SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA

SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA
Kenangan Sintia (Part 1)


__ADS_3

Sebuah rumah yang terbilang sangat mewah dan besar dari jajaran komplek elite. Kini Sintia ada di dalamnya besama keluarga terhormat dan juga menyayangi nya. Setelah bertahun-tahun Sintia harus hidup mandiri seorang diri kini kehidupan nya berubah drastis.


Pejuangan dan doa-doa yang selalu dia panjatkan untuk bisa hidup dengan sebuah keluarga seperti orang lain sudah bisa dia rasakan. Mengingat perjuangan hidupnya di masa lalu membuat Sintia meneteskan air matanya.


Aku selalu menangis kalau mengingat perjuangan hidup ku dulu. Tapi aku bersyukur sekarang bisa hidup bahagia dengan suami dan keluarga yang menyayangi ku.


Sintia tidak bisa mencegah air matanya untuk tidak keluar. Sekarang dia sedang berada di sebuah taman yang berada di belakang rumah.


***


Setelah penyerahan CEO baru di perusahaan cabang, nyonya Mira dan Tuan Jaka kembali pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan menuju pulang nyonya Mira banyak bicara tentang Arini. Bahkan dia menyebutkan kalau Riyan mau di jodohkan dengan Arini.


"Udahlah mih ngapain sih jodoh jodohin Riyan dengan Arini nanti juga kalau mereka berjodoh gak bakal kemana." Sepertinya tuan Jaka sudah jengah mendengar istrinya yang terus menerus membahas perjodohan.


"Papih ini gimana sih. Mamih itu kepengen Riyan seperti Ricky yang mendapatkan pendamping hidup sebaik Sintia."


"Apa mamih lupa. Dulu mamih juga mau menjodohkan Ricky dengan Sintia kan? Tapi apa? Ricky sudah mengenal Sintia lebih dulu sebelum mamih menjodohkan nya. Papih rasa begitu pun dengan Riyan."


"Iyah mamih tau. Tapi kan kita juga sebagai orang tua harus ikut serta juga kan untuk kebaikan anaknya." Tuan Jaka hanya angkat bahu. Percuma juga beradu argumen dengan mamih toh dia gak akan bisa ngalah juga batin tuan Jaka.


Sesampainya di rumah tuan Jaka langsung menuju ruang kerjanya. Sedangkan nyonya Mira menuju dapur mencari para pelayan.


"Bi Ricky dan Sintia kemana?"


"Tadi ada pak Zaky kemari menjemput tuan muda Ricky katanya ada meeting penting di kantor. Kalau nona Sintia saya lihat tadi dia menuju taman belakang nyonya. Apa mau saya panggil kan?"


"Ah tidak perlu saya yang akan kesana. Tolong simpan kan ini aja bi ke kamar." Nyonya Mira menyerah kan tas nya ke pelayan.


"Baik nya."


Nyonya Mira pergi menuju taman di belakang rumah mencari keberadaan Sintia. Langkah kakinya terhenti saat melihat Sintia yang berada di sebuah vila sedang menangis.

__ADS_1


Kenapa dia menangis? Apa yang dia pikiran? Apa dia gak betah tinggal disini?"


Melihat Sintia menangis di taman belakang membuat praduga nyonya Mira bermunculan. Nyonya Mira pun melanjutkan langkah nya mendekati Sintia. Dia ingin tau apa yang menyebabkan Sintia sampai menangis seperti itu.


"Sintia." Panggil nyonya Mira sambil memeluk Sintia dari samping. Mendengar namanya di panggil Sintia buru-buru menyeka air matanya dan menoleh ke nyonya Mira.


"Eh mamih, udah pulang ya." Tanya Sintia sambil berusaha tersenyum.


"Kenapa?" Kenapa kau menangis.


"Ah Sintia gak papa mih."


"Jangan bohong! Kenapa kamu mau menangis seperti ini? Apa kamu tidak bahagia tinggal disini?" Tanya nyonya Mira sambil membelai pipi Sintia.


"Bukan begitu mih. Sintia bahagia kok tinggal disini apalagi di kelilingi oleh orang-orang yang menyayangi Tia." Jawab Sintia sambil menghambur ke pelukan nyonya Mira.


"Lalu kenapa tadi kamu menangis?"


