
Hari pun sudah beranjak menjadi siang. Para pekerja kantoran sudah berlalu lalang pulang dari kantor menuju rumah tinggal nya. Arini yang masih di ruangannya baru saja selesai dengan pekerjaannya.
"Akhirnya beres juga nih. Kerjaan yang lainnya lanjut besok. Akan sangat banyak pekerjaan baru untuk ku. Tugasku semakin berat setelah naik jabatan ini."
Arini menggerakkan badannya ke kiri dan kanan untuk mengusir kepegalan. Terlihat Arini pun meletakan tangannya di atas meja. Riyan yang memperhatikan Arini dari jauh tersenyum manis.
"Tak salah aku memilih kamu untuk menjadi ketua divisi humas di perusahaan ini. Ternyata kamu benar-benar cewek yang bekerja keras dan bertanggung jawab dalam melaksanakan kewajibanmu." Riyan tersenyum manis penuh kebanggaan melihat perjuangan Arini.
Alex yang berdiri disamping Rian pun melihat bahwa Riyan sedang senyum-senyum melihat Arini dari kejauhan.
Si bos ini kenapa senyum-senyum sendiri apa jangan-jangan dia suka sama Arini! Siapa sih sebenarny Arini ini, jadi penasaran.
Riyan pun berjalan menuju Arini yang berada di ruangannya. Kemudian dia masuk tanpa mengetuk pintu. Arini pun terperanjak yang sedang melamun di kursinya.
"Maaf tuan ada yang bisa saya bantu?" Arini heran, kenapa bisa sampai kesini sih duo orang compleks ini.
"Kenapa kamu masih di sini?" Ricky malah balik bertanya kepada Arini. "Sepertinya aku cukup senang punya karyawan sangat rajin. Bahkan orang lain sudah pulang pun kamu masih ada disini dengan tugas-tugas itu."
"Hehehe ini tadi ada kerjaan sedikit. Jadi saya akan menyelesaikannya dan sekarang saya akan pulang." Ryan pun mangut mangut dengar ucapan Arini. Kemudian Arini beranjak dari kursinya.
"Maaf tuan saya permisi dulu saya mau pulang karena masih ada urusan lain."
"Siapa suruh kamu pulang?" Arini mengernyit mendengar pertanyaan Riyan.
Ini sudah saatnya pulang kan. Emang kamu mau aku tinggal disini apa. Dasar! Arini
Bilang aja kalau anda mau mengantarkan nona Arini tuan jadi gak perlu berdebat seperti ini. Alex
"Ayo ikut biar aku yang antar kamu pulang."
Nah kan. Alex menggelengkan kepala.
"Terima kasih tuan tidak perlu repot-repot, saya bisa pulang sendiri. Lagian saya juga ada janji dengan teman saya jadi saya mampir ke suatu tempat dulu." Arini menolak dengan kata-kata yang sangat halus.
"Kamu ini ya saya ini kan bos kamu. Harusnya kamu patuh kepada saya dan ini apa? Saya baru saja menaikkan jabatanmu dan kamu tidak patuh begini." Arini mendengus kesal.
Ya ampun ini orang kenapa sih. Dia itu nawarin aku, tapi bukan serasa nawarin tapi malah serasa maksa.
Si bos ini, bilang aja kalau dia itu mau nganterin, pakai malu-malu segala.
"Ya udah saya ikut tuan." Pasrah.
__ADS_1
"Nah begitu kan bagus. Ayo!"
Arini pun berjalan beriringan dengan Alex. Arini yang mau duduk di kursi belakang pun gak jadi setelah melihat tatapan tajam Riyan. Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara. Arini melihat keluar melalui jendela begitu pun dengan Ricky yang sibuk dengan handphone nya. Sedangkan Alex sedang menyetir pokus. Kemudian Arini teringat sesuatu. Dia mengambil handphonenya di dalam tas dan mengetik pesan untuk Sintia.
"Tia maaf ya aku gak jadi ketemu sama kamu karena aku pulang bersama si cowok rese." Sambil di selipkan tanda emot kesal. Pesan terkirim. Riyan yang melihat Arini mengetik pesan untuk seseorang menjadi curiga dan pengen tahu.
"Untuk siapa kamu mengirim pesan."
