
Paginya dihari minggu
Hari ini tepat tiga bulan usia pernikahan mereka berdua
Imran berjalan kedapur. Ia mencari sesuatu yang pernah Ia beli sebelumnya yaitu kopi robusta
Kopi hitam kesukaan Imran
Pagi ini, Ia sibuk menyeduh kopinya
Saat Imran sibuk dengan kegiatannya membuat kopi, ternyata Kinan juga sibuk membuat konten untuk para membernya
Yaitu cara membuat donat dough kecil hasil besar
Kamera terus menyala menyorot tangan Kinan beserta adonannya
Samar-samar terdengar suara mixer pengaduk adonan yang tak jauh dari dapur "Kalau ingin dough kecil hasil besar, emak-emak harus ulen kalis elastis ya. Kalis elastis itu yang bagaimana mak? Pasti emak-emak tanya gitu. Iya kan.." Kinan praktik, namun mulutnya juga terus bicara tanpa henti "Nah, Kalis elastis itu, adonannya lembut, dan jika dibeber nggak sobek"
Kinan mematikan mixernya. Kemudian mengambil secuil adonan, lalu membeber adonan tersebut hingga menyerupai kulit ari "Lihat. Tidak mudah sobek kan? Nah selanjutnya, adonan Kita pindah kealas kerja mak" Kinan mengambil semua adonan tersebut dari dalam baskom "Kita buletin dulu ya mak" Kinan terus melakukan langkah-langkahnya dengan benar "Kalau sudah bulet semacam ini, Kita langsung potong dan selanjutnya timbang seberat 35 gram. Atau sesuai yang Kita inginkan ya mak"
Imran yang tiba-tiba mendengar suara timbang-timbang, bulet-bulet, otomatis mencari suara tersebut
Dan ternyata, Kinan sedang duduk dilantai sambil mainan adonan, serta didepannya ada kamera yang sengaja menyorot kebawah yaitu pada tangan
Dan pagi ini, Kinan nampak berbeda. Imranpun terkejut terperangah, saat melihat wanita yang diam-diam sudah menjadi miliknya itu begitu cantik dengan rambut yang tergerai
Kinan mematikan ponselnya, setelah video tersebut tadi telah Ia kirim ke grup dimana para membernya berkumpul, Kinan mulai berdiri. Dan betapa terkejutnya, Ia melihat Imran yang masih berdiri mematung disana
"Mas" Panggil Kinan dengan tangan yang sudah Kinan lambai-lambaikan
"Eh" Imran tersadar
"Mas kenapa bengong?"
Imran tersenyum masih dengan kopinya yang berada ditangannya "Enggak. Kamu sedang ngapain? Kok tadi aku dengar timbang-timbang, bulet-bulet"
"Oh, itu. Aku tadi bikin konten cara mengulen dengan benar"
"Terus Kamu sebarkan videonya gitu"
"Iya. Kan ilmu mas"
"Dibagi percuma?"
"Itu memberku. Mereka harus tau secara detail"
"Member?? Maksudnya?"
Kinan kembali menatap Imran "Ya member"
Imranpun mengabsen seluruh wajah Kinan. Wajah yang imut, mata yang indah "Manis"
"Apa Mas?"
"Enggak. Tadi apa Kamu bilang? Apa??" Imran menjadi lupa karena terganggu dengan pesona mantan adik iparnya
"Member, maksudnya?"
"Iya. Member apa itu"
"Oh.. Mereka itu kursus online padaku. Mereka juga menginginkan latihan bareng, yaitu berjumpa untuk bertatap muka. Cuma Aku masih bingung. Mau latihan dimana. Terus bingung aja" Ucapnya sedih
"Kenapa harus bingung. Memangnya Kamu ingin latihan dimana?"
"Di daerah Bandung"
"Ya sudah lakukan saja. Biar member Kamu tidak kecewa"
Kinan terlihat bingung "Eng, Zira kapan datang ya? Atau minta bantuan A' Ken saja" Masih terlihat bingung
"Zira pulangnya seminggu lagi. Kenapa harus Ken yang bantu. Nanti Aku carikan orang agar bisa bantu Kamu"
"Bisa??" Kinan terlihat kegirangan
__ADS_1
"Bisa. Memangnya mau latihan dimana? Dihotel?"
