SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA

SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA
Canggung


__ADS_3

Sesampainya di ruangan Rian, Arini pun menjadi gugup dan canggung apalagi di belakang Rian ada sekretarisnya yaitu Alex. Kemudian Riyan pun duduk di kursi kerjanya. Melihat dari mimik wajahnya Rian dan Alex menunjukan wajah dingin tanpa bergeming. Itu semua membuat Arini semakin canggung saja. Kemudian Riyan pun bertanya pada Arini.


"Apa yang kamu takuti? Kenapa kamu terlihat gugup seperti itu. Apa karena sudah ketahuan kalau kamu sedang bergosip tentang ku!" Tegas Riyan bicara.


"Maaf tuan, saya tidak bermaksud bergosip tentang anda tadi hanya mengobrol bersama yang lainnya."


"Alasan." Alex menyela perkataan Arini.


Alex yang berdiri di belakang Riyan pun menahan tawa karena dia tahu tujuan Riyan membawa Arini keruangannya bukan untuk dimarahi karena bergosip tetapi untuk hal lain. Melihat tingkah laku Alex yang menahan tawa membuat Arini bingung.


Ada apa ini sebenarnya? Kenapa mereka sangat membuatku pusing begini.


Kemudian Riyan pun menoleh kepada Alex. Alex paham apa arti tatapan Riyan yang menandakan bahwa dia boleh pergi. Alex pun mengangguk dan berjalan menuju keluar pintu ruangan tersebut. Tinggalah di ruangan tersebut hanya Arini dan juga Rian. Rian pun berbicara kepada Arini.


"Kenapa kamu seperti itu? Bukankah tadi pagi kamu marah sudah-marah padaku lalu kenapa sekarang seperti orang ketakutan."


"Maaf tuan, ini adalah kantor dan saya mau profesional saat di kantor. Saya harus menghormati anda karena anda sebagai CEO di perusahaan tempat saya bekerja tapi kalau di luar Jangan harap saya akan diam diri.


Melihat mu seperti tadi aja sudah membuat ku ingin memukul mu saja.


"Sudah lupakan saja itu. Oh ya aku sampai lupa tujuan Aku bawa kamu ke sini. Saya cuma mau bilang dan meluruskan takutnya kamu salah paham tentang keputusan rapat tadi yang saya memberikan untuk kamu."


"Kenapa Tuan?"


"Kesempatan untuk menjadi ketua humas di sini bukan karena saya kasihan atau tidak bersifat profesionalisme kepada kamu. Tetapi melihat kinerja kamu yang lumayan bagus dan saya memang sudah melihat kamu itu cerdas ntuk aku pilih kamu menjadi ketua humas di perusahaan ini."


Kenapa dia bicara seperti itu? Apa ini maksudnya dia nyuruh aku buat sadar diri kalau aku.... Ahh lagian ngapain juga aku mikirin samapai segitunya.


"Jangan berpikir kalau saya itu menaikan jabatan kamu karena kedekatan antara saya dan kamu."


Arini mengangguk dan berpikir dalam hati "Dih siapa yang dekat dengan dia orang kalau bertemu tidak sengaja juga selalu menyebalkan seperti waktu tadi pagi."


"Hei apa yang sedang kamu pikirkan? dan kenapa kamu masih di ruangan ini emang kamu tidak punya kerjaan apa kenaikan jabatan kamu itu membuat pekerjaanmu lebih banyak jadi cepat kembali ke ruangan mu bereskan pekerjaanmu." Arini menghela nafas panjang dan berlalu pergi dari ruangan Riyan.

__ADS_1


"Siapa juga yang mau lama-lama di sini dasar Bos compleks. Kalau saja dia bukan bosnya pasti sudah aku lawan daritad. Sabar sabar." Arini mengerutu sepanjang berjalan menuju ruangan nya.


Setelah kepergian Arini, Ricky pun tertawa bebas sampai dia tidak bisa menahan tawanya karena melihat ekspresi Arini yang menahan kekesalannya terhadap dia.


"Arini kamu itu lucu ya. Gila apa yang aku pikirkan. Tidak mungkin kan aku suka sama dia. Dia kan cewe paling rese kalo aku punya pacar dia atau punya istri seperti dia udah pasti rumah tangga kami akan selalu dihadiri dengan perdebatan. Aku sih pengennya punya istri kayak kakak ipar. Dia itu penurut ramah dan juga asik."


