Suamiku Kakak Iparku

Suamiku Kakak Iparku
Mulai Respect


__ADS_3

Acara latihan di Bandung pun tiba


Ternyata Zira sedang sibuk-sibuknya dengan urusan kuliahnya. Jadi Dia mangkir untuk menemani Kinan


"Nanti Aku antar?" Ucap Imran tiba-tiba


Kinan menoleh "Bener, Mas?"


"Iya. Zira kan nggak bisa karena sibuk"


-


Sore harinya setelah Imran pulang kerja


Imran langsung membersihkan diri dan memasukkan keperluannya kedalam waistbag miliknya


Kinan dan Imran keluar dari rumah dengan tergesah-gesah


"Kinan!"


Kinan menoleh sambil menangkap sesuatu yang dilempar oleh Imran


Ternyata konci mobil


"Kamu yang nyetir" Ujar Imran memberi kepercayaan agar Kinan lekas pintar


"Tapi Mas, Aku nggak bisa"


"Belum bisa" Ralat Imran "Sudah. Aku tau kok dari Zira. Zira bilang Kamu sudah bisa, tinggal asah"


"Tapi Mas"


"Sudah, nggak ada tapi-tapian. Biar Kamu cepet mahir. Buka pintunya"


Kinan terpaksa masuk kedalam mobil, dan membukakan pintu samping untuk Imran


"Mas" Kinan terlihat takut-takut


"Pelan-pelan"


-


Diperjalanan


Imran benar-benar membiarkan Kinan menyetirnya


Dengan santai dan bersandar, Imran sekali-kali memberi arahan jika Kinan terlihat bingung


Kinan menepikan mobilnya


"Kok minggir, kenapa?" Protes Imran


"Mas, depan nanti ada tanjakan. Aku tidak berani. Itu terlalu curam" Keluh Kinan benar-benar tidak berani


Imran membenahi duduknya "Baiklah. Geser sini"


Kinan mengangkat pantatnya untuk bergeser gantian


Imran bergeser namun pantatnya tetap menempel pada jok


Saat Kinan melangkahi tubuh Imran. Langsung saja tangan Imran menangkap pinggang Kinan


Dengan spontan tangan Kinan memegang tangan Imran untuk melepasnya "Ih Mas, geli"


"Orang pegang sedikit kok geli"


"Pegang sedikit apanya. Orang tangan Mas modus kok sengaja meraba" Ucapnya tak terima


"Terus harus gimana, Kinan. Kan sempit"


Kinan masih berusaha bergeser agar pantatnya tidak menumpuki paha Imran

__ADS_1


Setelah keduanya bertukar beres Kinan kembali protes "Harusnya Mas tu keluar dulu. Muterin mobil, baru deh, Mas masuk lagi lewat pintu sana" Tunjuknya pada pintu kemudi


"Halah. Ngapain harus keluar dulu. Kelamaan"


"Dasar modus"


"Modus lagi" Imran melirik kemudian menjembel bibir Kinan "Ini kalau ngomong suka pas ya"


"Mas Imran!!" Kinan menghempas-hempaskan tangan Imran


Ahaha


Imran tertawa


Setelah puas membuat Kinan kesal, Imran kembali melancarkan aksinya


"Sebelum menaklukkan tikungan nan curam, kasih semangat dulu ah"


Kemudian tak diduga Imran mengecup bibir Kinan


"Emmuah.."


"Mas!!"


"Kasih semangat suami. Gitu aja berteriak sih"


"Suami" Gerutu Kinan "Ini dijalan. Emangnya Mas nggak malu kalau orang lain liat"


"Enggaklah. Ngapain malu. Sudah diam. Mas mau konsentrasi, Oke" Ucapnya kembali serius pada jalan yang akan Imran lalui


Ternyata, perlakuan manisnya 11 12 dengan Altaaf


Kinan tersenyum simpul


-


Dihotel


Sebelum makan malam, Imran mengajak Kinan berbelanja ke mall yang berada diseberang hotel


Strategis bukan. Hanya lewat jembatan penyebrangan pasangan ini sudah berada diujung jalan tanpa harus berdesakan dengan pengendara lain


Imran sesekali menggandengnya saat Kinan tak lagi memilih-milih lagi barang incarannya


Imran melihat heel yang sangat cantik. Sepertinya cocok untuk Kinan


"Kinan, coba pakai" Ucap Imran membungkuk menaruh heel tersebut didepan Kinan yang tengah berdiri


