuki nasibnya. Rasa benci terhadap Kinan bertambah tinggi ke angkasa
-
Lain Imran lain pula dengan Kinan
Kinan terus memikirkan nasibnya
Ucapan Imran terus terngiang difikirannya
Tadi Imran jelas-jelas mengancamnya. Jika Imran akan segera menceraikannya setelah usia pernikahannya berumur 1 tahun
Kinan mengusap airmatanya yang tiba-tiba mengalir tanpa mau dibendung
"Sesak sekali ya Allah"
Kinan menghela nafas panjang "Oke, jika pernikahan keduaku akan terancam pisah. Aku bisa apa. Aku harus tegar menghadapi kemelut rumah tangga yang baru Aku bina"
Kinan beranjak keluar dari kamarnya. Ternyata Zirapun sudah keluar dari kamarnya
"Zira,"
Zira dan Kinan usianya hampir sama. Hanya saja Kinan tidak melanjutkan kuliah karena terburu menikah
Tiba-tiba dari kamar atas, Imranpun turun kemudian dengan cueknya, Imran melewati Kinan begitu saja
Zira yang tak sengaja menyaksikan ada yang aneh, Iapun berjalan mendekati Kinan "Kak, Kak Imran kenapa" Tunjuk Zira dengan dagunya
Kinan mengerjapkan matanya "Mungkin ada masalah yang harus diselesaikan"
"Masalah apanya" Zira menatap Kinan lekat "Jangan-jangan kalian ada masalah ya?" Tebak Zira sambil mengacungkan telunjuknya
Kinan menyingkirkan jemari Kinan "Apaan sih" Kinan berlalu dari hadapan Zira. Zira mengikuti
"Itu mata Kak Kinan berkaca-kaca" Zira berhenti dipojokan meja saat Kinan menuangkan air minum kedalam gelas
"Apa tidak boleh jika mataku berkaca-kaca? Kelilipan kan bisa" Ucapnya terus menghindar
"Boleh, tapi alasannya apa. Kalian kan pengantin baru. Atau jangan-jangan semalam Aku menginap dirumahnya Kak Sayra, Kalian bertengkar ya?" Tebak Zira mengikuti kemana kaki Kinan melangkah
Kinan terus menyingkirkan Zira dan masuk kekamarnya
"Loh loh loh. Kok Kakak..." Zira tidak meneruskan ucapannya seakan tau jawabannya
Zira manggut-manggut kemudian merangkul Kinan "Bilang padaku. Kak Imran ngomong apalagi ke Kakak" Sambungnya lalu mendudukkan pantatnya dikasur Kinan
Tangan Zira masih bergelayut diantara pundak dan tangan Kinan
Kinan menyingkirkan tangan Zira yang semakin lama semakin berat
"Tidak ada yang harus Aku bilang. Masalah rumah tangga itu biasa, ya? Enggak usah bilang sama Bunda. Oiya, Kamu mau ikut nggak. Aku mau ke supermarket. Sekalian mencari stand"
"Stand ??? Buat apaan"
"Ya daganglah cari kesibukan"
"Dagang donat?" Tanya Zira semangat
__ADS_1
Kinan mengangguk
"Hayukkk. Siapa takut"
-
Beberapa hari berlalu
Imran sibuk dengan pacar dan kantornya. Sedangkan Kinan sibuk dengan membernya yang semakin hari semakin bertambah
Uang dalam ATM pun membengkak meskipun Imran tidak memberinya uang
Sekarang class online milik Kinan bertambah. Semuanya berkat Tati yang setia menjadi admin grup sekaligus tangan kanan Kinan
-
Sebulan kemudian di pagi hari
Kinan dan Zira sedang sarapan. Entah ada angin apa, Imran turun dan ikut bergabung
Imran sudah duduk. Namun Zira yang sebagai adik juga tidak peka bertanya meskipun sekedar basa-basi
Akhirnya Kinan berinisiatif mengambil piring untuk Imran "Mas Imran mau sarapan??" Tanya Kinan yang sudah bergeser dari meja
Imran menatap Kinan "Iya" Jawaban datar tentunya
"Sebentar, Aku ambilkan piring"
Imran mengangguk. Setelah menjawab Kinan Imranpun menoleh pada Zira "Bagaimana kuliahmu"
"Hari ini Aku sudah mulai liburan semester. Aku ingin ikut Kak Kinan jualan. Dan besok Aku ingin pulang ke Semarang"
Imran terdiam 'Maksudnya jualan apa?' Bathinnya namun gengsi meminta penjelasan "Kamu ada uang?" Akhirnya itu yang bisa Ia tanya
"Memangnya Kakak nggak bangkrut kalau memberi uang padaku" Sindirnya karena entah kenapa perhatian Imran sungguh sangat buruk dibanting mendiang Altaaf
"Iyalah. Perhatianmu sangat buruk"
Bersamaan itu Kinan sudah kembali dihadapan mereka
Imran mengangkat ponselnya "Berapa nomer rekeningmu" Tanya Imran pada Zira
"Beneran?"
