SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA

SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA
Sedih


__ADS_3

Besok adalah hari pernikahan Sintia dengan Ricky. Hari ini hari persiapan untuk pesta pernikahan. Sintia harus pulang lebih awal dari butik karena perintah dari nyonya Mira.


"Nona ayo ini sudah waktunya nona pulang."


"Sebentar Bella." Sintia kelihatan tegang sekali. Bagaimana tidak dia akan menikah dengan seorang duda kaya. Pernikahan ini tidak di rencanakan dari jauh hari. Ini semua membuat Sintia tertekan apalagi pernikahannya yang tidak dihadiri oleh keluarga.


"Nona apa anda baik-baik saja?" Sintia hanya membalas dengan senyuman terpaksa.


"Ayo Bella kita pergi." Kata Sintia sambil berjalan meninggalkan Bella.


Sebelum masuk ke dalam mobil Sintia menghampiri Arini. Sintia mengajak Arini untuk ikut bersamanya. Namun Arini pun menolak karena merasa canggung jika dia harus berada diantara mereka.


"Ayolah Rin. Kamu harus ikut kamu tau kan aku gak punya siapapun selain kamu." Berusaha membujuk agar Arini bisa ikut dengan nya.


Benar. Ini adalah hari pernikahannya dan Tia gak punya keluarga. Aku harus menemani nya.


Terlihat Arini berpikir lalu menghembuskan nafas. "Baiklah aku ikut Tia." Sintia memeluk Arini senang.


Dalam perjalanan menuju hotel Sintia bergelut dengan pikiran nya. Pernikahan yang harusnya menjadi momen indah dalam hidupnya. Tapi sejak kepergian orang tuanya Sintia tidak ada bayangan lagi untuk menggelar pesta pernikahan yang berkesan.


Besok adalah pernikahan ku. Keluarga ku tidak ada bahkan ayah dan ibuku pun sudah gak ada. Akan kah pernikahan ini menjadi momen paling bahagia di hidup ku?


"Tia." Panggil Arini saat melihat Sintia yang merasa terbebani. "Jangan khawatir aku ada disini. Yakinlah tidak akan terjadi apa-apa." Kata Arini menenangkan.


Bella yang sedang menjalankan mobil melirik lewat kaca spion.


"Nona apa yang anda takutkan? Pak Ricky menikahi nona karena dia mencintai nona kan. Pak Ricky sendiri yang memilih nona menjadi istrinya." Ucapan Bella sama sekali tidak bisa menenangkan pikiran Sintia.


"Bukankah keluarga nonya Mira juga menyayangi nona? Lalu apa yang masih nona takutkan?"


"Benar Tia. Mereka menyayangi mu buktinya mereka sampai menyuruh Bella untuk bisa menjaga mu kan." Lanjut Arini.


Benar nonya Mira memang menyayangi ku. Tapi entah kenapa rasa takut ini masih ada dalam pikiran ku.


"Bella. Apa ada sesuatu yang bisa membuat ku tenang?"


Eh kenapa? Apa nona mau aku mengatakan sesuatu. Seperti rahasia misalnya.

__ADS_1


"Maaf nona saya tidak bisa memberikan rahasia apa-apa." Jawab Bella. "Tapi akan saya beri satu rahasia untuk bisa membuat nona yakin pada Pak Ricky."


"Apa itu? Apa Bella?" Jawab Sintia dengan antusias.


"Nona adalah wanita yang paling berharga di hidup Pak Ricky. Apa nona tau? Dulu Pak Ricky atau pun nyonya Mira tidak pernah memberi pelayanan khusus pada nona Tamara." Bella berhenti sejenak. Dia berpikir tidak apa-apa kan kalau aku membicarakan ini semua.


Kalau ini membuat nona Sintia bisa tenang tidak salahkan aku memberitahu masalah Tamara kan.


"Dulu nona Tamara hidup bebas tanpa pengawasan. Nona Tamara juga tidak terlihat dekat kedua adik Pak Ricky. Mungkin semua itu karena sikap nona Tamara yang sombong." Bella masih ingat kalau Tamara sering sekali bertengkar karena hal sepele sekali pun dengan Tamara.


"Kenapa bisa begitu?" Tanya Sintia dengan heran.


Bukankah dia wanita berkharisma. Dia juga cantik dan kelihatan nya keturunan konglomerat juga kan.


"Ya mungkin karena mereka di jodohkan." Bella terkejut dengan ucapan nya.


Aku pasti sudah gila. Kenapa aku malah keceplosan begini?


