SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA

SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA
Istri Idaman


__ADS_3

Semilir angin di pagi hari sangat sejuk jika kita hirup udaranya. Banyak orang yang sengaja menyempatkan dirinya untuk berolahraga kecil di depan rumahnya sambil menikmati udara pagi. Tapi tidak dengan sepasang suami-istri yang baru saja menikah ini. Ricky yang masih tertidur pulas sambil di dekap sang istri sepertinya malas untuk bangun dari tidurnya.


Sintia terlonjak kaget saat matanya mulai di buka secara perlahan. Dia baru sadar kalau sekarang dia sudah menjadi seorang istri dari Ricky yang berstatus duda muda kaya. Terlebih dia kaget dengan dirinya sendiri yang bisa bisanya memeluk Ricky seperti itu padahal semalam sudah ada perjanjian jangan melebihi batasan guling di antara mereka.


Ya ampun kenapa begini. Bukankah semalam kita udah buat pembatas untuk tidak seperti ini.


Lihat Sintia yang kaget sekaligus kesal karena dia sudah melewati batasan itu tapi setelah dia bangun pun tidak langsung melepaskan pelukannya terhadap Ricky.


Ricky mengerjapkan matanya dan dia melihat Sintia yang menunjukkan muka kesalnya sambil tetap memeluk tubuh Ricky. Ricky tersenyum melihat istrinya yang menurut dia mengemaskan itu.


"Nah kan jadi siapa yang sudah tidur melewati batas ini." Tanya Ricky menyadarkan lamunan Sintia.


"Apa! Kamu yang udah tidur melewati batasan ini." Rupanya Sintia gak mau ngaku kalau dia lah yang sudah melewati batasan guling dan memeluk Ricky.


"Aku? Lihat ini kau mendekat ke tempat ku kan dan kau juga yang memeluk ku." Balas Ricky sambil dengan gaya bicara so cool.


Wajah Sintia bersemu merah karena malu. Dia yang salah malah dia yang menuduh Ricky. Aaa kenapa sih aku sampai begini juga.


"Ah maaf." Ahirnya mengalah juga sambil melepaskan pelukannya kepada Ricky. Tapi sebelum pelukannya di lepaskan Ricky sudah bergerak lebih cepat dia mempertahankan pelukan Sintia kepada nya.


"Mau kemana ini masih terlalu pagi." Sekarang giliran Ricky yang memeluk Sintia.


"Sayang aku harus siap-siap untuk pergi ke butik."


Ricky mendongkak melihat ke arah Sintia. "Bukankah kita baru saja menikah. Seharusnya kamu gak boleh kerja dulu. Hari ini aku juga gak kerja."


"Hmm. Apa kita mau seharian di kamar?" Tanya Sintia dengan wajah polosnya membuat Ricky semakin gemas saja.


"Haha. Kalau kamu mau begitu aku akan bersama mu seharian di kamar." Kata Ricky sambil mencubit hidung istrinya.


Tuh kan lagi-lagi aku salah ngomong.


Aaa bisa gila aku kalau terus di dalam kamar sampai seharian. Aku harus keluar dari kamar ini walaupun gak pergi ke butik.


"Sayang." Kali ini Sintia menunjukkan wajah imutnya. "Lihat ini sudah siangkan aku mau mandi dulu ya." Sikap manja yang di tunjukkan Sintia ini malah membuat Ricky semakin enggan untuk melepaskan pelukannya istrinya.


Setelah Sintia berusaha membujuk Ricky ahirnya dia bisa lepas juga dari pelukan Ricky. Sintia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sementara Ricky masih bermalas-malasan di tempat tidur.

__ADS_1


"Sayang kenapa masih disana. Cepat mandi kita harus sarapan kan." Tidak ada respon dari Ricky. Rupanya Ricky pura-pura tertidur untuk menjahili istrinya. Sintia pun mendekat ke tempat tidur untuk membangun kan Ricky.


"Sayang bangun." Sintia mengguncang pelan tubuh Ricky alhasil tidak bergerak juga Ricky dari tempat tidur.


Ya ampun ini suamiku bukan sih. Kenapa dia seperti kerbau begini susah bangun.


Baru dua langkah Sintia bermaksud meninggalkan Ricky tiba-tiba Ricky memeluk dari belakang. Tentu kaget buat Sintia yang mendapat pelukan mendadak begitu.


"Sayang kenapa kau malah tidur lagi ayo cepetan mandi ini udah waktunya sarapan." Bukannya segera bangun, Ricky malah bermalas malasan sambil memeluk Sintia dari belakang.


"Sebentar lagi." Katanya sambil membenamkan wajahnya ke punggung Sintia.


Setelah berusaha melepaskan pelukan suaminya Sintia langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Di dapur ada tiga orang pelayan yang bertugas dalam urusan makanan yang sedang menyiapkan untuk sarapan.