Kinan mengangkat roknya sedikit keatas


Imran membantunya memakaikan kedua sandal itu kepada Kinan


Imran mengangkat rok Kinan bermaksud menilainya


"Bagus, Pak. Itu sangat cocok dan cantik dipakai Kakaknya" Ucap sang pelayan sebelum Imran mengungkapkan penilaiannya


Imran agak kesal. Dirinya dipanggil Pak, sedangkan Kinan disebutnya kakak


Imran menatap wajah Kinan


Memang benar. Wajah Kinan terlihat imut seperti bocah SMA. Sedangkan dirinya sudah tak pantas disebut pria muda


Meskipun Imran masih berusia 29 tahun, wajah dewasa sudah melekat pada dirinya sejak dulu. Berbeda sekali dengan wajah Altaaf. Wajah Imran terlihat boros tapi tidak mengurangi ketampanannya


Imran merasa bahwa dirinya seperti Om Om yang telah menikahi bocah


"Ya sudah, tolong bungkus Mbak" Ucapnya kemudian setelah kesalnya hilang


Setelah berbelanja kebutuhan mereka. Imran kembali menggandengnya menuju hotel


"Sekalian makan diluar, atau kembali kekamar hm?" Tanya Imran saat melewati restoran yang mereka lalui

__ADS_1


"Enaknya diluar aja ya Mas?"


"Boleh"


-


Mereka berdua menunggu makanan yang barusan mereka pesan


Tiba-tiba


"Usiamu berapa sih" Tanyanya pada Kinan


Kinan menatap Imran. Mengabsen kedua matanya yang hanya ada dirinya disana "50. Kenapa??" Jawab Kinan asal lalu melengos menyembunyikan wajahnya yang ingin tertawa karena bohong


Imran memutar kepala Kinan. Agar Kinan menghadap pada dirinya


Mereka sudah bertatapan "Usia 50 kok masih bocah ya. Pantesan Altaaf ngotot ingin menikah muda karena nggak kuat"


Senyum Kinan langsung meredup


Menyadari Kinan yang berubah wajah sedih, Imran segera mengusap kepala Kinan dengan lembut "Maaf. Bukan maksudku mengingatkan masa itu. Aku akui wajahmu memang imut. Dan nggak ada yang mengira jika Kita itu pasangan. Kau dengar tadi kan si Mbaknya. Dengan gampangnya Dia panggil kamu Kak? Sedangkan manggil Aku, Pak. Memangnya Aku bapak-bapak. Berasa orang tua tau yang berjalan menggandeng anaknya" Keluh Imran membuat Kinan kembali mencair


Kinan tersenyum lalu meraih tangan Imran "Mereka tidak kenal. Jadi ya nggak tau. Yang sabar"


Imran menyambutnya dan sedikit itu mereka tertawa


-


Seperti biasa. Selama tidur bareng dengan Imran. Pagi harinya Kinan selalu berambut basah


Leher yang tadinya mulus, sekarang sudah ternoda tak beraturan


-


Kinan dan Imran sudah datang ketempat dimana akan diadakan latihan bareng setelah vacum cukup lama


Disitu sudah ada Tati sang asisten yang selalu setia menjadi adminnya jika calon member mendaftar


Meja sudah tertata rapih. Persiapannya sungguh diluar dugaan


Imran benar-benar membantunya


Dan dengan campur tangan lewat anak buahnya. Kinan benar-benar puas dengan hasilnya


Acarapun dimulai


Kinan kembali mengajarkan cara membuat kue bolen yang enak secara live


Disamping pandai membuat donat lembut bak kapas, Kinan juga pandai mengasah ketrampilannya dengan membuat aneka perotian


Imran fokus pada Kinan yang ternyata anaknya pandai bicara dan pandai mengajari membernya dengan sabar


Tanpa grogi dan risih, istrinya ini pantas diacungi jempol


Setelah perbolenan usai, Kinan kembali mengajarkan cara menghias donat. Yaitu menoping donat-donat agar cantik dan tidak belepotan


Saat membuka box glaze yang masih bersegel, entah mengapa segel tersebut sangat susah untuk dibuka. Dibantu para memberpun juga tidak terjawab. Akhirnya, Kinan berlari menuju Imran "Mas, bukain"


Imran berdiri kemudian meraih box tersebut untuk membukanya


Dan berhasil


"Makasih Mas" Kinan kembali kedepan


Saat Kinan kembali sibuk latihan bareng


Ponsel Imran berbunyi. Ternyata Cintia menghubunginya


Melihat Kinan yang dikerubungi para ibu-ibu, Imran merasa bersalah dan rasanya begitu hambar saat melihat ponselnya yang terus berdering dengan gambar Cintia


Imran mematikannya. Rasanya benar-benar terganggu

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2