Suamiku Kakak Iparku

Suamiku Kakak Iparku
Imran Murid Teladan


__ADS_3

Hari latihanpun tiba


Kali ini Imran mengizinkan Kinan untuk hadir karena sudah terjadwalkan


Saat Kinan berdiri mengajarkan materi didepan sana, Imran terus berdiri dibelakangnya


"Mas, Mas duduk deh. Aku kuat, Aku nggak pa-pa" Ujar Kinan menoleh kebelakang


"Ya udah lanjut aja sih. Anggap aja Aku duduk disana" Tunjuk Imran kearah kursi para member dengan dagunya


Berdebatan kecil ini mengundang para member untuk menatap mentornya


Ditambah, keberadaan Imran yang terus berdiri dibelakangnya, membuat sebagian member salah fokus karena dibayangi pria tampan yang ada dibelakang sang mentor


"Itu suami Mak Kinan kan Mak?" Tanya salah satu member ke member yang lainnya


"Iyalah. Kalau bukan nggak mungkin sedekat itu"


"Lucu banget. Masa suaminya nggak mau duduk. Eh, tapi kayak ada yang beda loh, Mak?"


"Beda kenapa?"


"Kayak bukan yang pertama kita lihat dipostingan awal-awal gitulah"


"Maksudnya?"


"Aku tuh kemarin lihat-lihat profil punyanya Mak Kinan. Nggak sengaja -" Sang member mengambil ponselnya dalam tas "Sebentar. Aku liatin ya Mak"


Ponsel sudah ditangannya. Kemudian menyecrol pelatihan diberbagai kota, awal Kinan membuka kursus onlinenya membuat donat


"Lihat, ini suaminya Mak Kinan, kan?"


Merekapun saling mencocokkan wajah dari beranda dan juga nyata didepan mata


Mereka menatap mendiang Aaltaf yang berada dilaman harian milik Kinan lalu menatap Imran yang nyata didepan mata mereka


"Mirip tapi Mak. Iya sih mirip, tapi agak beda"


"Ha-ah ya"


"Apa jangan-jangan suaminya oplas kali ya, Mak"


"Masa sih. Dulu cakep. Sekarang juga cakep"


"Tapi tetap beda, Mak" Member ini keukeh dengan pendiriannya, yaitu beda orang "Oke, Kita lihat lagi ya, Mak" Ucapnya sambil menyecrol video unggahan terbaru "Ini, ni ni"


"Sama, Mak" Jawab satunya belum percaya


"Bukan yang itu. Yang lain, Mak. Yang ini. Ya mak yang ini"


Merekapun saling mencocokkan dengan seksama


"Ha. Iya ya. Makin kesini wajah Pak-"


"Pak Imran"


"Yup. Wajahnya lebih dewasa dan makin tegas"


"Gitu maksudku Mak"


"Oh, apa jangan-jangan??---"


"Tolong yang belakang. Perhatikan dengan baik ya, Mak. Selagi Kita belajar, usahakan belajar dengan serius. Kalau ingin bergosip, entar ada waktunya, oke Mak" Ucapan Kinan tiba-tiba menyentil mereka yang sedang bergosip ria


Seketika kedua member tadi terdiam membatu

__ADS_1


"Oke!!" Jawab member bersamaan


Imran tersenyum. Ternyata penglihatan istrinya sangat jeli


Setelah pembelajaran tahap akhir, seperti biasa Kinan memberi contoh cara melukis donat "Mas mau rasa apa?" Tanya Kinan ragu


Imran jarang minta dibuatkan donat atau kue lainnya. Jikapun ingin, Rasanyapun berubah-ubah. Kadang suka rasa ini, itu, tergantung mood


Beda sekali dengan Altaaf. Ah, sudahlah Altaaf adalah masa lalu Kinan. Kinan harus bisa move on


"Rasa mangga. Ada rasa mangga?" Tanya Imran pada akhirnya


'Tuh kan beda. Nggak punya pendirian. Gonta-ganti mulu'


Imran mendulit hidung Kinan "Hei... Malah melamun"


Aksi Imran ternyata banyak yang melihat


"Cuit cuit...." Goda member yang berdiri tepat didepan Kinan


Kinan tersadar setelah ada ledekan dari muridnya "Ada Mas, ini" Kinan mengangkat box utuh berisi glaze rasa mangga


"Sini, sini. Biar Aku yang bukain" Dengan mudah Imran berhasil membukanya


"Sudah Mas?"


