
Imran terdiam di kamarnya. Ia bersedih, bingung memikirkan nasibnya "Kenapa perlakuan Bunda tidak adil. Kenapa tidak bertanya dulu siapa kekasihku" Imran menyugar rambutnya resah "Cintia.. Kau pasti terluka"
Cintia sudah tau jika hari ini Imran akan menikah
Tiba-tiba
Tok Tok Tok
Suara pintu diketuk
"Kak Imran. Kak Imran"
Imran menoleh pada pintu yang barusan diketuk
"Kak" Panggilnya lagi
Ternyata itu suara Zira
Semenjak Altaaf tiada, Zira tidak ingin kuliah diluar negeri bersama kembarannya Arin
Alasannya clasik. Zira suka menangis sendiri jika ingat kakaknya
Daripada fikiran Hanan dan Alana kacau, Zirapun ditarik ke Jakarta "Ya sudah. Kali ini Bunda turutin kemauanmu. Tapi 1 hal yang harus Kamu patuhi. Kamu harus kuliah yang benar. Jika Bunda dengar Kamu pacaran atau yang lainnya. Lebih baik Kamu nikah. Dah beres. Sekarang Kamu tinggal pilih. Mau tinggal di Jakarta bareng Kak Imran, Atau di Semarang bareng Bunda?!"
Zira garuk-garuk
Ingin ikut Bundanya, tapi Bundanya galak. Jika tinggal sama Kakaknya, Kakaknya jarang dirumah "Pusing"
"Eh pusing segala. Ayo jawab. Bunda nggak mau stres mikirin Kamu"
Bibir Zira meruncing "Sebenarnya, Zira itu anak Bunda bukan sih. Kok Bunda marah-marah melulu"
"Ya marahlah, orang Kamunya susah dibilangin. Dulu Arin yang bikin kesel. Sekarang Kamu ikut-ikutan. Heran"
"Kalau sekali-kali nginep dirumahnya Papa, Papa, Papa boleh enggak?" Tawar Zira
"Papa Papa. Papa siapa maksudnya"
"Papa Fariz. Eh, Papa Fatih aja. Disana pasti ada si kembar. Selain itu sepi. Zira males"
"Serah Kamu"
Dan akhirnya, Zirapun tinggal bersama Imran
-
Kembali Ke Zira
Tok tok tok
"Kak Imran, Kak Imran.."
Dengan lesuh, Imran berdiri dan berjalan kemudian membuka pintu
Pintupun terbuka perlahan
"Kak Imran, boleh nggak Aku masuk"
Imran tidak menjawabnya
Sedetik itu, Zira tersadar bahwa Kakaknya masih mengenakan baju rumahan
"Loh, Kakak kok masih utuh. Pakai bajunya" Bentak Zira sambil nyelonong masuk kekamar Imran
Krah kemeja Zira langsung ditarik dari belakang "Ngapain masuk"
Zira menarik tangan Imran bermaksud melepasnya dari krah bajunya
Zira menunjuk baju pengantin Imran yang masih menggantung diluar lemari "Halah-halah baju pengantinnya kok masih nggantung gitu. Buruan Kak dipakai. Lihat dong jamnya"
__ADS_1
"Iya bawel. Kamu jangan jadi profokator dong"
"Lah. Profokator bagaimana" Zira sudah mengambil baju pengantin milik Imran "Pakai Kak"
Imran mengangkat lengannya karena Zira sedang membantu memakaikan baju pengantinnya "Sebenarnya Aku males"
Zira tidak menjawabnya. Ia justru konsen menata Kakaknya agar lekas beres
"Kicauan Bunda itu sudah bikin pusing. Kenapa Kamu ikut-ikutan. Keluar sana"
Zira berdiri tegak membiarkan Imran mengancingkan baju sendiri "Aku bilangin sama Bunda loh, Bunda disamain sama burung" Ancam Zira
"Zira!! Bisa nggak Kamu itu punya ide"
"Ide menolak Bunda maksudnya??"
