
Ricky yang tadinya terlihat bahagia seketika berubah masam setelah pertemuan nya dengan Tamara. Walaupun sudah lama berpisah, Ricky selalu mengingat penghianatan Tamara padanya apalagi ketika harus bersitatap secara langsung. Ketika sampai di rumah pun wajah Ricky masih terlihat kesal. Zaky yang melihat bos nya datang segera berjalan menyambut Ricky.
Ada apa dengan Pak Ricky. Ini ulang tahun putri kesanggupannya tapi wajahnya kok kelihatan masam begitu.
"Pak Ricky." Panggil Zaky setengah berteriak.
"Hmmm." Jawab Ricky malas sambil menuju ruang kerjanya.
"Ini ada berkas yang harus di periksa dan di tanda tangani untuk kerja sama kita dengan klien di kota XX." Ucap Zaky sambil menyerah kan berkas di meja kerja Ricky.
Setelah memeriksa dan menandatangani berkas tersebut Zaky izin untuk kembali ke kantor. Karena hari ini Ricky tidak masuk kantor jadi Zaky yang harus mengurus semuanya. Ricky memanggil Zaky saat mau keluar dari ruang kerjanya.
"Zaky."
"Iya Pak? Ada apa?"
"Tolong kamu urus perempuan itu. Jangan sampai dia bikin ribut di pesta nanti."
Huh. Pantas aja Pak Ricky kelihatan kesal sejak pulang tadi.
"Baik Pak. Apa Pak Ricky bertemu dengannya?"
"Barusan aku gak sengaja ketemu dia." Terlihat kesal dengan ucapan nya itu. "Aku juga mengundangnya ke pesta Serly nanti." Kata Ricky sambil bangun dari kursi kerjanya menghampiri Zaky. "Kamu tau kan apa yang saya inginkan?"
"Iya Pak saya akan membereskan nya." Jawab Zaky meyakinkan Ricky agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.
Zaky sudah tau betul tentang hubungan Ricky dengan Tamara. Dia selalu tau apa yang harus dia lakukan saat Ricky memerintah untuk mengurus mantan istrinya Ricky. Mengawasi agar semua baik-baik saja dan menyelidiki rencana busuk Tamara. Apalagi sekarang akan di adakan pesta ulang tahun Serly.
Tugas ku di kantor sedang numpuk. Sekarang di tambah lagi harus mengawasi perempuan itu. Batin Zaky mengerutuk.
__ADS_1
Zaky segera menghubungi orang kepercayaan dari Royal Group. Dia selalu dibantu orang-orang kepercayaan keluarga Dharmanto.
"Halo. Selamat siang Pak."
"Kamu tau kan kalau sekarang ada acara pesta ulang tahun Serly anaknya Pak Ricky?" Kata Zaky to the poin. "Saya mau kamu awasi setiap gerak gerik Tamara di acara pesta nanti. Saya tidak mau ada keributan selama acara berlangsung bahkan sesudah acara itu selesai. Kamu tau kan tugas mu apa?" Kata Zaky tegas. Seakan tidak mau lagi menjelaskan panjang lebar.
"Baik Pak. Saya akan menjalankan tugas dengan benar."
"Satu lagi. Jangan biarkan Tamara muncul di hadapan Pak Ricky dan keluarga nya setelah ini." Tegas Zaky memberi peringatan. Kemudian menutup telepon nya.
Tugas ku yang ini sudah selesai. Sekarang aku kembali fokus masalah kantor. Begitu gumam Zaky saat sudah merasa lega tentang Tamara.
***
Jauh dari kediaman Ricky. Dua orang gadis sedang perang adu mulut. Salah satu dari mereka tidak ada yang mau mengalah sampai membuat Sintia keluar dari ruang kerjanya.
"Maaf mbak Tia. Lagian dia tuh yang mulai ganggu saya saat sedang meriksa keuangan." Kata Lia membela diri.
"Enak aja! Lo tuh yang mulai duluan." Ucap Arini gak mau kalah.
"Mbak Arini yang cantik dan baik hati." Kata Lia memuji tapi seperti orang memojokkan. "Apa mbak lupa kalau tadi mbak yang gangguin saya lagi bekerja."
"Sudah. Sudah. Diam kalian!" Teriak Sintia membuat dua orang itu terkejut. "Lia kamu lanjutkan pekerjaan mu. Dan lo Rini ikut masuk keruangan gue."
Lia tersenyum sinis melihat Arini yang harus ikut masuk ke ruangan kerja Sintia.
Apa lo! Teriak Arini dalam hati sambil melotot ke arah Lia.
Sesampainya di dalam ruangan Arini tidak bicara lagi. Dia langsung duduk membisu di sofa sambil memainkan handphone nya. Sedangkan Sintia melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Arini melihat-lihat model pakaian keluaran terbaru di internet handphone miliknya. Dia baru teringat bahwa Sintia mengajak nya pergi ke pesta untuk menemani nya. Dia bahkan belum punya baju untuk pergi ke pesta itu.
__ADS_1
"Tia." Panggil Arini sambil berjalan mendekati meja kerja Sintia. "Aku belum punya gaun untuk pergi ke pesta nanti." Kata Arini pada Sintia.
"Aku udah menyiapkan nya untuk mu." Jawab Sintia enteng.
"Beneran? Makasih sayang." Ucap Arini sambil memeluk Sintia.
"Apaan sih lo lebay banget main peluk-peluk segala. Udah ayo kita pulang." Ajak Sintia sambil berdiri dan meraih tas nya. "Kalau sampai sore di butik kita bisa telat datang ke pesta nya."
"Baiklah. Ayo kita pulang." Arini berjalan sambil menggandeng tangan Sintia.
Sebelum pulang Sintia menemui Lia dulu. "Li aku gak bisa sampai sore disini. Aku ada urusan. Kamu tolong urus butik ya."
"Baik mbak." Jawab Lia sambil mendelik saat melihat Arini.
"Yaudah aku pulang dulu Li." Kata Sintia sambil berjalan.
***
Setelah sampai di kontrakan Sintia dan Arini bersiap-siap. Mereka menggunakan gaun yang hampir sama namun beda warna. Mereka kemudian pergi ke rumah Ricky menggunakan taxi online. Karena gak mungkin kalau mereka harus menggunakan ojek online. Sedangkan mereka sudah berdandan rapih menggunakan gaun rancangan Sintia.
Sesampainya di rumah Ricky Arini yang baru melihat keadaan rumahnya terkejut. Dia sampai menutupi mulutnya saking kagum dengan rumah bak istana itu.
"Gila. Ini rumah gede amat mewah lagi." Kata Arini saking kagumnya.
"Apaan sih lo. Norak banget." Kata Sintia sambil berjalan meninggalkan Arini.
Ini akan jadi pertemuan ketiga kalinya antara aku dan Pak Ricky. Batin Sintia.
Jika pertemuan pertama dan kedua secara tidak sengaja maka pertemuan kali ini akan seperti pertemuan yang di sengaja. Sintia masih bergelut dengan pikiran nya sambil berjalan. Seperti sudah merasakan apa yang akan terjadi pertemuan kali ini.
__ADS_1