SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA

SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA
Bella Vs Sintia


__ADS_3

Hari pun sudah beranjak menjadi siang. Sintia pun baru selesai dari pekerjaannya. Saat Sinntia keluar dari ruangan kerjanya dia melihat para karyawan yang sedang sibuk melayani para pelanggan butik, kemudian dia menghampiri Lia yang sedang berkutik dengan komputer.


"Lia aku mau pergi ke cafe dulu mau nemuin consumer yang memesan seragaman keluarga waktu itu."


Mendengar Sintia yang akan pergi keluar butik, membuat Bella yang sedang duduk di kursi berdiri dan menghampiri Sintia. Melihat Bella yang mendekat Sintia sudah tahu bahwa dia akan mengantar Sintia untuk pergi ke cafe.


"Bella kamu tidak perlu mengantar, saya bisa sendiri lagian kafenya dekat kok di seberang sana." Kata Sintia sambil membentang kan tangannya ke luar.


"Tidak Nona! Saya tidak akan membiarkan Nona pergi sendiri karena ini merupakan tugas saya untuk menjaga nona dari siapapun yang ingin menyakiti nona."


Sintia dan Lia saling pandang. Tidak mengerti apa yang dibicarakan Bella kalau dia mau menjaga Sintia dari orang yang menyakiti Sintia. Padahal Sintia hanya akan bertemu consumer bukan bertemu buron*n.


Sebenarnya dia itu siapa sih. Ko bisa-bisanya dia ngatur-ngatur mbak Tia. Lia


"Bella Kamu tidak usah seperti itu. Aku hanya ingin bertemu consumer. Dan kamu jangan khawatir aku akan langsung kembali setelah pembicaraan kami selesai. Tidak akan lama di sana hanya ada ada pembicaraan sedikit tentang pemesanan bajunya ke butik ku ini."


"Tidak nona saya tidak akan membiarkan Anda pergi sendiri. Kalau sampai tuan Ricky tahu nona pergi sendirian nanti saya kena marah karena sudah membiarkan nona pergi sendirian." Sintia mengepalkan tangannya karena geram.


"Ya udah ayo pergi keburu nanti konsumennya nungguin di sana."


Akhirnya Sintia pun mengalah daripada harus ribut terus dengan Bella mendingan dia yang mengalah.


***


Benar saja saat Sintia dan Bella baru saja memasuki pintu Cafe tersebut pak Ren sudah duduk dan sedang menunggu kedatangan Sintia.


"Maaf pak Ren sudah membuat Anda menunggu."


"Tidak apa-apa mbak Tia santai saja saya juga baru datang kok. Silahkan duduk!" Sintia pun duduk di hadapan pak Ren.


Saat pak Ren mengulurkan tangan untuk bersalaman tiba-tiba Bella melotot dan ingin mencegahnya namun ketika Sintia melirik Bella, dia hanya bisa diam dan menggeleng-geleng kepala.

__ADS_1


Bagaimana bisa nona bersikap seperti ini! Kalau saja Tuan Ricky tahu pasti saya kena marah.


Pak Ren dan juga Sintia sedang berbicara panjang lebar sesekali mereka terlihat tertawa Seperti mendapat kelucuan dari perbincangannya. Semua itu membuat Bella tidak bisa menahan diri dan ingin segera membawa Sintia pergi.


Melihat dari jam tangannya sudah hampir setengah jam Sintia berbincang dengan konsumennya. Bella berdiri dan membisikkan sesuatu ke telinga Sintia.


"Nona ini sudah hampir setengah jam dan ini sudah sangat lama jadi saya harap anda mengerti." Bella pun Kembali ke tempat duduknya.


"Siapa dia Dia mbak?" Tanya pak Ren yang penasaran.


Karena sejak tadi pak Ren curi-curi pandang melihat ke arah Bella. Dan yang lebih anehnya lagi dia seperti orang yang marah jika Pak Ren terlihat sangat dekat dengan Sintia.


"Ahh dia adalah Bella. Teman saya." Kata Sintia berbohong. Tidak mungkin kan kalau Sintia mengenal kan Bella sebagai pengawal nya mana ada yang percaya dengan itu.


"Oh iya nanti saya kabarin lagi ya kalau desain dan juga bajunya udah beres. Nanti saya akan antarkan langsung ke rumah bapak."


