
Pesta pernikahan Sintia dan Arini telah berakhir. Semua orang telah berpamitan untuk pulang dan tinggal tersisa keluarga Arini. Ricky dan anggota keluarga lainnya sedang berada di ruangan VVIP. Mereka sedang istirahat sejenak menghilangkan rasa lelah.
"Sayang Arini dan keluarga nya mau ketemu kita dulu sebelum pulang." Bisik Sintia pada Ricky setelah membaca pesan singkat yang dikirim Arini ke ponsel Sintia.
"Kenapa gak kamu suruh aja mereka kesini?"
"Mereka gak tau kita disini."
"Ada apa Ric?" Tanya nyonya Mira ketika mendengar anak dan menantunya saling berbisik.
"Ini mih keluarga Arini mau pamit pulang tapi mereka pengen ketemu sama kita dulu." Jawab Ricky. "Yan coba kamu susul mereka untuk kesini." Yang disebut hanya mendengus. Pasti deh aku yang kena kalau si Anna gak ada. Batinnya menghardik.
Tanpa mengiyakan atau menolak Riyan langsung keluar ruangan mencari keberadaan keluarga Arini. Terlihat Arini sedang megang segelas jus di tangannya. Pikiran Riyan untuk menjahili Arini tiba-tiba muncul di kepala nya.
Kalau gue tabrak dia pasti jus nya akan tumpah.
Riyan berjalan mendekati Arini lalu sedikit menabrak punggung Arini. Yang di tabrak terkejut karena jus nya tumpah mengenai gaunnya.
"Ehh maaf gak sengaja." Ucap Riyan sambil tertawa.
"Heh es balok lo itu ya. Bisa gak sih sekali aja kalau ketemu gak buat orang kesal begini." Teriakan Arini penuh dengan kekesalan.
Aaa kalau saja aku punya keberanian udah aku pukul dia dari tadi.
"Riyan. Apa apa?" Bu Sandra menghampiri Riyan saat mendengar teriakan Arini. "Loh kamu kenapa sampai gaun kamu kotor begitu." Tanya Bu Sandra yang melihat gaun yang dipakai Arini kotor dan basah.
"Lihat Bu! Ini gara-gara..." Belum sempat Arini mengadu Riyan udah menyela pembicaraan Arini pada ibunya.
"Ah iya tante. Kak Ricky dan kaka ipar menunggu di ruangan VVIP. Biar Riyan antar ya."
"Baiklah, ayo." Riyan melirik ke arah Arini sambil menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
Awas lo ya. Gila tuh orang seneng banget kayaknya menjahili gue.
Setelah berpamitan dengan keluarga nyonya Mira keluarga Bu Sandra pamit untuk pulang. Sebelum pergi Arini sempat memeluk Sintia dengan erat. Terlihat Arini sangat sedih jika harus berjauhan dengan Sintia sahabat yang sudah seperti kakaknya sendiri.
"Udahlah gak usah lebay begitu. Besok lusa juga akan bertemu lagi." Celetuk Riyan menghardik Arini. Semua orang jadi tertawa mendengar Riyan.
"Hustt... Gak boleh gitu. Mungkin kak Arini sudah sangat dekat dengan kak ipar makanya sedih saat harus berpisah dengan kaka ipar. Iya kan kak Arini?" Anna tampak membela Arini yang dihardik oleh kakaknya.
"Iya betul Anna, soalnya kan kak Arini masih punya hati nurani bukan seperti dia yang seperti es balok mana ada dalam dirinya hati yang hangat." Sindir Arini untuk Riyan. Yang di sindir melotot sambil menunjukkan wajah kesal nya.
"Udah kalian ini kenapa sih dari tadi aja kerjaannya. Kalau suatu saat nanti kalian jodoh baru tau rasanya loh." Ledek nyonya Mira dibarengi tawa semua orang.
"Apa?" Teriak Riyan dan Arini bersamaan.
"Ciee kompak, haha." Ucap Anna sambil tertawa terpingkal pingkal.
"Diam." Teriak Riyan pada Anna.
