
Hari ini adalah hari pertama di minggu kedua Arini bekerja sebagai anak magang di perusahaan cabang Royal Group yang ada di kota ini. Tidak seperti biasanya Arini berangkat lebih pagi dari hari hari sebelumnya karena dapat perintah dari senior untuk berangkat lebih pagi. Penggantian CEO lama ke CEO baru. Itulah acara yang akan di gelar hari ini di perusahaan cabang Royal Group.
Dalam perjalanan menuju gedung perusahaan, hati Arini tidak tenang karena ketakutan telat karena masalahnya dia anak magang yang baru satu minggu ini bekerja.
Mungkin karena prestasi dan kinerja Arini yang sangat bagus kali ini Arini di perintah untuk mewakili anak magang lainnya dalam penyambutan CEO baru perusahaan ini.
"Arini ini dokumen yang harus kamu presentasikan nanti saat penggantian CEO baru mewakili anak magang lainnya." Kata salah satu senior sambil memberikan sebuah map yang berisi dokumen.
"Iya kak. Tapi bagaimana ini aku merasa sangat deg degan begini."
"Tidak usah takut. Kamu pasti bisa menyelesaikan tugas mu, aku percaya padamu." Senior itu meyakinkan Arini. "Tidak mungkin kita para senior memilih mu untuk mewakili anak magang lainnya kalau kemampuan mu tidak sehebat ini." Arini tersipu malu mendengar pujian dari seorang senior.
"Ah bisa aja. Tapi apa saya boleh tanya?" Arini sangat penasaran dengan CEO baru itu. Siapa ya kira-kira CEO baru itu apa dia akan sebaik CEO yang sekarang? Batinnya terus bertanya-tanya.
"CEO yang sekarang bukan dari seorang pekerja tapi anak dari yang punya perusahaan ini." Ekspresi Arini tidak terlalu terkejut karena dia memang belum mengetahui siapa pemilik dari perusahaan ini.
"CEO yang dulu adalah orang kepercayaan tuan besar yang punya perusahaan ini. Karena sekarang anaknya itu sudah lulus kuliah dan sudah mahir dalam dunia bisnis jadi tuan besar itu menjadikan anaknya sebagai CEO di perusahaan ini. Kalau anak sulungnya sudah menjadi presdir di perusahaan pusat." Arini mangut mangut mendengar penjelasan singkat dari senior nya itu.
"Lalu CEO yang sekarang gimana dong?" Tanya Arini yang masih penasaran.
"Karena anaknya gak mau di tempat kan di luar kota makanya tuan besar memilih CEO yang sekarang untuk pindah tugas ke luar kota mengurus perusahaan cabang yang ada disana. Sebagai gantinya CEO disini di pegang oleh anaknya." Arini merinding sendiri mendengarkan nya.
Gila ni orang sampai punya perusahaan cabang dimana-mana. Pasti orang ini bukan orang sembarangan. Eh tapi CEO sekarang kan anaknya tuh apa bisa ya aku pepet anaknya itu.
Arini tersenyum sendiri memikirkan halusinasi nya yang dia rangkai. Bagaimana bisa dia pastiin udah punya istri atau punya pacar kan. Gak mungkin lah anak dari seorang pengusaha besar masih singgle.
"Arini." Panggil senior sambil menupuk bahu Arini untuk mengadakan lamunan nya.
"Eh iya kak."
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Jangan jangan kamu memikirkan CEO baru itu ya Ayo ngaku loh."
"Eh enggak kok kak." Jawab Arini tersipu malu. Wajahnya berubah menjadi merah padam karena ketahuan memikirkan seorang CEO baru itu.
Gue ini mikirin apa sih sampai bisa ketebak oleh senior ku sendiri.
***
Semua orang sudah ada di ruangan penyambutan CEO baru. Ada penasaran yang begitu besar mengenai CEO baru namun ada juga rasa gugup takut terjadi kesalahan di dalam diri Arini. Kini semuanya telah duduk di kursi masing-masing sesuai dengan jabatannya. Arini berada di kursi kedua jajaran ketiga karena di sanalah tempat nya.
__ADS_1
Terdengar ada komando bahwa CEO baru beserta pemilik perusahaan ini telah ada di tempat dan menuju ke ruangan. Semua orang berdiri dari duduknya. Ketika pemilik perusahaan beserta istri dan juga calon CEO baru sudah melangkahkan kaki masuk ke ruangan dengan di dampingi para pejabat tinggi semua orang nampak mengucapkan selamat pagi dan juga menundukkan kepala tanda memberi hormat.
Arini dibuat terkejut oleh semuanya. Seorang pemilik perusahaan beserta istri dan calon CEO barunya itu ternyata orang yang sangat dia kenal.
"Silahkan duduk." Kata Pak Jaka setelah menempati kursi duduknya.
Arini yang masih bengong di senggol lengan nya oleh teman yang ada di pinggir nya. Setelah tersadar Arini segera duduk di kursinya. Setelah semuanya duduk kini Pak Jaka memulai pembicaraan nya di depan semua karyawan.
Setelah penyerahan CEO baru kini saatnya Arini yang mempresentasikan dokumen yang di berikan seniornya tadi. Arini tiba-tiba sangat gugup setelah tau siapa CEO baru dan juga pemilik perusahaan ini.
"Arini buruan giliran kamu tuh." Bisik temannya yang berada di samping.
"Kenapa ya kok jadi gugup begini." Jawab Arini.
"Udah gak papa kamu pasti bisa. Ayo buruan."
Dengan berani Arini melangkahkan kakinya ke depan. Pak Jaka dan nonya Mira terlihat terkejut saat melihat Arini kemudian memberikan Arini senyuman. Sedangkan Riyan yang sudah melihat Arini dari tadi bersikap dingin dan datar.
