SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA

SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA
Menegangkan


__ADS_3

Pagi hari Sintia buru-buru pergi ke butik untuk menyelesaikan rancangan yang di pesan oleh bu Mira. Sintia pergi lebih awal dari biasanya hingga dia tidak sempat sarapan di rumahnya. Seperti biasa dia pergi menggunakan ojek online, karena dia sudah terbiasa kemana pun pergi pasti menggunakan ojek online.


Ya Tuhan orderan dari nyonya Mira membuat ku setegang ini dalam menyelesaikannya bahkan aku sampai tidak sarapan pagi ini.


Sintia terbangun dari lamunannya saat driver ojek online sudah berhenti di depan butik nya.


"Mbak sudah sampai."


"Ah maaf Pak tadi saya melamun. Ini uangnya makasih ya."


Lia yang melihat kedatangan majikannya lebih pagi dari biasanya langsung menghampiri. "Loh mbak tumben datangnya lebih awal."


"Iya li soalnya kan banyak kerjaan yang mesti di selesaikan secepatnya."


"Mmm... pesanan dari nyonya yang kemarin ya mbak?" Sintia hanya menjawab dengan menganggukkan kepala sambil mulai bekerja.


"Lia. Tolong belikan aku sarapan ya soalnya aku belum sempat sarapan tadi."


"Mbak ini gara-gara pesanan dari nyonya Mira sampai lupa sarapan segala."


"Kamu tau gak?"


"Nggak. Kan mbak belum ngomong." Jawab Lia sambil tertawa.


"Makanya dengerin dulu kalau orang lagi ngomong tuh."


"Iya mbak maaf." Kata Lia sambil terkekeh.


"Ternyata nyonya Mira itu orang yang paling menakutkan di kota ini." Mendengar itu Lia langsung melotot ke arah Sintia. Minta penjelasan lebih lanjut.


"Aaa maksudnya nyonya Mira itu ternyata orang paling berkuasa di kota ini. Dia bisa melakukan apa saja kalau sampai keinginannya tidak tercapai."


"Oh kalau itu aku juga udah tau mbak." Kata Lia dengan enteng nya membuat Sintia memukul bahu Lia.


"Kenapa kamu gak kasih tau aku sih sebelumnya."


"Ya kan mbak gak nanya." Kata Lia sambil tertawa.


"Dasar kamu ya. Yaudah sana belikan sarapan aku lapar."


"Baik mbak."


Lia pergi mencari sarapan di warung terdekat. Setelah membeli makanan Lia langsung memberikan nya ke Sintia.


"Mbak ini sarapan nya."


"Makasih Lia. Oh iya kamu tolong urus butik ya. Aku lagi fokus mendesain nih."


"Oke. Baik mbak."


***


Setelah selesai dengan pekerjaannya Sintia menghampiri lia di meja kasir.


"Lia." Apa aku suruh lia aja ya untuk mengantarkan hasil desainnya tapi kalau nyonya itu marah, aaa aku bingung.


"Iya mbak ada apa?"


"Kamu bisa kan mengantarkan ini ke rumahnya nyonya Mira"

__ADS_1


Apa! kenapa aku.


"Gimana ya bukannya aku..."


"Yaudah toh nyonya Mira juga mau aku sendiri yang datang ke rumahnya." Sambung Sintia sambil menghela nafas kasar.


Selamat. Gumam Lia dalam hati sambil tersenyum merasa dirinya selamat gak harus menemui nyonya Mira.


"Loh kenapa mbak seperti tegang begitu?"


"Nggak tau juga sih kenapa aku setegang ini, yaudah aku berangkat dulu ya."


"Iya mbak, hati-hati mbak."


"Oke!"


***


Sesampainya di depan gerbang Sintia bertemu dengan penjaga gerbang.


"Permisi."


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Maaf Pak, apa benar ini rumah nyonya Mira?"


"Iya benar. Ada apa ya?"


"Apa nyonya Mira nya ada? Saya sudah punya janji bertemu dengannya."


"Sebentar ya saya ke dalam dulu."


Penjaga gerbang pergi menemui bu Mira. "Maaf tuan di depan ada tamu ingin bertemu dengan nyonya."


"Suruh dia masuk aja, dia pasti Tia."


"Baik."


