
Setelah jalan-jalan usai Imran dan stafnya menuju ke gudang
Bagian ini memperlihatkan kardus-kardus berisi monitor yang sudah dirakit dan siap edar yang sudah dikemas dalam satu kardus
Imran terlihat manggut-manggut mendengar penjelasan dari Awan "Kita langsung kekantor Mister" Ajaknya
Merekapun berjalan keluar dari gedung satu kegedung lainnya
Setelah sampai sana, Imran disambut seluruh staf yang sedang bekerja diperkantoran tersebut
"Produk Kita banyak diminati pelanggan. Dari anak hingga dewasa semuanya mengandrungi barang tersebut"
Imran mengangguk lagi
"Mister ingin berkunjung ke outlet yang berada di mall ??" Tanyanya antusias
"Tidak perlu. Jovan selalu up to date soal itu"
Jovan mengangguk
Setelah perbincangan usai, saatnya balik ke Jakarta
-
Seperti biasa, Jovan selalu menjadi sopir sekaligus merangkap menjadi asistennya
Kinan sudah duduk dijok bagian tengah dibelakang kursi Jovan. Sedangkan Vanis sudah duduk dengan rapih dijok paling belakang
Zira yang ingin duduk berdampingan dengan Kinan, Iapun duduk dikursi bagian yang biasa Imran duduki
Imran yang paling terakhir masuk, dan kursinya ternyata sudah terisi oleh Zira "Eh, ngapain duduk disini. Duduk dibelakang"
"Kak... Please Aku ingin duduk disini" Tolaknya sambil merayu
"Nggak bisa"
"Dengan Kak Kinan, Kak"
"Nggak bisa"
"Kakak duduk depan. Atau enggak duduk belakang deh"
"Enggak. Kalau sudah bilang enggak ya enggak. Minggir" Imran tetap menjewer pelan telinga Zira "Belakang"
Zira masih terlihat kokoh dan belum ingin beranjak
Imran yang tidak mau kalah, Iapun segera mengambil kipas lipat milik Kinan, kemudian menggetoknya kekepala Zira "Minggir nggak??!"
"Aduh" Zira garuk-garuk "Sakit Kak"
"Dijewer nggak sakit. Giliran dikipasin bilang sakit. Minggir"
"Iya, iya. Dikipasin apanya. Orang digetok kok. Depan boleh??"
"Belakang!!"
"Ish. Cerewet kali punya kakak" Gerutunya membuat Zira mendapatkan tabokan lagi dari Imran "Ha-ah"
-
Didalam perjalanan, Imran tak henti-hentinya menanyakan keinginan Kinan "Ingin beli apa?" Bisiknya sambil mengusap perut Kinan
"He-em" Deheman Zira menggemah membuat Vanis tersenyum dan Jovan melirik lewat kaca spion atas
Imran hanya tersenyum dan tangannya masih tetap berada diatas perut Kinan
"Aku nggak ingin apa-apa Mas. Aku hanya pusing dan ingin istirahat" Jawab Kinan jujur
Tangan Imran beralih ke kepala Kinan "Kamu pusing?? Ingin muntah?"
Kinan memejamkan matanya lalu menggelengkan kepalanya "Mas, pijat"
Kepala Zira melongok kedepan "Gara-gara Kak Imran tu. Kak Kinan jadi pusing"
Imran menoleh kebelakang "Husss"
__ADS_1
Keduanya akan bertabrakan muka
Zira menarik badannya kebelakang dan bersedekap kesal "Dasar. Aku bilangin Bunda loh-"
"Huss" Imran kembali memberi aba-aba agar Zira diam
"Ih. Kenapa sih"
"Lebih baik Kamu diam. Istirahat, perjalanan masih jauh"
"Hem, Aku tau"
-
Sesampainya di Jakarta, Imran menginginkan untuk pulang kerumah saja. Kali ini Kinan benar-benar tertidur dan sepertinya susah dibangunkan
Setelah mobil tersebut berhenti dihalaman rumahnya, Kinan tanpa disuruh sudah membuka matanya
"Mas"
"Eh, sudah bangun?"
"Sudah"
"Masih pusing?" Tanya Imran
"Masih"
"Baiklah, mau gendong?"
Kinan tersenyum malu "Enggak. Aku bisa jalan sendiri"
"Oke, hati-hati turunnya"
Imran merangkul Kinan yang telah turun dari mobil. Kinan benar-benar terlihat limbun "Kalau tidak mampu jalan, sini Aku gendong"
"Nggak perlu Mas" Tolaknya
"Kenapa? Malu?"
