
Malam harinya
Oma Sifa berjalan dengan kruknya. Ia ingin masuk kedalam kamarnya setelah makan malam usai
"Gemma, Imran gendong ya.." Tiba-tiba Imran mengangkat Oma kedalam bopongannya
"Ei... Gemma berat" Tolaknya tapi tetap saja tubuhnya tetap diangkat oleh Imran
"Buat Imran tak ada yang berat. Lepasin kruknya, Ma"
"Oh ho-ho" Kemudian tangan keriput itu melepas tongkat berkaki empat itu
Tangan Oma langsung memegang leher Imran tapi terhenti saat tak sengaja tangannya menyenggol rahang Imran yang berbulu
Oma mendongak. Dengan perlahan jemari kering itu mengusap pipi Imran. Lalu berhenti lamaaa
Imran sudah membawanya kedalam kamar Oma
Imran berhenti "Kenapa pipiku, Ma?"
Oma menggeleng lalu berkaca-kaca
Dengan hati-hati, Imran merebahkan tubuh rentah itu diatas ranjang.
Setelah berbaring, tangan Oma menjulur kebawah bantal samping kirinya. Sesuatu kenangan telah diambilnya
"Foto ?? Foto siapa itu Ma?" Tanyanya ikut melongok
Ternyata Oma Sifa mengambil foto Opa Ilham yang masih muda dengan foto yang sedikit usang
"Oh , Gemma kangen ya?"
Oma mengangguk dengan tangan yang masih mengusap foto tersebut
Oma menatap foto lagi dengan gurat sedih "Kapan Papa mengajakku"
"Ma" Imran
Hening
"Lama sekali kedatanganmu"
"Ma. Gemma kangen banget ya?" Tanyanya dengan penuh kehati-hatian
Lagi-lagi Oma tidak merespon pertanyaan Imran
Ada jeda
"Apa absenmu lupa, Pa. Namaku terhapus, hm. Kenapa cucumu yang kau ajak. Mama yang sudah lelah malah tidak Papa jemput"
"Ma.. Gemma kok ngomong gitu. Gemma tidak suka dengan kedatangan Imrankah??" Tanya Imran
Oma Sifa menggeleng "Justru kedatanganmu, membuat Gemma sangat bahagia"
"Tapi Gemma tak boleh berkata seperti itu. Gemma tidak boleh menyerah. Masih ada anak dan cucu Gemma yang sayang sama Gemma"
"Kamu tidak tau. Sebaik-baiknya perlakuan anak, tetap saja, pasangan Kita paling terbaik"
"Tapi.."
"Tidak. Hanya berhayal.. Seandainya Papa hadir, rasanya ingin ikut"
"Ma.."
Oma terdiam
"Apa Gemma ingin ikut Imran?"
Oma Sifa menggeleng "Gemma kangen. Sangat kangen. Papa sering hadir jika Gemma menyapanya. Tapi Papa selalu diam. Tidak ingin mengajakku"
"Gemma.. Apa perlakuan kami pernah menyakitimu Ma?"
"Tidak sama sekali"
"Terus, kenapa Gemma selalu ingin pulang"
"Capek"
"Baiklah. Imran dan Kinan temani ya"
__ADS_1
"Tidak. Istirahat saja kalian. Nanti ada Mbaknya yang akan menemani tidur disini"
"Oiya...?"
Oma Sifa mengangguk
Hening kembali
"Oiya. Bagaimana? Kamu bahagia telah menikah hm?"
Imran tersenyum kemudian mengangguk
"Syukurlah. Semoga kalian berjodoh sampai maut memisahkan. Selalu bahagia serta dilimpahkan rezeki"
"Aamiin.. Oiya, apa Gemma tidak ingin mendengar kabar?"
"Apa itu"
"Kinan hamil"
"Benarkah?"
Imran mengangguk
"Jadi, rajutanku untukmu itu bukan karangan belaka. Ternyata sudah feeling seorang nenek?" Tanya Oma bahagia
Imran tersenyum "Oiya. Jadi rajutan yang Gemma rajut itu untuk calon anakku?"
Oma mengangguk
"Makasih ma" Imran memeluknya erat
-
Sore harinya
Imran dan Kinan sudah pulang
Mobil sudah terhenti dihalaman. Begitu mesin mobil dimatikan. Dari kejauhan, Zira berlari kegirangan menuju mobil bagian kiri depan
Kedua pasangan inipun keluar melalui pintu yang berbeda
"Kak Kinaaaaan..."
