
Didalam kamar Imran menatap Kinan lekat wajah imut Kinan menjadi daya tarik tersendiri buat Imran
Entah dari kapan
Imran mengelusnya hingga akhirnya Kinan membuka matanya lebar
"Mas" Tangan Kinan terangkat
Perlahan Ia memegang pipi Imran dengan lembut
Ini untuk pertama kalinya Kinan berani melakukannya
Ada rasa ragu dan tidak sopan dalam hati Kinan
Tangan Kinan berangsur menjauh, namun Imran mencegahnya "Peganglah. Sepertinya Kamu mulai ketagihan kan?"
"Ihh, nggak jadi" Tangan Kinan benar-benar terlepas
"Eih" Imran mengunci kedua tangan Kinan. Mereka begitu dekat. Hingga netra Imran berhasil mengabsen kedua bola mata Kinan
Tak disangka, apapun yang dimiliki istrinya sungguh membuatnya betah berlama-lama memandangnya
"Kinan. Halwatuzahra Saira Kinan. Nama yang indah" Tiba-tiba Imran mengabsen nama Kinan lalu memuji namanya
Kinan tersenyum malu "Benarkah?"
Imran mengangguk "He em"
"Mas baru tau??"
"Iya. Sayangnya baru tau"
Wajah Kinan tampak pias. Rasa kecewa pastilah ada
Imran mengusap wajah Kinan dengan wajahnya yang sudah membiru karena bulu-bulu yang tumbuh diwajah Imran habis dicukur
Kinan menjauhkan wajah Imran dengan tangannya
Imran meraih tangan Kinan kembali "Nggak tau. Nggak nyangka aja Kita sedekat ini dan jadi begini"
"Begini gimana?" Tanya Kinan pada akhirnya
Imran tidak langsung menjawabnya. Ia justru meraba wajah Kinan dan berakhir dibibir
Imran mengusapnya penuh damba "Hadiah tadi siang, suka nggak?" Tanya Imran berbelok dari tema
Rasa kecewa Kinan sirna saat Imran membicarakan soal hadiah mewah yang beberapa jam lalu Ia dapat
Kinan membingkai wajah Imran. Ternyata suami keduanya tak kalah tampan jika diperhatikan jarak dekat
Kinan mengangguk "Suka Mas. Makasih banyak atas hadiahnya ya, Mas" Ucapnya mulai mengusap alis Imran yang hitam dan tebal
"Hanya itu ucapannya? Kau tidak ingin membalas hadiah apapun hm"
"Mas sudah punya semuanya"
"Kamu yakin?"
"Hm" Jawab Kinan cepat
"Ada yang belum. Aku mau sesuatu dari Kamu"
"Apa itu Mas?? Jangan yang susah-susah. Jangan yang mahal juga. ATM ku nggak cukup"
Ahaha
Imran tertawa renyah "Aku tidak butuh barang. Aku butuh sesuatu yang didengar menyenangkan, dan itu uangkapan dari dalam hatimu"
"Apa itu Mas? Kubikinkan bomboloni aja ya? Itu ungkapan senangku karena hari ini Aku mendapatkan hadiah"
Imran menarik tangan Kinan "Bukan itu"
"Nastar?"
__ADS_1
"Bukan yang dimakan"
"Apa dong"
Imran mengetuk pipinya sendiri dengan jemarinya
Kinan membatu sambil lirak lirik malu
"Kenapa ekspresinya begitu. Jelek" Ejeknya bercanda
"Yang lain" Kinan bernego
"Nggak mau" Jawab Imran cepat. Kemudian Imran kembali mengetuk pipinya lagi
"Eng.. Kalau nggak mau?" Masih Kinan yang bernego
"Kau tega?" Imran justru bertanya balik
"Eng.." Kinan sedikit berfikir "Tutup matanya"
"Yakin?? Nggak bohong loh ya?"
"Enggak..."
"Oke" Imran memejamkan matanya
Perlahan Kinan mengusap wajah Imran dengan lembut. Mendekatkan wajahnya dan "Em cup" Kinan berhasil mengecup pipi Imran cepat "Sudah"
"Sudah??" Imran membuka matanya tak puas "Hanya itu?? Nggak ingin ngomong sesuatu gitu"
Bibir Kinan meruncing "Mintanya aneh-aneh. Bingung tau mas"
Imran bangun dan akan beranjak dari tempat tidur "Ya udah deh"
Kinan ikut bangun "Mas mau kemana?"
