
Imran sudah meninggalkan tempat ini setelah berpamitan dengan Kinan barusan
"Cie.. Senengnya habis dianterin suami" Goda Zira sambil melongok ruangan Kinan
"Zira!! Kok Kamu disini ?! Datang kapan ??"
"Barusan. Nggak boleh?? Kalau nggak boleh, Aku pulang deh" Zira yang tadinya akan duduk Iapun berpura-pura ingin beranjak
"Eh, jangan. Maksudku kok Kamu dah pulang?"
"Iya. Hari ini mata kuliahku hanya 1 doang"
-
Jam istirahatpun tiba
Zira mengajak Kinan untuk makan diluar. Sekalian mencari sesuatu yang dibutuhkan oleh Zira
Setibanya disana, keduanya memesan makanan
"Kak. Aku ke toilet sebentar ya?" Pamit Zira saat makanan mereka belum sampai dimeja
Kinan mengangguk
Beberapa menit berlalu, Zira belum muncul. Kinan mulai resah "Zira lama amat ya"
Tiba-tiba sesuatu yang ingin dihindari oleh Kinan, kini datang dan masuk ke resto yang sama
'Bang Ali. Ngapain Bang Ali ada disini ??' Bathinnya saat melihat Ali masuk kedalam restoran ini
Saking paniknya, Kinan segera menyambar buku menu yang sedang dibaca oleh seseorang untuk menutupi wajahnya
Orang yang tak lain adalah Imran, mengernyit heran pada wanita yang sudah dinikahinya beberapa bulan lalu
Imran menarik paksa buku tersebut. Namun Kinan dengan kuat mempertahankan "Ih, pinjam dulu kenapa sih"
Imran menggelengkan kepala, namun sekali lagi Ia lakukan kembali yaitu menarik buku tersebut dari wajah Kinan yang bersembunyi disana
"Zira!! Pinjam" Pekiknya agar tidak didengar sekitar
Kinan pikir yang mengganggu dirinya adalah Zira
Imran menariknya kembali hingga buku tersebut lepas dari tangan Kinan
Ngokkk
"Mas!! Kok Mas Imran ada disini" Ucap Kinan salah tingkah
"Dari tadi Aku disini" Jawab Imran datar
"Kok bisa. Kapan datang"
"Waktu Kamu memperhatikan pria lain" Liriknya pada Ali
"Mas... "
"Sejak kapan Kamu begitu" Tanyanya mengintimidasi
Kinan ingin menjawab tetapi bersamaan itu Zira dan makanan pesanannya datang
"Loh Kak Imran. Kok kebetulan banget Kakak makan siang disini" Ucap Zira sambil menarik kursi lain
Imran mengangguk "Iya. Kebetulan tadi bertemu dengan klien"
"Oh.. Kak Imran sudah pesen makanan?" Tanya Zira
"Sudah"
"Tapi belum datang?"
"Belum"
-
__ADS_1
Setelah makan siang usai, Imran segera beranjak dan berniat meninggalkan Kinan
Kinan yang merasa takut dan bersalah, Iapun segera berdiri dan meraih tangan Imran "Mas, tungguin"
Imran berhenti sejenak kemudian berjalan
Kinan langsung bergelayut manja "Mas. Boleh nggak Aku ikut"
Imran meliriknya "Ikut kemana?"
"Ikut kekantor Mas"
"Lalu Zira?"
"Biarin pulang"
Imran meliriknya kembali
"Eh, ikut juga boleh Mas. Biar Aku ada kawannya he" Cengirnya saat lirikan Imran membuatnya merinding
Saat Kinan bergelayut manja, tak sengaja Ali melihatnya "Kinan?? Betul itu Kinan?"
Ali berdiri tak peduli makanan dihadapannya masih banyak
"Bos. Makanannya??"
"Sebentar"
Ali segera mengikutinya. Hingga akhirnya Kinan masuk kedalam mobil yang sama dengan seorang pria, sedangkan wanita yang sama kemarin bersama Kinan, berjalan menuju parkiran yang berbeda
"Siapa laki-laki itu? Nggak mungkin kakaknya. Dan nggak mungkin---" Ali mulai menebak-nebak "Apa mungkin itu pacar barunya ?? Sejak kapan Kinan terlihat murahan seperti itu"
Tak sampai disitu. Ali segera menghadang ojek meminta tumpangan paksa
-
"Mas. Aku ikut masuk??" Tanyanya meminta izin
"Terus!!??"
Imran tidak menjawabnya. Ia berjalan tanpa menggandeng Kinan
Begitu Imran melangkah, Kinan segera meraih tangannya "Langkahnya pelanin Mas. Jangan panjang-panjang" Mohonnya dengan mata yang dibuat berkedip-kedip
Sementara dilain tempat
Ali melihatnya tambah penasaran.
