
Kinan dan Zira akhirnya memutuskan untuk pulang
Didalam perjalanan, Kinan melihat kumpulan para pedagang yang ada didepan pabrik
"Zira, itu apa? Kok kayak pasar, rame banget" Tanya Kinan penasaran
"Oh, pasar tumpah keknya, Kak. Mau mampir?"
"He-em deh. Penasaran. Turun, turun"
"Iya, sabar"
Zira telah menepikan mobilnya. Kemudian turun bersama-sama
Dalam pencariannya, Kinan melihat tukang telor gulung yang sedang sibuk menggoreng sambil menggulung telur gorengnya menggunakan tusuk sate
Dari aroma gurihnya telor goreng tersebut, jelaslah membuat air liur Kinan kian menetes "Zira, Aku mau itu. Kau mau nggak?"
Zira melongok "Nggak ah, kayak anak kecil" Tolaknya karena Zira memang jarang beli makanan dipinggir jalan
"Ish enak tau" Jawabnya sambil menarik tangan Zira "Dua puluh tusuk, Bang" Pesannya saat dekat dengan pedagang tadi
Zira melotot. Kemudian berbisik "Banyak banget, Kak. Buat apaan?"
"Ya makanlah"
"Ya tapi jangan banyak gitu"
"Nggak pa-pa bagi rejeki"
"Bukan itu yang Aku maksud Kakak..." Kesalnya saat Kinan ngeyel
"Apa? Kamu pasti belum pernah cobain kan?"
Zira langsung menggeleng "Nggak pernah"
"Tuh kan"
Zira berbisik lagi "Lihat minyaknya. Hitam banget"
Saat mereka beradu argumen, si penjual tersebut sudah selesai
"Silahkan neng-neng cantik" Ucapnya sambil mengulurkan telornya yang sudah jadi seperti sate kepompong
"Ish, jangan genit gitu dong, bang. Istri orang nih" Tunjuk Zira pada Kinan sedikit tak terima
Kinan langsung menyenggol lengan Zira "Ssst, gitu aja protes ih biasa pedagang"
"Iya, iya" Jawab Zira mengalah "Sini Aku pegangin" Ucap Zira pada akhirnya
Meskipun kadang berantem, Mereka selalu saling membantu
"Berapa Bang" Ucap Kinan setelah menyerahkan telur gulung tadi pada Zira
"Empat puluh ribu aja, Mbak"
Setelah membayar, mereka berjalan sambil melihat-lihat sesuatu yang menarik perhatiannya
"Zira, Aku mau itu" Tunjuknya pada sate jamur
Zira hanya patuh. Padahal yang ditunjuk Kinan tak satupun ada daya minat
"Zira, cilok"
"Bukannya itu bakso, Kak"
"Rasanya hampir sama. Tapi itu cilok bukan bakso"
"Sarah Kakak deh"
Tangan Kinan maupun Zira sudah penuh dengan aneka makanan. Semuanya mengandung sambal dan minyak
Jika ketahuan Daddy Hanan, Zira sudah nangis-nangis karena pilihan tersebut pasti dilarang
Mereka belum terlihat bosan. Sampai waktu yang mereka lalui tersebut sudah berganti petang
"Kak, mampir ke aksesoris yuk"
__ADS_1
"Ayuk"
Disinilah surga dunia para wanita
Baik anak-anak, remaja, dewasa, semuanya menyukai
Kinan langsung sibuk memilih cakruk rambut. Sedangkan Zira, sibuk dengan gelang ornamen
Keduanya lupa jika sekarang sudah hampir maghrib
Mereka masih sibuk memilih, dan berdesakan dengan para karyawan yang mulai berjubel
Terdengar perbincangan antara penjual dan salah satu karyawan pabrik yang barusan keluar
"Tumben keluarnya agak terlat neng?"
"Iya, tadi gajian nya sedikit salah. Jadi Aku protes, Bang"
"Oh, pantesan"
Kinan langsung tersadar
"Zira, jam setengah tujuh. Pulang yuk"
Sebelum pulang kerumah, Zira dan Kinan mampir dulu ke masjid yang berada dipinggir jalan
Karena waktu maghrib yang mereka lakukan sudah mepet, alhasil sekalian sholat isya berjama'ah disini
Setelah selesai, dihalaman masjid ini ada tukang es cendol yang berdagang disana. Kinanpun membelinya "Pak 3 bungkus ya?" Ujar Kinan
"Siap Mbak"
"Kak, ngapain beli 3. Kan Kita cuma dua"
"Buat Mas Imran"
Zira melengos "Sejak tadi buat Mas Imran, ini Mas Imran, itu Mas Imran. Kak Imran mulu deh sejak tadi"
Bersamaan itu, pesanan Kinan telah selesai
"Tiga puluh ribu"
Setelah membayar, Kinan dan Zira menuju mobilnya
Saat Kinan akan naik ke mobil, seseorang memanggilnya "Kinan?? Kaukah??"