"Iya, berapa?"
Zira langsung menyodorkan ponselnya "Nih. Isi yang banyak. Biar berkah"
Imranpun tak main-main mentansfer uangnya kepada Zira "Tuh" Imran mendorong ponsel Zira kembali "Aku tuh sibuk. Jadi nggak bisa berfikir satu-persatu"
Zira tersenyum lebar. Uang yang ditransfer Imran cukup banyak "Daddy juga sibuk. Tapi tetep transferannya mengalir"
"Itu kan Daddy karena Kamu tanggung jawab Daddy"
"Kak Altaaf juga gitu waktu masih hidup-" Ucapan Zira terputus
Semuanya saling tatap dan berakhir menatap Kinan
Kinan langsung berkaca-kaca kemudian mengerjabkannya dan langsung menata hatinya
Kinan mengambilkan nasi untuk Imran, untuk pertama kalinya "Nasinya segini cukup?"
Imran mengangguk
"Maaf, lauknya hanya seperti ini. Tadi Aku membelinya hanya sedikit pilihannya" Jujur Kinan
__ADS_1
Imran kembali mengangguk
"Mas Imran maunya lauk yang mana?" Tanya Kinan kembali
Imran mengabsen lauknya yang berada dipiring-piring
"Jangan pilih-pilih terlalu lama. Kak Kinan bukan pembantu" Celetuk Zira
Imran dan Kinan spontan menatap Zira
Akhirnya "Terserah. Tapi sedikit saja" Jawab Imran
Kinanpun patuh "Ini Mas"
Mereka bertiga sarapan dalam diam. Kedua pasangan ini makan seperti ada batu yang mengganjal ditenggorokan. Susah ditelan
Sedangkan Zira makan dengan enjoy
-
Setelah sarapan usai Kinan dan Zira keluar
"Kalian naik apa?"
'Tumben tanya' Bathin Zira dan Kinan
"Ditanya kok diam" Tanya Imran lagi
"Kami mau naik mobillah, tuh" Jawab Zira menunjuk mobilnya sendiri
"Pakai mobil yang didalam. Sayang tu nggak pernah Aku pakai. Nih kontaknya" Tangan Imran mengudara
"Yang mana?" Tanya Zira sambil berjalan menuju carport
Imran mengikutinya "Pencet alarmnya"
Zira menurut "Lah, terlalu dalam. Males ah"
"Sini kontaknya. Mobilmu singkirin dulu"
"Ih, bikin lama" Gerutunya namun Zira tetap patuh
Imran sudah mengeluarkan mobilnya yang masih baru dan sedikit ada pembungkusnya
"Wah. Baru ngeh Aku kalau ada mobil baru. Warnanya cakep lagi. Tuker ya? Cakep tu warnanya" Zira malah kegirangan sampai ngiler-ngiler
"Bukan untuk Kamu pakai. Tapi Dia" Tunjuk Imran pada Kinan
Zira kegirangan kembali "Wah.. Ternyata ini hadiah untukmu, Kak" Zira langsung lemas "Sayangnya Kak Kinan belum pandai menyetir"
Imran terkejut dan baru tau "Masa??"
"Makanya ajarin dong. Sebagai suami yang baik. Kakak harus pengertian"
"Kenapa dulu tidak minta diajarin Al-" Imran tidak meneruskan ucapannya
Kinan kembali berkaca-kaca "Zira, pakai mobilmu aja. Aku memang tidak pandai menyetir. Apalagi mobil itu sudah tak berbentuk. Ayo Zira, kawan-kawan sudah menunggu" Kinan segera menarik lengan Zira kearah mobil yang biasa Zira pakai
Zirapun menurut kemudian melempar kontak yang tadi sudah berada ditangannya "Tu Kak. Kak Kinan nggak mau yang itu"
"Zira, ayo" Tarik Kinan kembali
Sepeninggal mereka berdua, Imran terdiam
Imran teringat saat dirinya debat dengan Altaaf perihal uang pelangkah "Ini mobil Kamu Taaf. Dan Aku akan kembalikan lagi padamu. Lewat Dia" Ucapan terakhirnya langsung teringat pada mata Kinan yang sering berkaca-kaca
__ADS_1
"Istrimu ternyata cengeng" Imran tersadar "Istri Altaaf, sekarang menjadi istriku? Istrimu, istriku? Repot banget"
BERSAMBUNG....