
Pesta pernikahan telah dimulai. Sintia dan Ricky sudah bersanding di pelaminan yang mewah itu. Banyak dari teman dan juga rekan bisnis Ricky yang mengucapkan selamat atas pernikahannya. Semua orang nampak bahagia. Sintia pun menampakkan senyuman manisnya saat seorang fotografer mengabadikan momen pernikahannya.
Arini ikut yang selalu menemani Sintia sejak lama kini dia menghampiri Sintia dan Ricky. Dia memberi ucapan selamat sambil memeluk Sintia dengan erat.
“Tia aku senang melihat mu sebahagia ini. Selamat ya atas pernikahannya, bahagia selalu sayang.” Sintia terharu dengan ucapan Arini. Mereka saling berpelukan di atas pelaminan.
“Minggir lo.” Tiba-tiba Arini di dorong oleh seorang lelaki.
“Apaan sih lo. Lo ngikutin gue ya.” Tanya Arini dengan kesal karena Riyan sudah mengganggu pelukannya dengan Sintia.
“Idih ngapain juga gue ngikutin lo.” Jawab Ricky tak kalah sewot dengan Arini. “Gue kesini mau nyamperin kaka ipar tau. Kaka ipar selamat ya atas pernikahannya dengan kak Ricky.” Dengan bangga nya Riyan memeluk Sintia.
“Husss sana jangan peluk-peluk istri orang.” Ricky mengusir Riyan yang akan memeluk Sintia.
Haha. ****** lo kena marah kaka lo kan.
“Kaka aku cuman ingin memeluk kaka ipar, kenapa gak boleh.” Protes Riyan mengurutu.
“Tia udah jadi istri kaka dan gak boleh ada lelaki yang bersentuhan dengan nya walaupun itu kau.”
“Haha.” Arini tidak bisa menahan tawanya. Seorang Riyan yang terkenal dengan keangkuhan dan sikap dinginnya kali ini terlihat sangat lucu ketika di marahi kakaknya.
“Diam lo. Siapa yang nyuruh lo ketawa.”
“Lalu siapa yang nyuruh saya untuk tidak tertawa.” Jawab Arini yang masih dibumbui suara tawanya.
Sintia hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala menyaksikan perdebatan Arini dan Riyan. Sekarang aja kalian gak akur begini nanti kalau udah pada jatuh cinta baru tau rasa.
“Hey kalian ini aku cariin kemana-mana ternyata disini.” Tiba-tiba Anna datang menghampiri mereka.
“Iya Anna tadi aku mau mengucapkan selamat pada Sintia dan Pak Ricky makanya aku kesini. Kalau orang ini gak tau deh ngapain ngikutin aku.” Sindir Arini sambil menunjuk ke arah Riyan dengan ekor matanya.
“Dasar mak lampir. Siapa juga yang ngikutin lo pede amat sih lo.” Balas Riyan sewot.
“Haha. Udah ngaku aja es balok.”
“Apa? Kalian punya panggilan sayang ya. Mak lampir dan es balok.” Kata Anna dengan tertawa. “Sepertinya kalian bakalan jodoh deh.”
__ADS_1
“Apa!” Teriak Riyan dan Arini bersamaan.
“Tuh kalian aja kompak begitu.”
“Heh jangan sembarangan ya kalau ngomong.” Kata Riyan sambil menepis tangan Arini yang menempel di bahunya.
Hei kalian! Kenapa kalian ribut disini aku kan jadi pusing tau mendengar nya. Sintia
Sintia menyenggol tangan Ricky yang sedang duduk di kursi pelaminan itu. Dengan sigap Ricky berdiri mendekati Sintia.
“Ada apa?” Sintia menjawab dengan lirikan matanya ke arah tiga orang yang sedang berdebat itu.
“Aku pusing melihat mereka berdebat terus.” Bisik Sintia pada Ricky.
“Apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa kalian ribut disini apa kalian gak malu dilihat orang-orang.”
Tiga orang itu malah saling menuduh. Semuanya gak mau ada yang disalahin. Ricky semakin kesal melihat perdebatan yang tiada berahir.
