SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA

SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA
Di Sambut


__ADS_3

Sesampainya di depan pintu masuk seorang penjaga menyambut Sintia ramah. Bu Mira sudah bilang pada penjaga kalau Sintia sudah datang disuruh untuk langsung masuk.


"Selamat datang. Dengan bu Sintia kan?" Sapa penjaga dengan sangat ramah.


"Iya banar. Apa acara nya sudah di mulai?" Tanya Sintia basa basi. Padahal dia melihat kalau acaranya belum dimulai sama sekali.


"Acara nya belum di mulai. Kata nyonya Mira acara akan dimulai setelah kehadiran Bu Mira." Sintia yang mendengar itu terdiam seperti bertanya "kenapa harus nunggu aku?" Sintia dan Arini berjalan di belakang seseorang yang mengantarkan masuk ke ruangan pribadi.


Sesampainya di ruangan itu Arini yang sudah di hantui pertanyaan karena penasaran ahirnya buka suara.


"Tia sebenarnya siapa sih mereka? Kenapa sampai menyambut lo sampai segitunya?" Tanya Arini heran dengan orang-orang yang menyambut Sintia.


"Gu, gue juga bingung kenapa mereka sampai segitunya ke gue. Tapi" Belum sempat menyelesaikan ucapannya tiba-tiba Bu Mira dan Serly masuk kedalam ruangan itu.


"Sintia. Sudah datang ya." Sapa Bu Mira sambil memeluk Sintia. Yang di peluk melongo tidak percaya atas perlakuan Bu Mira apalagi Arini terkejut melihat keakraban antara Sintia dengan Bu Mira.


Sebenarnya siapa sih nyonya Mira itu. Kenapa begitu dekat dengan Sintia.


"Tante Arini." Panggil Serly membuat Arini tersadar dari lamunan nya.


"I, iya Serly."


"Boleh minta tolong gak? Temenin Serly ke kamar mandi. Serly kebelet nih." Kata Serly sambil tertawa malu mengatakan nya. Ibu dan Sintia pun tertawa mendengar permintaan Serly. Sedangkan Arini merasa canggung sendiri.


"Arini bisa kan kamu antar Serly." Pinta Bu Mira pada Arini. "Kamu gak usah canggung disini. Anggap aja rumah sendiri ya." Kata Bu Mira tersenyum.


Rumah sendiri? Mimpi deh kalau sampai gue punya rumah sebesar ini.


"Iya baik. Ayo Serly tante antar kamu." Ajak Arini sambil berjalan keluar dari ruangan itu.


Ya ampun ini rumah selain besar dan mewah barang-barang yang ada di dalamnya juga antik semua. Gue yakin keluarga ini pasti bukan keluarga biasa.

__ADS_1


"Tante. Tante tunggu disini aja ya aku sebentar kok." Kata Serly sambil berlari masuk ke kamar mandi. Saat sedang menunggu Serly di dalam tiba-tiba ada seorang pria yang mendekati Arini.


"Heh siapa lo. Ngapain lo disini." Tanya dia dengan datar.


"Maaf saya tamu yang di undang nyonya Mira ke pesta ulang tahun Serly." Jawab Arini sedikit gugup. Dia terkejut dengan kehadiran sosok pria tampan dihadapan nya. Apa dia pangeran tampan yang dikirimkan Tuhan untuk ku. Begitu yang dipikirkan Arini.


"Tamu? Haha. Mana ada tamu selonong boy masuk kesini." Riyan bicara dengan sangat datar dan dingin. "Pesta ulang tahun di ruangan depan. Ngapain lo bisa-bisanya kesini."


Tampan sih tampan. Tapi sikapnya dingin dan nyebelin banget sih.


Tiba-tiba Serly keluar dari kamar mandi. "Ayo tante kita kembali ke pesta." Ajak Serly pada Arini.


Melihat Serly yang akrab dengan Arini membuat Riyan penasaran siapa sosok wanita itu.


"Serly kamu kenal dia." Tanya Riyan pada Serly sambil menunjuk ke arah Arini.


