
Kinan mengibaskan tangan Imran lalu memberangkang naik ke atas ranjang
Imran mengikutinya "Main nggak??" Ucapnya sambil menabok pantat Kinan
"Mas!!" Tolaknya sambil menyamplok tangan Imran
"Kenapa??"
"Kenyang!!"
"Hanya sebentar" Mohon Imran
Kinan terduduk meskipun belum sempat merebahkan tubuhnya Iapun segera beranjak dari tempat tidur
Imran menarik tangannya "Mau kemana?" Tanya Imran sedikit mencegah agar Kinan tidak menolak kemauannya
"Ke tempat Zira"
"Ngapain??" Tangan Imran belum melepaskan tangan Kinan
"Tidur"
"Memangnya disini kenapa?"
"Takut nggak bisa tidur"
"Tidur tinggal tidur. Ngapain kesana-sana. Tidur" Imran menggiringnya agar Kinan merebah
Kinan menyingkirkan tangan Imran, dan mendudukkan Imran diranjang. Namun Imran seakan tak mau melepasnya "Ya kan biar aman Mas"
Sambil duduk Imran mendongak "Memangnya disini kurang aman?" Tanyanya sedikit merayu
"Enggak. Gawat"
Imran memiringkan kepalanya dengan sedikit mengangguk bermaksud tanya 'Kenapa bisa gawat'
"Ada singa, tuh" Tunjuk Kinan pada Imran
Imran langsung berdiri dan menarik Kinan dalam pelukan "Sudah berani rupanya ya" Imran meraba pinggang Kinan sambil menggelitik
"Haha Mas, jangan siksa Aku Mas" Ucap Kinan jinak-jinak merpati
"Enggak ada kata siksa. Yang ada saling nikmat" Ucapnya sambil mencumbu
-
Kinan direbahkan dengan perlahan. Setelah itu lampupun dimatikan dan menggantinya dengan lampu temaram
Tak menunggu lama, baju Kinan sudah terlucuti semuanya oleh tangan nakal Imran
Imran tersenyum penuh nafsu. Tangan yang dulu pernah menjamah gadis yang bukan muhrim, kini bebas menjamahnya pada beda wanita yang telah sah menjadi istrinya
Imran mungkin belum sepenuhnya mencintai Kinan. Namun hidup bersamanya membuat Imran nyaman
Orang bijak berkata "Jalani dan nikmati. Jika suatu saat itu membuatmu nyaman, secara otomatis sayangpun akan tumbuh seiring berjalannya waktu"
Setelah pencapaiannya terbayarkan, hati Imran lebih damai
Imran menarik tissue. Kemudian mengelap sesuatu yang barusan Imran tengok. Setelah membenahi kaki Kinan, Imran mengelus perut Kinan kemudian mencium dahi "Makasih ya, sayang.."
-
Pagi harinya
Imran keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih membelitnya dipinggangnya
Saat keluar tidak ada Kinan, Iapun mencarinya
__ADS_1
Imran keluar dari kamar dan melongok kebawah "Sayang.. Dasiku mana??!! Bajuku juga mana ??!!" Teriaknya saat Ia tau Kinan itu sedang berada dilantai bawah
Kinan yang tadinya tidak kesal, kemarahannya muncul sampai keubun-ubun
Kinan berjalan cepat menuju kelantai atas
Saat mereka berhadapan, Imran tersenyum. Membuat Kinan tambah kesal dan ingin menelannya hidup-hidup
"Turun aja sampai kebawah. Biar orang pada tau, Mas mau pamer badan" Kesalnya meletup-letup
"Dih, Aku kan cowok. Batasan auratnya kan ini" Tunjuknya pada sesuatu yang ditutupi oleh handuk
Kinan berjalan dan terus dibuntuti oleh Imran "Faham" Kinan berhenti lalu menoleh "Tapi kalau Mas kluyuran dengan tubuh setengah telan jang gini, memangnya mereka nggak mikirin yang enggak-enggak"
"Ya enggaklah. Memangnya mereka mau mikirin apa"
Kinan langsung menarik paksa handuk yang masih dipakai Imran
"Eh eh. Ngapain dibuka"
"Dada sama perut Mas itu banyak bulu. Kalau mereka lihat itu bayangin lato-latomu Mas"
Imran tersentak kemudian tertawa terpingkal-pingkal
Kinan menutup mulutnya keceplosan "Ih" Ucapnya sambil menghentakkan kakinya kesal
Imran merangkul pundak Kinan "Yang fikirannya ngeres itu ini" Ucapnya sambil memukul dahi Kinan dan setengah mendorongnya. Agar Kinan sedikit bersandar pada tangannya yang sengaja menarik Kinan setengah merebah dengan tumpuhan tangannya
Kinan berdiri sempurna "Terus. Alasan teriak-teriak seperti Tarzan ngapain?? Kalau bukan pamer ngapain ??! Ntar handuknya mlorot didepan Bibi dan Mbaknya. Kalau bukan pamer ngapain, hayo !!"
