SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA

SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA
Kenangan Sintia (Part 2)


__ADS_3

Saat sudah berada di pintu ruang IGD Sintia menghentikan langkah nya ketika melihat ayah dan ibunya terbaring lemah dengan luka di sekujur tubuhnya.


"Ayah... Ibu..." Teriak Sintia sambil berlari menghampiri ayah dan ibunya. Menghambur ke pelukan ayah dan ibunya.


"Sayang ibu minta jaga diri kamu baik-baik ketika ibu dan ayah sudah tidak ada. Ibu bangga punya anak seperti mu. Kejarlah cita-citamu gunakan kesempatan belajar mu dengan baik." Kata ibu dengan suara sedikit serak sambil berusaha tersenyum.


"Tia."


"Ayah."


"Setelah ini kamu akan pergi ke ibu kota untuk melanjutkan sekolah kan. Ayah harap kamu bisa jadi wanita yang kuat dan tegar. Jangan lupa untuk selalu berdoa untuk kesuksesan mu dan sisihkan lah sebagian dari harta mu untuk orang-orang yang membutuhkan." Pesan ayah kepada Sintia sambil menggenggam tangan anaknya.


"Iya ayah. Aku akan selalu ingat semua pesan ayah dan ibu."


"Apa kamu bisa berjanji? Kamu tidak akan sedih ketika ibu dan ayah pergi. Kamu akan jadi wanita mandiri dan biarkan ayah dan ibu pergi dengan tenang." Tangisan Sintia kembali pecah saat mendengar kata kata yang di keluarkan dari mulut ayahnya.


Sesaat kemudian setelah Sintia memeluk kedua orang tuanya mereka menghembuskan nafas terakhir di depan mata Sintia. Tangisan Sintia tidak bisa di bendung lagi saat orang tuanya benar-benar meninggalkan Sintia untuk selama-lamanya.


Paman Sintia berusaha menenangkan Sintia yang tidak bisa menahan tangisan nya. Terlihat paman dan bibinya pun meneteskan air mata atas kepergian kakaknya.


Semenjak kepergian orang tuanya Sintia berusaha keras untuk bisa hidup mandiri apalagi harus sekolah dan tinggal di ibu kota. Sampai Sintia lulus kuliah dan mempunyai usaha butik sendiri akibat dari kerja kerasnya.


*Flashback Off*


Nyonya Mira terbawa suasana mendengar cerita Sintia di masa lalu. Dia bisa merasakan betapa beratnya Sintia harus menjalani hidupnya seorang diri di ibu kota.


Kamu sudah banyak berjuang di masa lalu Tia. Sekarang mamih pastikan kalau kamu gak akan bersedih lagi walaupun oleh hal sepele. Sintia membalas pelukan nyonya Mira. Setelah sekian lamanya kini Sintia bisa merasakan pelukan dari seorang ibu lagi.

__ADS_1


"Oh iya tadi kamu bilang setelah orang tuamu meninggal hanya paman dan bibi yang jadi penguat kamu kan? Sekarang dimana mereka?" Sintia diam saat nyonya Mira menanyakan tentang keberadaan paman dan bibinya.


"Paman? Bibi? Bahkan setelah aku sukses aku tidak bisa membalas budi setelah apa yang mereka lakukan terhadap ku." Nyonya Mira tampak bingung dengan jawaban Sintia itu.


Apa paman dan bibi Sintia juga sudah meninggal? Pikiran nyonya Mira kembali bertanya tanya.


"Aku tidak tahu dimana paman dan bibi berada. Terakhir aku pulang kampung paman dan bibi sudah tidak ada di tempat tinggalnya lagi. Mereka sudah menjual rumah nya untuk membayar semua hutang paman. Dan aku tidak mendapatkan informasi kemana paman pergi."


"Apa kamu tidak bisa menghubungi keluarga lainnya yang bisa membantu mu mencari informasi tentang paman dan bibi?"


Keluarga? Huh. Bahkan keluarga ku hanya terdiri dari orang tuaku, paman, dan bibi.


"Keluarga besar kita tidak akur mih. Ayah, ibu, bibi, dan paman sudah tidak di anggap lagi oleh keluarga besar setelah kepergian nenek. Semua ini terjadi karena anaknya nenek memperebutkan warisan dari nenek Tia. Karena paman dan juga ayah adalah anak terahir makanya mereka mengesampingkan kami. Jadi yaa begitulah." Ucap Sintia.


Sebenarnya Sintia juga masih ada sedikit dendam karena perlakuan anggota keluarga lainnya yang tidak adil pada ayah dan pamannya. Tapi Sintia selalu di ingatkan oleh ayahnya untuk tidak mengungkit masalah warisan itu.


