Suamiku Kakak Iparku

Suamiku Kakak Iparku
Manis


__ADS_3

Kinan menaruh kreseknya diatas meja. Kemudian, Imran menariknya dan mengumpulkan kresek kinan tadi agar semuanya berdekatan dengan kresek yang Zira letakkan disana "Ganti baju dulu" Ucap Imran menyuruh


Kinan menatap Imran sekejab kemudian Iangsung patuh


"Sudah sholat belum" Tanyanya lagi saat mereka menaiki tangga


'Tumben banget tanya' Kinan berhenti lalu meminggir dan menoleh kebawah "Sholatnya tadi udah" Jawabnya sedikit takut


Imran menatapnya serius lalu berdiri didepannya "Ya udah ganti baju"


Lagi-lagi Imran menyuruh lalu membuntuti Kinan kembali


-


Imran masih bersedekap mengabsen apa yang sedang Kinan kerjakan


"Kenapa Mas ada disitu" Tanyanya dengan baju gantinya yang masih Kinan peluk


"Nunggulah"


"Nunggu siapa?"


"Ya nungguin Kamu. Memangnya nungguin siapa? Zira nggak ada dikamar sini"


Mulut Kinan meruncing "Ya bukan begitu Mas. Malu"


"Malu. Sama suaminya malu. Malu karena pulang terlambat? Baguslah. Namanya tau kalau pulang malam itu nyiksa suami"


Kinan menatap Imran "Nyiksa gimana?"


"Nyiksa bikin suamimu lapar. Sudah ganti, buruan. Ditungguin kok lelet banget"


"Ya Mas turun dong, sana keluar"


"Nggak. Nggak ada yang keluar. Aku nungguin Kamu ganti itu bukan kenapa-napa, tapi biar Kamu cepet. Buruan"


Kinan tersenyum geli. Rasanya ada yang aneh dengan suaminya


Kinan maju, lalu memutar Imran "Menghadap sana"


Imran sudah menghadap kearah pintu "Hm, Kamu ya"


-


Imran, Zira, dan juga Kinan, sudah berkumpul diruang makan


Semuanya duduk santai kecuali Kinan


Imran Dan Zira masih memperhatikan Kinan yang sibuk dengan buruannya tadi sore


Masih memperhatikan


Kinan membongkar kresek yang pertama. Dan ternyata isinya aksesoris wanita


Imran membiarkan istrinya membagi-bagi aneka gelang dan lain sebagainya


Kinan membagi antara miliknya dan Zira "Zira, ini milikmu" Kinan menyodorkan barang tersebut


"Tadi Kakak habis bayar berapa dipenjual ini?" Tanya Zira


"Lupa" Jawabnya kembali sibuk


"Lah, terus Aku bayarnya gimana?"


"Untukmu gratis, Zira. Kan udah Aku bilang. Tadi tuh, Aku dapat rejeki nomplok. Tokoku dapat orderan snack box. Dan Kamu tau, mulai besok dan seterusnya, perusahaan itu akan jadi Pelanggan tetapku, Zira"


Dalam hati Imran tersenyum.


"Oh.." -Zira


"Jangan cuma oh. Tadi Aku kan udah cerita" Ucap Kinan masih sibuk


"Iya, iya Aku dengar. Cuma, waktu Kak Kinan cerita itu masih di pasar. Jadi, sedikit berisik dan nggak kedengeran" Ucap Zira menoleh pada Imran

__ADS_1


Imran mengangguk. Tetapi saat Kinan menyodorkan sesuatu pada Imran. Imran kembali berpura-pura masih kesal


"Apa itu !!" Tanya Imran dingin


"Mainan. Ini untuk Mas" Menjawab sekaligus menyerahkan sisir kecil dan juga gelang tasbih yang terbuat dari kayu


Imran tidak mengambilnya. Ia menatap sekejab kemudian menatap kresek berikutnya "Buka. Apalagi itu"


Kinan kembali membongkar isi kresek tadi dengan acak. Isinya ternyata makanan


Kinan mulai menurunkan "Cilok, telur gulung, tahu gejrot, tahu bakso, bakso, macaroni telur-"


"Nggak usah disebutin semua!! Segitu banyak makanan, siapa yang mau makan??!" Masih Imran. Dan kali ini kemarahan Imran tidak bisa ditebak


"Aku kasihan Mas sama pedagangnya, makanya Aku beli"


"Semua??"


