SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA

SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Setelah dari rumah Bu Mira Sintia langsung pulang ke rumah tanpa kembali ke butik. Dia masih terngiang-ngiang ucapan Bu Mira tadi yang menyuruh Sintia untuk datang ke kantor anaknya untuk pengukuran.


Sekarang aku harus istirahat dulu. Besok aku harus menemui manusia kutub utara.


Setelah sampai di rumah Sintia langsung mandi dan kemudian makan. Setelah itu Sintia berbaring di kasur sambil memainkan handphone nya hingga dia terlelap tidur.


***


Pagi hari Sintia terbangun, melihat jam dinding menunjukkan pukul 06.00. Dia bersandar di sandaran tempat tidur sambil menggerakkan tubuhnya.


"Ya ampun aku ketiduran kemarin sore sampai pagi ini. Huh... gara-gara Bu Mira aku jadi kepikiran terus soal pertemuan dengan anaknya."


Sintia bangun dari tempat tidur dan pergi untuk mandi. Setelah mandi Sintia memesan sarapan lewat aplikasi. Dia menunggu pesanan nya datang sambil menonton televisi. Tak lama pesanan pun


datang.


Okay, baiklah! Sekarang aku harus makan banyak biar nanti ada tenaga ngadepin manusia setengah es itu.


Ini adalah pertemuan pertama ku dengan manusia paling berkuasa dan dingin sejagat raya. Dalam bayangan Sintia Ricky adalah sosok yang sangat dingin dan angkuh seperti adiknya kemarin. Sehingga Sintia harus mempertahankan mental untuk bertemu dengannya.


Setelah selesai sarapan Sintia mengabari Lia karena dia akan datang terlambat ke butik.


"Lia hari ini aku telat ke butik soalnya aku mau pergi dulu."


"Okay mbak. Mbak Tia mau bertemu anaknya nyonya Mira ya."


"Iya. Kamu urus dulu butik ya nanti aku langsung kesana kalau udah selesai."


"Iya mbak. Semangat ya ngadepin manusia setengah es nya haha."


Melihat balasan dari karyawan kepercayaan nya Sintia mengerutuk memaki Lia karena seakan dia menertawakan nya.


Awas ya lia, bukannya menenangkan malah menambah aku takut aja.


Sesampainya di perusahaan Sintia menghampiri meja resepsionis.


"Maaf apa bisa bertemu dengan Pak Ricky?"


"Mbak siapa ya?"


"Saya Sintia dari." Ucapan Sintia terpotong oleh Zaky yang baru datang ntah dari mana.


"Mbak Tia ya? Saya Zaky asisten Pak Ricky. Ayo masuk Pak Ricky udah nunggu di ruangannya."


"I, iya baik Pak."

__ADS_1


Sintia berjalan di belakang Zaky sambil melihat ke sekeliling kantor itu.


Gila, kantor ini mewah banget. Dih jiwa kemiskinan ku meronta melihat ini.


Setelah sampai di depan pintu bertulisan presdir Sintia mendadak berhenti. Dia merasa canggung dan sedik kesal harus berhadapan dengan orang seperti Ricky.


"Mbak. Mbak Tia."


"Eh i, iya"


"Kenapa mbak kelihatan tegang begitu."


"Sa, saya..."


Zaky tersenyum melihat kegugupan Sintia. "Saya tau. Mbak takut ya bertemu dengan Pak Ricky. Karena kan semua orang pasti tau sikap dingin dan berkuasa nya Pak Ricky."


Tuh kan asisten nya aja bilang begitu. Gimana ini aku mau keluar aja dari sini.


"Ayo masuk mbak."


"I, iya Pak."


"Nggak usah takut mbak kan ada aku." Ucap Zaky sambil mengedipkan matanya ke Sintia. Gila ni orang masih bisa-bisa nya dia ngegombal begitu. Begitu yang di katakan Sintia lewat sorot matanya.


Setelah masuk Zaky menghampiri Ricky yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Baik. Tunggu seben..." Ricky terkejut saat melihat sosok Sintia yang berdiri tidak jauh dari meja kerjannya.


"Kamu."


"Pak Ricky." Hah dia benar Pak Ricky kan.


"Iya ini saya. Ternyata kamu yang membuat baju untuk Serly dan keluarga saya."


"I, iya Pak."


Zaky terkjut melihat bos nya bicara dengan ramah. Karena sejak dia bekerja dengannya tidak pernah melihat bos nya bicara seramah ini apalagi pada orang yang asing.


Gue gak lagi mimpi kan? Kenapa Pak Ricky bisa seramah ini.


Melihat muka terkejutnya Zaky, Ricky langsung menyadarkan nya.


"Zaky tolong ambilkan minum untuk Tia." Zaky tersadar dari keterkejutan nya dan segera pergi ke pantry untuk membawa minum.


"Tia apa kamu mau berdiri sampai kamu pulang?" Ucap Ricky sambil tersenyum.

__ADS_1


Dih memang kapan kamu nyuruh aku duduk? Nggak kan.


"Ayo kita duduk di sofa."


"Baik Pak."


"Aku nggak nyangka ternyata kamu ya yang membuatkan baju untuk keluarga saya."


"Iya Pak, saya juga tidak berpikir kalau Pak Ricky anaknya nyonya Mira adalah Pak Ricky yang saya kenal."


Zaky yang baru saja masuk lagi-lagi terkejut melihat keakraban bos nya dengan Sintia dia sampai menjatuhkan nampan berisi air untuk Sintia.


"Zaky."


"Maaf Pak saya tidak sengaja. Saya akan bereskan dan ambilkan minum baru lagi."


"Ah tidak usah Pak Zaky saya tidak akan lama kok disini. Baik Pak Ricky bisa saya mengukur sekarang."


Sintia mulai mengukur tubuh Ricky. Zaky yang melihat ada wajah bosnya yang senyam senyum melihat lekat wajah Ricky. Ricky memelototi Zaky yang sedang menatap penuh tanda tanya itu. Apa yang kau pikirkan begiku kira-kira yang di ucapkan Ricky pada Zaky lewat sorot matanya.


"Sudah selesai." Suara Sintia menyadarkan Ricky dan Zaky yang sedang saling pandang.


"Kalau begitu saya permisi dulu Pak."


"Kenapa buru-buru."


Hah si bos lagi main modus nih. Zaky


Eh kenapa nanya begitu, emang mau berapa lama aku disini. Siantia


"Saya harus kembali ke butik. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan."


"Baiklah. Zaky antarkan Tia keluar."


"Nggak usah Pak. Saya bisa sendiri, kalau begitu saya permisi dulu." Sintia menganggukkan kepala pada Ricky dan Zaky. Ricky melihat kepergian Sintia sampai menghilang di balik pintu.


" Pak."


"Apa! Aku tau yang apa yang akan kamu katakan."


Bagaimana si bos peka banget kalau gue kepo sama dia.


"Sudah sana kembali ke ruangan mu."


"Baik Pak." Huh si bos ngusir gue, tadi aja dia mau wanita itu ada di sini lebih lama lagi.

__ADS_1


Sintia tidak menyangka kalau orang yang dia takuti itu ternyata orang yang dia kenal yang pernah menolong nya saat itu.


Apa dunia sesempit ini. Kenapa gue bertemu lagi sama pak Ricky. Ah mungkin ini hanya kebetulan.


__ADS_2