
Kinan sudah berdiri diantara dua rekannya. Zira yang baru melihat toko Kinan yang ramai iapun bersemangat untuk ikut melayani "Kakak, boleh Aku bantu melayani nggak?"
"Boleh. Itu tu, ada yang mau beli"
Zira mengangguk "Siap"
Zirapun bersemangat ikut melayani pembeli
Disaat para gadis berbusana muslim itu melayani pembeli, Imran datang. Dan dari kejauhan Iapun duduk di food court depan otlet milik Kinan
"Oh, jadi mereka itu aktifis yang sedang jualan?"
Imran Kira mereka anak-anak kuliahan seperti Zira
Hari ini Imran sendirian dirumah. Cintia yang akan diajak kencanpun tak bersedia karena sedang berlibur dengan kawan-kawannya. Alhasil Imran kesepian dan akhirnya sampai disini
-
Sebelum otletnya tutup, Kinan mengajak Zira masuk ke mall yang ada disini untuk berbelanja keperluan mereka
"Zira, yuk Kita masuk" Ucap Kinan sambil menggandeng tangan Zira "Oiya Mir, jangan lupa yang tadi Aku bisikin singkirin ya? Jangan dijual" Perintah Kinan pada Mirna karyawannya
"Bisikin apa, Kak"
"Hanya oleh-oleh untuk Bunda. Takut si Mirna menjualnya"
"Untukku tidak, Kak?"
"Ada. Bomboloni kan?"
Zira tersenyum lebar "Aseeekk"
-
Didalam mall, Kinan belanja keperluan dapur. Kinan ingin belajar memasak. Karena sepertinya Imran akan sering makan dirumah. Pikir Kinan
Zirapun tak kalah mengobrak-abrik isi rak makanan ringan. Tak peduli nanti dimarahi Bundanya, Zira bodo amat
Sore harinya Zira berpamitan dengan pasangan yang tak kenal ini
"Kak, bisa nggak anterin Aku ke bandara" Ujarnya pada Imran
Kinan hanya diam. Ia berdiri tenang disisi Imran
Imran terlihat malas "Diantar sopir aja"
"Mana ada sopir. Enggak ah, diantar sama Kalian berdua aja"
"Males, Zira" Tolak Imran
"Oh, kubilangin Bunda loh" Ancam Zira
"Senjatanya itu mulu"
"Mau nggak?" Paksa Zira
"Iya bawel" Akhirnya Imran kalah
Zira turun kehalaman karena aksinya terealisasi
Imran menatap Kinan "Kita antar Zira"
Kinan mengangguk patuh
-
Dibandara
Zira sudah cipika cipiki kepada Kinan, setelah berpamitan dengan Imran sebelumnya
Merekapun berpelukan begitu erat "Makasih oleh-olehnya ya, Kak. Aku pamit dulu" Pamit Zira
Kinan mengangguk "Hati-hati. Salam buat Bunda dan Daddy, ya.."
Zira mengangkat kedua ibu jari tangannya sambil berjalan mundur
Imran menyaksikan keakraban mereka berdua
Setelah Zira sudah tak nampak, Imran berbelok "Yuk, cari makan" Ajaknya pada Kinan
__ADS_1
Kinan kembali mengangguk patuh
-
Didalam perjalanan
Imran sudah mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang
Keduanya tampak diam dan kaku
Disaat semuanya ingin melontarkan pertanyaan, sedetik itu ucapan mereka bertabrakan
"A...!!"
Akhirnya canggung kembali
"Mas aja yang ngomong duluan" Ujar Kinan pada akhirnya
"Kamu aja yang ngomong"
Kinan menunduk. Tadi Dia lupa perihal pertanyaannya
"Kenapa?" Tanya Imran menoleh sekejab
"Aku lupa, Mas"
Imran tersenyum geli. Baru kali ini Dia tak ingin marah pada Kinan
"Mau makan apa?" Akhirnya pertanyaan itu yang bisa Imran ucap
"Mas maunya makan apa? Aku ngikut"
"Seafood mau?"
"Bebek goreng ada?"
Imran mengusap mulutnya dan berakhir dijanggut "Ditanya malah balik tanya"
Kinan menoleh
Kembali Imran tersenyum geli "Kamu tidak makan seafood?" Tanyanya lagi
Kinan lupa berhadapan dengan siapa sekarang
Leher Kinan yang mulus, spontan membuat Imran penasaran
Cintia juga mulus bodynya. Namun karena terbiasa terekspos, akhirnya penasaran Imran hilang alias biasa saja
Imran mengangguk-angguk "Kenapa nggak diperiksa?"
"Sudah bareng Zira tadi" Jelasnya membuat Imran kembali mengangguk
"Apa katanya?"