"Iya"
"Ya sudah nanti tunjuk saja dihotel mana. Biar anak buahku urus"
"Beneran Mas?" Kinan jingkrak-jingkrak
Imran mengangguk
"Hah..." Kinan langsung memeluk Imran spontan
Imran yang mendapatkan serangan mendadak, Iapun menyambutnya
Sepersekian detik ada sebuah tangan telah memeluk tubuhnya dengan lembut. Kinan tersadar
Kemudian mengurai kikuk "Eng, maaf Mas spontan. Iya he" Cengirnya membuat Imran ikut tersenyum
Senyum Imran sungguh mempesona. Kinan baru menyadari. Tapi Kinan cepat-cepat membuangnya takut terpancing lalu terpikat
Imran terus menatap Kinan lekat "Kamu kok berbeda pagi ini. Ada yang berbeda loh, sungguh"
"Benarkah?" Ucap Kinan malu
"Iya. Rambutmu. Tumben banget rambutnya digerai" Tangan Imran menjulur menyentuh ujung rambut Kinan. Dan ternyata halus dan wangi. Imran merasakan itu karena tadi tidak disengaja Kinan menubruk tubuhnya
Kinan tersenyum kecut "Jelek ya?"
"Enggak, bagus kok. Eh, itu adonannya ditinggal nggak apa-apa?" Tanya Imran kemudian
"Tidak apa-apa. Tunggu 1 jam baru ku goreng nanti"
"Oh gitu"
-
Mereka berdua makan kue bolong itu sambil duduk digazebo belakang rumah
"Iya?"
Imran mengangguk
"Makasih pujiannya" Ucap Kinan menatap Imran
Ting tong ting tong
Suara bel pintu berbunyi
"Mas, ada bel"
Imran mengangguk dengan mulut yang masih mengunyah
Mereka sama-sama berdiri
Ting tong ting tong
"Sepertinya ada tamu. Zira kali ya Mas?"
Imran geleng-geleng "Nggak tau"
Namun, Imran sedikit repot karena kue yang Ia pegang masih cukup besar
"Mas lanjutin aja makannya. Biar Aku yang buka"
Imran mengangguk lagi
-
Kinan membuka pintunya setelah menyaut jilbab instan untuk Ia pakai
Kinan membuka pintu. Dan betapa terkejutnya, ternyata tamu tersebut perempuan yang berpakaian sexy, yang tidak Kinan kenal
"Siapa ya?" Tanya Kinan
__ADS_1
"Eh. Kamu pasti Kinan" Tangan perempuan tadi mengulurkan tangannya "Saya Cintia. Pacarnya Imran. Imrannya ada?" Dengan pedenya perempuan tadi memperkenalkan diri
Kinan menatap tangan wanita tadi. Namun tidak ingin Ia sambut "Sebentar. Tunggu disini. Akan Aku panggilkan"
Cintiapun mengangguk dan menurut
Kinan tidak menyuruh si tamu tadi masuk. Ia justru menutup pintu dan berjalan menuju dimana Imran berada
Kinan berjalan kebelakang dengan hati yang sedikit teremas
Entah mengapa hati Kinan terasa sakit. Apakah Kinan telah jatuh hati pada Imran?
-
"Mas. Ada tamu untukmu" Ketusnya dengan wajah suram
"Siapa?"
"Tau"
"Sudah dibukain pintu?"
"Sudah. Tapi Aku tutup lagi karena Aku nggak kenal. Dan tidak ingin kenal"
Imran berdiri "Siapa sih maksudnya?"
"Lihat aja sendiri"
"Cewek apa cowok?"
"Lihat aja sendiri" Bukannya menjawab pertanyaan Imran, Ia justru mengulang ucapannya lagi
Imran berdiri. Kemudian, Imran berjalan
Belum juga jalannya dua langkah, Kinan berteriak
"Besok lagi, kalau mau kencan itu, janjian. Jangan datang kerumah!!" Teriak Kinan protes
-
"Cin, Kita keluar aja yuk" Ajak Imran saat mereka bertemu diteras
"Kok Aku nggak diajak masuk? Kok malah diajak keluar sih" Protes Cintia
"Mulai hari ini, Kita tidak usah bertemu dirumah. Kita janjian aja dan bertemu diluar"
"Kok gitu. Aku kan ingin menginap dirumahmu"
"Jangan. Dirumah ada orang"
-
Waktu sudah menunjukkan pukul 23:00 malam. Namun Imran belum menampakkan batang hidungnya
Kali ini, Kinan khawatir mondar-mandir menunggu Imran
Tiba-tiba pintu terbuka dari luar
"Mas" Kinan terlihat khawatir
Imran menatapnya kaget "Kok Kamu belum tidur?"
"Aku nggak bisa tidur" Jawab Kinan jujur
Imran terdiam. Ia justru melenggang meninggalkan Kinan begitu saja
"Sebenarnya Mas darimana sih?" Tanya Kinan
"Bukan urusanmu"
BERSAMBUNG.....
__ADS_1