"Cari angin. Disini panas" Ucapnya mulai berdiri
Kinan melihat suaminya terlihat kecewa Iapun berinisiatif memeluk Imran dari belakang "Jangan ngambek dong, Mas" Kemudian Kinan memutari Imran, dan berjinjit "Cup. I love you" Bisiknya membuat Imran langsung melotot tak percaya
Kinan mendorong Imran malu "Ish.. Nggak ada kata ulang" Ucap Kinan cemberut menyembunyikan rasa malu
"Baiklah.. Karena tidak bisa diulang ya, Aku ingin keluar"
"Ish, Mas" Ucap Kinan sedikit tidak rela
Imran berbalik lalu memeluk Kinan "Baiklah. Karena Aku sedang gembira, Aku nggak jadi keluar. Lebih baik-" Ada jedah
"Apa Mas"
"Kita bikin anak aja"
"Hi Mas !!!! Bikin anak melulu"
"Haha... Bikin anak terus juga nggak jadi-jadi"
"Dasar mesum"
-
Pagi harinya dihari libur
Imran mengajak Kinan dan Zira untuk pergi berpiknik
Imran mengajaknya kesuatu tempat wisata mandi diair terjun yang panas
Mereka bertiga mandi ditelaga dengan air mancur yang panas
Mereka bertiga mandi dibawah air terjun itu bergantian. Jika Zira mandi, Kinan dan Imran berdiri mengantri giliran. Begitupun sebaliknya
Air mancur tersebut dibuat bukan satu, namun beberapa titik
Dan titik-titik air mancur lainnya sudah ada yang mengusai seperti mereka bertiga ini
__ADS_1
Daripada main rebutan dengan orang lain. Mereka bertiga bergantian sampai benar-benar bosan
Setelah dirasa selesai dan puas, Merekapun naik keatas guna untuk membilas diri
Kinan dan Zira selalu bareng seperti sekarang ini.
"Kita bilas disana aja Kak yang sepi" Tunjuk Zira pada kamar mandi umum dekat mushola yang berada didalam lokasi wisata tersebut
Setelah selesai, Merekapun mulai berdandan
Jilbab Kinan masih menjuntai diatas kepalanya. Sedangkan dirinya mulai bersolek didepan cermin dimana Zira juga butuh cermin tersebut
Tak sengaja, Zira memperhatikan leher Kinan dari dalam cermin
Kemudian Zira berbelok menatap leher Kinan sungguhan
Zira menyentuh sesuatu yang menempel dileher Kinan
"Kakak. Ini noda apa?"
Kinan langsung tersadar. Iapun langsung membenahi hijabnya
"Ah, bukan apa-apa?" Tolaknya menghempaskan tangan Zira
"Ah, jangan-jangan itu yang namanya kiss mark ya?" Ledeknya
"Apaan sih"
"Itu yang namanya kecupan kan? Wih, rupanya Kakakku gawat. Berarti kalian sudah sering melakukan gituan ya"
"Gituan apaan sih" Kinan mendorong tubuh Zira "Buruan. Ntar dicariin Mas Imran"
"Halah.. Nggak usah ngeles deh. Rasanya gimana sih, Kak. Dapat stempel gituan" Tanya Zira penasaran
"Hih... Nanti juga Kamu akan ngerti sendiri jika udah nikah" Balas Kinan sambil berlari menjauhi Zira
"Soal itu masih lama. Aku ingin belajar dari Kakak dulu"
"Ihhhh" Kinan mendorong Zira kesal "Nanti Aku bilangin Bunda deh. Biar dicarikan jodoh"
"Ish... Bisa ditelan Aku"
Disaat mereka berdua saling dorong, Imran datang "Kalian ngapain?!!"
Zira menatap Imran lekat
"Ngapain Kamu menatapku begitu"
Zira tidak menjawabnya. Ia justru mengabsen keduanya bergantian
"Kenapa Dia, kesambet?" Tanya Imran pada Kinan
Kinan akan menjawab. Namun Zira merusaknya "Ternyata. Selama ini, Aku nggak tau kalau drama kalian streaming. Bersambung yang tidak Aku sadari"
"Ngomong apa sih ini bocah" Tanya Imran lagi
"Hubungan kalian ternyata maju pesat. Tinggal menunggu dua garis merah"
"Ini ngomong apaan lagi" -Imran
"Hah.. Kakak jangan pura-pura. Leher kak Kinan banyak noda. Yang bikin Kak Imran"
"Hus. Anak kecil. Udah jalan"
"Cari makan ya Kak"
"Iya Kamu bayar sendiri"
"Is, Kakak"
"Yaudah deh jalan"
"Asik.. Aku ingin mie ayam bakso Kak"
__ADS_1
"Serah Kamu"
BERSAMBUNG