
Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara baik Sintia maupun Anna atau bahkan Bella. Anna sedang sibuk berkutik dengan ponselnya dan Sintia memilih untuk melihat keramaian jalan dari jendela mobil. Bella yang sedang fokus menyetir sesekali melirik ke arah Sintia lewat spion. Nampak seperti ada yang membuat Sintia mengganjal darinya.
"Nona. Apa nona baik-baik saja?" Bella pun memberanikan diri untuk bertanya kepada nona mudanya.
"Apa! Aku baik-baik saja." Jawab Sintia acuh.
Hey apa kamu tau? Kamu lah yang membuat kaka ipar seperti ini, tidak kak Ricky yang membuat dirimu harus selalu ada disisi kaka ipar makanya kaka ipar sangat kesal padamu. Anna
Maafkan aku Bella. Sepertinya aku belum bisa untuk harus terbiasa dengan kehadiran mu sebagai pengawal pribadi ku. Sintia
"Nona Anna apa perlu nanti saya menjemput nona sepulang kuliah? Melihat dari mobil nona yang belum di perbaiki."
"Tidak usah Bella terimakasih." Anna panik saat Bella menawarkan dirinya untuk menjemput Anna. "Aku akan pulang menggunakan taksi online saja."
Bella malah melihat kesal mendengar Anna yang akan menggunakan jasa taksi online. Bukankah saya sudah peringatkan jangan sembarangan dalam melakukan sesuatu. Begitu arti tatapan Bella.
"Ah maksud ku, aku akan suruh pelayan di rumah untuk membawa mobil ku bengkel setelah itu di antar ke kampus ku." Mencari aman ketika tatapan Bella sudah mulai terlihat kesal.
"Baiklah nona. Nanti akan saya hubungi bengkel keluarga untuk memperbaiki mobil nona."
"Iya, terimakasih Bella."
"Sama-sama nona."
Huh padahal tadinya aku ingin sekali nongkrong di cafe. Udah lama sekali aku gak kumpul bareng teman-teman.
***
Mobil sudah berhenti di depan gerbang kampus ternama di negara ini. Kampus ini sangat elite dan mahasiswanya pun berasal dari kalangan menengah dan kalangan atas. Untuk dapat masuk ke Universitas ini pun tidak mudah butuh modal kecerdasan di atas rata-rata dan Anna pun termasuk mahasiswi yang cerdas sehingga dapat masuk ke Universitas favorit ini.
Sebelum Anna keluar dari dalam mobil, Anna sempat membisikkan sesuatu pada Sintia.
"Kaka ipar hati-hati ya jangan sampai harimau gila itu ******* kaka ipar hidup-hidup, haha." Sontak membuat Sintia memukul tangan Anna dengan sangat keras membuat Anna mengaduh.
"Awas kamu ya Anna!"
"Kaka ipar semangat ya kerjanya aku sayang kaka ipar."
Anna memeluk Sintia dengan erat. Lihat senyuman nya sudah kelihatan seperti orang mengejek saja. Sebenarnya Anna bukan tulus memberi Sintia semangat melainkan seperti mengejek bahwa Sintia harus semangat menjalani hari-hari bersama harimau gila.
__ADS_1
"Akan aku usahakan Bella kembali padamu adik ipar tersayang." Bisik Sintia sambil tersenyum nakal.
"Sepertinya kak Ricky gak akan segampang itu melepaskan kaka ipar. Haha"
"Sudah sana! Lama-lama aku pengen nampol kamu Anna." Mulai geram jika harus beradu argumen dengan adik ipar yang satu ini.
Mobil kembali melaju menuju butik. Lagi-lagi Sintia diam seribu bahasa sambil melihat ke luar dari balik jendela mobil. Dia lagi memikirkan sikap bagaimana yang harus dirinya lakukan kalau sedang bekerja sambil diawasi Bella.
"Bella."
"Iya nona."
"Kamu di suruh Ricky hanya mengantarkan dan menjemput ku ke butik saja kan?" Berharap apa yang di katakan Ricky dan Bella berbeda.
"Tidak nona! Nona bisa menyuruh saya untuk melakukan apapun seperti karyawan lainnya. Saya juga harus berada disisi nona kapanpun dan kemanapun nona pergi selama tuan Ricky tidak bersama nona."
Duarr! Ternyata apa yang di khawatirkan Sintia benar-benar terjadi. Ricky mengikat Sintia sampai sejauh ini. Dan apa itu tadi Bella akan selalu di samping Sintia selama dia sedang tidak bersama suaminya.