"Bi apa sarapan nya udah siap?" Tanya Sintia pada salah satu pelayan.


"Sebentar lagi nona selesai."


"Emm yaudah biar saya bantu ya." Ketiga pelayan itu saling pandang. Bagaimana bisa seorang nona istri sah tuan mudanya ikut turun tangan dalam urusan dapur.


"Tidak apa-apa. Saya mau menyiapkan sarapan ini bi."


"Tapi nona."


"Udah gak papa bi. Kalau nanti Pak Ricky marah saya yang hadepin ya." Tidak bisa di segah lagi. Ahirnya pelayan itu membiarkan Sintia membantu menyiapkan sarapan.


"Kaka ipar kenapa ada di dapur." Tiba-tiba Anna datang dari kamarnya langsung menuju dapur saat dilihatnya Sintia ada di dapur.


"Ah iya Anna aku lagi bantu bibi nyiapin makanan. Udah kamu tunggu aja di meja makan."


"Nona udah biar saya aja yang nyiapin nya."


"Semuanya udah siapkan. Ayo kita letakan di meja makan." Sintia tidak menggubris larangan pelayan itu dia malah pergi ke meja makan untuk meletakkan sarapan.


Di meja makan sudah ada Anna. Riyan dan juga Ricky yang baru turun dari kamarnya segera mendekat ke meja makan.


"Tia kenapa kamu yang menyiapkan sarapan ini." Tanya Ricky datar karena tidak suka kalau istrinya melakukan hal seharusnya pelayan lakukan.

__ADS_1


"Iya kak. Kaka ipar tadi sibuk bantuin bibi di dapur." Sambung Anna mengadu.


Ricky semakin kesal setelah mendengar ucapan Anna. Matanya mulai melirik tajam ke arah pelayan yang berdiri gak jauh dari Sintia. Sintia menyadari suasana canggung tercipta


Segera dia mendekati suaminya dan bilang kalau dia yang meminta untuk membantu menyiapkan sarapan ini.


"Sayang udah dong jangan marahin bibi ini semua aku yang mau. Emang salah apa kalau aku membantu bibi menyiapkan sarapan buat kita semua." Terdengar Ricky menarik napas panjang. Dia selalu mudah luluh hatinya kalau berurusan dengan Sintia.


"Kamu gak perlu melakukan itu semua. Di rumah ini banyak pelayan jadi kamu gak usah repot-repot bantu mereka."


"Iya iya lain kali aku gak akan melakukannya sayang." udahlah mengalah saja toh juga gak akan menang kalau sudah beradu argumen dengannya. Batin Sintia.


"Memang kaka ipar ini istri idaman banget. Masih mau bantu bibi urusan dapur padahal masih banyak pelayan yang bekerja."


***


Selesai sarapan semua orang pergi untuk menjalankan tugasnya masing-masing. Pak Jaka dan nyonya Mira pergi ke perusahaan cabang yang ada di kota ini karena Riyan mau di resmikan sebagai CEO di perusahaan itu. Sedangkan Anna pergi ke kampus. Tinggal Ricky dan juga Sintia yang akan mengantarkan Serly pergi sekolah.


Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah Serly banyak cerita tentang sekolah nya. Sejak Ricky dan Tamara bercerai Serly jarang sekali diantar oleh ayahnya ataupun mamahnya sendiri. Bercerita tentang itu Serly jadi sedih.


"Serly sayang kamu gak usah sedih lagi ya. Sekarang kan ada bunda yang akan selalu nemenin kamu okay!"


"Beneran bunda?" Tanya Serly gembira dan Sintia hanya menjawab dengan anggukan kepala. "Tapi kan besok atau lusa bunda pasti udah mulai kerja lagi di butik." Sambung Serly dengan wajah cemberut.


"Loh bunda kan bisa berangkat ke butik setelah mengantar Serly sekolah." Serly senang bukan main. Dia sangat bahagia punya bunda baru seperti Sintia.


"Serly maafin ayah ya karena jarang banget banyak waktu untuk kamu sayang."


"Iya gak papa ayah. Ayah kan sibuk bekerja selama ini."


Sesampainya di sekolah Sintia dan Ricky mengantarkan sampai depan kelas Serly. Sebelum masuk ke kelas Serly sempat memeluk Sintia dengan erat.


"Aku sayang banget sama bunda." Begitu yang terucap Serly pada Sintia.


Bukankah ini adalah pemandangan yang indah. Setelah sekian lama ahirnya Ricky bisa melihat senyuman tulus dari Serly anaknya. Apalagi sekarang sudah kembali menjadi keluarga lengkap dengan kehadiran Sintia di hidupnya.


Inilah yang aku inginkan sejak dulu mempunyai keluarga utuh dan hidup bahagia. Tidak salah aku memilih mu untuk jadi istri dan bunda dari Serly.

__ADS_1


__ADS_2