
Acara latihan di Bandung pun tiba
Ternyata Zira sedang sibuk-sibuknya dengan urusan kuliahnya. Jadi Dia mangkir untuk menemani Kinan
"Nanti Aku antar?" Ucap Imran tiba-tiba
Kinan menoleh "Bener, Mas?"
"Iya. Zira kan nggak bisa karena sibuk"
-
Sore harinya setelah Imran pulang kerja
Imran langsung membersihkan diri dan memasukkan keperluannya kedalam waistbag miliknya
Kinan dan Imran keluar dari rumah dengan tergesah-gesah
"Kinan!"
Kinan menoleh sambil menangkap sesuatu yang dilempar oleh Imran
Ternyata konci mobil
"Kamu yang nyetir" Ujar Imran memberi kepercayaan agar Kinan lekas pintar
"Tapi Mas, Aku nggak bisa"
"Belum bisa" Ralat Imran "Sudah. Aku tau kok dari Zira. Zira bilang Kamu sudah bisa, tinggal asah"
"Tapi Mas"
"Sudah, nggak ada tapi-tapian. Biar Kamu cepet mahir. Buka pintunya"
Kinan terpaksa masuk kedalam mobil, dan membukakan pintu samping untuk Imran
"Mas" Kinan terlihat takut-takut
"Pelan-pelan"
-
Diperjalanan
Imran benar-benar membiarkan Kinan menyetirnya
Dengan santai dan bersandar, Imran sekali-kali memberi arahan jika Kinan terlihat bingung
Kinan menepikan mobilnya
"Kok minggir, kenapa?" Protes Imran
"Mas, depan nanti ada tanjakan. Aku tidak berani. Itu terlalu curam" Keluh Kinan benar-benar tidak berani
Imran membenahi duduknya "Baiklah. Geser sini"
Kinan mengangkat pantatnya untuk bergeser gantian
Imran bergeser namun pantatnya tetap menempel pada jok
Saat Kinan melangkahi tubuh Imran. Langsung saja tangan Imran menangkap pinggang Kinan
Dengan spontan tangan Kinan memegang tangan Imran untuk melepasnya "Ih Mas, geli"
"Orang pegang sedikit kok geli"
"Pegang sedikit apanya. Orang tangan Mas modus kok sengaja meraba" Ucapnya tak terima
"Terus harus gimana, Kinan. Kan sempit"
Kinan masih berusaha bergeser agar pantatnya tidak menumpuki paha Imran
__ADS_1
Setelah keduanya bertukar beres Kinan kembali protes "Harusnya Mas tu keluar dulu. Muterin mobil, baru deh, Mas masuk lagi lewat pintu sana" Tunjuknya pada pintu kemudi
"Halah. Ngapain harus keluar dulu. Kelamaan"
"Dasar modus"
"Modus lagi" Imran melirik kemudian menjembel bibir Kinan "Ini kalau ngomong suka pas ya"
"Mas Imran!!" Kinan menghempas-hempaskan tangan Imran
Ahaha
Imran tertawa
Setelah puas membuat Kinan kesal, Imran kembali melancarkan aksinya
"Sebelum menaklukkan tikungan nan curam, kasih semangat dulu ah"
Kemudian tak diduga Imran mengecup bibir Kinan
"Emmuah.."
"Mas!!"
"Kasih semangat suami. Gitu aja berteriak sih"
"Suami" Gerutu Kinan "Ini dijalan. Emangnya Mas nggak malu kalau orang lain liat"
"Enggaklah. Ngapain malu. Sudah diam. Mas mau konsentrasi, Oke" Ucapnya kembali serius pada jalan yang akan Imran lalui
Ternyata, perlakuan manisnya 11 12 dengan Altaaf
Kinan tersenyum simpul
-
Dihotel
Sebelum makan malam, Imran mengajak Kinan berbelanja ke mall yang berada diseberang hotel
Strategis bukan. Hanya lewat jembatan penyebrangan pasangan ini sudah berada diujung jalan tanpa harus berdesakan dengan pengendara lain
Imran sesekali menggandengnya saat Kinan tak lagi memilih-milih lagi barang incarannya
Imran melihat heel yang sangat cantik. Sepertinya cocok untuk Kinan
"Kinan, coba pakai" Ucap Imran membungkuk menaruh heel tersebut didepan Kinan yang tengah berdiri
Kinan mengangkat roknya sedikit keatas
Imran membantunya memakaikan kedua sandal itu kepada Kinan
Imran mengangkat rok Kinan bermaksud menilainya
"Bagus, Pak. Itu sangat cocok dan cantik dipakai Kakaknya" Ucap sang pelayan sebelum Imran mengungkapkan penilaiannya
Imran agak kesal. Dirinya dipanggil Pak, sedangkan Kinan disebutnya kakak
Imran menatap wajah Kinan
Memang benar. Wajah Kinan terlihat imut seperti bocah SMA. Sedangkan dirinya sudah tak pantas disebut pria muda
Meskipun Imran masih berusia 29 tahun, wajah dewasa sudah melekat pada dirinya sejak dulu. Berbeda sekali dengan wajah Altaaf. Wajah Imran terlihat boros tapi tidak mengurangi ketampanannya
Imran merasa bahwa dirinya seperti Om Om yang telah menikahi bocah
"Ya sudah, tolong bungkus Mbak" Ucapnya kemudian setelah kesalnya hilang
Setelah berbelanja kebutuhan mereka. Imran kembali menggandengnya menuju hotel
"Sekalian makan diluar, atau kembali kekamar hm?" Tanya Imran saat melewati restoran yang mereka lalui
__ADS_1
"Enaknya diluar aja ya Mas?"