Imran mengangguk "Sudah. Boleh Aku ikut mencobanya?" Imran ingin belajar seperti member lainnya


"Tidak usah Mas, ntar kotor"


"Nggak masalah ntar cuci tangan. Beres" Bersamaan itu, Imran sudah mengambil salah satu donat yang belum dipoles oleh Kinan


"Hm, yaudah deh" Kinan pasrah


Terlebih dahulu, Kinan mengaduk glaze sebelum dipakai untuk mengaplikasikannya keatas donat


Setelah itu Kinan langsung mengambil plastik segitiga yang sudah terisi glaze rasa vanila dan juga coklat. Keduanya diaplikasikan secara berurutan. Setelah ditumpahkan secara memutar, Kinan mengambil tusuk gigi untuk melukis diatas donat tadi


"Tara.... Cantik kan Mak???"


"Wah punya Mak Kinan benar-benar cantik tanpa lelehan kesamping. Rapih banget ya Mak" Puji salah satu member dan diangguki member-member lainnya


Ternyata, Imran juga tak kalah semangat memoles roti berbentuk roda tersebut


"Sayang, punyaku juga nggak kalah cakep dari donatmu. ni" Ucap Imran membuat Kinan melongo


'Cantik apanya Mas. Belepotan semua. Bunganya juga Kempis sebelah' Rasanya ingin tertawa namun Kinan tak berani


"Cantik banget. Yaudah, mau dimakan sekalian apa mau ditaruh disamping punyaku Mas?"


"Taruh aja" Jawab Imran membuat Kinan melotot tak percaya


"Oke. Sini, taruh Mas"


Semua orang yang melihat hasil dari Imran, ingin ngakak. Namun seperti Kinan hanya membatin dan saling berbisik


Kinan melepas sarung tangan karetnya. Kemudian mengambil tissue lalu mengelap tangan Imran yang belepotan seperti bocah habis mainan cat air "Dibersihin dulu. Lengket nanti Kamu Mas"


-


Setelah selesai pelatihan, Imran membawa Kinan kearah dimana rumah pamannya ada dikota ini yaitu Papa Fariz dan Mama Hawa (Istri Untuk Putraku By Harsupi Fakihudin)


Setelah sampai, Imran menggandeng Kinan langsung kebelakang, dimana keluarga ini selalu berkumpul disana


"Mas, rumahnya besar banget. Kaya rumahmu Mas"

__ADS_1


"Rumahku ya rumahmu"


Kinan mengangguk "Tapi sama, sepi orang ya Mas"


"Biasanya, Mereka ada dibelakang" Ucapnya terus kebelakang


Kali ini Kinan baru pertama kalinya datang kerumah ini


Dan benar


Grandma Sifa sedang duduk dikursi goyang dengan rambut putih yang tinggal seuprit dicepol diatas kepalanya


"Gemma tu" Ujar Imran sambil menggandeng Kinan menuju kesana


Imran membungkuk "Gemma... Lihat. Siapa yang datang"


Oma Sifa membuka matanya "Eh, Kak Imran ya?"


Imran tersenyum sekaligus mengangguk


Imran memeluk Oma Sifa "Gemma lagi ngapain??"


Belum juga menjawab, tiba-tiba Mama Hawa muncul "Eh, Kak Imran rupanya? Dek !!!" Menyapa Imran sekaligus memanggil Art disini


Keempat Art muncul berbondong-bondong menemui Hawa "Siap Bu"


"Eh, dua aja lainnya masuk"


Jawaban Mama Hawa membuat Kinan melongo "Mas"


"Mama Hawa memang begitu. Orangnya humble"


"Oh"


Dengan sumringah kedua asisten rumah tangga itu mundur teratur


"Siap Bu"


"Buatkan minum dan bawakan camilan untuk Kak Imran dan istrinya" Ujar Mama Hawa pada akhirnya


Keduanya mengangguk faham kemudian berjalan menuju dapur


"Sejak dulu Gemma nggak ada bosen-bosennya mainan benang. Bikin apa, Ma" Tanya Imran pada Oma Sifa


"Ma, ngerti ini yang datang siapa nggak Ma?" Tanya Mama Hawa pada Oma Sifa


"Tau"


"Terus, Mama bikin itu buat siapa?"


"Buat dialah"


"Tu, buat Kamu, Kak"


"Masa sih. Tapi ini buat bayi. Bukan buatku Ma"


"Oh, jangan-jangan kalian dah isi ya? Biasanya naluri Mama begitu" Tebak Mama Hawa


"Masa" Imran menyenggol lengan Kinan


"Dulu Fatiha saat hamil juga gitu. Mama sibuk banget buatin topi bayi, sepatu. Apalagi dulu ya?"


"Sweeter" Jawab Oma


"Ah betul"

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2