Sintia hidupmu ternyata jauh lebih berat dari yang aku ketahui. Paman dan bibimu! Ah sepertinya aku berusaha mencari keberadaan mereka. Sintia pasti sangat bahagia kalau bisa ketemu sama paman dan bibinya lagi.


Lahirlah rencana baru nyonya Mira. Setelah mendengar lebih banyak cerita masa lalu Sintia, kini nyonya Mira berencana untuk mencari keberadaan paman dan bibi Sintia. Nyonya Mira bisa membayangkan betapa bahagianya Sintia setelah bertemu dengan pamannya.


***


Waktu menunjukkan sudah saatnya makan siang. Ricky yang baru saja datang dari kantor segera duduk di meja makan. Ricky sengaja pulang cepat dari kantor karena ingin makan siang bersama istrinya.


Seperti biasa, Sintia selalu membantu pelayan untuk menyiapkan makanan. Walaupun Ricky dan yang lainnya selalu melarang Sintia untuk urusan rumah, tapi Sintia selalu saja mengerjakan nya.


"Gak papa. Aku hanya ingin menyiapkan makanan untuk suami dan mertuaku. Aku hanya ingin belajar jadi istri dan menantu yang berbakti pada suami dan mertua." Begitu jawaban Sintia ketika semua orang melarang nya berurusan dapur.

__ADS_1


"Benar-benar istri idaman suami dan menantu idaman mertua." Tuan Jaka memuji Sintia membuat semua orang yang ada di meja makan tertawa. Sintia hanya tersipu malu mendengar pujian dari mertuanya.


Melihatmu seperti ini, aku jadi semakin sayang dan gak mau melepaskan mu Tia. Ricky


Andai kamu datang sejak dulu di kehidupan Ricky. Mungkin Ricky akan selalu bahagia tanpa harus melewati kesedihan dalam hatinya terlebih dahulu karena Tamara.


Setelah selesai makan siang semuanya berkumpul di ruang tengah sambil menonton televisi. Tiba-tiba Ricky teringat sesuatu tentang rencananya untuk mengajak Sintia berbulan madu. Ahirnya Ricky membicarakan rencananya di depan kedua orang tuanya itu.


Apa bulan madu. Aku mau, mau sekali apalagi kalau bulan madunya di pantai pasti sangat menyenangkan. Bermain pasir dan menyelam.


Pikiran Sintia langsung berlarian ke pantai setelah mendengar kata bulan madu. Sepertinya dia akan merekomendasikan pada suaminya itu untuk berbulan madu di pantai. Karena sejak kecil Sintia suka sekali bermain ke pantai. Kalau liburan sekolah pasti Sintia mengajak ayah dan ibunya untuk berlibur ke pantai.


Tapi sepertinya berbeda dengan Ricky. Dia menginginkan bulan madunya pergi ke luar negri. Ke tempat tempat romantis yang banyak orang sering mengunjunginya saat berbulan madu.


Perbedaan pendapat antara Ricky dan Sintia menjadi perbincangan Sintia setiap saat ketika berada di dekat Ricky. Semakin lama Ricky semakin frustasi sendiri mendengar rencana bulan madu istrinya itu yang hanya di habiskan untuk bermain saja.


"Sudah diam! Berhenti mengusulkan ide tentang bermain di pantai. Pokoknya kita akan pergi ke negara XX untuk berbulan madu." Begitu ahirnya Ricky mengatakan.


"Sayang aku gak mau. Aku lebih memilih pergi ke luar kota dari pada ke luar negri. Di pantai kita bisa bermain sepuasnya dan banyak juga permainan yang bisa kita lakukan di sana kan."


Ricky semakin jengah mendengar ocehan Sintia. Tuan Jaka dan nyonya Mira hanya tersenyum mendengar perdebatan antara anak dan menantunya itu. Sintia yang banyak rencana bermain di pantai sedang Ricky menginginkan moment romantis di saat bukan madunya.


"Sudah. Sudah jangan ribukan masalah bulan madu. Kemanapun kalian pergi ibu do'akan semoga kalian cepat di beri momongan." Sintia terbelalak mendengar ucapan nyonya Mira. Tidak ada pemikiran untuk punya anak lebih cepat setelah pernikahannya.


Aaa aku gak mau punya anak dulu. Aku masih senang hidup sendiri lagian kan udah ada Serly.


"Iya mih makanya Ricky rencananya mau pergi ke negara XX yang cocok untuk berbulan madu di sana." Wajah Sintia semakin panik mendengar rencananya Ricky.

__ADS_1


Pokoknya aku harus berusaha supaya aku gak pergi ke luar negri dan hanya berbulan madu di luar kota aja tepatnya di pantai. Begitu gumaman Sintia dalam hati.


__ADS_2