
Dalam perjalanan menuju butik Sintia memikirkan apa yang telah terjadi di perusahaan tadi. Dia tidak menyangka kalau laki-laki yang dia takuti adalah kenalannya juga.
Huh... ternyata orang yang aku takuti itu bukan sesuai ekspetasi ku. Aku kira dia orang yang angkuh,ternyata dia Pak Ricky.
Sesampainya di butik dia tersenyum dan terlihat bahagia. Lia yang menyadari kedatangan Sintia langsung menghampiri.
"Mbak sudah pulang ya, mbak tidak kenapa-kenapa kan?"
"Aku gak papa Lia. Bahkan aku merasa senang sekali."
"Senang? Bukannya mbak tadi." Sintia langsung memotong ucapan Lia.
"Kamu tau? Ternyata orang itu bukan orang yang dingin. Dia baik bahkan baik sekali." Ucap Sintia sambil tersenyum membayangkan wajah Ricky.
"Yaudah aku kedalam dulu ya."
"I, iya mbak."
Loh mbak Tia kenapa aneh banget.
Sesampainya di ruangan, Sintia masih terngiang-ngiang wajah tampan milik Ricky itu. Karena sebelumnya Sintia juga pernah bertemu dengan Ricky.
Flashback On
Waktu itu Sintia pulang dari butik. Dia pergi ke taman bunga yang jaraknya gak jauh dari butik. Setelah hampir satu jam di taman Sintia berniat untuk pulang karena senja sudah mulai terlihat.
"Udah mau malam nih. Aku pulang ah lagian udah cukup aku jalan-jalan disini."
Sintia menyusuri trotoar jalanan taman sambil mencari angkutan umum. Tiba-tiba ada seorang preman yang merebut tas milik Sintia. Sintia berteriak minta tolong namun tak ada orang di sekitar sana. Ricky yang melihat kejadian itu dari kejauhan dari dalam mobilnya segera berlari ke arah Sintia. Ricky merebut kembali tas milik Sintia lalu menyerahkan nya pada Sintia.
"Ini tas nya mbak."
Gila. Apa ini yang dinamakan dewa penolong dia tampan sekali.
"Mbak." Ricky melambaikan tangannya di depan wajah Sintia.
"I, iya. Maksih banyak udah nolongin saya."
"Iya sama-sama. Kamu mau kemana?"
"Aaa saya abis jalan-jalan dari taman dan sekarang mau pulang."
"Ayo biar aku antar." Ajak Ricky
Apa? Gak salah denger kan. Seorang pangeran tampan nolongin gue dan sekarang mau ngantar pulang.
"Nggak usah Pak. Saya bisa sendiri." Padahal gue mau sih tapi nyali gue mendadak menciut begini.
"Kenapa? Ini sudah sore jarang ada angkutan umum lewat sini."
"Tapi Pak."
"Udah gak usah sungkan. Ayo!"
Walaupun merasa canggung ahirnya Sintia masuk kedalam mobil Ricky. Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan yang terdengar. Sintia yang curi-curi pandang ke arah Ricky membuat Ricky tersenyum.
Ini cewe ngapain curi-curi pandang ke arah sini. Ricky
Hah dia tersenyum. Kemarin mimpi apa gue sampai ada kejadian begini. Ingin rasanya mencubit pipinya. Sintia
__ADS_1
Karena sedari tadi mereka hanya diam membisu ahirnya Ricky membuka obrolan.
"Ekhem. Apa kamu tidak akan memperkenalkan dirimu?"
"Eh sa, saya Sintia Pak. Kalau nama bapak?" Aduh kenapa gugup begini sih memalukan!
"Nama saya Ricky. Bytheway ngapain tadi kamu di taman? Lagi nunggu pacar?"
"Ngakak Pak saya gak punya pacar. Tadi saya abis dari butik mampir ke taman dulu untuk menghilangkan penat, hehe."
"Kamu kerja di butik?"
"Iya Pak. Kalau bapak ngapain ke taman mau cari pacar juga." Ricky langsung melihat datar ke arah Sintia mendengar perkataan nya.
"Maksudnya saya."
"Saya sudah menikah dan punya anak." Duarrr seperti petir di siang bolong yang menyambar Sintia. Dia tidak percaya kalau laki-laki yang menolong nya sudah menikah bahkan punya anak.
"Maaf Pak saya gak bermaksud menyinggung bapak."
"Gak papa."
Kalau udah punya istri ngapain dia nganterin gue pulang. kalau istrinya tau mati aku disangka pelakor.
"Di mana jalan rumah mu?"
"Sa, saya turun di depan aja pak." Kenapa sikap nya berubah jadi dingin begini. Gumam Sintia pelan.
"Saya akan mengantarkan sampai rumah. Bukankah tadi sudah saya bilang!"
"Rumah saya masuk gang pak. Jadi sampai sini aja lagian gak jauh dari sini kok." Suara Sintia terdengar sangat gugup.
"Iya Pak. Makasih udah nolongin saya, saya permisi." Sintia pamit dan keluar dari mobil.
Ricky melihat kepergian Sintia menuju sebuah gang kecil. Dia melihat Sintia dengan tatapan yang berbeda. Seperti ada yang mengelitik sesuatu di hatinya sampai dia menolong bahkan mengantarkan Sintia sampai pulang. Seorang Ricky Wijaya Dharmanto baru pertama kalinya bersikap hangat pada orang lain setelah di tinggal kan istrinya dulu.
