SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA

SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA
Minta Izin


__ADS_3

**Malam semuanya...


Sebelum kalian lanjutkan membaca novelnya sempat kan dulu untuk meng like, coment dan vote ya. Bantu author untuk kembangin karya nya.🤗


Selamat membaca**!


Sesampainya di rumah Sintia buru-buru pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Saat Sintia baru saja keluar dari kamar tiba-tiba pintu terbuka nampak Ricky sudah pulang dari kantor.


"Sayang sudah pulang. Maaf ya aku tidak bisa menyambut mu."


"Iya gak papa." Kata Ricky sambil memeluk Sintia dari belakang.


"Kamu udah mandi." Sambil mencium aroma tubuh Sintia.


"Iya sudah, baru saja selesai." Menggelinjang karena geli atas apa yang dilakukan Ricky.


"Kenapa kamu gak nunggu aku? Kita bisa mandi berdua kan sambil." Ucap Ricky sambil uyel-uyel pipi Sintia.


"Dasar mesum." Kata Sintia sambil melepaskan pelukan Ricky dan lari ke arah sofa.


"Siapa yang mesum? Aku cuma ingin mandi berdua. Emang apa salahnya."


"Iya, iya udah cepet mandi sana badan mu bau asem banget. Haha"


"Apa? Berani nya kamu ya!" Ricky yang mau masuk ke dalam kamar mandi jadi putar balik. Menghampiri Sintia dan meng geletek Sintia sampai Sintia kegelian.


"Ampun. Sayang ampun."


"Apa?" Ricky menghentikan aksinya setelah melihat Sintia cemberut.


"Cepat mandi sana atau aku."


"Apa? Hati-hati dengan ucapan mu." Sintia cemberut melihat tingkah Ricky.


Ricky pun pergi berlalu kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sambil menunggu sang suami mandi Sintia pun duduk di sofa lalu menyalakan televisi. Tetapi dia tidak fokus menonton TV dia meraih handphone-nya dan menelpon Arini.


"Halo Arini apakah kamu sudah tidur?"


"Aku baru saja selesai mandi. Kenapa Tia tumben nelpon apa kau sedang marahan sama tuan Ricky. Haha."


"Apaan sih kamu. Aku dan Ricky baik-baik aja ko."


"Bagus lah. Lalu ada apa menelpon ku?"


"Oh iya, gimana kan minggu depan kamu tahu ada acara apa. Kamu gak lupa kan?"


"Iya aku pasti selalu ingat dan akan mengantarmu seperti biasanya. Jadi tenang saja." kata Arini


"Bukan begitu Arini. Kamu lupa kalau sekarang kan situasinya sudah beda aku sudah memiliki suami. Bagaimana ini?"


"Oh iya aku sampai lupa itu. Eh kenapa kamu nggak ajak suamimu atau bahkan keluargamu pergi mengunjungi makan orang tuamu."


"Aku tidak berani Rin. Sepertinya aku akan pergi berdua seperti biasanya bersamamu." Mungkin ini lebih baik. Karena Sintia pun belum siap untuk mengatakan semuanya pada keluarga barunya ini.


"Baiklah kalau itu yang kamu mau. Tapi apa kamu udah minta izin sama Ricky?"


"Aku belum minta izin. Aku juga belum bicara apa-apa padanya."

__ADS_1


"Ya udah kamu bicara dulu aja. Katanya ya kalau seorang istri pergi ke luar rumah harus ada izin dari suami."


"Baik terima kasih ya atas saran nya dan karena sudah menjadi sahabatku." Selamat l ini Arini lah yang selalu ada buat Sintia. Suka suka selalu mereka jalani bareng-bareng.


"Apaan sih kamu itu kayak yang baru kenal aja ya."


"Hehe. Udah dulu ya sepertinya suami tercinta ku sudah selesai mandinya."


"Gila sejak kapan seorang Sintia bucin begini." Arini tidak percaya kalau sahabatnya bisa berubah begini. Setahu dia selama Arini mengenal Sintia tidak pernah melihat Sintia bercinta.


"Sejak aku nikah sama tuan Ricky. Haha."


"Idihhh. Yaudah sana temenin suami tercintanya." Sintia pun mematikan teleponnya saat melihat Ricky sudah keluar dari kamar mandi.


"Telepon dari siapa itu?" Tanya Ricky sambil menyodorkan handuk agar Sintia membantu mengeringkan rambutnya.


"Ini dari Arini."


"Beneran?" Bertanya dengan nada curiga. "Awas kalau sampai kamu selingkuh."


"Haha. Apaan sih kamu! Enggak dong aku kan sudah punya pasangan ngapain juga aku harus telponan sama laki-laki lain." Kata Sintia sambil menyelipkan rambut Ricky.


"Baguslah kalau kamu tahu ya." Ucap Ricky sambil mencubit hidung Sintia.


"Oh ya aku ada yang mau aku bicarakan sama kamu." Sintia bicara dengan hati-hati.


"Jadi begini sayang akhir pekan nanti aku minta izin ya. Soalnya aku mau pergi keluar bersama Arini."


"Hei apa kamu sudah lupa! Kalau akhir pekan atau kapanpun jika aku sedang di rumah kamu gakb boleh kemana-mana kecuali bersama aku."


Pasti mau pergi ke pemakaman orang tuamu kan? Kenapa kau tidak jujur saja Tia.


Aku mohon beri aku izin walaupun itu hanya sebentar.


"Emang kamu mau pergi kemana?" Tanya Ricky memancing kejujuran Sintia. Tapi sepertinya Sintia enggan mengatakan nya.


