
Pagi hari semua orang sibuk mempersiapkan pesta pernikahan Sintia dan Ricky. Para pelayan di rumah utama pun ikut serta mempersiapkan pesta ini. Semua orang nampak bahagia apalagi Serly yang akan mempunyai ibu baru.
Arini sedang bersiap merias dirinya dibantu oleh para pelayan wanita. Dengan menggunakan gaun pengantin berwarna putih ditambah riasan yang ada di wajahnya membuat Sintia terlihat semakin cantik.
"Wah... kau kelihatan cantik sekali sayang." Kata Arini sambil mencubit pipi Sintia.
"Eh mbak jangan begitu lihat make up nya jadi rusak lagi." Kata pelayan yang merias wajah Sintia.
"Hehe, maaf ya mbak habis saya gereget melihat kecantikan sahabat saya ini." Balas lagi sambil tertawa. Arini hanya cemberut mendengar larangan dari para pelayan itu.
"Biarkan dia memeluk Sintia sepuasnya karena ini terahir kalinya dia meluk sahabat nya itu." Tiba-tiba Ricky datang mengagetkan semua yang ada di kamar itu.
"Pak Ricky." Ucap Arini gugup.
Ricky memberi isyarat agar pelayan keluar. Kemudian berjalan mendekati Sintia dan berdiri di hadapan nya.
"Peluklah sepuas mu mumpung saya masih bebaskan kamu memeluk Sintia. Kalau Tia udah nikah jangan harap bisa meluk Sintia seperti sekarang ini." Ucap Ricky datar namun terdengar seperti ancaman bagi Arini.
"Kenapa begitu? Saya ini sahabat Sintia saya sudah sejak lama bersamanya." Arini menyenggol tangan Sintia agar dibela dari Ricky.
"Benarkah? Kalau kau sudah sejak lama bersama Sintia berarti kau sering kan peluk Sintia? Nah mulai sekarang giliran ku yang akan selalu memeluk Sintia karena dia udah jadi istri ku."Sintia tersipu malu mendengar ucapan Ricky.
Tapi Arini memblakakan mata. Gila ini orang sesantai itu dia mengucapkan hal memalukan ini.
"Tapi bolehkan saya masih bersahabat dengan Tia?" Memastikan kalau dia memang masih bisa bersama Sintia.
"Tidak masalah." Jawaban Ricky membuat Arini senang. "Tapi."
Nah kan pasti ada syarat nya. Huh begini ya kalau terlibat dengan orang kaya suka seenaknya aja.
"Kalau sampai kau mengajak Arini melakukan apapun yang membuat ku kesal aku akan menghukum mu. Akan ku kirim kau ke pelosok negri." Duarr wajah Arini berubah pusat pasi.
"Emang apa yang membuat kesal Pak Ricky?" Takut sekaligus penasaran dengan ancaman Ricky.
"Kau harus patuhi semua aturan dari sama seperti Sintia mematuhi nya."
Apa? Sudah gila ya.
__ADS_1
"Haha Pak Ricky yang terhormat. Tenang saja saya gak akan ganggu Sintia bersama Pak Ricky lagian walaupun Sintia sudah menikah aku juga masih bisa jalan-jalan bareng pacarku." Lihat Arini dengan percaya dirinya bilang begitu pada Ricky. Padahal dia sama sekali tidak punya pacar.
"Pacar? Bukannya kamu gak punya pacar setelah kamu trauma berpacaran dengan mantan pacar mu yang terakhir itu?" Duarr ini mengejutkan bagi Arini. Bagaimana bisa Pak Ricky tau sejarah masalalu nya.
Arini melihat ke arah Sintia seperti menuduh apa kau yang membeberkan semua ini. Tapi Sintia hanya angkat bahu kalau dia tidak tau apa-apa.
***
Keluarga Arini sudah memasuki pintu utama hotel. Seperti tamu undangan lainnya yang harus diperiksa saat akan masuk ke gedung. Seorang penjaga menanyakan kartu undangan pada ayah Arini.
"Maaf Pak tapi kami di undang kemari lewat telpon jadi kami gak di kasih undangan." Pak Bambang bingung bagaimana cara menjelaskan pada penjaga itu.
"Gimana sih mana ada undangan yang kita bawa orang kak Rini undang kita lewat telpon kan." Arini memang mengundang keluarga nya lewat telpon sehingga tidak memberikan kartu undangan pada mereka.
Cukup lama mereka meyakinkan penjaga itu. Celsy yang sudah mulai kesel menjadi marah-marah gak jelas. Terlebih kakaknya itu tidak tidak memberikan undangan sehingga mereka di persulit untuk masuk ke dalam gedung.
"Yaudah kita telpon Arini dulu ya." Ucap bu Sandra mengalah.