Mobil sudah berhenti di parkiran hotel. Sintia yang masih penasaran dengan cerita Ricky ingin sekali bertanya lebih jauh pada Bella. Namun Bella tidak menanggapi nya lagi.


"Nona gak perlu tau banyak cerita Pak Ricky dari saya. Yang penting nona sudah yakin kalau Pak Ricky sangat mencintai nona." Begitu ahir ucapan Bella pada Sintia.


"Silahkan masuk nona nyonya Mira pasti sedang menunggu. Saya mau mengurus gaun dulu." Bella mempersilahkan Sintia masuk kemudian dia pergi ke ruang make up.


"Sudahlah Tia setidaknya kamu sudah tau satu hal tentang Pak Ricky. Selebihnya kamu bisa tanyakan nanti kan ke Pak Ricky." Kata Arini meyakinkan Sintia.


Saat masuk ke ruangan khusus Sintia kagum dengan desain ruangan nya. Sebuah hotel bintang lima mewah milik Ricky.


Wah ini mewah sekali. Pasti mahalkan kalau nyewa hotel untuk pernikahan. Padahal aku udah bilang kalau pernikahan nya ingin sederhana tapi Pak Ricky malah melotot padaku.


"Tia lihat semua ini. Ini sangat mewah sekali semoga ini menjadi momen paling bahagia di hidupmu." Sintia terharu mendengar ucapan Arini. Sintia tiba-tiba memeluk Arini dengan perasaan bahagia.


"Sintia. Kamu sudah datang." Panggil nyonya Mira saat melihat calon mantunya.


"I, iya nyonya tadi Bella yang mengantarkan kita kesini."


"Loh kenapa masih manggil nyonya. Mulai sekarang panggil aja mamih okay!"

__ADS_1


"Ba, baik mih." Ucap Sintia gugup.


"Kamu. Arini ya?"


"Eh iya nonya saya Arini."


"Arini makasih ya udah jadi sahabat Sintia selama ini." Ucap nyonya Mira sambil memeluk Arini.


Duh kenapa gue gugup begini ya di peluk nyonya Mira.


"Iya sama-sama nyonya. Ibu dan ayah saya juga udah anggap Sintia sebagai anak sendiri." Kata Arini ramah.


"Ah iya apa orang tuamu udah tau kalau Sintia akan menikah?"


"Ibu dan ayah sudah tau nyonya."


"Apa kamu nyuruh mereka datang kemari?" Mendengar pertanyaan itu Sintia dan Arini saling pandang. Mereka memang tidak mengundang orang tua Arini.


Sintia yang mau mengundang orang tua Arini tidak enak karena acara ini diadakan oleh nyonya Mira. Lagian orang tua Arini juga tidak ingin datang kesini karena mereka akan merasa canggung dengan orang-orang terhormat.


"Kenapa diam? Jangan bilang kamu gak undang keluarga Arini ya Tia." Sintia hanya mengangguk saja. "Kenapa begitu. Yaudah kamu hubungi orang tuamu suruh mereka datang kesini ya." Ucapan itu ditunjukkan kepada Arini agar orang tuanya bisa datang ke pesta pernikahan Sintia dan Ricky.


"Tapi nyonya."


"Eits... Gak ada tapi-tapian." Jelas nyonya Mira pada Arini.


"Baiklah." Arini pun hanya pasrah kalau berurusan dengan nyonya Sintia.


"Yaudah mamih tinggal dulu ya. Kamu langsung masuk aja ke dalam kamar. Nah disitu letak kamar mu." Nyonya Mira menujukan pintu kamar untuk Sintia.


"Iya mih makasih." Setelah kepergian nyonya Mira Sintia dan Arini masuk ke dalam kamar.


"Tia gila ya. Mertua lo ngeri banget. Kita harus melakukan apapun yang dia katakan kalau kita bantah dia mengeluarkan mata sinisnya." Sintia tertawa mendengar ucapan Arini.


"Makanya jangan macam-macam sama nyonya Mira. Gue juga takut sama dia. Yaudah cepet hubungi ibu lo nanti lupa lagi."


"Ah benar. Kalau gue lupa gak bisa dibayangkan nyonya Mira ke gue bagaimana. Mungkin seperti marahnya singa kali ya." Arini membayangkan bagaimana kalau beneran nyonya Mira marah.

__ADS_1


"Husss lo itu kalau ngomong ya." Kata Sintia sambil terkekeh.


Baiklah sekarang aku bisa tenang. Seperti semuanya akan baik-baik saja. Mmm aku mau tidur dulu biar besok bisa fresh.


__ADS_2