
Imran keluar ternyata ada Ken yang sengaja duduk didepan kamar mandi dengan kursi yang sengaja Ken pakai. Padahal sebelum itu, tidak ada kursi disana
Mereka saling bertatap. Namun Ken sengaja cuek dan fokus pada ponselnya lagi
Beberapa detik berlalu Imran muncul lagi dengan membawa keperluan Kinan. Masih melewati Ken yang sibuk dengan ponselnya
-
Kinan segera meraih handuk tersebut dari Imran
"Dalemannya mana Mas? Nggak dibawain?" Ucapnya setengah gondok
"Maaf. Aku bawanya handuk sama baju doang" Ucap Imran membantu memakaikan baju tersebut
"Terus, Aku pakai baju tapi Aku nggak pakai ini dan nggak pakai ini, Mas?" Tunjuk Kinan pada dadanya sendiri dan juga pada selangka ngannya sendiri
"Darurat, sayang"
"Ihhh" Kinan mempraktikkan ingin menelan Imran
Imran hanya tersenyum enteng
Setelah puas dengan aksinya, Kinan membuka pintu kamar mandi
Dan betapa terkejutnya, Ken menatap Kinan lekat "Oh.... Pantesan lama. Mainan dikamar kan bisa. Kenapa harus dikamar mandi" Ledeknya membuat Kinan malu semalu malunya
-
Didalam kamar
"Ini gara-gara Mas !! Aku malu tau. Iiiiiiih" Kinan kembali mencubit lengan Imran. Dan anehnya lengan tadi yang sudah luka dicubit hingga berdarah
"Addaaa dadada, sakit Kinan.."
Kinan melepasnya "Rasain. Itu sebagai ganti rasa maluku" Sekejab itu Kinan melihat lengan Imran mengeluarkan darah "Ih Mas, kok lengannya ada darah"
"Ulah Kamu ini"
Kinan menatap Imran kemudian segera mengambilkan kaus dan CD untuk Imran "Ni Mas, pakai. Sebentar Aku carikan obat"
Setelah Kinan kembali, Imran masih mengenakan CD nya dengan handuk yang masih menempel ditubuhnya. Sedang badannya masih polos dan mengering
Kinan mengambil kaus yang belum Imran pakai yang masih tergeletak diranjang, lalu membantu memakaikannya "Turunin tubuhnya Mas"
Imran membungkuk
Setelah beres, Kinan mengolesi luka pada lengan Imran
"Kamu galak banget. Coba kukumu" Imran meraih jemari Kinan. Mengusapnya, kemudian mengecupnya tiba-tiba
Setelah tangan itu kebawah, Kinan segera menghempaskan tangan Imran malu "Salah sendiri Mas yang mulai" Gerutunya membuat Imran geli
"Salah lagi" Gumamnya masih didengar oleh Kinan
"Dipakaiin hansaplas ya?" Tawar Kinan pada akhirnya
"Nggak ah. Ntar korengan karena lembab"
"Oh, jadi Mas sering korengan, ya??" Ledeknya membuat Imran akan melepas handuk dari pinggangnya "Ih... Mas mau ngapain??" Takutnya sampai tangan Kinan memegang handuk tersebut pada pinggang Imran
Imran mengabsen tangan Kinan yang menempel "Mau??"
"Iih.... Mesum" Kesalnya
"Mana celanaku" Tunjuk Imran dengan dagunya
"Ya Allah ya Robb... Bilang dong, Mas"
"Orang Kamunya nyalain terus"
Daripada debat, Kinan akhirnya mencarikan celana untuk Imran "Celana panjang ya, Mas?"
"Bebas. Dipakaiin sekalian juga mau"
"Ih. Berasa punya anak bayi tua, tau"
Imran tersenyum lebar, lalu menatap Kinan lekat
__ADS_1
"Apa liat-liat"
"Jangan lupa tu, pakai BH nya. Kelihatan banget mutiaranya, tu" Tunjuk Imran sambil memencet dada Kinan
"Mas!!!" Teriaknya ingin mencubit Imran kembali. Lalu tersadar dengan cepat "Ihhh, semuanya lupa gara-gara Kamu, Mas"
"Ahaha"
-
Mereka makan malam dengan canggung
Kinan segera menghabiskan makanannya. Rasanya malu sampai ke ubun-ubun
Setelah selesai Ia segera membawa piring dan gelas kotor, untuk segera Ia cuci
Disaat dirinya sibuk mencuci piring didapur, Lasmi juga datang untuk menyimpan semua lauk yang masih tersisa
"Gimana kabarmu, Dek?"
Kinan menoleh lalu sibuk kembali "Kabarku kan baik Teh. Teteh sudah tanya tadi sore kan saat Aku datang"
"Bukan itu maksud Teteh. Maksudnya pernikahanmu?"
