
Kinan sudah pulang sebelum Zira pulang menjemputnya
Ia segera masuk kamar dan menangis seharian dikamarnya
Sampai sore tiba, tangisnya belum juga reda
Tadi ditokonya Ia hanya melamun. Melihat anak buahnya yang sibuk membuat roti, bukannya membantu malah cuma pencat pencet tombol pengaduk. Alhasil adonan Kinan menjadi over mixing
"Mbak Kinan. Adonannya ngembang berat Mbak" Ucap salah satu karyawannya yang bertugas membuat adonan didapur
-
Imran masuk kekamar. Dan betapa terkejutnya, kamar yang tadinya bersih dari sampah kini banyak tissue yang berserakan
Imran duduk disisi Kinan yang masih sesenggukan dengan posisi tengkurep
Imran melongok sambil mengusap rambut Kinan. Namun Kinan menghempaskan tangan Imran terus menerus
"Kamu kenapa? Ada masalah ditoko?" Tanya Imran hati-hati
Kinan tidak menjawabnya. Rasa kesal, marah bertumpuk menjadi satu
Kinan turun dari ranjang kemudian mengambil koper
Imran mengikutinya sambil memegang lengan Kinan "Kamu mau kemana?"
Kinan tetap menghempas-hempaskan tangan Imran
"Ditanya baik-baik bukannya menjawab. Ini kenapa kamar jadi tempat sampah, apa yang terjadi"
Kinan berbelok dan menghadap kearah Imran "Pulangin Aku ke Bandung. Balikin Aku. Jika tidak sudih dengan pernikahan, kenapa mau menggauli" Teriaknya sambil berderai
"Sayang, Kinan"
"Nggak ada sayang-sayangan. Mas terpaksa nikahin janda bekas orang. Apa berharganya Aku"
"Hei.. Kamu itu kesambet setan dari mana?"
"Dari dalam sini" Tunjuk Kinan pada dada Imran
"Apa maksudmu. Aku tidak faham"
"Tanya wanita itu. Wanita cantik pilihanmu"
Imran terdiam mencerna ucapan Kinan
'Cintia. Ini pasti ulah Cintia' Tebaknya dalam hati
Beberapa hari lalu ada kabar jika Cintia datang kekantor. Namun receptionist melarang Cintai menemuinya karena beberapa bulan yang lalu, Imran sudah memberi perintah tidak menerima tamu jika tidak berkepentingan mengenai pekerjaan
"Cintia. Apa benar itu Cintia?" Tanya Imran dengan hati-hati
"Iya!!!" Teriaknya "Dia itu wanita yang berpendidikan!! anggun !! cantik !! dewasa !! Aku apa!! Bocah, lulusannya apa!! Kecil-kecil dah Nikah. Bekas lagi. Apa sih untungnya nikahin Aku. Nggak bisa masak. Nggak bisa ngapa-ngapain. Bisanya diapa-apain" Ucapnya terus memasukkan bajunya dengan membanting-bantingkan sampai tidak muat dan tidak bisa ditutup
Ucapan yang terakhir membuat Imran ingin tertawa namun takut dosa "Itu isinya kebanyakan. Nggak bisa ditutup" Masih setengah tersenyum
Sebenarnya ingin ngakak selebar-lebarnya namun tidak berani takut Kinan tambah meluap-luap emosinya
Sisi kedewasaan Kinan lenyap sudah didepan Imran
Kini sisi asli sudah nampak yaitu nangis dan mencak-mencak seperti bocah seusianya
Imran jadi berfikir 'Benar juga Kinan cocok dengan Zira. Ternyata Se frekwensi'
-
__ADS_1
Kinan tidur dengan membelakangi Imran. Rasanya gondok, eneg. Kesal sekesal-kesalnya.
Imran mencolek Kinan. Namun Kinan terus mengibas-ngibaskan tangan Imran "Masa suaminya dikasih punggung. Dosa loh, bikin suami kesel"
Kinan masih diam
"Kelak diakhirat -"
Kinan berbelok dan terduduk "Apa!! Nggak usah ngancam. Memangnya kalau suami selingkuh, istri marah, salah?"
"Oh, jadi istriku itu cemburu"
"Nggak usah ngarang deh. Nggak ada kata cemburu" Masih tinggi ucapannya "Nggak ada kamusnya" Ucapan terakhirnya menurun. Dan itu terdengar geli dipendengaran Imran
"Beneran??" Masih menahan tawa
Kinan meliriknya tak suka "Aku ingin ngomong serius Mas"
"Apa?? Ngomong aja. Memangnya dari tadi belum serius??"
"Mas!! Jangan ngeledek deh. Seneng banget lihat Aku darah tinggi"
"Iya, iya, iya. Maaf"
"Mas diam dulu"
Imran mengangguk patuh
"Didalam surat perjanjian yang Mas buat dulu, intinya Aku itu nggak boleh baper kan?"
