
Setelah memakan waktu yang cukup lama, jenazah Altaaf akhirnya dibawa kerumah utama milik Hanan dan almarhumah Aina ibu dari Imran, istri pertama Hanan sekaligus kakak dari Alana. Dan sekarang, rumah tersebut sudah menjadi hak milik Imran
Kinan telah siuman
Kinan membuka matanya. Dengan perlahan, Ia mengabsen seluruh ruangan yang tergolong mewah ini "Rumah siapa ini" Tanyanya bingung
Kinan buru-buru menarik tubuhnya kebelakang hingga terduduk
Seluruh orang yang berada dikamar ini sama sekali tidak ada satupun yang Kinan kenal
"Rumah tuan Imran, Non" Jawab salah satu asisten rumah tangga yang telah berkumpul mengelilingi Kinan
Kinan langsung menurunkan kakinya "Kenapa Aku bisa berada disini"
-
Acara pemakaman Altaafpun sudah berlalu
Altaaf dimakamkan disebelah kanan makam kakeknya
Imran, Arin, Zira, semuanya berkumpul menjadi satu. Seluruh cucu-cucu dokter Ilhampun semuanya berkumpul
Tak sengaja, Imran berpapasan dengan Sayra. Anak dari pamannya yaitu Papa Husayn. Kembarannya Papa Hanan, yang dulu pernah Imran taksir. Namun seluruh keluarganya menolak, karena masih saudara dekat
Imran menunduk, seakan sudah tak mau lagi mengenalnya
"Imran" Panggil Sayra saat Imran berjalan cuek didepannya
Imran menoleh "Aku segera kesana" Jawab Imran menunjuk arah depan
"Boleh Aku numpang mobilmu?" Tanya Sayra lagi
"Maaf, mobilku penuh. Kau masih mau ikut?"
"Oh.. Kalau Aku ikut, memangnya Aku mau ditaruh dimana. Aku enggak mau diiket diatas. Aku bukan barang"
Imran tersenyum mengangguk. Sayra memang pandai perihal ngebanyol agar suasana menjadi cair
"Kamu sendiri. Mana suamimu?" Kini Imran yang bertanya
"Masih diluar negeri. Makanya Aku ingin kerumahmu. Tapi karena tidak ada tempat untukku, terpaksa deh Aku ikut Daddy lagi"
-
Sebulan sudah kepergian Altaaf meninggalkan dunia yang fana ini
Sebulan juga, Kinan sudah diboyong kerumah Hanan
Jikalaupun Kinan ada yang melamar kembali, Alana bersedia menjadi orang tuanya
Kini, Keluarga ini akan kembali ke Jakarta. Selain untuk menyekar, Kinan juga ingin kembali pada kakaknya
Beruntung kakak ipar istri dari Ken, menerima Kinan dengan tangan terbuka
Setelah kepergian suaminya, Kinan berubah menjadi sosok yang pendiam. Rumah yang dulunya Ia beli secara kredit dengan mendiang suaminya, akan Ia over kredit karena Kinan takut tak mampu mengangsur kedepannya
Disisi lain, Ken juga melarangnya takut adiknya memendam kesedihan terlalu dalam didalam rumah tersebut
__ADS_1
Jika dulu rumah tersebut diatas namakan Altaaf cs Kinan. Mungkin kredit tersebut terlunaskan karena nama pokok tersebut meninggal. Dan otomatis akan menjadi hak milik Kinan
Namun, nama pokok yang tertera diatas perjanjian kredit rumah tersebut diatas namakan Kinan cs Altaaf, jadi mau tidak mau si pasangan itu harus tetap mengangsurnya
Keluarga Hanan yang tau jika maksud putranya itu baik, yaitu meratukan istrinya. Akhirnya rumah tersebut dibayarkan hingga lunas. Dan rumah tersebut dihadiahkan untuk Kinan sebagai predikat menantu yang baik
Meskipun rumah tersebut sudah dibebaskan dari hutang, karena dihadiahkan untuk Kinan. Kinan tetap tidak sanggup untuk menempatinya. Tapi sekali-kali Kinan dan Ken masuk guna membersihkannya saja
Begitupun toko donat yang dulu Kinan sewapun, semuanya sudah Ia kembalikan pada pemiliknya
-
Beberapa bulan kemudian
Setelah masa iddanya habis, Kinan kembali beraktifitas kembali
Kali ini, Ia menyewa otlet ukuran 1 kali 2 meter diarea mall yang berada dikota Bandung
1 etalase cukup untuk menaruh donat-donatnya yang cantik dan menggoda
Disini Kinan kembali berkreasi. Ia coba-coba membuat mile crepes red velvet. Cukup satu rasa saja karena untuk pertama kalinya Kinan membuatnya
Kue sultan ini sudah Kinan potong-potong berbentuk kerucut semacam pizza namun berukuran tebal dan berlayer-layer ini menjadi 8 bagian, dan sudah Kinan masukkan dalam mika yang berbentuk kerucut pula
"Mbak, ini kue apa? Lucu banget bentuknya. Kaya pizza tapi tebel ya"
"Iya, itu mile crepes, Kak. Mau coba?" Saut Kinan menjelaskan
"Boleh deh, satu itu berapa harganya Kak?"
