
Sejak pernikahannya dengan Ricky, Sintia belum lagi berangkat ke butik untuk bekerja. Sekarang adalah hari pertama Sintia kembali bekerja di butik dengan syarat harus mematuhi aturan yang diberikan oleh Ricky. Pagi hari setelah bersiap-siap Ricky memanggil Sintia yang akan beranjak keluar kamar. Dalam hatinya Sintia sudah bisa menebak apa yang akan Ricky lakukan. Ricky memberikan aturan secara detail kepada Sintia yang membuat Sintia jengah dengan aturan itu.
Apa-apaan sih dia ini. Sudah seperti memberi aturan untuk anak emas aja. Gak tau sih dulunya aku ini gadis yang kuat dan bebas kesana kemari setelah menikah malah jadi begini.
"Sayang apa ini tidak terlalu berlebihan?" Sintia mencoba untuk lari dari aturan yang tidak masuk akal itu.
"Kenapa? Apa kamu kamu ingin bebas dari semua aturan itu?" Ricky menarik tangan Sintia yang berdiri mematung di hadapan nya.
"Kalau kamu mau aku bisa membebaskan mu dari aturan itu."
"Benarkah?" Sintia antusias mendengar tawaran Ricky.
"lya. Asalkan kamu diam di rumah jangan sampai keluar dari pintu depan aku akan membebaskan mu dari aturan dariku."
Gemetar kesal Sintia mendengar yang diucapkan Ricky. Ingin rasanya dia memukul Ricky tapi keberanian nya masih seujung kuku bayi.
"Gimana? Apa kau mau bebas dari aturan ku?"
Cih. Sintia mendelik sambil merubah pandangan ke arah lain.
"Sudahlah jangan seperti itu atau aku akan mengurung mu di rumah." Sintia hanya bisa menghela nafas.
Sudah tidak ada kesempatan lagi untuk bisa lolos dari pengawasan Ricky. Ricky menarik tangan Sintia keluar kamar. Saat mereka sedang menuruni anak tangga semua anggota keluarga lainnya memperhatikan ke arah Sintia dan Ricky. Ricky yang memancarkan wajah bahagia nya namun tidak dengan Sintia yang masih memasang wajah kusam nya.
"Ada apa dengan kalian? Yang satu terlihat senang yang satu dilihat dari raut wajahnya seperti sedang kesal begitu." Riyan selalu heboh dengan apapun yang terjadi di rumah itu.
"Tia apa kamu baik-baik saja nak?" Nyonya Mira bertanya untuk memastikan bahwa menantunya baik-baik saja.
"lya mih aku baik-baik saja." Mendengar jawaban Sintia yang acuh membuat nyonya Mira menoleh ke arah Ricky seakan bertanya ada dengan istrimu? Apa kau membuat nya kesal?
"Hari ini Sintia kembali ke butik mih dan aku menyuruh Bella untuk menemani nya. Apa aku salah jika mau melindungi istri ku dari bahaya selama aku tidak bersamanya?" Kata Ricky sambil menarik kursi untuk Sintia.
Apa? Kaka ipar di awasi Bella? Pantes aja mukanya sampai ketekuk begitu, hehe. Aku juga dulu sebelum jadi CEO selalu diawasi Bella kemanapun aku pergi untung nya sekarang aku udah bebas dari pengawasan nya. Riyan
Ya ampun kasihan sekali kaka ipar. Eh tunggu, kalau Bella mengawasi kaka ipar berarti dia tidak mengawasi ku lagi dong dan sedikitnya aku bisa bebas sekarang. Anna
__ADS_1
"Kenapa kamu harus kesal? Ricky benar Tia karena Ricky harus bekerja dan kamu juga ke akan ke butik jadi kamu harus diawasi Bella. Ya kecuali kamu gak kerja lagi di butik baru bisa lepas dari Bella." Bukannya membantu membebaskan tapi malah dukungan yang di dapat Sintia dari mertuanya.
"Jangan sekesal itu, Bella akan bersikap biasa selagi kamu tidak melakukan kesalahan Tia. Bukannya mamih gak mau nemenin kamu tapi mamih juga harus ngurusin restoran sayang, jadi kamu bersama Bella aja ya."
Sambung nyonya Mira yang membuat Sintia semakin frustasi.
Anak sama orang tua sama aja. Sama-sama ngeselin. Sintia menghardik dalam hati.
"Heyy jangan memaki kami Sintia. Mamih tau apa yang kamu pikirkan." Sintia terkejut mertua nya itu bisa tau apa yang sedang dia katakan dalam hatinya.
"Morning All." Teriak Serly yang baru keluar dari kamarnya. Membuat semua yang ada di meja makan menoleh.
