Suamiku Kakak Iparku

Suamiku Kakak Iparku
Keluhan Alana


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya Altaaf, keduanya bertolak lagi menuju Bandung tempat tinggalnya


Sepulangnya Altaaf dan Kinan, Alana terlihat murung


"Bunda kenapa? Kok murung gitu" Tanya Hanan yang telah memperhatikan raut wajah sang istri, yang terlihat teduh seperti langit yang mau turun hujan


Alana mengangkat wajahnya dan menatap wajah suaminya "Dad. Ingin rasanya Bunda ikut mereka. Mereka terlalu bekerja keras. Bunda tidak kuat melihat mereka menderita"


Hanan meraih pundak istrinya kemudian memeluknya "Kapan-kapan kita kesana Bund. Jangan terlalu sedih memikirkan mereka. Mereka sudah dewasa. Kita yang seharusnya memikirkan Kak Imran. Kenapa sampai sekarang belum mau menikah. Padahal usianya lebih tua dari Altaaf"


Alana menyingkirkan tangan Hanan kemudian berdiri bersedekap membelakangi suaminya "Ya jelas orang Kak Imran itu kakaknya" Alana menoleh sekejab kemudian membelakanginya lagi "Bunda akan carikan jodoh untuknya"


Hanan berdiri "Kok bisa. Memangnya Kakak mau?? "


"Mau tidak mau Dia harus menikah, kan?"


"Bund"


"Masak sih. Kakak itu nggak kalah tampan loh dari Altaaf. Dia itu hanya terlalu dingin dan tidak pernah tersenyum. Apa, giginya jangan-jangan berkarang dan berwarna kuning"


"Hus. Anak sendiri diejek"


"Habis, kesel banget Dad. Tersenyum saja tidak mau. Memangnya perempuan mana yang mau sama patung pancoran. Kecuali perempuan jadi--" Alana tidak meneruskan ucapannya


Hanan tersenyum geli mendengar penjelasan istrinya "Bund"


"Pokoknya, Bunda nggak setuju"


"Bund. Bunda main nggak setuju itu memangnya Bunda tau calon Kak Imran?"


Alana ingin protes tapi terhalang karena Hanan keburu berucap


"Masalah jodoh, biarlah Kakak yang memilih. Bunda jangan mengekangnya. Bunda nggak perlu mencarikannya"


Alana berbelok "Kak Imran itu sudah memiliki pacar Dad, sebentar. Akan Bunda ambilkan HP agar daddy tau selera anaknya amburadul enggak karuan" Alana segera kekamar untuk mengambil ponselnya


Hanan mengangkat kedua tangannya bingung


Beberapa detik berlalu Alana keluar memegang ponselnya sambil mengotak-atik


"Ini Dad. Story Kakak pada waktu lalu sudah Bunda screenshot. Lihat" Alana memberikan ponselnya pada Hanan


Hanan menerimanya. Namun tidak berkomentar setelah melihat-lihat foto yang Alana screenshot


"Kenapa daddy tak berkomentar. Daddy mau memiliki menantu yang pandai dandan tapi tidak bisa berpakaian dengan benar"


"Mungkin model baju anak muda kekinian kali, Bund"


"Daddy mau Zira atau Arin pakai pakaian kurang bahan?? Ingat Dad, menantu juga seperti anak Kita. Kalau Daddy setuju, Bunda minggat aja deh ke Bandung"

__ADS_1


"Kok jadi minggat. Terus Daddy mau digimanain, Bund?"


"Tau. Ikutin aja calon mantumu"


Hanan segera memeluk Alana dari belakang "Dih... Bunda kok cetus gitu. Daddy kan nggak salah Bund. Daddy hanya berpendapat"


"Sudahlah !!" Alana menyingkirkan tangan suaminya. Kemudian menjauh


"Terus, mau Bunda gimana? Dia harus berhijab?"


"Enggak gitu juga kali Dad. Memangnya Kinan tadinya berhijab? Enggak kan??"


"Terus. Dia harus pakai gamis seperti yang Bunda pakai?"


"Enggak !! Bukan itu yang Bunda maksud. Setidaknya, memakai pakaian itu yang sopan. Meskipun belum berhijab, seharusnya tutupin dong paha dan dadanya. Gimana sih. Cowok pada rabun kali ya. Lihat begituan pada demen"


"Bund"


"Sudahlah"


"Bund, Bunda maunya menantu yang seperti apa?"