"Tia sayang kalau kamu mau cerita mamih mau kok dengerin cerita kamu. Kamu bisa ceritakan semuanya ke mamih buat penghilang rasa sedih mu." Nyonya Mira berubah membujuk Sintia untuk bisa membuat Sintia tenang. Padahal sebelum Sintia membuka ceritanya nyonya Mira sudah tau semua perjalanan hidup Sintia sejak awal.


*Flashback On*


Sintia adalah anak tunggal dalam keluarga nya. Dia anak yang sangat pintar di sekolah nya sehingga banyak teman dan guru yang mengagumi nya. Ayah dan ibunya sebagai penjual pakaian di sebuah toko baju kecil yang ada di kampung. Toko baju itu adalah impian dari sang ayah dan ibu Sintia karena mereka menginginkan nya apalagi kalau sampai punya karyawan. Bukan soal karyawan nya tapi lebih ke dapat membantu orang lain dalam membuka lapangan pekerjaan.


Waktu itu tiba saatnya Sintia mengikuti ujian ahir di sekolahnya. Dan selang beberapa minggu hasil ujian Sintia sudah keluar dari pihak sekolah sehingga pihak sekolah mengadakan acara perpisahan untuk siswa yang sudah lulus sekolah nya.


"Ibu, ayah kalian akan datang kan ke acara di sekolah besok?" Tanya Sintia pada ayah dan ibunya.


"Ayah dan ibu pasti akan datang sayang. Kan ayah mau lihat kamu di wisuda." Jawab ayahnya sambil tersenyum bahagia.


"Tia ibu bangga punya anak seperti mu. Kamu anak yang pintar sampai kamu bisa mendapatkan beasiswa di SMA favorit di ibu kota nak."

__ADS_1


"Aaa ibu ini semua juga berkat doa ayah dan ibu kan?" Ayah dan ibu Sintia tersenyum.


Besoknya Sintia berangkat ke sekolah tidak bersama ayah dan ibunya. Karena banyak yang harus Sintia siapkan di sekolah makanya dia berangkat lebih pagi. Ibu dan ayah nya akan berangkat agak siangan.


Acara perpisahan sudah di mulai. Ibu dan juga ayah Sintia belum juga nampak hadir di sekolah. Sampai pada ahirnya Sintia mendapatkan penghargaan karena prestasinya di sekolah orang tua Sintia belum juga kelihatan dan memutuskan Sintia untuk mengabadikan momen perpisahan nya tanpa di dampingi oleh orang tuanya.


Saat Sintia mau pulang ke rumah tiba-tiba ada panggilan yang masuk ke ponselnya. Rupanya adik dari ayah Sintia menelpon.


"Hallo paman. Ada apa?"


"Tia apa acara perpisahan mu sudah selesai?"


"Baru saja selesai. Kenapa?" Tanya Sintia.


"Ayo kita pulang. Paman menjemput mu sekarang paman lagi ada di depan gerbang sekolah mu." Sintia heran kenapa sampai pamannya menjemput Sintia segala.


Sintia langsung berlari menuju gerbang sekolah. Dia mencari keberadaan pamannya itu.


"Paman." Panggil Sintia berteriak.


"Tia ayo ikut paman. Ayah dan ibumu sedang menunggu." Paman Sintia langsung menarik tangan Sintia dengan terburu-buru.


Setelah dalam mobil Sintia terus bertanya pada pamannya. Akan tetapi pamannya tidak pernah menjawab kemana dia akan membawa Sintia pergi. Sudah jangan banyak tanya, sekarang siapkan saja hatimu ya. Hanya begitu jawaban paman di setiap pertanyaan Sintia.


Saat mobil sudah terparkir di area rumah sakit Sintia langsung terkejut. Hati dan pikiran nya sudah mulai berpikir macam-macam.


Kenapa kita ke rumah sakit paman bilang tadi mau bertemu ayah dan ibu. Apa jangan jangan. Sintia semakin tidak tenang saat kaki nya melangkah menuju rumah sakit.


"Paman ngapain kita kesini?"


"Ayo." Paman menarik tangan Sintia sambil berjalan cepat.

__ADS_1


Maafkan paman Tia. Paman gak kuat kalau harus mengatakan kalau ibu dan ayahmu kecelakaan. Biar kamu lihat sendiri aja ayah dan ibumu paman harap kamu bisa tegar ya sayang.


__ADS_2