"Selamat siang, Pak?" Tanya security mengagetkan Ali
Ali menegakkan tubuhnya saat sang satpam mengajaknya berjabat tangan "Ada yang bisa Saya bantu??"
"Eng maaf. Saya mau tanya boleh?"
"Silahkan"
"Tadi ada perempuan dan laki-laki yang barusan masuk kesana-" Tunjuk Ali pada pintu lobby "Itu siapa ya??" Tanyanya sopan
Satpam terdiam belum memberi jawaban
"Eng, maaf. Bukan apa-apa Pak. Saya penasaran dengan gadis tadi. Dia seperti teman Saya. Namanya Kinan gadis dari Bandung. Dia sangat mirip"
"Oh.. Bu Kinan ??"
Ali mengangguk
"Istri Pak bos memang asli Bandung. Tapi Bandung kan luas Mas. Kalau kebetulan mirip nama, alamat, Saya juga kurang faham"
Wajah Ali langsung terlihat pias "Sejak kapan mereka menikah?"
"Maaf Mas. Anda bertanya terlalu pribadi. Jika sudah tidak ada kepentingan, silahkan tinggalkan tempat ini"
Ali mundur mematung
__ADS_1
-
Imran meninggalkan Kinan sendirian didalam kantornya
Bosan?? Sangat bosan
Kinan terduduk sendirian sampai pada akhirnya, Ia tertidur pulas
Imran datang sambil membawakan sesuatu untuk Kinan. Ia lupa jika hari ini membawa Kinan dan meninggalkannya saat meeting
Imran menaruh paper bag diatas meja. Kemudian membungkuk mengusap jenong Kinan dengan pelan
Perlahan Kinan membuka matanya
Mata merah itu membuat Imran merasa kasihan
Imran duduk disebelahnya "Kenapa tidurnya sambil duduk"
Kinan mengucek matanya dengan punggung tangannya
Persis seperti bocah
Imran tersenyum sambil mengusap kepala Kinan
Kinan menolaknya karena kerudungnya berantakan "Ih Mas. Jangan dirusak. Kepalaku jadi tambah pusing"
"Pusing kenapa?"
"Tadi Mas gini gini gini gini" Praktiknya memperagakan tangan Imran yang mengacak-acak kepalanya
Imran tersenyum kembali "Masa gitu aja pusing"
"Ini tidak biasanya Mas" Tiba-tiba "Hueekk" Kinan langsung berdiri
Imran yang melihat Kinan demikian, segeralah menarik jilbab Kinan bermaksud melepasnya
Kinan ingin protes. Namun rasa perut yang tak nyaman, membuatnya pasrah dan mengikuti dorongan tangan Imran
Imran menggiring Kinan kewastafel yang ada dikamar mandi
Hueekkk cui hueekkk cui
Selama muntah, Imran memijat tengkuk Kinan yang berkeringat
Kinan mengusap airmatanya yang ikut berderai
"Cuci mukanya dulu" Ujar Imran "Kamu kenapa? Masuk angin??" Ucapnya ikut-ikutan mencuci tangan
Kinan menatapnya dengan rambut yang acak-acakkan "Enggak tau Mas. Rasanya pusing nggak enak banget"
"Ya udah. Mau kedokter ?? Apa istirahat dulu"
"Kerokin Mas. Entar kalau dah kerokan, pijit kepalanya"
Imran mengernyit tak percaya "Kerokan??? Kerokan bagaimana??"
"Ya kerokin punggungku. Biasanya Teh Lasmi mengerok punggungku jika Aku masuk angin"
Imran masih plonga-plongo tidak jelas
"Mas!! Cepetan!!"
Tiba-tiba Kinan membuka seluruh bajunya. Menyisakan tank top dan legging berwarna hitam yang super ketat
Sedetik itu, Imran membatu tak percaya. Kinan sekarang pandai membuat tongkatnya berdiri seketika
Dengan susah payah Imran menelan ludahnya "Aku disuruh ngapain?? Ini dikantor"
Kinan meraih tangan Imran dan meletakkan tangan tersebut dipunggungnya "Kerokin Mas. Kerokin, Aku bilang"
"Kausmu basah. Kenapa masih dipakai. Nanti Kamu masuk angin"
Dengan geregetan, Kinan melepas tank top nya "Aku memang masuk angin Mas. Aku minta dikerokin" Ucapnya sudah ingin menangis. Kemudian Kinan mengambil ponselnya dan mencari tutorial cara mengerok punggungnya dengan alat kerok "Nih Mas caranya. Ini juga minyaknya. Dan ini juga alat keroknya. Silahkan digambar Mas!! Sepuas Mas!!"
__ADS_1
BERSAMBUNG....