
Kinan menangis saat keluar dari ruangan steril itu
Dikursi tunggu masih ada barang yang diduga milik Altaaf
Disana juga masih ada box pemberian Kinan yang berisi donat. Dan itu masih utuh
"Aa'......" Kinan menunduk lesuh
Tak berapa lama seorang dokter keluar mencari salah satu keluarga dari pasien yang bernama Altaaf
"Keluarga dokter Altaaf"
Kinan langsung menoleh lalu berdiri mendekati sang dokter. Ken pun ikut berdiri disisi Kinan
"Saya keluarganya dok. Saya istrinya" Saut Kinan tegas
Dokter itu sedikit terkejut "Istri??"
"Iya. Dia istri dari dokter Altaaf. Adik Saya" Jelas Ken yang sedikit kenal dengan sang dokter
Dokter itupun mengabsen Ken dan berakhir menatap Kinan tak percaya "Baiklah, mari keruangan Saya"
Kinan dan Ken pun mengikuti langkah sang dokter menuju keruangannya
Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Kinan kembali menangis
"Dek"
"Sesak A'. Dadaku sesak"
Sementara, mobil baru yang dikendarai Altaaf bodynya hancur parah
Ringsek tak berbentuk
"Bagaimana kronologisnya?"
Tengah malam, Altaaf baru saja keluar dari rumah sakit sekitar pukul 11 malam lebih beberapa menit
Altaaf mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia tau dirinya lelah, namun masih sadar bahwa mengebut, bukan solusi terbaik
Tak disangka ditikungan, ada pengendara sepeda motor meluncur dari arah berlawanan dengan kecepatan sangat tinggi
Diduga, pengendara motor tersebut sedang mabuk berat. Keduanya bahkan terlihat tertawa dan tidak memikirkan keselamatan bahwa tikungan tersebut curam dan berbahaya
Dan sepersekian detik terjadi dentuman hebat
Duarrrr brakkk
Mobil yang dikendarai Altaaf menabrak pohon beringin disisi jalan sebelah kanan. Sedang sipengendara motor tersebut menabrak batu besar dan yang membonceng terpental menabrak pohon mahoni
Tragis
Ketiganya mengalami luka serius dan koma
-
Kinan berlari sambil meremas dadanya
"Dada ini sakit. Sakit sekali" Kinan terus berlari menuju dimana sang suami terbaring
Kinan menuju ruang ICU
Kinan terduduk didepan brankar suaminya dengan perih
__ADS_1
"A', berilah kesempatan Aku untuk mendampingimu. Aku tidak sanggup hidup sendiri tanpamu" Diusapnya dahi Altaaf dengan kasih
Wajah kusut dan lelah Kinan membuat Kinan tertidur disisi brankar Altaaf
-
Sebuah tangan mengusap lengan Kinan dengan lembut
Kinan terjingkat kemudian berdiri dengan wajah kusutnya
Alana langsung memeluk Kinan "Istirahatlah diluar. Bunda dan Daddy yang akan menunggunya" Ucap Alana sendu
Kinan terlihat berat untuk meninggalkan suaminya
"Istirahatlah. Jaga kesehatanmu"
Kinan mengangguk pasrah. Sebelum keluar, Kinan mendekati Altaaf. Mengusap dahi suaminya kembali kemudian membisikkan sesuatu "A', Bunda dan Daddy telah datang. Aa' bangun ya, demi Aku" Kemudian Kinan mencium dahi sang suami. Setelah ikhlas, Kinanpun keluar dari ruangan steril itu
-
Kinan berjalan dengan langkah lesu. Kemudian mendudukkan pantatnya pada kursi tunggu yang masih ada barang-barang milik Altaaf disana
Tak sengaja, telinganya mendengar gerutuan seseorang yang menarik tangannya dari bawah pantatnya
Kinan langsung terjingkat. Ia berdiri
"Duduk kok nggak liat-liat sih. Nggak tau ada tangan orang" Suara itu terdengar sangar dipendengarannya
Mereka saling tatap. Merekapun tidak saling kenal
Pria itu terlihat mengusap-usap tangannya yang barusan kegencet pantat Kinan
Kinan sedikit tak enak tetapi Dia tetap tidak mau disalahkan begitu saja "Ini barang milik suamiku. Dan Aku tadi duduk disitu" Tunjuk Kinan pada kursi sebelah pemuda itu
"Hmm" Pria itu tersenyum mengejek "Oh.. Jadi, Kau itu istrinya Altaaf ?" Tanyanya meremehkan
Imran berdiri. Ya, pemuda itu adalah Imran sang kakak ipar "Hmm, kirain cewek pilihan adikku itu seorang yang sangat cantik, pandai, modis. Eh, ternyata.. Kusut. Gini aja digandrungi sampai berani melangkahi"
"Maksud situ apa. Situ siapa berani mengejek suamiku" Saut Kinan dengan suara tinggi
Imran berbelok menatap Kinan kemudian memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya "Aku Imran. Abangnya Altaaf"
"Imran??" Gumam Kinan menutup mulutnya tak percaya
Setelah Imran berhasil membuat Kinan membatu, Imran berjalan menjauhi Kinan
Kinan tidak percaya. Kakak beradik kenapa begitu berbeda. Altaaf murah senyum. Sedang kakaknya dingin seperti hantu
"Oh... Jadi itu orangnya. Tetap tampan suamiku. Dia apa!! Belagu. Penindas" Gerutunya tanpa melihat sekitar
"Bilang apa??"
