Suamiku Kakak Iparku

Suamiku Kakak Iparku
Made In Kantor


__ADS_3

Imran mengusap punggung Kinan yang super lembut seperti kulit bayi. Baru pertama kalinya Imran melihat punggung istrinya diwaktu siang


'Ternyata Istriku mempunyai kulit sempurna' Bathinnya


"Mas!! Buruan!!" Rengeknya dengan paksa


"Iya, Kinan"


Dengan susah payah, Imran mulai mengerok punggung Kinan dengan perlahan. Rasanya tak tega, lalu berhenti


"Mas!!" Desaknya membuat Imran tersadar


"Iya sayang. Begini saja. Istilah kedokteran, namanya kerokan itu nggak ***-"


Kinan langsung berdiri. Telinganya seakan menolak dengan wejangan dengan alasan apapun. Dengan wajah kesal, Ia menghadap kearah Imran


Imran mendongak. Mengabsennya, dari wajah Kinan, lalu turun ketangan. Imran fokus pada tangan Kinan yang masih menutup dadanya dengan BH yang sudah terlepas pengaitnya


"Apa Mas liat-liat !! Nggak ada mesum. Aku nggak enak badan" Bentaknya membuat Imran mengangah tambah gemas


"Ya nggak pa-palah. Aku baru pertama kali lihat aslinya. Ternyata menggoda" Godanya sambil tersenyum tampan


"Ih. Ngelindur" Kinan berbalik dan memberikan punggungnya lagi kearah Imran "Kerok!!"


"Hei, jangan galak gitu"


"Orang Mas kok yang bikin Aku galak" Nadanya masih tinggi


"Salah lagi. Perasaan Aku dibentak mulu sejak tadi"


"Meskipun benar ??!"


Imran mengangguk "Ha ah"


Kinan menghela nafas "Maaaas..." Kinan ingin berbalik, namun Imran mencegahnya


"Mas nggak tega. Pijit aja ya ??" Bujuk Imran pada akhirnya. Bersamaan itu Imran memulai pijitannya


"Terserah Mas ajalah. Yang penting pusingku hilang" Pasrahnya daripada tidak sama sekali


Imran segera memeluk Kinan erat


"Mas!! Pijit !! Bukan peluk!!" Teriaknya tambah tidak terima


"Iya, iya"


"Begah tau"


"Iya"


Imran segera mengarang cara memijat. Bersamaan itu, Diapun segera mengoleskan minyak kayu putih kepunggung Kinan


"Enak??" Tanyanya saat dirinya sedang mengurut punggung mulus istrinya kearah samping kiri dan kanan


Kinan mengangguk menikmati. Tangan besar Imran ternyata nyaman mengaplikasikan minyak tersebut dipunggungnya


Imran tersenyum bangga. Seumur-umur baru memijat seseorang. Dan orang tersebut keenakan dengan aksinya


"Merah nggak Mas??" Tanyanya


"Merah banget. Persis daun kelapa yang melambai" Bohongnya


"Potoin Mas" Ucap Kinan sambil menyodorkan ponselnya


"Buat apaan?! Buat status?!" Ucap Imran tak habis pikir


"Bukan!! Aku nggak percaya? Punggungku sampai semerah itu"


"Mau, Aku bikin merah??" Ucap Imran mendekatkan pipinya kepipi Kinan


Kinan mendorong wajah Imran pelan "Ih, Aku nggak nafsu Mas" Kinan melotot setelah berucap fulgar didepan Imran


"Apa tadi bilang??"


"Aku lagi Nggak mood Mas.. Jangan salah sangka dulu piece" Cengirnya membuat Imran memijit tengkuk Kinan sedikit keras "Enak Mas. Tengkuknya dipijit lagi" Ujar Kinan menunjuk-nunjuk tengkuknya sendiri

__ADS_1


"Oke" Imran menuruti kemauan Kinan "Lebih keras??" Candanya


"Lembut sedikit keras Mas. Jangan dicekik"


Lagi-lagi Imran pasrah


"Kepala juga Mas"


"Iya. Habis kepala apa??" Tanya Imran pada akhirnya


Kinan belum menjawab. Dia masih berfikir mana lagi kiranya yang perlu dipijat


Sebelum jawaban itu terlontar, dengan usilnya, tangan Imran turun.


Tangan besar itu menjulur dibawah ketiak Kinan. Dengan cepat tangan tersebut meraih buah mangga Kinan yang bergelantung didada


"Mas!!" Pekiknya kaget


Imran mendekatkan tubuhnya hingga menempel pada punggung Kinan


Imran terus memijatnya "Biar masuk anginnya keluar. Ini juga perlu dipijat" Ucapnya terdengar serak dengan nafas yang sudah menghangat


Tangan Kinan menumpuki tangan Imran. Bermaksud melepasnya "Mas. Ini kantor. Ntar kalau ada orang yang masuk, repot Mas"


"Enggak pa-pa sudah kukunci" Ucapnya masih terus mencumbu


Tangan Kiri Imran sudah masuk kedalam legging bagian depan


"Mas!!"