***
Ricky dan Sintia pun langsung masuk ke dalam kamar mereka. Sintia sendiri langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah Sintia keluar giliran Ricky yang masuk kedalam kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri Sintia bersandar di tempat tidur. Dia melamun memikirkan segala hal. Terlihat dari wajahnya dia tersenyum kadang juga sedih.
Hah kenapa dia senyum senyum begitu coba. Apa yang dia pikirkan? Ricky berjalan mendekati Sintia.
"Ekhem. Ada apa dengan mu. Kenapa senyum-senyum begitu?" Tanya Ricky saat sudah mendekat ke tempat tidur.
"Ehh kamu. Aku gak papa kok cuma..." Pembicaraan Sintia terpotong oleh ucapan Ricky.
"Cuma apa sayang." Tanya Ricky sambil bergeser agar mendekati Sintia.
__ADS_1
"Aku cuma sedang mengingat aja tentang kejadian saat pertama kali kita ketemu sampai sekarang ini kita jadi sepasang suami-istri." Jawab Sintia malu-malu. Ricky tersenyum mendengar jawaban Sintia dia menyentuh pipi Sintia dan menyelipkan rambut ke belakang telinga Sintia.
"Kamu tau? Sejak pertama kali aku bertemu dengan mu aku sudah bisa melihat kepribadian mu seperti apa. Makanya aku langsung melamar mu saat pesta ulang tahun Serly waktu itu."
Dan saat itu juga aku berjanji akan selalu melindungi mu. Gak akan ku biarkan siapapun melukaimu. Buat apa aku ada di samping mu kalau kau masih terluka. Itulah janji Ricky pada dirinya sendiri. Bahwa dia akan melindungi Sintia dari apapun yang mencoba menyakiti Sintia.
"Yaudah ayo kita tidur udah malam juga." Bukannya tidur, Sintia malah kelihatan gugup malah seperti orang ketakutan.
Tidur? Apa apa dia akan... aaa aku belum siap sekarang.
Ricky bingung melihat Sintia bukannya ikut masuk ke dalam selimut malah kelihatan seperti orang ketakutan begitu. Untung Ricky peka terhadap kondisi istrinya. Dia tau kalau Sintia belum siap menjalankan kewajiban penuh sebagai istrinya.
"Tia sayang aku ngerti apa yang kamu pikirkan. Tenang saja aku gak akan maksa kamu untuk melakukannya sekarang." Mata Sintia berbinar mendengar itu. Dia langsung mengahadap ke arah Ricky sambil menggenggam tangan Ricky.
"Beneran?" Ricky menjawab dengan anggukan kepala. "Oke kalau begitu kita buat pembatas ya."
"Apa?"
Buat pembatas? Apa maksudnya coba.
"Iya pembatas. Nah seperti ini" Jawab Sintia sambil menempatkan dua buah guling di tengah tempat tidur. "Jadi jangan ada yang melewati batasan ini aku maupun kamu, oke!"
Ricky mengernyit melihat tingkah konyol istrinya. Apa-apaan coba dia ini. Masa tidur sama suami sendiri aja pake batasan begini. Dalam hatinya Ricky memaki istrinya sendiri.
Karena rasa ngantuk dan juga lelah sudah sangat terasa, Ricky tidak mempermasalahkan tindakan aneh istrinya itu. Ahirnya Ricky dan Sintia tidur terlelap dengan batasan guling di tengah-tengah mereka.
***
Entah jam berapa Ricky terbangun dari tidurnya karena ulah istrinya. Mungkin Sintia sudah terbiasa tidur dengan gagah seperti ini hingga dia lupa kalau sekarang dia punya suami dan sekarang lagi tidur satu ranjang dengan suaminya.
Ricky yang mendapat hentakan tangan Sintia di wajahnya terbangun karena kaget. Saat melihat ke arah Sintia Ricky tersenyum.
__ADS_1
"Tia, Tia apa ini kebiasaan mu selama tidur. Kamu mengemaskan begini tau." Ricky tidak tahan dengan sikap istrinya yang mengembangkan ini.
Ricky langsung menarik tangan Sintia untuk mendekat ke arahnya lalu dia memeluk Sintia. Ricky juga mengecup kening Sintia sebelum dia tidur kembali dan kali ini Sintia tidur sambil memeluk tubuh Ricky.