"Herpes"
Imran melirik sekejab "Kamu pasti panas dalam" Tebak Imran seperti dokter mendiagnosa
Kinan mengangguk-angguk sambil mengabsen para pedagang kaki lima yang mulai mangkal dipinggir jalan
"Itu mas. Rame pengunjungnya. Pasti enak" Tunjuk Kinan pada penjual seafood yang sudah berjajar menjajakan dagangannya
Imran melambankan gerak laju mobilnya "Kamu mau makan disitu?"
Kinan menoleh pada Imran, kemudian mengangguk "Iya"
"Nggak ah. Cari restoran saja. Disitu banyak debu. Nggak nyaman"
Bibir Kinan meruncing
Tiba-tiba dibawah pohon rindang, Imran menepikan mobilnya
Kinan melongo menatap Imran "Kok parkir disini Mas. Perasaan Aku nggak lihat daerah sini dekat restoran"
Imran melepas sabuk pengamannya "Kita mampir ke kedai tadi. Kelihatannya bersih" Ujar Imran dengan alasannya
"Oh"
Imran turun dari mobil lalu berdiri menunggu Kinan
__ADS_1
-
Mereka duduk berhadapan dengan menu bebek goreng pesanan Kinan dan cumi rica-rica pesanan Imran. Tak lupa dengan minumannya yaitu 2 gelas jeruk hangat
Kinan mulai memakannya dengan menggunakan tangan kosong
Imran yang melihat aksi Kinan langsung protes "Kok nggak pakai sendok, malah pakai tangan gitu. Nggak risih diliatin banyak orang"
Kinan menoleh kekanan dan kekiri
"Nggak usah tengok kiri kanan, nggak ada orang" Cegah Imran
"Tadi katanya diliatin orang"
"Enggak hanya seumpama"
"Oh" Kinan kembali memasukkan makanannya lagi kemulutnya "Pakai tangan gini lebih sedap Mas. Nih, piringku kan nggak dikasih sendok sama si mamangnya. Artinya enakan pakai tangan kosong daripada sendok"
"Itu sendok banyak" Tunjuk Imran pada tempat sendok didepannya "Pakai sendok kan bisa"
"Nggak ah sudah terlanjur. Terlanjur enak" Cengir Kinan lumer
Imran menahan senyum. Hari ini percakapan mereka sungguh panjang. Dan Kinan selalu menjawabnya dengan ringan
Imran menatap Kinan yang sudah terlihat kepedesan
Bibir kinan makin memerah dan sedikit menebal sedangkan hidungnya mengeluarkan keringat jagung
Imran mengambilkan tisu. Kemudian menarik piring yang masih ada sambalnya yang sejak tadi dicolek-colek oleh Kinan
"Ih, Mas... Kenapa sambalnya ditarik" Protes Kinan untuk memintanya
"Jangan banyak-banyak. Ntar sakit perut Kamu"
Kinan mengambil tisu dengan tangan kirinya. Kemudian mengelap hidung dan bibirnya yang sudah terlihat basah karena keringat
"Bibir dan hidung Kamu merah. Masih kurang biar berwarna ungu" Ledek Imran untuk pertama kalinya
Bibir Kinan meruncing
Sungguh imut sekali
-
Malam harinya
Kinan menyetrika bajunya diruang laundry
Imran turun dari kamarnya. Rumah ini benar-benar terlihat sepi
"Zira tidak dirumah, ternyata rumah ini sepi" Ucapnya sambil memijat tengkuknya yang tiba-tiba berat
Imran terus mencari-cari. Entah apa yang dicari, kakinya terus melangkah kedapur
Diatas meja, Ia melihat box bergambar donat warna-warni. Imran penasaran kemudian membukanya "Donat. Makanan anak kecil dibawa-bawa"
Tetapi karena perutnya agak lapar, Imran mengambilnya satu
Imran menggigitnya secuil "Rasa apa ini" Lalu kembali menggigitnya. Imran manggut-manggut "Enak"
Imran menoleh kesamping dapur dengan kue yang masih Ia pegang. Ternyata ada Kinan disana. Imran mendekat "Malam-malam kok nyetrika"
Kinan melirik sekejab namun kembali sibuk lagi dengan pekerjaannya
"Kue siapa ini. Aku makan satu"
"Makan aja Mas. Lagian sudah terlanjur digigit. Aku nggak tega memintanya kembali"
"Ck"
Hening
"Kamu dirumah kok memakai hijab. Nggak gerah?"
"Gerah. Orang dekat sama setrikaan. Panas"
Imran tersenyum lebar "Kenapa nggak dilepas. Ini kan didalam rumah"
BERSAMBUNG...
__ADS_1