Aku gak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Aku belum seberani ini.


"Pokoknya kamu jangan keluar rumah oke! Ahir pekan ini aku sangat ingin beristirahat,jadi kamu harus nemenin aku."


"Ya udah iya, aku gak akan kemana-mana."


Padahal tadinya aku pengen sekali kamu ikut ke makam orang tuaku. Tapi ya aku juga salah sih karena tidak memberitahumu kalau besok adalah hari kematian orang tuaku. Sintia pun pasrah dengan semuanya. Kemudian dia pun menjadi lesu karena tidak seperti biasanya yang selalu datang saat peringatan hari kematian orang tuanya.


Oh iya aku kan bisa mengunjungi makan ibu dan ayah hari senin. Ya walupun telat yang penting aku bisa pergi kesana. Sintia berusaha menenangkan hatinya.


"Hey apa yang sedang kamu pikirkan? Ayo turun udah saatnya makan siang."


"Iya sayang. Kamu turun duluan dulu aja."


"Baiklah." Sintia kaget mendengar jawaban Ricky.


Tidak seperti biasanya yang harus keluar kamar bersamaan. Namun kali ini Ricky membiarkan Sintia masih di dalam kamar dan dia sudah keluar kamar sendirian.


Kenapa dia ketus begitu. Apa jangan-jangan dia marah karena ahir pekan nanti aku ingin keluar. Kenapa harus marah lagian tidak jadi juga kan perginya.


***

__ADS_1


Pada saat Sintia sedang melamun tentang kematian ibunya tiba-tiba pintu kamar diketuk.


"Bunda bolehkah aku masuk?" Serly memanggil dari luar.


Serly kaget saat melihat Sintia yang murung sendirian di kamar. "Bunda lagi sedih. Kenapa?"


"Bunda tidak apa-apa sayang.


"Kenapa bunda seperti menangis?"


"Ah tidak sayang. Bunda tidak menangis kok."


"Beneran?" Sintia menjawab dengan anggukan. "Oh iya ayo kita turun semuanya sudah ada di meja makan untuk makan malam bun."


"Iya Sayang ayo." Serly menggandeng tangan Sintia.


Sintia dan Serly pun pergi meninggalkan kamar dan menuju ruang makan. Disana sudah ada Ricky Riyan dan semua anggota lainnya. Semua tidak ada yang berbicara bahkan sampai makan malam selesai pun tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang menanyakan tentang perubahan sikap Sintia. Pada malam itu setelah makan malam Sintia langsung masuk kamar.


Selesai makan malam anggota keluarga lainnya pun tidak menanyakan kenapa Sintia seperti itu. Lalu Ricky pun berjalan menuju ruang keluarga dan membicarakan hal penting yang ada di benaknya. Kemudian setelah itu Ricky mengutarakan semuanya tentang rencana mengunjungi pemakaman orang tua Sintia. Dan akhirnya keluarga Ricky pun setuju memberikan kejutan untuk Sintia.


Setelah itu Ricky kembali ke kamar dan melihat Sintia sudah terbaring di kasur.


Aku tau kamu sedih kan, karena aku tidak mengijinkan pergi mengunjungi makam orang tuamu. Aku bukannya mau ngelarang kamu, tapi aku mau lihat sampai kapan kau akan menyembunyikan riwayat mu terhadap ku.


Ricky pun berjalan menuju tempat tidur dan mereka tidur saling membelakangi. Sintia pun meneteskan air mata karena merasa Ricky sangat marah padanya. Ricky pun mendengar isak tangisan Sintia. Sebenarnya Ricky gak tega melihat Sintia sedih apalagi sampai menangis seperti itu. Ahirnya Ricky pun membalikkan badannya menghadap ke arah Sintia.


"Tia. Sintia." Sintia masih tetap di posisinya dan tidak membalikkan badannya ke arah Ricky.


Sepertinya kamu benar-benar bersedih ya.


"Tia sayang apa kau benar-benar sudah tidur." Ricky memeluk Sintia dari belakang. "Kalau kamu gak balikkan badan mu, aku akan membuat mu merintih semalam."


Sebenarnya Sintia enggan untuk menghadap Ricky. Tapi setelah mendengar ucapan Ricky mau tidak mau Sintia membalikkan badannya menghadap ke Ricky.


"Hey kenapa kamu menagis?" Mendengar itu Sintia malah semakin menjadi menangis sambil memeluk Ricky.


Ricky pun tidak tega melihat istri kesayangan nya sedih seperti ini. Dia berusaha menenangkan Sintia. Memeluk Sintia dengan lembut mungkin bisa menenangkan hati Sintia. Setelah merasakan cukup tenang Sintia pun menengok ke arah Ricky.


"Sayang."


"Hmm."


"Apa aku boleh."


"Ayo tidur ini sudah malam." Ricky memotong pembicaraan Sintia.


"Sayang."


"Tia sayang apa kamu belum mau tidur?" Sintia mengangguk pelan.


"Aku belum ngantuk."


"Apa itu artinya kamu mau..." Ricky mulai memegang area sensitif dalam tubuh Sintia.


"Sayang!" Sintia memukul tangan Ricky karena kelewatan usilnya.


"Karena kamu yang mulai jadi kamu harus tanggung jawab ya."

__ADS_1


Kenapa jadi aku yang kena sih.


Ahirnya terjadilah pertempuran di atas ranjang. Mereka menyalurkan rasa cintanya masing-masing sampai pada ahirnya mereka tidur terlelap sambil berpelukan.


__ADS_2