
"Lalu, surat perjanjian yang lalu bagaimana?" Tanyanya masih berwajah takut
"Nanti direvisi. Jika Kamu hamil, tidak ada kata cerai" Jawab Imran enteng
"Oke deh kalau gitu" Kinan turun dari kasur. Kemudian berdiri dihadapan Imran yang masih terduduk dikasur
"Tapi itu enak di Mas. Rugi Di Aku"
Imran mendongak "Ruginya dimana? Kan Kita sama-sama mengasuhnya"
"Tetapi kalau hati Mas masih terbagi. Apa mungkin, Mas akan sayang anak" Masih Kinan yang berwajah cemas
Imran mulai berdiri dan tepat berhadapan dengan Kinan "Terus, maumu bagaimana"
"Aku ingin mengajukan konpensasi"
"Apa tuh"
"Karena ini terlanjur, Mas harus mengantarku ke Bandung untuk acara latihan bareng"
"Hanya itu?"
Kinan mengangguk "Hm. Eh satu lagi"
"Apa?"
"Mas harus sedia membantuku agar Aku tidak kesusahan"
"Hanya itu?"
Kinan mengangguk "Eh satu lagi"
"Apalagi"
"Jangan menemui Cintia"
"Ya... Nggak bisa gitu dong. Itu namanya merubah perjanjian secara total"
"Terus. Ah, sudahlah" Kinan berbelok dan berjalan menuju pintu
"Kinan, Kinan !!" Panggilnya dengan tangan yang menjulur
Kinan tidak peduli. Ia justru melenggang lalu membuka pintu
Kerena Kinan tak menyadari, Imran berinisiatif mengejarnya "Mau kemana"
"Ya turunlah, Mas. Mau ngurusin dapur"
Imran menarik handuk yang sejak tadi menempel dikepala Kinan
Dengan spontan Kinan mencegahnya namun gagal "Mas!!"
"Kamu mau turun dengan handuk dikepala??" Imran mengangkat handuk tersebut ke udara
Tangan Kinan terangkat kekepala. Kinan kembali teringat semalam. Ada rasa kecewa, dan malu menjadi satu
"Bajumu kan sudah ada disini semua" Ujar Imran lagi
Kinan menatap Imran
Bersamaan itu, Imran tersenyum tampan benar-benar tampan
Kinan pura-pura jaim "Minggir" Tangannya mendorong perut Imran
"Aduh... " Imran pura-pura sakit memegang perutnya
"Dih, hanya didorong saja sakit. Lebay.." Kinan kembali mendorongnya dengan sisir yang Ia pegang kemudian berbelok lalu bercermin dengan posisi berdiri
Imran berdiri dibelakangnya
Ternyata Imran lebih tinggi dari Altaaf meskipun beda beberapa centi
Kinan berbelok lalu menghadap ke arah Imran dengan mendongak
Imran membingkai wajah Kinan. Kemudian turun kearah leher
Kinan yang risih dari tatapan Imran, dengan cepat menutupinya menggunakan telapak tangannya "Apa liat-liat leher"
Imran tersenyum geli kemudian membungkuk sambil berbisik "Semalam Kamu keenakan. Makanya Aku lukis sepuasnya"
Blush
__ADS_1
Pipi Kinan memerah padam. Imran tersenyum lebar
Tiba-tiba
"Haaaaaaah...!!!" Kinan menjerit sambil mendorong Imran sekuat tenaga
Ahahaha
Imran tertawa lebar
Kinan berhenti dengan aksinya. Menatap suaminya tertawa dengan tangan yang masih menggenggam tangan Kinan
Menyadari ada yang berbeda, Imran terhenti dari tertawanya
"Maaf" Imran menatap Kinan serius. Tangan Imran keudara kemudian mengusap rambut rapih setengah basah itu dengan lembut "Pakai kerudungnya. Kita turun bersama"
-
Ternyata dibawah sudah ramai
Alana sengaja menarik asisten rumah tangga untuk dipekerjakan dirumah ini
Orang tersebut adalah penghuni kontrakan milik Alana yang berada disebelah rumahnya
"Nah Kinan. Ini Bunda sengaja mencarikan asisten rumah tangga yang dekat dari rumah ini"
Kinan mengangguk
"Namanya Mbok Mina. Mbok Mina tinggalnya dikontrakan yang ada disebelah"
Kinan kembali mengangguk
"Tetapi, Mbok Mina tidak bisa menginap disini karena punya keluarga. Ada anak dan juga suami. Begitu kan Mbok?" Menjelaskan pada Kinan, sekaligus bertanya pada Mina
"Inggih nyonya" Jawab Mina
"Nah, dan hari ini, Simbok sudah mulai bekerja. Tadi juga sudah memasak. Kalian tidak keberatan kan? Biar Kinan tidak pusing beli lauk melulu" Sambungnya sambil tersenyum lebar diakhir kata
Akhirnya merekapun sarapan bersama
-
Sehari kemudian, Alana dan Hanan pulang lagi ke Semarang karena panggilan darurat
Sepulang kedua mertuanya, Kinan beres-beres yaitu memasukkan bajunya pada kopernya
Saat kepulangan mertuanya, Imran belum pulang dari kantor
Jadi kepindahan Kinan dari atas kekamar bawah, Imranpun belum mengetahuinya
Malampun tiba
Zira sudah masuk kekamarnya. Karena diruang televisi hanya ada Imran dan dirinya, Kinanpun berdiri kemudian masuk ke kamar bawah
Imran yang melihat aksi Kinan, Iapun membuntutinya "Kinan" Panggilnya setengah berbisik. Namun Kinan tidak mendengarnya
Pintu kamar sudah tertutup
Tak ada jalan lain, Imranpun mengetuknya pelan "Kinan.. Kinan"
Kinan datang membukanya
"Kok Kamu masuk kamar sini. Ngapain?"