Jovan dan Vanis sudah membawakan sesuatu yang telah dibelinya saat dalam perjalanan pulang tadi
"Belanjaannya Kami taruh dimeja, ya Pak ??" Izin Vanis
Setelah Vanis dan Jovan menaruh belanjaan milik Imran, Mereka berduapun berjalan menuju depan
"Eh, jangan pergi dulu. Kalian istirahatlah sebentar. Oleh-olehnya dimakan dulu" Cegah Imran
"Enggak perlu Pak. Dikantor banyak pekerjaan yang masih menunggu" Jawab Vanis jujur
"Jovan??" Tanya Imran
"Sama Pak. Bapak tidak bisa lagi kekantor kan?" Jawab Jovan sekaligus bertanya
Imran sedikit dilema "Sepertinya tidak bisa. Kepalaku juga sedikit pusing. Perutku juga tidak enak" Tiba-tiba rasa itu merasukinya
"Bapak sakit ?? / Mas sakit ?? / Kakak sakit ???" Empat orang dewasa bertanya dengan bersamaan
Imran mengabsennya kemudian berlari menuju dapur "Huweekkkk"
Kinan terbengong "Zira. Aku yang pusing. Kenapa Mas Imran yang muntah"
"Tau??"
Imran datang dengan jambul yang sedikit acak-acakkan "Bik...!! Ambilin mangkok Bik !!" Teriaknya saat keempat orang tadi menunggunya
Kinan segera berlari ke belakang diikuti oleh Zira, Vanis dan juga Jovan
"Mas ingin apa?"
"Tidak usah. Bibik sudah mengambilkan mangkoknya. Kamu duduklah"
Kinan duduk dengan wajah cemasnya "Mas tadi muntah?"
Imran mengangguk bersamaan menerima mangkok yang telah terisikan manisan mangga yang membuat Kinan ikut menelan ludah
__ADS_1
Imran meminum kuahnya yang berwarna kuning bercampur merah karena ulekan cabe "Seger" Kemudian Imran menatap Kinan "Mau?? Aku suapin??"
Kinan mau tapi malu untuk mengangguk
"Ini, ayo cobain" Imran menyuapi kuah tersebut pada Kinan "Gimana? Enak??"
"Enak Mas"
"Non dibukain sendiri ya?" Tiba-tiba Bibik memberi pertanyaan tersebut
"Bukain Bik" Ucap Imran pada akhirnya
Mereka berdua dengan nikmatnya memakan manisan tersebut, namun seakan tak rela menawarkan pada orang lain yang masih berada disana. Khususnya pada Bibik dan juga Zira
Imran keluar dengan bibir yang masih memerah "Loh. Kalian berdua masih disini?" Tunjuknya pada Jovan dan Vanis
"Ya masih Pak"
"Hem" Imran terbengong
"Kan Bapak belum kasih perintah" Ucap Vanis meminta dukungan pada Jovan
Jovan mengangguk
"Oh" Imran segera mengambil dua amplop yang biasa Ia bagikan saat memberi reward pada karyawannya diluar uang lembur "Ini untuk kalian. Saya tidak bisa kekantor lagi. Sampai berjumpa besok"
"Baik Pak. Sebisa mungkin akan Kami handle perusahaan Bapak dengan baik"
"Iya. Laporkan perkembangannya"
"Siap Pak" Jawab Vanis. Sedangkan Jovan hanya mengendikkan bahunya
Keduanya sudah keluar dan pergi meninggalkan pelataran
Imran segera naik kelantai dua dimana kamarnya berada
-
Dilihatnya, Kinan sudah tertidur diatas sofa dengan posisi duduk dan kakinya berselonjor
Imran duduk dibibir sofa tersebut. Memberi pijatan pada kakinya membuat sang pemilik membuka matanya "Enak Mas"
Imran tersenyum "Kenapa Kamu tak memintanya untuk dipijat"
Kinan tersenyum "Mas kan capek. Aku nggak berani memintanya"
"Ck. Aku suamimu. Masa Kamu masih takut gitu"
"Mas tadi muntah. Mas sakit?" Kinan mengubah topik. Kinan sedikit tak enak apalagi Imran tidak melanjutkan pekerjaannya dan malah kerja setengah hari
"Nggak tau. Tiba-tiba perutku nggak enak dan kepalaku mendadak pusing"
Tangan Kinan terangkat hingga memegang dahi Imran "Kalau Mas pusing, istirahatlah"
Imran menggeleng "Sekarang tidak. Tidur dikasur yuk. Disini sempit"
"Mas nggak mau ngapa-ngapain kan" Tanyanya membuat Imran gemas seketika
Tuk tuk
Imran menunjuk-nunjuk dahi Kinan dengan telunjuknya "Kenapa? Kamu takut? Ayo pindah"
Kinan terduduk kemudian berdiri "Enggak. Hanya saja, Mas kan lagi nggak enak badan"
"Kalau dekat sama Kamu badanku baik kok"
Kinan terdiam
Imran mencolek hidung Kinan sambil tersenyum lebar "Hei, ngapain bengong"
"Masa Mas jadi melow gitu. Kayak bukan Mas"
"Sudah ah. Pokoknya Aku ingin tidur siang" Ucapnya sambil menarik lengan Kinan
BERSAMBUNG.....
__ADS_1