"Gimana pak nyonya Mira nya ada?"


"Iya, silahkan masuk biar saya antar ke dalam."


Sintia berjalan sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah itu.


Ini rumah apa istana kok gede bener. Dih aku merasa terhina kalau begini. Penjaga itu mempersilahkan Sintia masuk ke dalam rumah. Belum sempat dia mengetuk pintu, ada yang membuka pintu dari dalam.


"Tia silahkan masuk."


"I, iya makasih nyonya." Jawab Sintia gugup.


Aduh gimana ini kenapa aku gugup begini sih.


"Bi tolong bawa kan minum ya."


"Iya nyonya."


"Oh iya bu ini hasil desain saya semoga ibu suka." To the point aja gak papa kan, biar aku cepat keluar dari rumah ini.


"Oh iya, sebentar saya panggil kan anak-anak saya dulu ya." Bu Mira pergi mendekati tangga untuk memanggil anaknya.

__ADS_1


"Riyan. Anna sini sayang turun"


"Iya mah ada apa?" Jawab Anna sambil menuruni tangga yang di ikuti oleh kakaknya. Mereka berjalan bersama menuju ruang tamu.


"Siapa dia mah" Tanya Ricky dengan datar melihat Sintia duduk di sofa.


"Ahh dia Sintia Yan. Mamah yang memesan baju seragam keluarga kita ke butik nya dia."


Sintia yang melihat kedua anak bu Mira yang dingin itu mengerutuk dalam hati. Ya ampun anak-anaknya pada ganteng dan cantik tapi sayang mereka sepertinya dingin sekali ya.


"Tia perkenalkan ini Riyan anak kedua saya dan ini Anna anak perempuan satu-satunya."


"Saya Sintia" Sintia mengulurkan tangannya namun tidak di sambut oleh Anna ataupun Ricky.


Dih mereka memang sombong ya.


"Ricky ini hasil desain baju punya kamu dan ini punya kamu Anna. Kalian suka kan?"


Anna dan Ricky menerima gambar dari tangan ibunya.


Mmm... bagus juga nih. Ricky


Wah bagus sekali. Anna


Walaupun Ricky dan Anna suka dengan hasil rancangan Sintia, tapi dia bersikap cuek pada Sintia. Sintia yang merasa sikap dua kakak beradik itu cuek bebek ingin segera keluar dari rumah itu.


"Maaf boleh saya mengukur kalian sekarang biar bajunya cepat jadi. Soalnya kan waktu acaranya sudah dekat."


"Okay! Aku duluan ya yang di ukurnya."


"Mana ada. Aku duluan aku kan kakak nya. Ayo saya ukur duluan."


"Jangan begitu kak, kaka harus ngalah sama adiknya."


Dih mereka bisa ngomong juga ternyata, eh mereka juga manusia kan. Tadi aja susah banget tuh dibuka mulut.


"Baiklah kamu duluan." Setelah perdebatan ahirnya Ricky mengalah pada adiknya.


Ahirnya selesai juga tugas ku dan aku bisa keluar dari rumah ini.


"Tia."


"Iya nyonya."


"Berhubung anak tunggal saya, ayahnya Serly sekarang tidak ada di rumah besok kamu bisa kan pergi ke kantor tempat anak saya bekerja."


Apa! Kenapa jadi begini sih.


"Tia besok kamu pergi ke sana ya, ini alamat kantor nya."


"Tapi nyonya saya..."


"Tia saya harap kamu tidak menolak. Dan maaf jika nanti Ricky sikapnya sedikit angkuh dan dingin berbeda dengan adik-adiknya."


Apa! Aku harus hadepin manusia es lagi. Mana kali ini tingkat kakap lagi.


"Yaudah saya pulang dulu nyonya."


"Baiklah, jangan lupa besok temui anak tunggal saya ya."

__ADS_1


Sintia hanya membalas dengan anggukan dan senyuman lalu bergi. Kata Nyonya Mira tadi anaknya yang satu itu sedikit angkuh dan dingin berbeda dengan adiknya. Dih aku bahkan merasa sikap anak yang tadi dingin segitu, gimana nanti aku ngadepin anak sulung nya.


Sambil keluar melewati gerbang Sintia mengerutuk dalam hati.


__ADS_2