"Tadi itu Aku pasang handuknya kenceng sayang. Yang bikin mlorot kan Kamu"
"Ah, alesan. Sudah kuambilkan baju juga, masih aja banyak alesan. Ingin pamer dada kan??!"
"Apalagi?"
"Nih baju, dasi, celana. Kenapa teriak-teriak. Sengaja?"
"Dah pakai sendiri" Kinan segera berbelok
Imran segera meraih tangan Kinan "Issh, pakain dong"
"MashaAllah Mas...."
"Pakaiin" Rayunya membuat Kinan terpaksa menurut
-
Mereka berdua berangkat bersama-sama
Setelah drama semalam dan berakhir diranjang, ditambah kelakuan Imran mendadak seperti anak kecil, membuat Kinan terdiam dan tak ingin bicara
Entah mengapa pagi ini Kinan jutek dan tidak ingin tersenyum. Apa karena semalam ? Atau karena Zira meninggalkannya
Mobil sudah dikemudikan oleh Imran. Dengan satu penumpangnya yaitu Kinan sang istri
Kinan duduk disisi Imran yang sedang terdiam dan tidak mau menatap Imran
Perlahan tangan kiri Imran menjulur dan berhenti dipaha kanan milik Kinan "Kenapa diam?" Tanyanya sambil fokus dengan jalanan yang sedang mereka tempuh
Kinan terdiam. Ia tak ingin menjawabnya
Wajahpun Ia buang keluar
"Mas bersalah padamu ?" Tanya Imran lagi
'Mas, Mas!' Kesalnya dalam hati
__ADS_1
Lagi-lagi Kinan tak menjawab. hanya gerutuan yang tak didengar oleh Imran
Imran menghela nafas. Mengusap paha Kinan kembali dengan lembut "Kalau Mas bersalah, Mas minta maaf, ya ?" Ucapnya serius. Kemudian tangan kiri Imran, Imran tarik kepahanya sendiri
Kinan mengikuti tangan Imran yang tak lagi dipahanya
Hati Kinan tambah kesal. Dengan paksa tangan Imran, Kinan letakkan dipaha Kinan kembali
Imran tersenyum geli
"Biarkan seperti ini" Ucap Kinan yang belum mau menatap Imran
"Berarti sudah tidak marah, ya?"
"Ih bukan. Marahnya masih tetap"
"Terus, tanganku disuruh begini buat apaan?"
"Ya udah kalau nggak mau. Angkat !" Suruhnya membuat Imran tersenyum geli kembali. Namun tidak Imran tampakkan didepan Kinan
"Puk puk puk" Ucapnya sambil memukul kecil paha Kinan "Kenapa pagi-pagi banget sudah sewot? Berantem sama Zira?" Tebaknya pura-pura
"Kenapa merembet ke Zira? Zira nggak ada salah" Ucap Kinan sedikit naik oktaf
"Ya udah, bilang dong marah sama siapa coba?"
Kinan menatap tangan Imran yang masih memberi pijatan pada paha Kinan. Kemudian Kinan ambil dan meletakkannya dipaha Imran "Tangan orang ini yang bikin ulah"
Ahaha
Imran tertawa ngakak "Bikin ulahnya yang bagaimana?" Imran kembali meletakkan tangannya dipaha Kinan, lalu memberi remasan disana
"Gara-gara tangan itu semalam Aku nggak bisa tidur" Liriknya pada tangan Imran
"kok bisa. Semalam tidur nyenyak ah" Ucap Imran tak mau kalah
"Aww wa wa wa" Ejek Kinan menirukan ucapan Imran "Yang tidur lelap itu Mas. Aku nggak bisa tidur"
"Kok bisa"
"Orang perut penuh kok di ajak begituan. Eneg tau" Kesalnya dengan mulut mengerucut
"Oh, jadi protes nih"
"Eng.. Iya!!"
Ahaha
-
Imran sudah menurunkan Kinan didepan toko roti milik Kinan
Tiba-tiba tangan Imran meraih tangan Kinan lalu menggandengnya "Ayo masuk"
Kinan bingung tak menjawab
"Ayo masuk. Aku antar sampai dalam"
"Tumben Mas mau masuk. Nggak takut terlambat?"
"Enggaklah"
"Beneran??"
"Iya"
"Asli lo ya..."
__ADS_1
"Iya Kinan"
BERSAMBUNG