"Ih itu lagi yang ditanyain. Pokoknya, sekali Bunda enggak suka dengan gadis itu, Bunda ya enggak suka. Nggak ada kamus Bunda begitu. Permen saja, jika bungkusnya tidak rapih. Terus jatuh ketanah, siapa yang mau mungut. Jangan mentang-mentang Kak Imran lebih kaya dari Altaaf, terus ikut-ikutan membelanya dan ikutan membelikan baju yang kurang bahan seperti itu. Mubazir"


Hanan mengangkat tangannya ingin menyelah


Hanan kembali ingin protes tapi kesalip Alana kembali


"Bunda juga selalu kasih arahan pada Arin. agar suatu saat Ia mau mengenakan hijab. Memangnya Daddy nggak miris lihat salah satu putri kita diurus susah"


"Bund, Kita berdoa yuk" Akhirnya Hanan mampu mengerem ucapan istrinya yang makin lama merambat kemana-mana. Hanan kembali memeluk Alana "Cantik Bunda akan pudar loh kalau emosi terus. Kenapa sih kalau sudah bercerita tentang Arin dan Kak Imran, Bunda kebakaran sampai gosong. Daddy liatnya gelap tau"


Bugh bugh bugh


Alana menyerang Hanan dengan menabok apapun yang bisa Alana jangkau


Hanan menunduk setengah badan sambil mengeluh "Addeeeeew, sakit sayang"


Alana berhenti dan mendorong Hanan kesal "Ih, manja tua-tua"


Hanan berdiri sambil tersenyum "Tua-tua juga Bunda naksir kan?"


"Hmm!!"


Ahaha


-


Sementara, Altaaf dan Kinan sudah kembali keperumahan sederhananya milik mereka

__ADS_1


Perumahan sederhana yang baru jadi ini masih cicilan 15 tahun kedepan. Tapi keduanya sangat bahagia meskipun memiliki beban hutang yaitu cicilan rumah


Kedua orang tua Altaaf sebenarnya ingin memberikan hadiah rumah untuk keduanya. Tetapi Altaaf menolaknya dengan halus. Disisi lain kakaknya juga belum menikah, jadi Altaaf tidak nyaman apalagi dipernikahannya, Imran tidak bersedia datang. Tambahlah tidak enak yang makin bertambah


Setelah sampai dirumah, keduanya terlihat kelelahan. Dan akhirnya tertidur lelap


Tiba-tiba Altaaf berjalan menuju pintu lalu membukanya


Dari luar pintu itu bersinar begitu terang yang sangat menyilaukan penglihatan Kinan


"A'.. Aa' mau kemana?" Tanya Kinan heran


Altaaf tidak menjawab. Ia justru berjalan menjauhi Kinan


"Aa'.... Jangan tinggalin Aku. Aku ikut A'.." Masih memintanya secara lembut


Lagi-lagi Altaaf tidak menjawab


"A' !!! Aa' mau kemana??!!" Pertanyaan itu mulai meninggi


Karena tidak ada jawaban dari Altaaf Alana kembali berteriak


"Aa' !! Aa' mau kemana. Aku ikut A' !!. Aaaaaaaa'.....!!!" Teriaknya sambil menjerit-jerit


-


Sementara dirumah Hanan dan Alana


Alana berdiri dibalcon kamar Altaaf. Tiba-tiba ada ayam jago yang telah tergeletak kaku dikerubungi oleh satu ayam jago dan dua ayam betina


Alana bingung


"Hei.. Kenapa banyak ayam" Alana mendekat, ayampun tidak terganggu dengan kedatangan Alana yang mendekat "Ayam jago siapa ini ?? mati ??" Alana mengambil ayam jago tersebut lalu mengangkatnya keatas "Hei!! Ayam jago peliharaan siapa nih !! Woi!!"


Seluruh tetangganya hanya lewat dan cuek terhadap Alana


"Kenapa diam sih. Tidak ada yang ngaku, lagi. Heran. Aku tidak memiliki ayam. Ini ayam siapa woi !! Woi !!" Teriaknya sampai Hanan terbangun


"Bund. Bunda" Digoyanglah bahu Alana agar lekas bangun dari tidurnya


Alana bangun sampai ngos-ngosan seperti habis berlari


Hanan meraih air minum diatas meja lampu tidur "Minum Bund. Bunda kenapa? Bunda mimpi buruk ya?"


Alana menerimanya kemudian meminumnya tapi mimpi yang tadi langsung lupa "Lupa Dad. Bunda tadi mimpi apa ya, kok lupa"


Hanan menghela nafas "Bantalnya dibalik biar nggak bersambung mimpinya. Jangan lupa do'a"


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2