
Malam semakin larut. Para penghuni rumah utama sudah masuk ke kamar masing-masing. Sintia dan Arini pun sudah masuk ke dalam kamar tamu. Mereka sekamar berdua karena permintaan Sintia. Arini sudah sejak tadi merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Mungkin karena lelah dia jadi sangat capek dan ngantuk.
Sintia masih belum tidur juga. Dia susah mengerjapkan matanya. Pertunangan tadi masih terngiang-ngiang di pikirannya.
Pertemuan ketiga ku dengan pak Ricky berubah lamaran. Apakah dia benar-benar menginginkan ku jadi istrinya atau hanya untuk membalas dendam istrinya.
Ricky terkenal dengan sosok lelaki tampan yang berkarir. Dia hidup bersama dengan keluarga yang serba mewah. Ricky bisa mendapatkan apa saja yang dia mau, bahkan wanita pendamping hidup pun mudah sekali dia dapatkan. Dia bahkan bisa menikahi seorang ganis konglomerat yang selevel dengan nya. Tapi kenapa dia memilih Sintia sebagai istrinya. Bukanlah Sintia gadis biasa, bahkan dia sudah tidak punya keluarga.
Sintia yang masih bergelut dengan pikiran nya masih tidak bisa tidur. Sintia melihat ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 02 pagi.
Huh. Kenapa aku susah tidur begini.
Ahirnya Sintia berusaha memejamkan matanya dan kemudian dia pun sudah tertidur lelap.
***
Pagi hari yang cerah. Sinar matahari sudah mulai menampakan dirinya. Para pelayanan di rumah utama sudah mulai sibuk beraktivitas dengan tugas nya masing-masing.
Saat Arini mulai membuka matanya terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Siapa sih pagi-pagi udah ketuk pintu aja.
Saat membuka pintu kamar Arini kaget sendiri. Dia baru sadar kalau dia bukan tidur di rumah nya atau d kontrakan Sintia. Seorang pelayanan memberikan dua buah pakaian pada Arini.
"Ini pakaian siapa?" Tanya Arini setelah menerima pakaian itu.
"Itu pakaian untuk nona Sintia dan juga temannya." Ucap pelayanan.
"Makasih ya bi." Pelayanan hanya mengangguk dan pergi berlalu.
Saat melihat pakaian itu Arini terkejut. Pakaian yang diberikan pelayanan itu bukan pakaian biasa. Pakaian mahal dan mewah yang sedang trending.
Inikan pakaian mahal. Sepertinya ini dari nyonya Mira atau Pak Ricky. Gak mungkin kan pelayanan punya baju ini apalagi di pinjam kan.
Arini segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu dia keluar dengan menggunakan pakaian baru. Sintia yang melihat Arini memakai baju baru memicingkan matanya.
"Rin dari mana baju itu."
"Ini baju dari mamah mertua lo Tia. Sudah sana cepetan mandi. Di ruang ganti ada baju juga buat lo." Kata Arini sambil mengeringkan rambutnya.
Sintia masuk kedalam kamar mandi. Tidak lama kemudian terdengar gemercik air berjatuhan. Tiba-tiba Arini sekelebat memikirkan nasib sahabat nya itu.
__ADS_1
Jika memang Pak Ricky itu adalah jodoh lo Tia, gue akan bersyukur. Sekarang lo gak sendiri lagi kan. Keluarga Pak Ricky keliatannya juga sayang pada lo. Gue akan sangat senang jika lo bahagia. Bukankah itu janji gue pada lo. Menemani lo sampai hidup bahagia.
"Sintia. Arini."
"I, iya sebentar." Arini berlari membuka pintu. "Nyonya. Selamat pagi." Sapa Arini.
"Pagi juga Rini. Sintia mana?" Tanya Bu Mira saat melihat Sintia tidak ada di kamar.
"Sintia lagi mandi dulu."
"Yaudah kalau kalian sudah selesai langsung ke ruang makan ya. Kita sarapan bersama."
"I, iya nyonya terimakasih." Jawab Arini canggung.
"Nyonya." Panggil Arini saat Bu Mira sudah mulai berjalan. "Makasih untuk bajunya. Nanti akan saya kembalikan setelah di cuci."
Bu Mira tersenyum mendengar ucapan Arini. "Gak usah di kembalikan. Itu buat kamu dan Sintia."
"Aaa makasih, terimakasih banyak nyonya." Balas Arini dengan girang.