“Kalian diam atau ku suruh satpam menyeret kalian pergi keluar?” Bentakan Ricky berhasil membuat tiga orang itu tutup mulut.
Aduh gimana ini kak Ricky jadi marah kan. Anna
Sedangkan Riyan hanya memandang ke arah lain seakan dia tidak bersalah. Sintia tertawa tampa suara saat melihat Ricky marah terlebih saat melihat raut wajah Arini dan Anna pucat karena ketakutan.
Nah kan kalian kena marah juga. Lagian ada-ada aja sih main ribut segala.
"Sudah sana pergi ngapain juga kalian disini kalau hanya untuk ribut saja."
Arini dan Anna buru-buru turun dari pelaminan. Mereka gak mau kalau sampai melihat Ricky marah apalagi sekarang acara pesta pernikahan nya.
***
Semua orang nampak bahagia kecuali dua orang wanita yang berada di pojokan gedung itu. Mereka terlihat kesal adanya pernikahan Ricky dan Sintia.
"Kak sabar ya. Ini udah terjadi kaka gak ada kesempatan lagi buat rujuk kembali dengan kak Ricky."
"Siapa bilang. Aku akan berusaha untuk bisa bersama Ricky lagi. Pokoknya akan aku lakukan apapun demi Ricky."
__ADS_1
Bahaya kalau kak Tamara udah bilang begini dia bisa nekad beneran.
"Udahlah kak jangan begitu. Kaka tau kan gimana kerasnya keluarga kak Ricky. Nanti kaka kena masalah aku gak mau berurusan masalah dengan keluarga kak Ricky." Risa berusaha mencari jalan keluar agar kakanya tidak bertindak ceroboh.
"Kamu itu ya! Harusnya kamu dukung kaka bukannya malah belain wanita itu."
"Tapi kak aku."
"Yaudah kalau kamu gak mau bantu kaka gak masalah. Emang kamu pikir kaka gak punya orang untuk bantu rencana kaka." Tamara memang memiliki sifat yang keras. Dia selalu melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia mau walaupun dengan cara membahayakan sekalipun.
Lihat aja kamu Ricky. Aku gak semudah itu untuk menyerah dan akan ku pastikan aku bisa kembali padamu.
***
Hari sudah berganti menjadi malam. Semua tamu ondangan sedang menikmati makan malam dengan jamuan yang sudah di sediakan. Ricky memilih pergi ke ruangan VVIP karena melihat Sintia yang sudah mulai kelelahan.
"Apa kamu istirahat sekarang?" Tanya Ricky sambil berjalan menuju ruangan VVIP. "Kamu kelihatan lelah apa kita masuk ke kamar sekarang?"Sintia nampak terkejut mendengar Ricky yang mengajaknya ke kamar.
Ke kamar? Apa dia akan melakukan... Aaa aku gak mau, aku belum siap untuk itu.
" Hey ada apa dengan mu. Kenapa kamu jadi pucat begini?" Padahal Ricky sudah tau apa yang dipikirkan Sintia.
Lihat kamu sampai pucat pasi begitu aku ajak kamu ke kamar. Padahal aku hanya ingin dia istirahat bukan yang lain.
"Eh aku gak papa. Sebaiknya kita jangan ke kamar
dulu. Masih banyak tamu juga kan apalagi keluarga Arini masih ada disini.Gak enak kan kalau kita pergi duluan." Balas Arini berusaha untuk tidak masuk dulu kedalam kamar.
Ricky tersenyum mendengar alasan Sintia yang berusaha untuk tidak masuk kedalam kamar.
"Baiklah kita duduk dulu aja disini." Ricky menarik tangan Sintia untuk duduk di sofa.
"Kenapa kita gak diluar aja?" Ricky semakin semangat menjahili istrinya yang mulai ketakutan itu.
"Aku lelah. Aku mau disini aja bersamamu."
Ya ampun lihat senyuman nya membuat ku merinding saja. Sintia
__ADS_1