
Setelah selesai dengan urusan gaun pengantin Sintia masih bersikeras untuk menolak tentang asisten pribadi. Dia gak mau kalau aktivitas sehari-hari nya diawasi orang suruhan Ricky. Ricky kesal dengan permohonan Sintia yang masih berusaha menolak Bella sebagai pengawal nya.
"Sudah jangan merengek seperti anak kecil. Aku gak suka melihat nya." Kata Ricky kesal.
"Tapi aku gak butuh asisten ataupun pengawal. Apa Pak Ricky lupa kalau aku hidup mandiri dari dulu." Balas Sintia masih berupaya menolak Bella.
Ayolah aku gak butuh pengawal atau apapun itu. Emang aku ini apa sampai harus ada pengawal segala.
Ricky menatap lekat ke arah Sintia. "Apa kamu tau untuk apa aku lakukan ini semua?" Tanya Ricky. "Aku lakukan ini semua untuk melindungi mu dari orang-orang jahat termasuk Tamara. Aku gak mau mendengar atau melihat kamu terluka seperti tadi."
Gila. Emang dia pikir aku ini balita apa.
"Kalau saja kamu bisa melawan siapapun orang yang berusaha menyakiti mu gak akan aku suruh Bella jadi asisten mu." Ucap Ricky menjelaskan.
"Tapi Pak aku bisa kok menjaga diri." Kata Sintia yakin.
"Benarkah? Lalu apa yang kamu lakukan tadi? Tadi kamu gak berusaha melawan Tamara malah melepaskan dia semudah itu. Kamu itu terlalu polos dan akan mudah di manfaatkan orang."
Apaan sih. Aku gak ngerti maksudnya apa coba?
"Maaf Pak apa sudah selesai? Bella sudah datang untuk mulai bekerja dengan nona Sintia." Kata Zaky.
"Pak Ricky." Rengek Sintia.
"Sudah jangan protes lagi. Sudah sana bukannya mau kembali ke butik."
Sudahlah percuma juga aku memohon terus toh gak akan d dengerin juga kan.
"Ayo nona." Ajak Bella.
Dih. Sintia mendelik sebal.
***
Selama di perjalanan Sintia menahan geram melihat perlakuan Bella terhadap Sintia. Bella memperlakukan Sintia seperti kepada seorang majikan dan Sintia tidak suka itu.
Ah kenapa aku gak tanya aja ya sama Bella kenapa aku bisa sampai diberi asisten pribadi seperti ini.
"Mmm Bella. Apa boleh bertanya sesuatu?"
"Iya silahkan nona."
"Sebelumnya kamu bekerja dimana dan sebagai apa?"
"Aku di percaya kan untuk mengurus dan memantau perusahaan Pak Jaka yang ada di luar kota." Jawab Bella.
__ADS_1
"Berarti posisi kamu sangat penting di perusahaan?" Bella hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Kalau dia punya tugas penting begitu kenapa dia sampai mau sih jadi asisten begini.
"Lalu kenapa kamu mau dijadikan asisten pribadi?" Tanya Sintia penasaran.
"Apa nona tau sebesar apa tanggung jawab ku menjaga nona?" Tanya Bella, Sintia hanya menggeleng kepala. "Tugas saya menjaga nona dari bahaya lebih besar dibandingkan dengan tugas saya di perusahaan yang ada satu luar kota."
Apa?
"Nona tau kan siapa Pak Ricky? Dia bisa melakukan apa saja yang membuat anggota keluarga nya terluka. Sama halnya dia akan melakukan apapun untuk nona karena nona juga calon istrinya Pak Ricky." Jelas Bella.
"Bella apa semua ini juga dilakukan Pak Ricky kepada Tamara saat dia masih menjadi istrinya?" Tanya Sintia.
"Maaf nona saya tidak bisa menceritakan masa lalu Pak Ricky. Karena itu merupakan hal yang paling terlarang dalam kehidupan keluarga Pak Ricky."
"Ah yasudah gak papa. Aku ngerti kok."
Sesampainya di butik Sintia di sambut oleh Arini dan Lia. Mereka pasti ingin mengetahui apa saja yang dilakukan Sintia dengan Ricky. Kalau Arini sedikit sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Karena Arini sedikit sudah tau mengenai Ricky.
Saat dilihatnya Sintia bersama seorang wanita yang tidak di kenal. Arini yang selalu heboh menghampiri Sintia dan bertanya siapa sosok wanita yang dia bawa.