"Morning Serly." Jawab mereka bersamaan.
"Karena semua sudah lengkap ayo kita sarapan nanti aku telat masuk kampus."
Ahirnya mereka memulai sarapan. Tidak ada yang berbicara hanya ada suara ketukan sendok dan garpu. Keheningan tercipta sampai sarapan selesai. Zaky dan Bella yang baru saja datang langsung di persilahkan masuk oleh Bram.
"Silahkan masuk Tuan Zaky dan nona Bella. Tuan Ricky dan nona Sintia masih sarapan." Zaky dan Bella hanya mengangguk lalu berjalan masuk ke rumah.
"Zaky, Bella kalian sudah datang? Ayo sarapan dulu." Ajak tuan Jaka menawarkan sarapan. Melihat siapa yang datang Sintia sangat kesal, saking kesal nya sampai dia ingin melemparkan sendok ke muka sekertaris Zaky dan juga Bella.
"Terimakasih tuan. Saya sudah sarapan."
Setelah selesai sarapan Sintia masuk ke kamar untuk mengambil tas nya. Di dalam kamar pun Sintia masih memikirkan bagaimana caranya agar Bella tidak jadi pengawal pribadinya. Rasanya akan sia-sia jika Sintia membujuk nyonya Mira dan Ricky untuk kebebasan nya dia perlu cara lain untuk bisa bebas dari Bella.
Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mau dikawal seperti ini bahkan Serly dan Anna pun tidak ada pengawalan khusus.
"Kaka ipar!" Sintia tersadar dari lamunan nya setelah mendengar teriakan dari Anna.
"lya Anna, ada apa?" Sintia mengernyit melihat wajah ana yang terlihat kesal.
"Kaka ipar mau pergi ke butik kan? Aku ikut ya."
"Kenapa? Apa kamu sudah bosan kuliah dan ingin buka butik juga seperti ku!" Balas Sintia dengan nada bicara ketus.
__ADS_1
"Dih kaka ipar ini kenapa sih aku bicara baik- baik juga. Mobil ku mogok jadi aku numpak pake mobil kaka ipar aja ya lagian kampus ku kan satu arah sama butik kaka ipar."
"Yaudah ayo cepetan." Sintia belum juga reda dari kekesalannya dia meninggalkan Anna yang masih bengong dengan tingkah aneh Sintia.
Kaka ipar kenapa ya ko sampai kelihatan kesal begitu dan..ahh jangan-jangan kaka ipar masih kesal gara-gara harus berurusan dengan Bella. Kasian sekali kaka ipar, hehe.
"Kamu mau jadi ikut atau terus bengong disitu." Teriakan Sintia membuyarkan lamunan Anna.
"lya. Iya aku ikut kaka ipar." Buru-buru Anna berlari menuruni anak tangga dan berjalan menuju Sintia.
"Kenapa kamu?" Sintia mengernyit melihat Anna yang ngos-ngosan.
"Aku berlari dari atas gara-gara kaka ipar tadi... " Mulut Anna langsung bungkam ketika melihat siapa orang yang sedang berjalan menuju dia dan Sintia.
"Nona Anna! Kenapa belum pergi ke kampus? Ini kan"
"Mobilku mogok jadi aku mau berangkat bareng kaka ipar." Anna menyela saat Bella akan mengomelinya.
"Kenapa, apa gak boleh aku pergi ke kampus bareng kaka ipar?"
"Kasian sekali anda nona. Kalau mobil mogok begitu pasti sepulang kuliah tidak bisa langsung main seperti kemarin ya?"
Itu bukan pertanyaan kan. Tapi itu lebih ke mengingatkan bahwa kemarin Anna keluyuran setelah pulang dari kampus. Dan itu semua tidak luput dari pengawasan Bella.
Sial. Dia tau kalau kemarin aku main bareng temen-temen setelah kuliah. Dasar!
"Kalau sudah siap mari kita berangkat takutnya udah telat. Apalagi anda nona, silahkan saya tunggu di mobil." Dih. Anna dan Sintia saling memandang dan mendengus bersamaan.
"Tunggu!" Langkah Anna terhenti saat tangan Sintia menahan langkah kaki Anna. "Kamu kenal sama dia?" Tanya Sintia sambil menunjuk ke arah Bella.
"Dia? Dia itu harimau gila kaka ipar."
"Ap, Apa?" "Sudahlah kaka ipar aku gak mau membahas dia bahkan sepagi ini. Ayo kita berangkat."
Harimau gila? Apa maksudnya. Aaa jangan sampai deh Bella. Singlenya gak bisa membayangkan gimana jadinya kalau sampai dia melakukan kesalahan lalu Bella menghukumnya.
__ADS_1