Ada-ada aja sih Arini ngundang tapi gak memberi undangan jadi gini kan jadinya.
"Halo Arini, kamu dimana? Ini mamah udah ada d pintu masuk gedung."
"Kaka ini gimana sih. Kita itu gak dibolehin masuk sama penjaga disini. Meraka mengira kita orang asing karena kita gak bawa kartu undangan nya." Arini tersentak mendengar Celsy. Pantesan mereka gak bisa masuk aku kan gak memberi mereka kartu undangan.
"Yaudah kamu tunggu sebentar kaka kesana."
"Yaudah cepetan." Celsy menutup panggilan nya.
"Gimana cel?" Tanya Pak Bambang
"Sebentar lagi kak Rini kesini." Jawab Celsy dengan suara datar.
"Nyonya Mira." Panggil Bu Sandra saat melihat seseorang yang sangat ia kenal.
Pak Bambang dan Celsy bingung karena tidak mengenali orang yang di panggil Bu Sandra.
"Siapa Pah?" Pak Bambang menggeleng kepala berarti tandanya dia juga gak tahu.
__ADS_1
"Bu Sandra. Sudah lama ya kita gak bertemu. Apa kabar?" Tanya nyonya Mira setelah melepaskan pelukan dari Bu Sandra.
"Kabar ku baik. Gimana dengan nyonya?"
"Ya seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja. Ah iya kalian kesini?" Aneh dan juga penasaran. Nyonya Mira bahkan tidak mengundang Bu Sandra tapi kenapa dia bisa sampai disini.
"Aaa iya aku mau ke pesta pernikahan sahabat anak ku." Nyonya Mira terkejut mendengar jawaban Bu Sandra.
Sahabat anak ku? Apa maksudnya Arini itu...
"Mamah." Teriak Arini pada Bu Sandra. Nyonya Mira semakin antusias saat dugaannya benar kalau Arini anaknya Bu Sandra.
"Eh nyonya, maaf ini mamah saya dan ini ayah dan adik saya." Bu Sandra heran kenapa Arini bisa kenal dengan nyonya Mira.
"Arini kamu kenal sama nyonya Mira?" Tanya Bu Sandra heran. Kenapa putri nya bisa kenal dengan golongan keluarga konglomerat.
"Oh jadi kalian ini keluarga ya." Jawab nyonya Mira sambil tersenyum. "Arini ini adalah teman Sintia kan? Dan asal Bu Sandra tau Sintia menikah dengan Ricky anak saya."
Apa? Jadi seorang duda yang nikah dengan Sintia itu anaknya nyonya Mira?
"Aaa aku tidak menyangka Sintia yang sudah aku anggap sebagai anak sendiri ternyata menikah dengan anak nyonya Mira ya." Nyonya Mira hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum.
Ini kalian lagi ngomongin apa sih? Celsy pusing sendiri dengan arah pembicaraan mereka.
"Yaudah ayo kita masuk. Acaranya sebentar lagi udah mau mulai."
Mereka berjalan bersamaan masuk ke dalam gedung. Bu Sandra berhenti melangkah saat melihat penataan yang begitu mewah. Terlihat matanya mulai berkaca, terharu dan bahagia. Arini kaget. Kenapa mamahnya sampai bisa terharu begitu.
Ehh ada apa dengan mamah. Arini menggenggam tangan mamahnya. Mengelus punggung tangan nya pelan.
"Arini."
"Iya mah. Kenapa?" Tanya Arini.
"Sekarang mamah sudah merasa lega. Ahirnya Sintia bisa menikah terlebih menikah dengan orang yang berasal dari keluarga baik-baik. Semoga keluarga nyonya Mira menerima Sintia apapun kondisinya. Mamah bangga dengan semua ini." Nyonya Mira yang mau pergi ke ruang lain berhenti saat mendengar ucapan Bu Sandra. Dia kembali mendekati Bu Sandra yang kini air matanya sudah jatuh.
"Bu Sandra." Nyonya Mira memeluk Bu Sandra sambil mengelus punggung nya. "Jangan khawatir Sintia. Disini kami semua sangat menyayangi Sintia. Dia bukan hanya gadis yang cantik, tapi dia juga gadis kuat dan mandiri makanya saya sendiri yang menginginkan Sintia ada di hidup ricky. Ricky pun menerima dengan senang hati." Ucapan Nyonya Mira membuat Bu Sandra semakin lega.
__ADS_1
"Terimakasih nyonya, terimakasih sudah mau menjadikan Sintia bagian dari keluarga ini." Nyonya Memeluk Bu Sandra. Terlihat Arini pun merasa bahagia karena keberuntungan sahabat nya itu.
Tia semua orang menyayangi mu. Aku senang banyak yang sayang padamu. Kamu pantas mendapatkan ini semua setelah apa yang terjadi padamu sejak dulu.