
Bibir Kinan meruncing tak terima "Ditanya baik-baik kok jawabnya gitu"
Imran berhenti. Kemudia menoleh kebelakang menatap Kinan
"Apa Mas, liat-liat" Gertak Kinan sebelum Imran memarahinya
Sedikit banyak Kinan sudah mengetahui tabiat Imran. Jika ingin menang dari Imran, Kinan harus pasang badan agar tidak kalah
Merekapun saling tatap
Imran hanya diam saat Kinan kemudian meninggalkannya dan masuk ke kamarnya
-
Didalam kamar
Kinan kembali tidak bisa tidur
Bantal sudah dibolak-balikpun tetap tidak bisa memejamkan matanya
Kinan belajar menata hatinya. Rasa kecewa yang tadi Imran lakukan, membuat Kinan ingin mundur daripada meluluhkan hati Imran
"Apa mungkin pernikahanku akan kandas. Atau sebaliknya mau dipertahankan"
Kinan mengubah tidurnya menjadi tengkurep "Tapi, apa Mas Imran mau denganku. Aku bekas adiknya. Pasti Dia menolak karena bekas" Kinan kembali menarik bantalnya kemudian bantal tersebut Ia taruh diatas wajahnya. Kemudian Ia tutupkan pada wajah tersebut
Sedetik, tahan
Lima detik, agak kelabakan
Kinan mengangkat bantalnya "Pengap"
Kinan terduduk sila "Aku merasa, Mas Imran sudah banyak berubah. Nggak kaya dulu lagi mulutnya kaya pedang, tajam. Tapi sekarang juga nggak lebih baik. Tadi aja masih bersikap dingin dan cuek padaku. Padahal tadi pagi masih baik. Oh Tuhan... Terbuat dari apa sih hatinya"
Kinan turun dari ranjangnya kemudian mengambil foto mendiang Altaaf yang masih tersimpan dilaci
Kinan mengusapnya "A', bagaimana ini. Masa Aku lanjut sama Dia. Terus jika Aku mundur, bagaimana dengan Bunda dan A' Ken. Aa', kenapa kau pergi. Kenapa juga harus Dia yang menggantikanmu"
Kinan kembali resah
Seek srek srek
Suara sandal Kinan yang Ia tarik menuju ranjang
Kinan kembali merebahkan badannya. Kemudian mendekap foto Altaaf dalam pelukan
Hening
Hening
Lelap
-
Seminggu sudah Kinan diam-diaman sama Imran. Tidak ada yang mau menyapa ataupun sekedar basa-basi
Pagi yang cerah secerah orang yang lagi jatuh cinta
Hari ini, hari dimana Zira mau pulang. Karena hari ini hari minggu, Imran tentu saja berada dirumah
Tiba-tiba Imran berjalan menuju dapur dengan tergesah-gesah. Kemudian mematikan kompornya begitu saja yang sedang Kinan gunakan untuk memasak
"Ayo ikut Aku" Ucapnya sambil menggandeng tangan Kinan
Kinan menolak dengan cara menarik tangannya, namun susah "Mas !! Kenapa kompornya dimatiin" Protesnya sambil menarik-narik tangan Imran
"Udah ikut Aku. Ayo"
"Masakanku gimana, Mas"
"Gampang. Masalah itu tinggal beli" Ucapnya sambil menarik Kinan ke kamar Kinan
Imran mengambil koper. Lalu membukanya diatas tempat tidur
__ADS_1
Kinan bingung bercampur marah "Ini apa-apaan Mas. Ada apa !!?"
Imran membuka lemari, mengambil seluruh baju-baju Kinan dan Ia masukkan kedalam koper
"Mas. Mas Imran mau mengusirku? Mas akan menceraikan Aku, iya?"
Imran tetap melanjutkan kegiatannya "Sudah diam jangan bawel"
"Ini maksudnya apa Mas??" Tunjuk Kinan pada kopernya
"Sudah jangan banyak tanya. Ayo" Imran kembali menggandeng Kinan kemudian menariknya keatas dimana kamar Imran berada
Imran membuka pintu kamarnya, lalu menarik koper tersebut menuju lemari "Kata Zira, Bunda dan Daddy akan datang kemari. Aku tidak mau dapat masalah jika berhadapan dengan Bunda" Ucapnya menggeser baju-bajunya kepinggir agar baju Kinan bisa masuk kedalam lemari "Sementara semua baju-bajumu taruh disini"
"Sampai kapan?" Tanya Kinan masih berdiri
"Sampai Bunda pulang" Ucapnya masih sibuk dengan kegiatannya
"Kalau gitu biarin aja bajuku dikoper. Palingan beberapa hari Mas"
"Kamu yakin? Bunda susah loh diprediksi"
"Terus gimana dong"
"Yaudah tata aja. Kalau Bunda lama ya, resiko" Senyumnya lebar diakhir kata
Kinan terdiam. Ia hanya patuh dan mulai menata bajunya disisi baju Imran
Kinan berdiri
"Sudah selesai?" Tanya Imran
"Sudah. Oiya Mas, terus tidurku nanti dimana?"