Kinan menoleh "I-iya. Bang Ali"
"Apa kabar, neng Kinan?" Tanya Ali sumringah
"Alhamdulillah baik Bang" Jawabnya mulai ketar-ketir
"Kamu kemana aja. Kok menghilang gitu aja sih. Tau-tau etalase dah dicabut. Aku sampai datang kerumahmu-"
"Ehem" Zira mulai berdehem
Ali menoleh kedalam mobil "Siapa? Rekan kerja?"
"Eh bukan-bukan" Jawab Kinan sambil menggoyang-goyangkan tangan
"Oh, ya sudah. Oiya, sekarang Kamu tinggal dimana. Didaerah sini-"
"Ehem" Lagi-lagi Zira memberi kode "Kak!! Badanku lengket!!"
"Sepupumu?" Akhirnya Ali mengira demikian
"Bukan!! Dia adikku. Ya sudah, Aku pulang dulu ya" Pamitnya langsung naik kedalam mobil
"Eh, Neng. jangan lupa pesanku dibalas ya. Jangan-"
"Ehem. Sudah ya Bang. Kakakku sudah ada yang nunggu dirumah. Permisi"
Sedetik itu, Zira langsung membawa mobil ini dengan kecepatan penuh
"Zira!! Zira!! Pelankan mobilmu Zira. Aku takut"
"Justru Aku yang takut dengan orang rumah. Kakak gimana sih. Jam berapa sekarang!!" Ucapnya garang
__ADS_1
"Iya, iya maaf. Pelankan dikit dong. Aku takut Aku pusing. Hueeekk"
"Heh" Zira mulai panik "Jangan muntah disini. Iya, iya. Aku pelanin"
"Hueek"
"Iya iya. Aku tepikan"
Setelah Kinan muntah parah, Merekapun segera pulang. Zira yang tidak mau terjadi berulang lagi, Diapun mengemudi mobilnya dengan kecepatan sedang
Kinan terlihat lemas, Zirapun hanya terdiam
-
Sesampainya dirumah
Imran sudah mondar-mandir diteras. Rasa panik dan was-was bercampur menjadi satu "Kemana ini bocah. Jam segini kok belum pulang" Imran kembali mencoba menghubungi keduanya satu persatu. Namun gagal total karena tak ada respon sedikitpun "Masa handphonenya mati semua" Imran kembali mondar-mandir bercampur kesal
Imran duduk sekejab, lalu berdiri. Duduk lagi, berdiri lagi. Begitu seterusnya.
Sampai pada akhirnya, sebuah mobil berwarna sage masuk dipelataran rumahnya
Imran berdiri sambil memasukkan kedua tangan pada celananya
Diwaktu yang sama, keduanya turun bersama-sama.
Imran menatap keduanya dengan tajam. Mengabsen sesuatu yang mereka bawa, Imran mengira keduanya habis belanja
Keduanyapun terlihat takut-takut, tapi Imran tetap menampakkan wajah garangnya
Hati Kinan jelaslah berdebar
"Dari mana kalian" Tanya Imran dingin
Zira menunjuk Kinan dengan dagunya
Kinan menunduk takut
"Kalau mau keluar, pulang telat, izin !! Jika izin pakai mulut nggak bisa, kirim pesan. Bisa !!" Imran sudah melotot-lotot didepan keduanya
Zira hanya terdiam
"Kamu masuk!!" Tunjuknya pada Zira
"Aku Kak?" Tunjuk Zira pada dirinya sendiri
"Iya Kamu. Memangnya siapa yang adikku"
Zira menoleh pada Kinan "Ini ditaruh dimana, Kak?"
"Meja dapur" Jawab Kinan takut-takut
"Buruan masuk !!" Bentak Imran
Zira patuh dan langsung berlari masuk kerumah
Kemudian imran memutari Kinan "Sekarang sudah puas, bikin suamimu cemas hmm!!"
Kinan mengangkat wajahnya, namun langsung menunduk kembali karena takut
"Nggak usah natap-natap !! Kamu bawa ponsel? "
"Bawa" Jawabnya lirih
"Kenapa dihubungi susah. Mana ponselnya"
Kinan langsung meraba-raba ponselnya "Iya... Mati, Mas"
"Mati, mati. Kalau terjadi apa-apa, Kamu akan menghubungi minta tolong itu pakai apa?"
"Maaf, Mas"
"Segitu ya, meremehkan. Masuk !!"
Kinan mulai masuk kedalam rumah dengan Imran yang mengikutinya dari belakang
BERSAMBUNG....
__ADS_1