SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA

SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA
Aturan Untuk Sintia


__ADS_3

Pagi hari yang sangat cerah. Sinar mentari sudah mulai menampakan dirinya dan semua orang pekerja keras mulai sibuk untuk berangkat bekerja.


Sintia yang sedang menunggu Arini bersiap sudah mulai kesal karena lamanya Arini berdandan.


"Arini cepetan kalau lama begini bisa jadi manusia aneh itu datang kesini." Teriak Sintia karena dia mencari celah untuk lolos dari genggaman Bella. Kalau dia berangkat lebih pagi bisa di pastikan Bella tidak akan mengantarnya.


"Iya, iya aku selesai. Ayo." Ajak Arini setelah selesai bersiap.


"Lamanya pake banget lo." Arini hanya menjawab cengengesan.


Baru aja Sintia membuka pintu sudah dikejutkan dengan kehadiran Bella yang sedang duduk d bangku depan kontrakan.


Ya ampun ini orang sejak kapan ada disini?


"Selamat pagi nona Sintia dan juga nona Arini." Sapa Bella sambil menganggukan kepala.


Arini menyenggol lengan Sintia. Sejak kapan dia ada disini. Rencana untuk pergi tanpa pengawasan Bella hancur sia-sia. Sebenarnya Sintia ingin sekali bicara pada Bella. Tapi karena dia males untuk berdebat pagi-pagi begini makanya Sintia langsung pergi dan masuk kedalam mobil.


Dalam perjalanan pun tercipta keheningan tidak ada yang berbicara sama sekali. Bella yang sedang fokus menyetir dan Arini fokus dengan ponselnya. Sedangkan Sintia sedang bergelut dengan pikiran nya.


Sesampainya di butik Sintia langsung menuju ruangan nya sedangkan Arini bergabung bersama Lia dan karyawan lainnya. Bella menghampiri Sintia di ruang kerjanya.


"Maaf nona ada yang ingin saya bicarakan dengan anda." Kata Bella sambil duduk d kursi depan Sintia.


"Ada apa?" Jawab Sintia malas.


"Saya tau nona keberatan dengan keberadaan saya disini. Nona juga tidak nyamankan dengan sikap saya terhadap nona?" Sintia hanya menganggap bahwa itu omong kosong. Toh walaupun dia tidak suka Ricky akan tetap menyuruh Bella untuk mengawasinya kan.

__ADS_1


"Jika nona mau, saya bisa berhenti untuk jadi asisten pribadi nona." Wajah Sintia berbinar senang saat mendengar ucapan Bella.


"Apa? Apa ini artinya saya bisa bebas dari pengawasan kamu?" Tanya Sintia antusias.


Bella hanya tersenyum mendengar ucapan Sintia. "Asal nona Sintia bisa mematuhi apa aja yang di inginkan Pak Ricky dan meninggalkan kebiasaan buruk yang tidak Pak Ricky sukai itu bisa membuat saya pergi dari dan kembali ke perusahaan." Kata Bella menjelaskan.


Apa? Maksudnya apa sih.


"Bella aku ini bukan kamu ataupun asisten Zaky. Jadi bisakah kamu menjelaskan lebih detail lagi." Suara Sintia mulai kesal dengan perkataan Bella.


Bella menyerahkan sebuah map. "Apa ini?" Tanya Sintia sambil meraih map itu.


"Itu adalah aturan yang harus nona patuhi. Silahkan nona lihat apa aja yang boleh dan yang gak boleh nona lakukan." Dalam map itu berisi aturan-aturan yang dibuat Zaky atas perintah Ricky. Aturan itu harus dipatuhi Sintia.


Sintia membuka map tersebut. Dia membaca point demi point yang tertulis di kertas itu. Selesai membaca semua aturan yang harus di patuhi, Sintia mengepal kan tangan karena kesal.


Tidak habis pikir dengan cara berpikir Ricky. Menurut Sintia ini sangat berlebihan. Sampai hal sepele pun masuk dalam draf aturan ini.


Sintia memanggil Bella untuk ke ruangannya. Saat Bella masuk ke ruangan itu Sintia melihat senyuman dari bibir Bella. Senyuman Bella membuat Sintia semakin kesal.


"Maaf nona apa nona manggil saya? Apa ada yang nona butuhkan."


"Bella apa-apaan ini." Tanya Sintia sambil menunjukkan map yang berisi aturan untuk Sintia. "Apa ini gak terlalu berlebihan tidak ini sangat berlebihan."


"Sekarang nona taukan seberapa besar tanggung jawab saya untuk menjaga nona?"


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Sintia setelah merasa sangat pusing sendiri.

__ADS_1


"Nona tinggal pilih aja. Pilih selalu diawasi saya atau mematuhi sendiri semua aturan yang dibuat Pak Ricky?"


Aaa aku pusing. Kenapa semuanya sampai bisa begini sih.


Mendengar Bella beradu argumen dengan Sintia membuat Arini dan Lia masuk ke ruangan.


"Ada apa mbak Tia?" tanya Lia khawatir.


Sedangkan Arini hanya menghela nafas seperti sudah tau apa yang telah terjadi. "Bella bisa tidak kamu sebentar saja gak ribut dengan Tia."


"Apa yang nona katakan. Mana mungkin saya berani ribut dengan nona Sintia. Saya hanya menyampaikan pesan dari Pak Ricky." Jawab Bella santai.


"Pesan apa?" Sintia menyerahkan sebuah map pada Arini. "Apa ini?"


"Itu adalah aturan yang harus di patuhi oleh nona Sintia. Jika nona Sintia ingin bebas sendiri maka nona Sintia harus mematuhi semua aturan ini."


Arini dan Lia langsung membuka map itu. Baru beberapa point saja yang dibaca Arini, dia sudah geram duluan.


"Apa-apaan ini. Aturan macam apa!"


"Nona. Mungkin di mata nona aturan ini sangat aneh. Tapi ketika nanti nona Sintia sudah menjadi istri atau bagian dari keluarga Pak Ricky maka aturan ini harus sangat dipatuhi." Jelas Bella.


"Bagaimana bisa mbak Sintia menghafal semua aturan ini. Mana banyak sekali lagi." Kata Lia sambil terus membaca poin demi poin aturan itu.


"Bella apa aku memang harus mematuhi aturan ini?" Tanya Sintia yang sudah mulai nyerah. Bella menganggukan kepala untuk menjawab.


Sudahlah gak berguna juga kalau kita terus berdebat. Toh ahirnya aku juga harus patuh terhadap perintah Pak Ricky.

__ADS_1


Setelah mempertimbangkan ahirnya Sintia mengalah juga kalau Bella akan tetap mengawasinya. Sebenarnya Sintia pengen bebas dari Bella. Melihat aturan yang dibuat Ricky membuat nyalinya menciut.


__ADS_2