"Ya disini" Tunjuknya pada ranjang miliknya membuat Kinan memucat seketika
Imran meliriknya menggoda
"Apa Mas, melirikku" Ucap Kinan was-was
Tiba-tiba suara bel berbunyi
"Mas. Ada tamu" Senggol Kinan dengan sikunya
"Ya biarin aja"
"Mas !! Masa santai gitu"
Belpun berbunyi kembali
"Mas !! Bunyi. Jangan-jangan Bunda noo" Tebak Kinan
"Iya, iya"
Imran kembali menyaut jemari Kinan "Ayo turun" Kemudian menggandengnya
Dengan spontan, Kinan menatap tangannya yang dipegang oleh Imran
Ada rasa hangat yang menjalar dalam diri Kinan
Tangan lebar Imran begitu hangat hingga merambat kerelung hatinya
Ada rasa tak percaya sampai dekat seperti ini
-
Imran membuka pintu
Dari luar sudah terlihat Zira dan kedua orang tuanya dengan senyum lebarnya
"Hah!!! Kak Kinan, Aku datang!!" Teriak Zira langsung menubruk tubuh Kinan
Imran sebagai kakaknya tak terima "Apa-apaan ini main tubruk aja"
__ADS_1
Zira menghempaskan tangan Imran "Ih, suka-suka Aku dong"
Hanan dan Alana saling tatap kemudian menggelengkan kepalanya heran
-
Malam hari setelah semua masuk kekamar masing-masing, Imran kembali menarik tangan Kinan untuk naik keatas
Sesampainya dikamar, Imran langsung masuk kekamar mandi
Sementara, Kinan masih berdiri bingung sambil mengabsen kamar suaminya yang baru Ia lihat dua kali ini
Kinan fokus pada bingkai foto milik Imran yang sedang merangkul Cintia. Hatinya kembali kesal
Sebelum Imran menyadari, Kinan segera menuju meja yang ada foto tersebut. Setelah diraihnya Ia tengkurepkan agar tidak mengganggu indra penglihatan Kinan
Imran keluar dari kamar mandi "Kok masih berdiri"
Kinan berjalan mundur memberi jalan untuk Imran "Em memangnya Aku boleh tidur disini, Mas?" Ucapnya takut-takut
"Ya boleh. Memangnya Kamu mau kembali kekamar bawah?"
Kinan berjalan ketepi ranjang "Memangnya, Mas Imran akan berbagi kasur?"
"Yaiya. Maumu bagaimana"
Imran mulai naik keatas ranjang. Kemudian duduk bersandar pada kepala ranjang. Sedangkan Kinan duduk diujung ranjang. Jauh sekali dari jangkauan Imran
"Iya, nggak gimana-mana. Cuma aneh, he"
Imran membagi bantal dan gulingnya untuk Kinan "Ini bantal dan gulingmu. Istirahatlah"
Kinan menoleh kebelakang kemudian memberangkan menuju bantal yang Imran bagi
"Asli Aku tidak akan diusir, Mas" Tanyanya takut-takut
Imran menoleh sambil tersenyum
Wajah Kinan tampak lucu saat wajahnya terlihat takut
"Memangnya tampangku galak? Ngusir-ngusir Kamu dimalam hari hm?"
Kinan tidak menjawabnya. Melainkan merebahkan tubuhnya disamping Imran
Imran mengikutinya merebahkan tubuhnya. Kemudian memiringkan badannya kearah Kinan
Kinan sudah memejamkan matanya bohong
Imran terus mengabsennya. Entah darimana datangnya rasa penasaran. Imran ingin menjamah
"Kinan, apa Kamu sudah tidur?"
Kinan membuka matanya
Hati Imran yang sudah diselimuti nafsu, Iapun terus menjamahnya
-
Pagi-pagi sekali rambut Kinan sudah terbungkus handuk
Kinan sangat, sangat malu. Semalam saat dirinya dicumbu, Kinan tak berani membuka matanya. Rasanya nano-nano seperti penghianat yang tidak setia
Rasa tak percaya namun inilah kenyataan
Imran tersenyum saat Kinan terduduk kaku disisinya
"Kenapa, Kamu malu hm?"
Kinan kembali menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kemudian membukanya
"Mas. Kalau Aku hamil, bagaimana?" Cemasnya
"Ya nggak kenapa-napa. Kita asuh bersama-sama"
__ADS_1
BERSAMBUNG....