"Sudah basah sayang"


Blush


Malulah Kinan semalu-malunya


"Ih Mas" Ucapnya mendorong Imran


"Ya nggak pa-pa. Memangnya kenapa" Ucapnya sambil berdiri, kemudian melepas vestnya, dan juga kemejanya


Kinan mendongak "Jadi mau bikin anak disini Mas" Ucapnya tak percaya "Tega??"


"Kalau jadi anak Mas" Ucapnya masih takut ketahuan orang lain


Imran merebahkan tubuh Kinan dengan perlahan "Ya nggak pa-pa. Kita sebut aja, anak made in kantor"


Kinan mencubit pinggang Imran gemas


"Aduh, sakit sayang"


Bersamaan itu, terjadilah banjir lokal


Basah basah basah


-


Kinan sudah segar dan sudah berganti pakaian


Sebelumnya, saat Kinan sedang mandi, Imran segera memesankan baju untuk Kinan


Begitupun dengan dirinya. Imran sudah mengganti kemejanya tanpa vest dan tanpa jas


Tubuh tegapnya membuat Kinan kembali terpanah


"Kenapa liat-liat ?? Terpesona, hm??" Tanya Imran dengan pedenya


"Ih bukan begitu. Mana vestnya. Tumben nggak pakai"


Imran memiringkan kepalanya kearah Kinan "Tadi buat sprei dadakan, pas lagi bikin anak" Alis Imran terangkat keatas


Kinan mendorong Imran "Mas!! Bener-bener jorok Kamu ya Mas"


"Lalu harus pakai apa?? Nggak mungkin langsung sperei kan?? Bisa-bisa OB bertanya, noda apa itu"


Kinan meliriknya "Lagian. Mas parah banget sih. Istri habis dipijit di buang anginnya, eh diisi lagi. Aku bukan ban mobil, Mas"

__ADS_1


Ahaha


Imran tertawa sambil merapatkan kepalanya pada kepala Kinan yang masih terlihat basah


-


Mereka keluar dari kantornya dengan penampilan berbeda


Beda kostum, berwajah segar plus wajah yang terlihat berseri


Imran menggandeng tangan Kinan


Saat keduanya masuk ke dalam lift khususnya, seluruh karyawannya menatapnya heran


"Siapa itu. Berani-beraninya lift khusus petinggi Ia pakai. Kena sangsi, baru tau rasa noh" Kicaunya salah satu karyawannya


"Tamunya Pak bos kali" Saut salah satu karyawan lainnya


Imran dan Kinan berbalik bersamaan


Nampaklah wajah sang bos dalam balik pintu lift yang mulai tertutup


Semuanya melotot sambil menutup mulutnya


"Pak Imran???"


"Ha-ah. Tumben banget pakaiannya-" Tebak karyawan yang masih menunggu antrian


"Kenapa?? Kurang rapih?? Menurutku, kalau orang ganteng, tetep aja ganteng"


"Bukan gitu. Itu sih iya. Tapi penampilan berbeda, kirain karyawan biasa seperti Kita" Jelasnya


"Hayo loh. Tadi denger ocehanmu tau"


"Ish, jangan nakut-nakutin dong"


"Eh, tadi fokus sama ceweknya nggak??"


"Enggak"


"Tadi Aku lihat. Cantik, imut"


"Berarti bukan si- Siapa dulu"


"Bukan. Udah jarang juga Nona Cintia kluyuran dikantor"


"Terus itu tadi??" Tunjuknya pada lift yang sudah tertutup


"Ya istrinya lah. Nggak mungkin tadi itu adiknya"


"Gosipnya, itu yang dulu istri adiknya Pak Imran kan ??" Ghibahnya terus berlanjut


"Ehem" Suara deheman pria menggemah "Masih ingin bergosip??"


Semuanya menoleh kesumber suara "Pak Jovan ???"


Tangan Jovan terangkat keudara "Lift nganggur sejak tadi. Kenapa kalian malah bikin macet dan bergosip. Temuin Saya diruangan"


"Pak??"


"Saya tunggu"


-


Kinan mengusap perutnya yang kembali eneg


Imran meliriknya, lalu mengusap perut Kinan dengan tangan kirinya "Kenapa??"


"Eneg lagi Mas. Mas, kayaknya Aku benar-benar masuk angin akut deh. Rasanya nggak enak banget"


"Ya sudah, mau berhenti sebentar. Atau langsung periksa saja kerumah sakit"


Kinan tidak menjawabnya. Perutnya benar-benar eneg dan terasa diaduk-aduk


"Hm hm, turun.."

__ADS_1


Imran segera menepikan mobilnya "Iya, iya. Kita turun"


BERSAMBUNG....


__ADS_2