"Oh, alhamdulillah baik Teh"
Lasmi mengangguk-angguk "Gimana. Seneng nggak menikah sama kakaknya?" Ledek Lasmi
"Teh !"
"Hebat loh Kamu. Ditinggal adiknya, dapat ganti kakaknya. Nggak kalah tampan lagi"
Kinan menatap Lasmi menelisik
"Tetap gantengan A' Ken, Dek. Jangan takut Teteh mau naksir suamimu. Teteh poreper sama Aa'" Sambungnya jujur
Kinan tidak menjawabnya. Ia terus sibuk dengan kegiatannya
"Oiya. Beruntung Kamu Dek. Suami pertamamu sayang, mertuamu juga sayang. Suami barumu juga sayang kelihatannya"
"Terus??"
"Jangan panggil A', Dia nggak suka"
"Oh.. Makanya Kamu manggilnya Mas, to"
"Jangan manggil itu juga. Teteh kan kakaknya sekarang. Panggil nama aja. Walaupun usianya lebih tua dari A' Ken hihi"
"Hus.. Ya nggak sopan Dek"
"Sopan ajalah. Kalau nggak sopan ya, disopan sopanin"
"Kok Kamu ngomong gitu sih. Kaya nggak suka. Padahal tadi kamu habis-"
Kinan melotot "Teh!!"
"Habis ngapain, hayo.." Ledeknya lagi membuat Kinan kesal
"Teteh..!!!" Kinan menabok lengan Lasmi "Tadi Aku nggak lakuin apa-apa ihhhh..." Kinan menghentak-hentakkan kaki, setelahnya Ia kabur berlari menuju kamar
Ahaha
-
Kinan masuk kedalam kamar masih dengan wajah kesal bercampur malu
Malu sama kakaknya, kesal dengan suaminya
Daripada capek dan mau melakukan apa, Kinan segera merebahkan tubuhnya untuk beristirahat
Beberapa menit berlalu Kinan sudah terlelap
-
Kinan terbangun saat dirinya merasakan ada sesuatu yang menindihnya
Ternyata tubuh Kinan sudah dipeluk erat seperti guling yang didekap oleh sang pemiliknya
__ADS_1
Kinan membuka matanya perlahan, lalu menyingkirkan kaki dan juga tangan Imran
Imran mendongak "Sudah bangun??"
Kinan tepuk jidat. Alamat kacau jika ketahuan mandi sebelum subuh
Kinan turun dari ranjangnya
"Mau kemana?"
"Kebelakang"
"Ngapain?"
"Pipis, Mas. Ya Allah ya Robb.."
-
Pagi harinya Imran dan Kinan berpamitan. Semalam Kinan selamat dan paginya tidak ada drama ledekan dari kakaknya karena mandi besar
Imran menggiring Kinan dan membukakan pintu untuk istrinya
Saat Kinan mau duduk dijok mobilnya, tangan Imran terus berada dikepala Kinan bermaksud melindungi Kinan agak tidak kejedot
Perlakuan Kinan ternyata dilihat oleh kedua kakaknya
Ken dan Lasmi akhirnya melepaskan dengan tenang
-
Kali ini Imran yang menyetirnya
Dalam perjalanan Kinan tertidur pulas. Sampai tak sadar ternyata sudah sampai dirumah
Mata Kinan terbuka "Sudah sampai ya, Mas"
Imran membuka seat beltnya, kemudian membantu Kinan melepasnya pula
"Mas, Kita pulang tapi nggak bawa oleh-oleh ya Mas? Kasihan Zira" Ucap Kinan tak enak
"Tadi Kamu pules banget tidurnya. Jadi Aku nggak tega untuk bangunin"
"Terus Zira gimana Mas. Kasihan"
"Kasih duit aja. Biar beli sendiri"
"Ih teganya..."
-
Beberapa hari kemudian
Kinan mendapatkan undangan pembukaan toko roti yang tidak Kinan kenal
Kinan mengira salah satu membernya yang berhasil membuka toko, dan ingin mengundangannya
Setelah hari H nya, Imran terlihat cuek dan sibuk sampai tidak berpamitan
"Mas Imran kenapa, sih"
Disamping bingung pada Imran, Kinan juga bingung dengan undangan tadi
Tiba-tiba Zira melewatinya dengan tergesah-gesah
"Eh, Zira"
"Iya Kak"
"Hari ini Aku ada undangan pembukaan toko. Kamu sibuk ya?" Ucapnya sambil mengabsen tas yang menggantung dilengan Zira
"Iya Kak Aku ada kuliah"
"Ya... Jadi nggak bisa?"
"Nggak, Kak" Zira berlalu
"Ih, Benar-benar undangan membingungkan" Keluh Kinan pada akhirnya
__ADS_1
LIKE LIKE VOTE VOTE
BERSAMBUNG.....