Kepo. Arini
Ngapain si bos tanya-tanya. Alex
"Kenapa harus bertanya? Apa urusannya dengan mu."
"Lihat kamu ini ya gak punyasopan santun. Saya ini bos kamu loh!"
"Iya anda benar kalau anda itu Bos saya. Tetapi itu di kantor dan kalau di luar kantor apalagi sudah tidak jam kerja saya bisa melawan anda wahai tuan muda Riyan." Alex menahan tawa mendengar Arini yang membantah Riyan.
"Beraninya kamu Alex menertawakan ku." Melihat dari punggung Alex yang sedikit terguncang.
"Maafkan saya tuan."
"Kenapa masih tanya itu? Apakah kamu cemburu."
"Apa? Aku Cemburu. Kenapa harus cemburu pacar juga bukan."
"Lalu Kenapa anda bertanya seperti itu ya?"
"Saya hanya pengen tahu saja." Jawab Riyan acuh.
"Baiklah saya tadi mengirim pesan untuk pacar saya." Jawab Arini bohong.
"Oh ya." Riyan tidak percaya dengan jawaban Arini.
"Karena tadi saya kan sudah bilang kalau saya itu mau ketemu seseorang. Dan sekarang tidak jadi karena anda mengajak saya untuk pulang bareng."
"Alex." Riyan beralih pada Alex.
"Iya tuan." Kenapa harus bawa-bawa saya juga.
"Apa yang kamu tadi dengar di kantor bahwa Arini akan bertemu dengan pacarnya?"
__ADS_1
"Maaf tuan, kalau tidak salah tadi nona Arini akan pergi menemui seorang sahabat nya bukan pacarnya." Duarr Arini ketahuan berbohong.
Kenapa kalian kompak sekali kalau urusan menjahuli ku.
"Udahlah nggak usah sok-sokan punya pacar. Udah tahu tadi kan mau ketemu sahabatnya pasti kamu mau ketemu Kakak ipar kan?"
"Iya aku memang mau bertemu Sintia tadi, tapi karena kamu ngajak aku pulang jadi gak jadi deh. Lagian sok tahu sekali sih kamu, aku itu enggak jomblo. Aku itu udah punya pacar."
Riyan tertawa seperti mengejek Arini yang mengaku punya pacar. Padahal Riyan tau kalau Arini tidak punya kekasih.
"Kenapa? nggak percaya aku punya pacar apa."
"Ya udah kalau kamu mau ketemu Kakak ipar ikut saja ke rumah. Nanti kalian bisa bertemu di sana kan."
"Tidak perlu! Saya kalau mau ketemu bisa besok lagi." Jutek Arini menjawab.
"Ya udah kalau nggak mau. Aku sih hanya nawarin saja."
"Iya terima kasih atas tawarannya."
Mobil pun berhenti di depan rumah Arini. Sebenarnya Arini heran kenapa Alex tau rumah Arini padahal Arini belum menujukan jalannya. Tapi Arini sedang malas bertanya dan buru-buru keluar mobil.
"Oh iya, terima kasih ya Alex." Arini pun keluar dan Ricky menurunkan kaca mobilnya kemudian hari ini mengucapkan terima kasih kepada Alex.
"Terima kasih ya Alex karena sudah mengantarkan aku dan juga kamu terima kasih sudah mengantarkan aku pulang." Riyan hanya mengangguk saja.
"Zaki kenapa kamu masih di sini? Emang mau sampai kapan kita disini?"
"Hehehe maaf tuan."
"Kamu suka ya sama Arini? Cari pacar sana soalnya tadi kan dia bilang kalau dia itu punya pacar jadi kamu itu jangan pernah deketin dia." Alex hanya menarik nafas panjang mendengar omelan Riyan.
Bilang aja kalau Tuhan itu suka sama Mbak Rini dan gak mau kalau mbak hari ini pacaran sama saya itu aja.
***
Sintia dan Bella yang baru saja melewati jalanan yang ramai. Kemudian saat melihat ponselnya ada pesan dari Arini bahwa dia tidak akan jadi ketemu.
"Bella aku nggak jadi mampir ke cafe karena Arini katanya sudah pulang ke rumah. Jadi kita bisa langsung pulang aja ya."
"Baik nona." Bella pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1