Kinan mengangguk


"Ngapain Kamu kasihan sama pedagangnya. Nggak sekalian aja pedagangnya bawa pulang"


Kinan menunduk sedih "Mas, Aku sudah lapar" Ucapnya sudah berkaca-kaca


"Udah tau lapar, kenapa kelayaban nggak pakai waktu" Imran masih mengintimidasi "Duduk" Suruhnya saat tau pelupuk mata Kinan sudah tak terbendung lagi air matanya


Kinan terduduk lesuh "Mas nggak pernah sih jadi orang susah" Kinan mengusap air matanya yang mulai berderai "Jadi nyepelein"


Imran terdiam. Senjata istrinya sudah membuat Imran tak berani lagi melanjutkan aksinya


-


Kinan menuang seluruh makanan kedalam panci. Lalu menghangatkannya diatas tungku yang berada diatas meja. Setelah makanan tersebut hangat Kinan membaginya kedalam piring


"Zira. Ini untukmu. Ini untukmu juga Mas" Ucapnya mendorong masing-masing kehadapan Zira dan Imran


Karena perut Kinan sudah keroncongan, Dia tidak sempat memperhatikan kedua kakak adik lagi


Kinan tersadar setelah perutnya dirasa kenyang


Kinan menatap keduanya, ternyata hidangan didepan mereka berdua tak satupun yang disentuh


Kinan mengabsen Zira


"Aku kan udah bilang Kak. Aku nggak suka"


"Terus makanannya gimana?" Tanya Kinan dengan wajah sedih


"Ya nggak tau. Perutku bukan kantong Dora emon seperti punya Kak Kinan" Kemudian Zira malah masuk kekamar


"Zira!!" Panggilnya seakan minta tolong


"Maaf Kak. Aku nggak nafsu"


Kinan terlihat sedih kembali saat dirinya melihat makanan utuh didepan Imran


Tiba-tiba Kinan menariknya dari hadapan Imran "Ya udah deh. Semuanya buat Aku. Untuk makan besok"


"Tunggu" Imran mengambil es cendol yang sudah luntur, kemudian menyedotnya. Dahi Imran berkerut "Enggak manis"


"Masa. Tadi manis kok" Kinan berdiri disamping Imran, lalu menyedotnya


"Masih manis??" Tanya Imran


Kinan geleng-geleng "Es batunya luntur" Kemudian Kinan mengambilnya dan ingin membuangnya


"Eh, mau dikemanain"


"Buang"


"Jangan. Siniin. Biar kuhabiskan"


"Tapi udah nggak manis, Mas"

__ADS_1


"Biarin. Asal Kamu duduk disitu dengan anteng, pasti manis" Ucapnya dengan bibir melengkung


Kinan tersenyum kikuk "Ya udah deh Aku tungguin. Sekalian makan baksonya ya ? Terus kasih sambal yang banyak"


Imran mengangguk lalu tersadar seketika "Ih, nggak mau. Perutku sensitive jika makan sambal berlebihan"


"Sakit perut?"


Imran mengangguk


"Kan natap Aku Mas"


"Ngapain natap Kamu"


"Kan manis katanya Mas"


"Sudah-sudah. Sini, Aku udah keburu laper"


-


Sementara


Dijalan depan rumah Imran


Ali dan kawannya ternyata ada disana


"Kinan ternyata pindah disini? Ikut siapa?" Tanya Ali pada dirinya sendiri


"Mungkin pamannya, bos. Tadi bos bilang adiknya kan nyebut ke gadis yang nyetir tadi" Saut anak buah Ali


Beberapa lama menguntit disana, anak buah Ali melihat bayangan wanita dan pria masuk kekamar yang terhalang tirai


"Itu siapa bos" Tunjuknya pada salah satu kamar yang masih terang sendiri


Ali mengikuti arah jari anak buahnya "Kalau lihat gesture tubuh, kayaknya Kinan"


"Terus yang satunya? Kayaknya tubuh cowok deh bos. Lebih tinggi ama cewek yang tadi nyetir"


Alipun ikut menebak-nebak


Setelah beberapa saat, lampupun dimatikan


"Atau jangan -jangan....??"


"Apa??" Tanya Ali ikut bertanda tanya


"Pacarnya pacar si bos"


"Pacar Kinan??"


Anak buahnya mengangguk


"Nggak mungkin?"


"Kalau gitu, Kita selidiki aja bos"


-


Kinan masuk kekamar. Namun Imran terlihat cuek dan fokus pada ponselnya


Daripada bingung, Kinan duduk disofa


"Kenapa malah duduk disana?" Masih fokus dengan ponselnya


Kinan tidak menjawabnya


Imran berdiri "Sudah malam, istirahatlah"


"Aku masih kenyang, Mas"


Imran meraih tangan Kinan, lalu mengusap perut Kinan "Makanya, kalau makan pakai aturan"


Imran mengabsen perut Kinan "Perasaan makannya banyak, kok nggak buncit ya"

__ADS_1


__ADS_2