Riyan pun menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya.


***


Sementara itu di gedung pusat perusahaan Royal Group seorang presdir yang dipimpin oleh Ricky baru saja memasuki ruangan bersama sekretarisnya. Setelah selesai pertemuan mereka memiliki waktu luang untuk bersantai. Ricky pun melihat handphonenya dan melihat media sosial kemudian dia melihat postingan dari seseorang yang sedang berbulan madu. Dia pun teringat akan pernikahannya. Karena setelah 3 bulan dia menikah dia belum melaksanakan yang namanya bulan madu.


"Zaki" Panggil Ricky kepada sekretarisnya yang baru saja berjalan menuju sofa.


"Iya Tuan. Ada yang bisa sayabantu? kamu tahu kan sudah 3 bulan aku menikah dengan Sintia dan aku kan belum melaksanakan bulan madu bersamanya."


"Iya benar tuan. Tuan kan belum melakukan bulan madu bersama Noni Sintia."


"Bagaimana kalau minggu ini"


"Baiklah coba kamu cek dulu jadwalnya" Zaky pun melihat jadwal ricky dari tab nya.


"Ahir pekan ini ada waktu luang untuk tuan pergi." Tapi Zaki baru ingat bahwa ahir pekan ini adalah hari peringatan kematian orang tua nona Sintia.


Oh iya aku hampir lupa kalau ahir pekan adalah hari peringatan kematian orang tua nona Sintia.


"Maaf tuan kalau agenda kegiatan di perusahaan sepertinya cukup aman dan tuan bisa melaksanakan pergi bulan madu bersama Nona Sintia."


"Bagus kalau begitu berarti kita bisa berangkat minggu ini."


"Tapi tuan ada yang lebih penting dari itu. Maksud saya ada agenda yang penting yang tidak bisa tuan tinggal kan."


"Apa itu?" Karena yang ada di pikiran Ricky tidak ada acara yang penting ahir pekan ini.

__ADS_1


"Ahir pekan adalah peringatan kematian orang tua Nona Sintia dan sepertinya nona Sintia akan pergi ke pemakamannya."


"Loh kenapa saya tidak tahu ya dan kenapa Sintia tidak pernah cerita kepada saya."


"Mungkin karena nona Sintia sudah terbiasa pergi ke sana bersama nona Arini jadi sepertinya mereka akan pergi berdua."


Ricky pun memandang Zaki. Berdua bersama siapa pertanyaan yang muncul di benaknya.


"Biasanya Nona Sintia pergi bbersama nona Arini tuan. Dia akan pergi berdua mungkin karena dia masih canggung sama tuan."


"Ya udah kamu persiapkan saja semuanya. Untuk minggu ini kosongkan agenda kita dan kita akan pergi ke pemakaman mertua ku."


"Baik tuan."


"Oh iya satu lagi jangan sampai Sintia tahu tentang ini aku pengen ini adalah kejutan karena aku sangat peduli padanya, pada peringatan kematian mertua ku."


"Maaf tuan kalau nona Arini?"


"Oh iya soal Arini nanti aku akan hubungi Riyan dulu dia kan bekerja di perusahaan yang di pegang Riyan."


Apa Arini dekat dengan tuan Riyan? Tapi kenapa kelihatannya suka berantem kalau mereka bertemu. Apa tuan Ricky mau jadi pak comblang bagi mereka.


"Apa yang kamu pikirkan Zaki?"


"Hehe. Tidak ada pak."


"Jangan bilang kalau kamu suka sama Arini ya?" Ricky menyelidik sekertaris nya.


"Apa? Sa, saya."


"Sudahlah kalau kamu tertarik padanya berjuang lah. Dan ingat kamu punya saingan yaitu Riyan."


Apa-apaan ini. Sepertinya tuan Ricky benar-benar ingin jadi pak comblang.

__ADS_1


Zaki pun beranjak pergi dari ruangan Ricky. Bisa pusing sendiri mendengar bosnya yang terus terusan membahas yang tidak penting.


__ADS_2