Sial! Ada apa denganku. Kenapa bisa-bisanya bersikap biasa pada tuh cewe.
Sepanjang perjalanan Ricky memaki dirinya yang terkenal angkuh dan sombongnya menjadi lembut. Aku gak boleh terpancing hanya karena cewe itu. Gumam Ricky pada dirinya.
Flashback Off
Ini adalah pertemuan yang kedua kalinya. Kata orang kalau ada pertemuan ketiga pasti jodohkan. Aaa apaan sih gak mungkin kan dia jodoh gue. Secara jelas dia dari keluarga terpandang, lah gue...
Ingin rasanya menjerit menangis kalau sudah menyangkut keluarga. Karena Sintia hanya hidup seorang diri di ibu kota ini.
***
Sore hari setelah pulang dari butik Lia segera membersihkan tubuhnya. Dia menghilangkan rasa capenya dengan tiduran. Baru beberapa saat Lia memejamkan mata terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Duh siapa sih yang ganggu." Sintia berjalan untuk membukakan pintu masih dengan keadaan setengah sadar.
"Arini"
Rasa kantuk Sintia hilang seketika saat melihat sahabat nya datang. Arini adalah sahabat terbaiknya yang sudah di anggap sebagai saudara kandung nya. Arini adalah penguat sekaligus teman pertama dan satu-satunya yang Sintia punya sejak hidup di ibu kota. Saat terberat dia harus hidup sendiri di ibu kota pada saat itu juga ada Arini yang menguatkan Sintia hingga mereka menjadi sahabat sampai sekarang.
"Kenapa gak kasih tau aku dulu sih kalau mau datang." Protes sambil memeluk Rini.
"Hehe, maaf ya kan aku kasih kejutan sama kamu."
__ADS_1
"Yaudah ayo masuk."
Semenjak Arini mendapatkan beasiswa kuliah di luar kota mereka jarang lagi bertemu. Walaupun rasanya sedih mendengar Arini harus keluar kota tapi Sintia tetap mendukung Arini. Biar bagaimana pun dia adalah sahabat terbaik nya. Jadi dia tidak akan melarang Arini untuk mencapai mimpi nya kuliah di luar kota.
"Oh iya. Aku punya berita bahagia juga buat kamu Tia."
"Apa?"
"Sekarang aku sudah selesai kuliah di kota XX dan sekarang aku akan tinggal d ibu kota. Di sini."
"Beneran? Aku senang sekali." Mencubit pipi Rini dan sambil memeluk.
"Jadi mulai sekarang kita bisa bersama-sama lagi kaya dulu. Karena aku udah selesai kuliah di luar kota."
Kebahagiaan nyata terlihat dari wajah mereka yang selama ini harus terpisah jauh karena kesibukan masing-masing. Sekarang mereka bisa kumpul kembali seperti dulu.
***
Setelah makan malam mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol sambil menonton televisi.
"Tia besok ahir pekan kan?"
"Iya, kenapa emang?"
"Kita ke mall yu."
"Boleh juga tuh. Semenjak kamu pergi keluar kota aku juga jarang pergi ke mall apalagi sekarang butik ku lumayan rame."
"Iya sekalian aku mau menghilangkan penat ini. Kepala ku masih terngiang-ngiang soal skripsi kuliah." Skripsi kuliah yang rumit membuat Arini tidak mudah melupakan bagaimana perjuangan nya saat ingin lulus kuliah.
"Oh iya Tia. Mulai senin aku akan daftar magang di sebuah perusahaan terbesar di negara ini. Mmm kamu gak keberatan kan kalau ngasih baju kantor satu aja dari butik mu." Ucap Arini sambil tertawa melihat perubahan ekspresi wajah sahabatnya.
"Bilang aja kalau lo minta." Jawab Sintia mendengus yang di tertawa kan oleh Arini.
"Ya kurang lebih begitu. Kalau gue keterima magang nanti ditraktir deh." Kata Arini sambil terkekeh.
"Emang lo mau magang di mana sih?"
"Di perusahaan Royal Group." Sintia yang baru saja minum mendengar perusahaan Royal Group terkaget sampai air dalam mulutnya muncrat.
"Apa! Gak salah?"
"Emang kenapa kalau gue magang di sana. Nilai kuliah gue bagus kok dan pasti diterima gue magang di sana."
"Bukan masalah di terima atau tidaknya. Tapi apa lo tau siapa presdir nya?"
"Iya gue tau. Dari info yang gue dapat presdir nya diganti oleh anak sulung nya. Karena presdir yang utama memegang perusahaan yang di luar negeri."
"Apa lo tau siapa dia? Presdir barunya?"
"Tau lah. Siapa sih yang gak tau tentang Royal Group. Presdir nya bernama Ricky Wijaya Dharmanto. Banyak berita beredar kalau dia lelaki yang dingin" Mendengar penjelasan Arini Sintia spontan memukul bahu Arini.
"Apa lo tau kalau dia..."
"Apaan sih lo kok sewot begini. Main pukul segala lagi sakit tau." Mengibaskan tangan Sintia dari bahunya. "Emang ada apa sih, maksudnya apa yang lo tau tentang presdir muda itu?"
Kalau gue cerita pasti dia gak percaya kalau sebenarnya Pak Ricky itu baik karena pernah nolongin gue.
"Aaa gue gak tau apa-apa lagian gue mana paham urusan orang kantoran. Yaudah tidur yu besok kita kan mau jalan-jalan. Haha. "
__ADS_1
"Dasar aneh lo Tia."