"Bella bisa kah kamu bersikap seperti biasanya? Ahh maksud ku jangan bicara yang tidak-tidak di depan karyawan ku nanti. Bisa kan?" Bertanya untuk memastikan tidak akan terjadi apa-apa.
"Selagi nona tidak melakukan hal yang tidak disukai tuan Ricky dan tidak akan membuat tuan Ricky marah saya gak masalah."
"Nona pasti sudah mendengar kan cerita dari nona Anna tentang bagaimana cara kerja saya untuk melindungi orang-orang kesayangan tuan Ricky! Jadi saya harap nona bisa mengerti."
Benar! Dia ini Bella. Seorang wanita yang membuat orang lain merasa terkurung begini. Aku akan berusaha supaya aku lepas dari pengawasan Bella.
***
Mobil sudah terparkir di depan butik Sintia. Lia yang baru saja keluar dari butik langsung menghampiri mobil yang di tumpangi Sintia dan Bella. Memastikan siapa yang datang pagi-pagi begini. Karena biasanya tidak ada konsumen yang datang sepagi ini.
Bella sudah keluar duluan dari tempat kemudi. Sedangkan Sintia sedang memakai sepatu karena tadi sempat di copot sepatunya. Bella memutari mobil dan membukakan pintu belakang untuk Sintia.
"Silahkan nona."
"Bella kamu tidak perlu seperti ini. Jangan bersikap berlebihan padaku sampai memperlakukan ku seperti itu."
"Aku hanya menjalankan tugas nona."
"Mbak Tia!" Panggil Lia yang terkejut melihat siapa yang datang. Lebih terkejut lagi saat Sintia keluar dari mobil dan di perlakukan seperti itu.
__ADS_1
"Lia udah datang ya. Apa yang lain juga udah ada?" Sintia buru-buru bertanya sebelum Lia menanyakan perihal Bella. Karena Sintia tau Lia akan menanyakan nya setelah melihat apa yang barusan dia lihat.
"Eh iya sudah ada mbak mereka sedang beres-beres. Mbak itu."
"Yaudah ayo kita masuk." Sintia menarik tangan Lia saat dia mulai ingin bertanya.
"I, iya mbak."
"Kamu jangan bertanya dulu tentang nya sekarang. Kalau waktunya udah pas nanti aku cerita ya dan satu lagi bilang ke karyawan lainnya untuk tutup mulut lebih tepatnya jangan banyak bicara seperti biasanya." Bisik Sintia pada Lia.
"Iya mbak." Untungnya Lia langsung paham apa maksud Sintia.
"Pagi mbak Tia. Eh itu sia..."
"Mil tolong bantu aku disini. Hari ini ada konsumen yang mau bawa barang yang ini." Lia yang sudah diberitahu oleh Sintia langsung sigap saat karyawan lainnya mulai penasaran pada sosok Bella seperti dirinya tadi.
"Mbak siapa orang itu?"
"Suttt jangan banyak tanya tentang nya dulu aku juga belum tau yang jelas jangan bicara yang aneh-aneh kalau dihadapannya. Kalau aku sudah ada info nanti aku kasih tau kalian."
"Baik mbak."
Karyawan Sintia itu memang mudah di ajak kompromi. Selalu cepat tanggap aya yang dikatakan Sintia. Selain itu karyawan di butik juga pandai tutup mulut atas semua rahasia yang ada di butik ini.
"Mbak Tia ada consumer yang ingin bertemu mbak Tia. Katanya mau membicarakan soal pesanan yang akan dia pesan untuk pesta nanti. Apa mbak Tia bisa bertemu dengan nya?" Lia seperti biasa selalu melaporkan agenda Sintia setiap harinya.
"Kapan dia minta ketemu nya?"
"Katanya sebelum makan siang mbak. Dan tempat nya seperti biasa si cafe anbar."
"Baiklah nanti aku kesana. Oh iya tolong siapkan saja gambar-gambar model baju terbaru dari butik kita Lia. Siapa tau mereka mau model terbaru dari butik ini."
"Baik mbak saya siapkan."
"Yaudah kalau ada apa-apa aku di ruangan ya." Lia menjawab dengan anggukan kepala tanpa menoleh ke arah Sintia.
Saat berjalan menuju ruangannya Sintia sempat melihat Bella yang sedang sama sibuknya dengan karyawan lainnya. Sintia menggelengkan kepala tidak percaya. Bagaimana bisa seorang Bella yang termasuk jajaran terpenting dari perusahaan suaminya bisa melakukan pekerjaan seperti ini.
Huh. Untuk saat ini sepertinya masih aman. Bella tidak membuat karyawan ku curiga. Berteman lah kalian maka aku akan menerima Bella dengan baik juga.
__ADS_1