Huh lihat mukanya, bisa bisanya dia sampai terlihat sangat gugup begitu. Riyan
Cih dia bersikap dingin begitu, awas aja ya. Arini
Setelah acaranya selesai semua orang keluar ruangan dan kembali ke tempat kerja masing-masing. Saat Arini berjalan menuju tempat kerjanya tiba-tiba nonya Mira memanggil Arini.
"Eh i, iya nyonya."
"Bisa kita bicara sebentar? Kita tunggu kamu di ruangan Ricky." Kata nyonya Mira.
Arini hanya menjawab dengan anggukan kelapa kemudian mengikuti langkah nyonya Mira dari belakang. Sambil berjalan Arini memikirkan hal yang tidak tidak. Takutnya setelah keluarga nyonya Mira tau kalau Arini bekerja disini langu resign.
Di dalam ruangan CEO ada Pak Jaka dan Riyan yang sedang mengobrol. Pak Jaka meminta Riyan agar menempatkan posisi Arini lebih tinggi lagi. Karena sekarang Arini masih berstatus anak magang, Pak Jaka memilih Arini untuk pindah tugas menjadi karyawan tetap sebagai devisi.
"Emang papih yakin kalau dia bisa melakukan pekerjaannya?" Tanya Riyan pada Pak Jaka. Padahal Riyan pun ingin menaikan jabatan Arini lebih tinggi lagi sebagai staf atau sekretaris misalnya agar Riyan bisa lebih dekat lagi dengan Arini.
"Papih yakin. Lihat aja pas tadi dia presentasi dia kelihatan punya kinerja yang bagus."
"Baiklah kalau papih seyakin itu aku akan pindahkan dia ke bagian divisi."
Riyan mulai memasang muka datar dan dingin nya saat melihat nyonya Mira dan Arini masuk kedalam ruangan. Memang sudah mendarah daging kalau Riyan sama halnya dengan Ricky yang memiliki sikap dingin. Akan tetapi kalau sudah mengenal dia lebih dekat lagi kedua kaka beradik itu memiliki sikap yang hangat.
__ADS_1
"Hey kenapa diam saja. Ayo kita duduk." Arini hanya mengikuti langkah kaki nyonya Mira menuju sofa.
Nyonya Mira dan Pak Jaka duduk satu sofa sedangkan Ricky duduk berhadapan dengan Arini. Kecanggungan pun terjadi pada Arini.
"Arini saya gak nyangka kalau ternyata kamu bekerja disini juga." Pak Jaka memulai pembicaraan. Arini hanya membalas dengan tersenyum.
"Iya Rini ternyata kamu bekerja disini ya. Oh iya sekarang kamu bisa pulang atau pergi bareng dengan Riyan." Yang disebut namanya tidak bergeming sedikitpun malah Arini yang merasa terkejut.
Aku gak mau! Mending pulang sendirian aja daripada harus pulang sama si es balok itu. Dan kamu lagi kenapa juga sih gak menolak saja permintaan orang tua mu. Kalau aku kan gak enak kalau harus menolak secara langsung.
"Yaudah kalau begitu kalian ngobrol dulu aja mau gimana nantinya ya. Sekarang kita mau pulang dulu ya. Ayo pih." Pak Jaka dan juga nyonya Mira sudah berdiri untuk pulang.
Hah! ngobrol? Berdua? Gak mauu... Rasanya Arini ingin menjerit sekenceng mungkin. Bagaimana mungkin dia ngobrol berdua dengan Riyan.
"Hey mau kemana?" Tanya nyonya Mira saat Arini ikut berdiri.
"Sa, saya masih banyak pekerjaan yang mesti di selesai kan nyonya. Mungkin bisa lain kali aja ngobrol nya." Arini mencari alasan agar bisa lolos dari manusia es balok itu.
"Kalau aku yang sebagai CEOnya menyuruh mu tetap diam disini, apa kau kamu keluar juga?" Geram Arini melihat tingkah Riyan yang dingin.
Kalau dia bukan CEO ku ah tidak kalau ini di rumah udah aku lawan tuh orang.
Kalau di rumah Arini masih bisa berdebat adu argumen dengan Riyan. Tapi sekarang posisinya ada di kantor terlebih Riyan yang menjadi atasnya dan Arini menjadi bawahannya. Pak Jaka dan nyonya Mira tersenyum melihat wajah Arini yang kesal.
"Yaudah mamih dan papih pulang dulu ya."
"Iya mih. Hati-hati di jalan."
Setelah kepergian Pak Jaka dan nyonya Mira Ricky tertawa puas melihat Arini yang canggung itu.
"Hah bahkan sekarang kau ada pada genggaman ku ya." Kata Riyan yang masih tertawa.
"Dasar."
"Ingat kali ini aku atasan mu dan kau adalah bawahan ku." Riyan menyela sebelum Arini menghardik nya. "Ah iya dua hati lagi aku akan mengadakan meeting untuk perubahan posisi jabatan." Begitulah Ricky berbicara.
"Yaudah sekarang kau bisa kembali bekerja."
"Dari tadi kenapa ngomong gitu nya." Kata Arini sambil melengos.
__ADS_1
"Hey apa seperti itu sikap bawahan terhadap atasnya?" Teriak Riyan namun tidak di gubris oleh Arini. Arini terus berjalan keluar ruangan.
Arini...Arini. Sekarang kau sudah ada disini dengan ku. Kamu yang begitu kesal padaku sekarang harus sepatuh ini padaku. Riyan tersenyum sendiri saat memikirkan apa yang akan terjadi kalau Arini bekerja dengannya.