Imran mengangguk
"Enggak. Aku nggak berani. Bunda itu galaknya kaya singa betina. Aku nggak mau mati muda"
"Zira!!!!" Panggilan Alana menggema
"Tuh kan, alarmnya bunyi. Yuk Kak. Pakai kopiahmu"
Imranpun menyerah
Benar kata Zira. Bunda Alana seperti raja rimba yang ditakuti seluruh penghuni hutan
-
Seluruh tamu undangan, penghulu, wali, serta calon mempelai semuanya telah hadir
Ken telah menjabat tangan Imran. Dan akad nikahpun akan segera dilaksanakan
"Saudara Imran Zayn Alhanan, Saya nikahkan engkau dan Saya kawinkan untukmu adikku Halwatuzahra Saira Kinan Binti Kinanto Patmowijoyo, dengan mas kawin emas sebesar 20 gram dibayar tu-nai" Ijab Kennan
Seluruh keluargapun saling pandang
Karena Imran tidak langsung menjawab, Ken segera menekan tangan Imran dengan keras
Lamunan Imran tersadar "Saya terima nikah dan kawinnya, Halwatuzahra Saira Kinan, binti Kinanto Patmowijoyo, dengan mas kawin tersebut, dibayar tu-nai" Ucap Imran tak bersemangat
"Gimana saksi??" Absen pak penghulu
"SAH!!!!" Saut semua orang
"Alhamdulillah"
Kenpun segera melepas tangan Imran
-
Sementara ditempat lain
Cintia menangis sambil mengendarai mobil "Kejam Kau Imran. Kenapa Kau menikahi orang lain. Sedangkan Aku adalah kekasihmu. Apa salahku Imran !!!" Tangisnya pecah dalam derunya mesin nan panas diatas aspal
Tin !!!!!
Suara klakson mobil saling bersautan tatkala mobil Cintia melaju zig zag
"Woi !! Ingin mati ya!!" Teriak pengendara lain yang telah menyalip mobil Cintia
-
Dirumah Imran setelah pesta
Seluruh keluarga besar inipun sudah pulang satu demi satu
Zira yang sudah bertemu dengan Sayra, Iapun ikut menginap dirumahnya "Beneran nih, Kak Sayra dirumah sendiri?"
__ADS_1
"Beneran"
"Ntar kak Kenzo pulang. Aku malu" Ujar Zira ragu
"Idih.. Kayak sama siapa aja. Suami Kakak pulangnya minggu depan. Jadi nggak bakalan pulang malam ini"
"Oke deh. Aku mau nginep"
"Gitu dong"
-
Malampun tiba
Kinan masih terduduk di kursi meja makan
Imran datang sambil menyodorkan secarik kertas "Ini"
Kinan mendongak
"Ini surat perjanjian. Disini ada aturan yang harus Kamu patuhi" Ucap Imran pada akhirnya
"Perlu M-mas" Ucap Kinan gagap sambil mengingat-ingat
Iya, Kinan mengingat soal panggilan pada Imran waktu lalu. Dulu Imran enggan dipanggil Aa'. Kakak juga tidak mungkin karena kini, Imran adalah suaminya, bukan Kakaknya lagi
Imran mengangguk "Baca. Lalu Kamu tanda tangan dibawah sebelah kanan"
Kinan mulai membaca satu poin ke poin yang lain
Poin pertama, pihak pertama yaitu Imran boleh berpacaran dengan kekasihnya. Mengajak kencanpun boleh karena keduanya masih terjalin dan belum putus
Poin kedua, pihak kedua tidak boleh ikut campur urusan pihak pertama
Poin ketiga, keempat, kelima, keenam sampai kesebelas isinya blah-blah-blah
Sedangkan poin terakhir, pihak kedua dilarang naik keatas, dimana kamar Imran ada dilantai 2
"Sudah faham?"
Kinan mengangguk
"Tanda tangan" Imran menyerahkan ballpoint mahalnya kemudian menunjuk dimana Kinan harus membubuhkan tanda tangan
Setelah Kinan sudah tanda tangan, Imran kembali mengambil kertas tersebut "Sudah malam. Kau boleh tidur dikamar sana" Tunjuk Imran pada kamar yang berada tepat dibawah tangga
Imran melenggang menuju tangga
"Kalau ditanya orang lain, Aku jawabnya gimana ?" Tanya Kinan
Imran menoleh "Orang lain siapa maksudmu"
"Ya enggak tau. Kan rumah ini besar. Masa hanya Kita yang tinggal disini"
"Oh, terus Kamu ingin tidur denganku jika ada orang. Gitu ?"
Kinan terdiam sekejab tapi tiba-tiba tak terima "Ya bukan seperti itu maksudnya"
"Sudah tau maksudnya, kenapa tanya" Imran kembali melenggang naik keatas "Dasar janda gatal. Inginnya buru-buru dijamah. Jangan harap bisa tidur bareng" Gerutunya masih sangat jelas terdengar ditelinga Kinan
Kinan hanya mengusap dadanya "Cowok kok sombong banget" Kinan berbelok masuk kekamarnya
Hati Kinan serasa remuk. Sedih campur sakit hati.
Membuat Kinan teringat kembali dengan suami pertamanya yang tak pernah bicara kasar terhadapnya "A', Aku ingin Aa' saja yang menjadi pendamping hidupku. Bukan orang lain. Kenapa Aa' tega meninggalkanku" Kinan kembali menangis
Rasa rindu dan sakit hati tertumpuk menjadi satu
BERSAMBUNG.....
__ADS_1