"Boleh"
-
Mereka berdua menunggu makanan yang barusan mereka pesan
Tiba-tiba
"Usiamu berapa sih" Tanyanya pada Kinan
Kinan menatap Imran. Mengabsen kedua matanya yang hanya ada dirinya disana "50. Kenapa??" Jawab Kinan asal lalu melengos menyembunyikan wajahnya yang ingin tertawa karena bohong
Imran memutar kepala Kinan. Agar Kinan menghadap pada dirinya
Mereka sudah bertatapan "Usia 50 kok masih bocah ya. Pantesan Altaaf ngotot ingin menikah muda karena nggak kuat"
Senyum Kinan langsung meredup
Menyadari Kinan yang berubah wajah sedih, Imran segera mengusap kepala Kinan dengan lembut "Maaf. Bukan maksudku mengingatkan masa itu. Aku akui wajahmu memang imut. Dan nggak ada yang mengira jika Kita itu pasangan. Kau dengar tadi kan si Mbaknya. Dengan gampangnya Dia panggil kamu Kak? Sedangkan manggil Aku, Pak. Memangnya Aku bapak-bapak. Berasa orang tua tau yang berjalan menggandeng anaknya" Keluh Imran membuat Kinan kembali mencair
Kinan tersenyum lalu meraih tangan Imran "Mereka tidak kenal. Jadi ya nggak tau. Yang sabar"
Imran menyambutnya dan sedikit itu mereka tertawa
-
Seperti biasa. Selama tidur bareng dengan Imran. Pagi harinya Kinan selalu berambut basah
Leher yang tadinya mulus, sekarang sudah ternoda tak beraturan
-
Kinan dan Imran sudah datang ketempat dimana akan diadakan latihan bareng setelah vacum cukup lama
Disitu sudah ada Tati sang asisten yang selalu setia menjadi adminnya jika calon member mendaftar
Meja sudah tertata rapih. Persiapannya sungguh diluar dugaan
Imran benar-benar membantunya
Dan dengan campur tangan lewat anak buahnya. Kinan benar-benar puas dengan hasilnya
Acarapun dimulai
Kinan kembali mengajarkan cara membuat kue bolen yang enak secara live
Disamping pandai membuat donat lembut bak kapas, Kinan juga pandai mengasah ketrampilannya dengan membuat aneka perotian
Imran fokus pada Kinan yang ternyata anaknya pandai bicara dan pandai mengajari membernya dengan sabar
Tanpa grogi dan risih, istrinya ini pantas diacungi jempol
Setelah perbolenan usai, Kinan kembali mengajarkan cara menghias donat. Yaitu menoping donat-donat agar cantik dan tidak belepotan
Saat membuka box glaze yang masih bersegel, entah mengapa segel tersebut sangat susah untuk dibuka. Dibantu para memberpun juga tidak terjawab. Akhirnya, Kinan berlari menuju Imran "Mas, bukain"
Imran berdiri kemudian meraih box tersebut untuk membukanya
Dan berhasil
"Makasih Mas" Kinan kembali kedepan
Saat Kinan kembali sibuk latihan bareng
Ponsel Imran berbunyi. Ternyata Cintia menghubunginya
Melihat Kinan yang dikerubungi para ibu-ibu, Imran merasa bersalah dan rasanya begitu hambar saat melihat ponselnya yang terus berdering dengan gambar Cintia
Imran mematikannya. Rasanya benar-benar terganggu
__ADS_1
BERSAMBUNG.....