Dan saking senangnya Zira seakang minta digendong oleh Kinan
Tanpa menghawatirkan apapun, merekapun terjatuh
Eh eh eh
Mereka berdua sama-sama terjatuh sambil tertawa
Imran yang melihat mereka berdua sudah terduduk dihalaman, segera menjewer Zira "Apa-apa an ini. Kenapa jadi goleran dihalaman"
Bersamaan itu Imran segera membantu Kinan untuk berdiri "Hati-hati"
Zira berdiri dengan muka kesal "Sama Kak Kinan bilangnya lembut banget pakai bilang ati-ati segala. Giliran sama Aku, main tarik telinga" Protesnya sambil bersedekap
Imran tersenyum kemudian menarik dompet lalu mengeluarkan uangnya "Ini duit. Sudah sana beli sesukamu"
Zira langsung berjingkrak-jingkrak melupakan perlakuan Imran yang tiap hari membuatnya cemburu "Makasih Kak. Eeemmmmm" Bibir Zira mengerucut ingin mencium Imran
Tapi tangan Imran mendorong jenongnya "Sudah, sudah, sudah. Nggak usah drama"
"Idi..." Kemudian tangannya menarik tangan Kinan "Ayo kak kita healing" Ucapnya dengan uang yang Ia beber menjadi kipas tangan
Imran kembali melepas uraian tangan mereka berdua "Hus hus hus. Healing, healing. Pergi sendiri" Usirnya sambil menarik tangan Kinan
"Ya..." Zira kecewa
Imran tidak peduli. Yang penting Ia harus selamatkan Kinan dari rayuan Zira
-
Pagi harinya
Kinan dan Zira diajak kepabriknya yaitu pembuatan video dan monitor dimana pabrik ini kepunyanyaan Imran yang ada dikota Cikarang
Imran dan Kinan duduk dijok tengah. Sedangkan Zira duduk dijok paling belakang ditemani oleh sekertarisnya yaitu Vanes
Imran sering datang kemari hanya untuk mengecek sehatkah perusahaan ini
__ADS_1
Sesampainya disana, manager dan supervisorpun telah menyambutnya
Kedua orang kepercayaan ini menggiringnya ke kantor security untuk absensi terlebih dahulu
Setelah Imran melakukan absensi
"Langsung ke bagian produksi, Mister?" Tanya Pak Awanudin sang supervisor
Seluruh karyawan yang berada dipabrik, menyebut Imran dengan sebutan Mister. Berbeda dengan seluruh karyawan yang ada dikantor pusat. Kebanyakan menyebut Imran dengan sebutan Pak.
"Iya"
Merekapun berjalan menuju pintu utama pabrik
Kali ini Kinan memperhatikan Imran dengan seksama
'Keren banget. Ternyata Mas Imran orang nomor satu disini'
Dari cara berbicara dengan bawahannya, Imran begitu gagahnya
Imran berjalan disamping Pak Awan. Terlihat begitu serius namun wajah tetap tenang
"Lewat sini Pak"
Imran mengangguk
Para karyawan yang tau kedatangan sang pemilik terlihat tegang
Imranpun sengaja berdiri dibelakang karyawan yang terlihat gemeteran "Dia anak baru?" Tunjuk Imran
"Iya Mister"
Imran berjalan mengelilingi karyawan produksi yang sedang merakit komponen diatas pcb
Pcb itu berjalan sendiri diatas mesin kompayer yang bergerak
Sangat menghibur
Imran menengok kebelakang mencari istrinya
Yang dicari langsung kedepan karena tangan Imran melambaikan dan meraihnya "Penasaran ingin coba??" Tawarnya saat Kinan sudah diraihnya
Kinan mengangguk "Tapi takut salah Mas"
Pak Awan langsung melambaikan tangan pada Roi sang ketua regu dibagian ini "Roi, pelankan mesinnya"
"Perlambat maksudnya??"
"Iya"
Roi tidak bisa menolaknya. Dengan berat hati, Roi pun telah mempelankan mesin tersebut
Meskipun nanti jadinya tak sesuai target. Apa boleh buat. Pengganggunya pemilik pabrik ini
"Sudah Pak" Jawab Roi diangguki oleh Awan
"Silahkan Nyonya. Anda duduk disebelah sini" Ucap Awan mempersilahkan Kinan untuk duduk menggantikan operator baru yang belum berseragam
Karyawati yang memasang komponen tersebut langsung berdiri digantikan oleh Kinan
"I' tolong diajarin. Saya nggak ngerti" Bisik Awan pada Roi
Roi maju berdiri disamping kiri Kinan "Langkah pertama, tangan kiri Nyonya mengambil resistor ini, lalu pasangkan dipcb sebelah sini. Kemudian tangan kanan nyonya mengambil jemper ini disebelah sini. Maaf, jangan sampai terlewat. Jika salah satu terlewat, dibagian akhir menuju touch up, alarm akan berbunyi. Tandanya ada salah satu komponen yang tidak terpasang. Jelas nyonya?"
Kinan mengangguk "Iya"
Awalnya Kinan ikut dingin karena takut. Namun Imran juga ikut membantunya "Yang ini taruh sini sayang. Jangan salah masuk"
Lama kelamaan, Kinan mampu tanpa keteter
"Resistornya sudah mau habis" Ucap Imran
"Wih, enak Mas cuma masuk-masukin dua benda ini"
"Enggak bisa. Sayang terlalu lembut, nanti tidak mencapai target. Berdirilah. Kita harus keliling dibagian sana"
Kinan menatap sekelilingnya bermaksud minta maaf
"Tidak apa-apa Nyonya"
BERSAMBUNG....
__ADS_1