"lya mbak Tia. Saya percaya mbak Tia bisa menyelesaikan nya dengan baik dan tepat waktu secara saya kan sudah langgganan."


Ya ampun Bella jangan menatap pak Ren seperti itu. Dasar!


"Ya udah kalau gitu saya permisi dulu ya soalnya masih ada urusan yang lain mohon maaf."


"Apakah tidak makan siang dulu di sini?" Pak Ren menawarkan makan siang pada Sintia.


"Maaf Pak bukannya saya nolak tawaran bapak, tapi saya masih ada urusan yang lain bersama teman saya. Sekali lagi maaf ya lain kali aja kita bertemu lagi ya."


"Tidak apa-apa Tia." Mereka pun bersalaman dan Sintia langsung menuju ke luar kafe tersebut sambil di buntuti Bella dari belakangnya.


Sesampainya di dalam mobil Sintia menggerutu habis-habisan.


"Bella sikap kamu tadi kepada Pak Ren itu berlebihan saya tidak suka itu. Kamu tau Pak Ren itu adalah pelanggan Setia butik ku dan dia serta keluarganya sudah sering memesan gaun-gaun ataupun baju untuk pesta nya jadi saya sangat tidak nyaman melihat sikap kamu kepada Pak Rin tadi."

__ADS_1


"Maaf nona karena saya hanya menjalankan tugas."


"Stop!" Suara Sintia sedikit teriak.


"Berhenti mengatakan kalau kamu hanya menjalankan tugas. Iya aku tau kamu hanya menjalankan tugas tapi apa iya harus sampai seperti itu?"


"Nona tau kan sekarang nona sudah berbeda status. Maksud saya nona sudah menjadi istri tuan Ricky dan tuan Ricky sangat tidak menyukai kalau nona itu berinteraksi dengan pria lain selain tuan Ricky apalagi sampai kaya tadi berlebihan ketawa-ketawa sambil menjabat tangan."


Mendengarkan penjelasan Bella bukannya membuat Sintia mengerti malah Sintia semakin heran pada Bella. Tidak, Sintia heran sekaligus penasaran. Sebenarnya apa sih yang dikatakan Ricky pada Bella sehingga membuat Bella sampai memperlakukan Sintia sampai segitunya.


"Ada apa denganmu. Aku hanya bersalaman bersama dia."


"Saya hanya menjalankan."


"Cukup Bella jangan katakan itu lagi."


Bela pun tak berani berbicara lagi setelah berdebat dengan Sintia. Sebenarnya Bella bisa aja mengekang Sintia lebih dari ini lagi karena pengawasan Bella saat ini masih di bawah standar nya. Kalau kepada Anna dan Riyan, Bella bisa saja melakukan pengawasan yang lebih ketat lagi tapi tidak dengan Sintia. Ketika Sintia melakukan kesalahan dan ketika Bella ingin memperingati Sintia rasanya tidak bisa. Bella selalu ingat kata-kata Ricky untuk tidak terlalu mengekang Sintia.


"Bella aku beri tugas untuk mu. Tolong jagain Sintia sama seperti kamu menjaga Anna. Tapi kalau Sintia kamu jangan terlalu mencolok dalam bertindak karena mungkin Sintia belum terbiasa dengan itu."


Artinya Bella tetap harus mengawasi Sintia. Namun jangan terlalu ketat biarkan Sintia mulai terbiasa dengan cara pengawasan Bella seiring berjalan nya waktu. Jalan yang dilalui Bella dan Sintia sangat macet. Mungkin karena ini sudah waktunya makan siang banyak orang yang lalu lalang keluar masuk dari tempat makan baik itu di pinggir jalan, cafe, atau restoran.


Bella melihat arjoli yang ada di tangannya. Sudah hampir lima belas menit jalanan masih terjebak macet. Suara klakson mobil banyak yang berbunyi karena tidak sabar dengan kemacetannya.


"Nona apa tidak akan mampir dulu untuk makan siang?" Bella menawarkan karena sepertinya nona mudanya juga sudah mulai terlihat lapar.


"Ah iya Bella aku juga udah lapar sekali. Sepertinya di depan ada cafe kita mampir ke sana aja ya."


"Baik nona."


Sepertinya nona sudah kelihatan tidak kesal lagi dan aku harap nona bisa mengerti dengan semua ini.

__ADS_1


Terlihat bibir Bella membentuk sebuah senyuman.


__ADS_2