Imran mulai mengangguk alot
"Iya kan Mas benar?"
"Iya" Jawab iya saja biar cepat bathin Imran
"Ya nggak juga. Mana ada tulisan Kamu bodoh. Nggak ada, nggak pernah Aku tulis"
"Kalau dikit-dikit baper, dikit-dikit nangis. Apaan tu !!"
"Ya mungkin itu perasaanmu yang tumbuh, karena Kamu mencintaiku"
"Tapi sayang, cintaku salah" Kinan menghempaskan tubuhnya diranjang dengan kasar
"Hei.. Kemana sisi dewasamu. Mana Kinan yang Aku kenal pertama kalinya"
"Kinan yang asli lagi marah. Nggak ada dewasa-dewasa. Yang dewasaaaaa, hanya wanita itu" Masih emosi
Imran tidak menjawabnya lagi. Jika Dia jawab, alamat akan pusing karena tidak bisa tidur
Imran mengambil surat tersebut yang disimpan didalam laci
"Kau ingin terbebas dari surat perjanjian?"
Kinan meliriknya
"Akan Aku lenyapkan sekarang. Agar Kamu tidak terbebani"
Imran menyobek surat tersebut menjadi sobekan kecil. Lalu meraih tangan Kinan kemudian menaruhnya disana
Kinan terdiam bingung
"Kita lanjutkan pernikahan ini" Ucap Imran sembari merebahkan tubuhnya disamping Kinan "Tidurlah. Jangan berfikir yang berat-berat" Kemudian Imran mengusap kepala Kinan dengan lembut "Selamat malam, emmuah" Imran mencium dahi "Mimpi indah ya" Imran langsung berpura-pura tidur
-
__ADS_1
Pagi harinya Kinan ingin berangkat diantar Zira saja. Jika Zira menolak, lebih baik naik motor ataupun kendaraan lain
Kinan belum bisa berdamai dengan Imran
Imranpun hanya pasrah. Jika dijelaskan, belum tentu diterima dengan baik
Akhirnya Imran membiarkan Kinan berangkat tanpa dirinya
-
Imran menunjuk sekertarisnya untuk memesan snack box untuk rapat nanti siang
"Kita pesan ditempat biasa atau toko Mbak Kinan-" Tanya sang sekertaris
"Kinan !! Sekarang, apapun kepentingan soal makanan pelengkap, pasrahkan pada anak cabang Kita yang baru"
"Baik, Pak. Mulai hari ini dan seterusnya, snack keseharian dikantor ini, diorderkan dari toko Kinan"
Imran mengangguk
-
Sementara. Kinan terlihat senang mendapat orderan banyak dihari ini
Meskipun basicnya pembuat aneka roti. Kinan juga belajar membuat aneka jajan pasar berkolaborasi dengan kawan yang seprofesi seperti Kinan. Kinan ahli dibidang roti. Segala macam roti. Dari goreng, oven, semuanya lihai. Sedangkan kawannya pandai dibidang perpudingan, aneka bubur, aneka jajan basah, sampai aneka goreng-gorengan
Toko ini akhirnya padat pilihannya. Resep yang Kinan miliki, juga menjadi rahasianya. Kecuali membernya
Ukuran adonan dan resep, hanya Kinan yang menyiapkan. Selanjutnya diteruskan oleh karyawan yang bekerja didapurnya
Satu persatu kue buatan toko ini berjajar dietalase dan gondola
Snack pesanan juga mulai disiapkan untuk diantarkan kepada pemesannya
-
Kinan masuk ke ruangannya. Rasanya mudah capek dan sering marah-marah. Daripada marah yang berkepanjangan, Kinan akhirnya masuk untuk beristirahat disana
-
Zira datang dijam empatan sore
Zira langsung masuk kedalam ruangan Kinan. Kinan masih tertidur pulas karena semalam benar-benar kurang tidur
"Loh.. Kak Kinan jam segini kok masih tidur"
Zira mendekat. Tiba-tiba mata Kinan terbuka
"Eh, jam berapa ini?" Tanya Kinan sambil membenahi duduknya
"Empat lebih seperempat"
Mata sembab Kinan masih terlihat "Kakak ada masalah sama Kak Imran?" Tanyanya
Kinan tidak menjawabnya. Dia justru bertanya "Kamu sudah makan?"
"Sudah?? Kakak belum?" Tebaknya
"Iya Aku lupa"
"Lah, jam segini kok belum makan siang. Gimana ceritanya"
"Tadi Aku capek banget. Pusing"
"Terus, mau Aku ambilkan sesuatu?"
__ADS_1
Kinan menggeleng "Aku ingin asinan"
BERSAMBUNG.....