"Oh, coba satu deh"
"Boleh" Kinanpun melayani dengan riang "Donatnya sekalian, Kak" Biasalah bahasa pedagang agar dagangannya banyak yang laku
"Donatnya satu box aja Mbak. Isi berapa tuh satu boxnya?"
"6 Kak"
"Iya deh, mau"
"Siap"
Ternyata, bertemu dengan banyak orang seperti ini, bisa mengurangi beban kesedihan yang dialami Kinan. Dan ini semua ternyata jauh lebih baik ketimbang terdiam dirumah
-
Kini, Kinan sudah memiliki kawan-kawan barunya yang berjualan disana
Ada penjual aksesoris wanita, penjual es, penjual mainan dan banyak lagi yang lainnya
Kini, selama Kinan menjadi seorang janda. Tubuh yang dulunya bisa dilihat banyak orang, sekarang sudah tertutup rapat dan berpakaian syar'i dan terkadang, Kinanpun mengenakan cadar jika keluar dan masuk dari mall
Jika Kinan dan kawan-kawannya berjalan, berkibarlah baju dan jilbabnya. Membuat wanita ini terlihat anggun meskipun semuanya tertutup
Dan ternyata, Kinan juga sudah ada yang naksir. Tentunya pria yang menginginkan wanita yang bisa menjaga martabatnya
"Neng Kinan, nggak istirahat?" Tanya pemuda tadi yang menyewa stand disini yaitu penjual sandal dan sepatu branded disana
__ADS_1
Kinan mengangkat nasinya yang sudah Ia beli sebelumnya
"Enggak sholat?"
Kinan geleng-geleng
"Oh, palang merah" Ucap sipemuda tadi dengan malu-malu
Kinan mengangguk
"Oke. Mau nitip sesuatu. Aku mau kemasjid"
"Enggak Kak. Makasih"
Pemuda tadipun manggut-manggut kemudian mengabsen isi etalase Kinan "Eh, sudah banyak yang kosong ternyata"
"Iya, sedikit lagi. Mudah-mudahan ada yang borong" Bathinnya pada ucapan terakhirnya
"Jangan pulang dulu ya, Aku mau ke masjid" Pamitnya kemudian berjalan keluar menuju masjid Agung yang biasa berada ditengah alun-alun kota tersebut
Beberapa menit berlalu
Sang pemuda tadi masuk kembali ke mall menuju stand milik Kinan "Wah, tinggal segini?"
"Iya, tadi diborong orang" Jawab Kinan
"Oh, kalau gitu semuanya Aku borong deh"
Kinan tersenyum senang "Beneran?"
"Iya"
"Alhamdulillah.. Biar cepet pulang, dan istirahat"
"Gitu dong. Jaga kesehatan ya"
Kinan berhenti dari aksinya
"Sudah??" Tanya pemuda tadi karena Kinan menatapnya
"Oh, belum" Kinan kembali meneruskan kegiatannya
Setelah membungkusnya, Kinan menyerahkan kresek berisi box tersebut kepada pemuda yang setiap hari pasti membeli dagangannya "Ini, semuanya tiga puluh ribu"
"Baiklah. Aku terima ya. Ini uangnya, dan ini rujak buah untukmu"
Kinan menolaknya "Ih.. Enggaklah buat Kakak aja. Buat karyawannya kan bisa. Aku mau pulang kok"
"Enggak papa. Aku beli banyak. Nih" Pemuda itupun mengangkat kreseknya keatas
"Ih, Kak Ali selalu begitu. Bikin Aku nggak enak. Besok lagi jangan borong daganganku. Ujung-ujungnya gini"
"Jangan menolak rejeki" Ucap Ali sambil tersenyum "Sudah ya, hati-hati dijalan. Jangan ngebut"
Kinan hanya tersenyum malu. Pemuda tadi benar-benar perhatian
BERSAMBUNG....
__ADS_1