"Tia siapa dia." Tanya Arini sambil menunjuk Bella dengan ekor matanya.
"Kenalin ini Bella. Dia"
"Saya asisten sekaligus pengawal nona Sintia." Ucap Bella memotong perkataan Sintia.
"Apa?" Teriak Arini bersamaan dengan Lia. "Asisten pribadi?" Kata mereka sambil saling berpandangan.
"Aaa yasudah ayo masuk kenapa kita disini." Ajak Sintia
Mereka semua masuk ke dalam butik. Sintia dan Bella langsung menuju ruang kerja Sintia sedangkan Arini dan Lia pergi ke luar untuk cari makanan. Dalam perjalanan pulang menuju butik Lia bertanya pada Arini untuk mengusir rasa penasarannya.
"Rin kenapa ya Pak Ricky sampai kirim Bella untuk jadi pengawal Sintia?
"Yeh kamu kaya gak tau Pak Ricky aja, kan udah di ceritain siapa seorang presdir bernama Ricky itu." Jawab Arini sambil memakan cilok pedasnya. "Eh tapi apa mungkin Pak Ricky melakukan semua ini untuk melindungi Sintia, seperti dari kejadian tadi pagi tuh yang ribut dengan mantan istrinya Pak Ricky." Pikiran Arini kembali ke kejadian tadi pagi.
"Bisa jadi juga seperti itu Rin."
"Yaudahlah memang pantas Tia mendapatkan itu semua."
Sesampainya di butik Arini menyerah kan cilok pedas pesanan Sintia. Bella terkejut cilok pedas itu. Bagaimana bisa nona Sintia memakan makanan itu. Begitu dia berkata dalam hatinya.
"Eh kenapa Bella? Kok kayanya kamu terkejut gitu liat Tia makan cilok." Tanya Arini dengan penasaran.
__ADS_1
"Nona. Kenapa nona makan cilok itu?"
"Kenapa? Ini enak kok. kamu mau coba nih." Tawar Sintia sambil menyodorkan cup ciloknya.
"Nona, nona gak boleh makan makanan sembarangan. Kalau Pak Ricky tau saya bisa kena marah."
"Loh kenapa? Cilok ini enak dan juga sehat ko. Ya kan Rin."
"Iya benar. Kamu coba deh."
"Maaf nona apa nona lupa kalau disini saya di tugaskan untuk menjaga nona. Bukan hanya dari orang yang ingin melukai nona tapi dari hal kecil sekali pun. Contohnya seperti dari segi makanan."
"Hey ada apa dengan mu. Sintia gak perlu penjagaan seperti itu. Kami juga udah biasa kok makan makanan beginian." Sewot Arini yang sudah tidak habis pikir dengan cara kerja Sintia.
Gila kali ya ini orang. Sampai makanan aja dia ngatur-ngatur.
Sintia sudah mulai geram dengan cara penjagaan Bella yang menurutnya kelewatan batas.
Apa-apaan sih Bella ini gak boleh itu gak boleh semua gak boleh. Belum sehari Bella bekerja, rasanya aku gak kuat dengan perlakuan dia yang kelebihan ini.
Ahirnya Sintia menelpon Ricky. Dia harap kalau dia melaporkan cara kerja Bella yang berlebihan, dia bisa melakukan sesuatu pada Bella.
Ricky yang sedang sibuk dengan laptopnya melirik ke arah Zaky saat ponsel nya berbunyi.
"Siapa?"
"Nona Sintia nelpon Pak."
"Hah Tia nelpon, tumben."
"Hallo"
"Kanapa? Ada apa nelpon bukan nya kita tadi habis bertemu? Apa kamu sudah kangen lagi"
"Ah iya aku mau lapor sama kamu."
"Lapor? Apaan?"
Sintia menceritakan kekesalan nya terhadap Bella. Dia menceritakan kalau Bella menjaga Sintia terlalu berlebihan. Sampai hal terkecil pun dia perhatikan.
Ricky tertawa saat mendengar Sintia mengadu tentang cara kerja Bella.
"Tia. Bella tidak salah, dia memang ditugaskan seperti itu untuk menjaga kamu."
"Apa? Kamu gak perlu nyuruh Bella sampai segitunya."
__ADS_1
"Sudahlah jangan banyak protes. Sudah sana aku lagi sibuk nih."
Ricky menutup telponnya. Sintia semakin geram pada Ricky. Berharap mau di Bella malah sama saja dengan Bella. Ahirnya Sintia pun menerima perlakuan berlebihan dari Ricky walaupun dengan berat hati.