"Iya uncle. Dia sahabatnya tante Sintia. Yaudah aku kembali kesana dulu ya. Ayo tante." Serly menarik tangan Arini berjalan ke ruangan pesta ulang tahun.


"Serly tadi uncle kamu ya?" Tanya Arini.


"Dia uncle Riyan tante. Adiknya ayah serly." Arini hanya menjawab dengan manggut-manggut.


***


Saat Arini sedang melamun entah apa yang di pikirkan. Tiba-tiba seorang pria yang sangat dia kenal melewati Arini. Arini terkejut siapa yang barusan dia lihat. Dia sampai mengucek matanya karena tidak percaya apa yang barusan dilihat nya.


Pak Ricky. Ngapain dia ada disini?


Arini segera berlari menghampiri Sintia yang sedang mengobrol dengan Bu Mira. Dia terlihat ngos-ngosan. Sintia yang melihat sahabat nya begitu merasa heran.


"Arini. Ada apa dengan mu?" Tanya Sintia berharap semuanya baik-baik saja.

__ADS_1


"Itu. Itu diluar Tia."


"Ada apa?" Tanya Bu Mira penasaran. "Kamu minum dulu biar tenang." Arini meraih gelas minum yang ada di meja. Setelah itu dia merasa sedikit lega.


"Ada apa Rin?" Tanya Sintia.


"Di luar ada bos galak dan dingin yang waktu itu aku ceritain ke kamu Tia. Pak Ricky. Dia yang marahi aku saat aku telat masuk kerja waktu itu." Ingin rasanya Sintia membungkam mulut Arini yang mengatakan Ricky bos galak dan dingin.


Arini memang gak tau kalau dia berada di rumah keluarga Ricky. Bahkan dia mengunjungi pesta ulang tahun anaknya Ricky. Sintia memang belum menceritakan lebih jauh tentang dirinya dengan Ricky. Karena Sintia menganggap kalau semuanya tidak akan terlibat hubungan lebih jauh lagi.


Serly dan Bu Mira tertawa saat mendengar cerita menyedihkan Arini. Semua orang tau Ricky akan bersikap dingin dan angkuh pada orang asing. Dia juga bersikap tegas kalau berurusan dengan pekerjaan dan kantornya.


"Jadi kamu lari terbirit-birit kesini karena takut bertemu dengan Ricky?" Tanya Bu Mira masih tertawa.


Eh kenapa? Kenapa Bu Mira mengenal Pak Ricky. Dan kenapa lagi si Tia kelihatan kesel banget gue memaki Pak Ricky. Jangan-jangan...


"Tante. Pak Ricky yang tante takuti itu adalah ayah Serly." Duarr seperti ada yang melemparkan bom ke wajah Arini. Dia sangat terkejut dengan ucapan Serly barusan.


"Maaf nyonya Mira, Serly. Saya tidak bermasud." Ucapan Arini terpotong saat seseorang masuk kedalam ruangan itu.


"Loh kalian kenapa masih disini? Semua orang sudah menunggu. Pesta akan segera dimulai." Glek Arini menelan ludahnya melihat Ricky datang. Tetapi tidak dengan Ricky. Dia tidak mengenal Arini sama sekali. Ricky memang tidak akan mengingat siapapun yang pernah berjumpa dengan nya kalau orang itu termasuk orang asing baginya.


"Aaa iya kita akan segera kesana Ric. Ayo kita mulai pestanya." Ajak Bu Mira sambil bangun dari duduknya.


"Jangan takut. Tidak akan terjadi apa-apa padamu." Kata Bu Mira sambil tersenyum. Meyakinkan pada Arini yang terlihat sangat tegang begitu.


Sintia yang mau berjalan keluar tiba-tiba tangannya di tarik oleh Arini.


"Tia. Lo apa-apaan sih. Kenapa lo gak cerita kalau." Belum sempat menyelesaikan omelan nya, Sintia sudah dapat membungkam mulut Arini.


"Sudahlah. Sepulang dari sini aku cerita semuanya pada lo. Sekarang kita harus menghargai pestanya. Masalah Pak Ricky jangan khawatir. Okay!" Jelas Sintia sambil berbisik pada Arini.

__ADS_1


__ADS_2