Tiba-tiba suara itu mengagetkan dirinya
Kinan yang melihat Imran kembali berdiri didepannya, hatinya langsung was-was dan matanya melotot tak percaya
Daripada kena masalah, Iapun segera meraup barang-barang milik suaminya. Kemudian membawanya kekamar tunggu dimana keluarga pasien yang berada diruang ICU itu berkumpul dengan tempat tidur masing-masing
-
Kinan tampak berjalan keluar dari rumah sakit sebelum senja tiba
Tadi Dia sudah bolak-balik keluar masuk ke ruang dimana suaminya terbaring lemah
__ADS_1
Kedua mertuanya begitu baik. Memberikan Kinan makanan dan selalu mengusap punggungnya dengan sayang
Dan sore ini, Kinan disuruh istirahat dirumah
Dia telah dibebaskan sementara dari rumah sakit selama satu malam
"Menginaplah diapartemen milik Kak Imran. Istirahatlah disana. Rumah kalian jauh kan?" Ucap Alana memberi solusi agar Kinan cepat beristirahat
-
Wanita itu tampak memegang secarik alamat di tangannya dan menaiki ojek online di depan gedung rumah sakit itu
Setelah beberapa menit, sampailah digedung apartemen yang tinggi menjulang
"Bener nih alamat yang diberikan Bunda. Aku kok baru tau ya"
Dia pun tiba di sebuah unit apartemen yang terbilang mewah milik sang kakak ipar
Apartemen itu berada ditengah kota dekat dengan rumah sakit
Apartemen itu sepi ketika hari telah hampir malam
Seorang wanita paruhbaya menyambut kedatangan Kinan dengan ramah "Eh, Non sudah datang ya. Silahkan masuk Non"
Kinan mengangguk. Rasa takut itu berubah nyaman saat tau didalam apartemen ada seorang wanita yang diduga asisten rumah tangga kakak iparnya
Kemudian, wanita itu membawanya ke suatu kamar yaitu kamar tidur "Silahkan Non. Non bisa istirahat disana"
Kinan mengangguk kemudian memasuki Kamar tidur yang begitu gelap gulita.
Ada bau parfum menyengat begitu Dia masuk
Sebelum mampu menyesuaikan diri dengan kegelapan di ruangan itu, sepasang tangan yang kuat menariknya ke sisinya.
Napas panas sontak menyerangnya "Jadi Bunda benar-benar mengirimkan Kamu untuk datang kemari? Dasar wanita tak tau malu. Persis seperti wanita panggilan" Ucapnya sambil mendorong tubuh Kinan
"Wanita panggilan?" Ulang Kinan saat mendengar suara itu
Suaranya tidak asing dan mengingatkan pada seseorang yang telah menghina dirinya dan juga suaminya tadi pagi
Air mata Kinan kembali mengalir dari matanya "Apa maksudnya bicara seperti itu. Aku bukan wanita hina yang situ sebutkan barusan. Aku istri adikmu" Suara Kinan sedikit meninggi membuat Imran tambah membencinya
Ceklak
Suara saklar membuat ruangan ini menjadi terang
Kinan sudah melihat laki-laki jangkung itu yang tak lain adalah Imran
"Selain tidak ada sopannya, ternyata Kau seorang pembawa sial. Jika terjadi apa-apa dengan adikku. Hidupmu tidak akan tenang"
Kinan menatap Imran spontan
"Gadis yang bertabrakan dengan Altaaf telah tewas tadi siang. Jika itu terjadi pada Altaaf, Kaulah wanita yang harus bertanggung jawab"
"Maksudnya??"
"Altaaf itu anaknya patuh. Semenjak mengenalmu, Dia seakan terhipnotis dengan caramu. Membuat Dia banyak fikiran. Jika kecelakaan ini karena sesuatu yang menindasnya, berarti Kamu yang harus bertanggung jawab"
Tiba-tiba perasaan takut itu menyerangnya, dan suaranya bergetar. "Apa Dia akan segera mati?"
"Ya! Kenapa? Kau menyesal?" Pria itu menyeringai
"Aku tidak menyesalinya" Jawabnya berkaca-kaca "Aku tidak bersalah" Sambungnya
__ADS_1
Memang tiada ruang untuk menyesalinya, Kinan bahkan tidak tau kesalahannya dimana
BERSAMBUNG.....