"Ya tidur, Mas"
"Kok pindah. Siapa yang suruh"
"Nggak ada. Kan Mas sendiri yang bilang. Jika Bunda sudah pulang, Aku pindah. Benarkan?"
"Harusnya Kamu ngomong dulu ke Aku kalau mau pindah"
"Aku takut diusir kali Mas. Sebelum itu terjadi mending Aku turunlah"
"Terus. Bajumu juga sudah Kau bawa kesini semua?"
Kinan mengangguk "Iya"
"Ck" Imran berjalan melewati Kinan. Kemudian mendudukkan pantatnya, lalu bersandar dan mengangkat kakinya berselonjor disana "Kamu takut banget kalau Aku ngusir sih"
"Ya kan Aku waspada Mas"
__ADS_1
Imran tersenyum geli
Imran menepuk-nepuk kasur yang kosong disebelahnya "Naik sini"
"Kok Mas nggak keatas"
"Enggak. Kamunya kan ada disini"
Kinan memutari ranjangnya kemudian naik keatas ranjang lewat sebelah kiri "Mas yakin mau tidur disini?"
"Ya kalau mau keatas, ayo"
"Ish, bukan itu"
"Terus apa?"
"Ah.. Sudahlah. Susah dijelaskan" Ucapnya frustasi
Beberapa menit berlalu kecanggungan mulai tampak kembali saat pintu kamar dikunci oleh Imran
Imran melepas baju atasnya, kemudian celana panjangnya juga mulai tertanggal
Alamat adegan semalam bakal terjadi lagi
Kinan sungguh malu menatap iparnya yang sudah menjadi suaminya itu hanya mengenakan boxer hitam nan ketat dengan pedenya
Imran tersenyum bangga seakan body dan miliknya porposional
Imran mengganti lampu utama dengan lampu temaramnya
Kinan kembali cemas
Setelah kamar ini menjadi remang-remang Imran naik keatas ranjang
Imran langsung menenggelamkan Kinan dalam pelukan
Kinanpun tampak kaku tak percaya
Imran kembali mencumbunya memberi rangsangan pada pasangan
Imran sungguh lihai. Bahkan melebihi Altaaf almarhum suaminya
Imran ******* bibir Kinan. Namun Kinan kaku seperti semalam "Balas, sayang"
Kinan seperti terbius. Kata-kata sayang sudah sering terucap dari Imran. Entah Imran sadar mengucapkan kata itu, atau hanya mencairkan suasana saja karena nafsu
Kinan mulai membalasnya dengan mata yang terus terpejam
Leher jenjang, dada, semuanya sudah dijamah oleh Imran
Akhirnya, basah basah basah
Tissue tissue tissue
-
Hari demi hari hubungan mereka makin akrab
Kinanpun sudah berpindah kekamar atas
Kinan mengambil kopernya. Kemudian menata baju-bajunya kedalam koper tersebut
Imran yang baru melihat kegiatan Kinan, Ia pun mendekat "Kok bawa baju segala. Memangnya pelatihannya berapa hari?"
"Satu Mas. Tapikan seharian penuh"
"Dihotel kan?"
"Iya seperti dalam undangan"
"Ck. Hotel itu kan dekat dengan mall, Sayang..."
Blush
Wajah Kinan langsung memerah
Kinan meliriknya. Kinan berfikir Imran meledeknya. Namun hati Kinan setengah menerima dengan panggilan tersebut
Imran mengeluarkan baju-baju Kinan "Bajunya masukin kembali. Bawanya seperlunya aja"
"Terus, Aku mau ganti apa, Mas"
__ADS_1
"Ya bajulah. Kita beli disana" Ucapnya diakhiri anggukkan seakan bereskan urusan
BERSAMBUNG....