Bu Mira hanya menggeleng kan kepala melihat tingkah lucu Arini.
Gadis itu. Sepertinya dia memiliki kepribadian yang sama dengan Sintia.
Kenapa aku harus duduk disini sih. Males benget liat muka es balok itu. Arini
Sial. Kenapa dia harus duduk disana sih. Batin Riyan mengerutuk sambil mendelik ke arah Arini.
Tidak ada pembicaraan selama mereka sarapan. Hanya ada suara sendok dan garpu aja. Setelah selesai makan Bu Mira berbicara.
"Oh iya Tia. Kamu harus siap siap untuk minggu depan ya."
Siap-siap? Minggu depan? Memang ada apa lagi sih.
Sintia prustasi sendiri dengan rencana yang akan Bu Mira lakukan lagi. Bu Mira yang melihat Sintia kebingungan ahirnya dia menyampaikan rencananya.
"Minggu depan adalah pesta pernikahan kamu dan Ricky." Duarr seperti dilempar kan bom tepat di wajah Sintia. Bukan hanya Sintia, Arini pun ikut terkejut.
Pernikahan? Gila cepat bener.
Nikah? Aaa aku gak mau! Aku bahkan belum siap sama sekali.
__ADS_1
"Tapi saya."
"Gak ada yang bisa menolak perintah saya. Saya juga sudah menyiapkan semuanya, jadi jangan ada yang protes." Ucap Bu Mira saat Sintia ingin memberi alasan.
Mendengar itu Sintia hanya bisa berdo'a agar semuanya baik-baik saja.
***
Ricky berangkat kerja agak siang karena harus mengantarkan Sintia dan Arini pergi ke butik. Meskipun Sintia sudah menolak untuk di antar tapi Ricky tetap mengantarkan nya. Arini duduk di kursi depan bersama Zaky. Sedangkan Sintia dan Ricky berada di kursi belakang.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang bicara. Ricky pun hanya menatap sekilas ke arah Sintia yang sedang gusar. Ricky menenangkan Sintia dengan meraih tangan nya.
"Apa yang kamu pikirkan? Jangan khawatir semua akan baik-baik saja." Ucap Ricky pelan.
"Tapi." Ricky menempelkan jari telunjuk nya di bibir Sintia agar tidak bicara.
"Jika kamu belum mencintai saya, kita bisa belajar saling mencintai setelah menikah. Percayalah semua akan berjalan dengan baik." Ucap Ricky tersenyum sambil tetap menggenggam tangan Sintia.
Setelah sampai di butik Sintia dan Arini mengucapkan terimakasih pada Ricky dan Zaky. Sebelum pergi Ricky mengatakan sesuatu lagi pada Sintia.
"Jika terjadi sesuatu bicarakan padaku. Jangan sampai aku tau dari orang lain, jika ada sesuatu padamu dan aku mengetahui itu dari orang lain." Ucapan Ricky menggantung membuat Sintia semakin gugup. "Maka aku akan menghukummu. Jadi Katakanlah semuanya." Kata Ricky sambil berjalan menginggal kan Sintia yang masih melamun.
Hey apa-apaan ini. Kamu mau melindungi ku tapi gaya bicara mu seakan mengancam ku.
Ahirnya Sintia masuk ke dalam butik dan mulai bekerja.
Di dalam mobil Zaky yang sedari tadi menyimpan rasa penasaran pada Arini. Dia ingin bertanya tapi keberanian untuk bertanya malah tidak ada. Ahirnya dia bertanya pada Ricky.
"Pak. Maaf kalau boleh saya tau perempuan yang tadi siapa ya?"
"Dia Sintia, calon istri ku. Bukankah kamu sudah tau kenapa bertanya lagi." Jawaban Ricky terdengar kesal.
"Bukan nona Sintia. Tapi yang duduk di sebelah saya tadi." Kata Zaky sambil sedikit tertawa.
"Huh. Kamu itu ya. Kenapa gak tanya langsung aja tadi, bukankah kalian duduk bersebelahan?"
"Kan malu pak."
"Punya malu juga kamu ya." Ejek Ricky. "Dia teman nya Sintia. Namanya Arini. Kenapa?"
"Nggak papa pak. Cuma nanya aja, hehe."
__ADS_1
"Dih. Kalau kamu suka deketin dia. Udah d ambil orang baru tau rasa kau." Kata Ricky sambil tertawa.
Zaky hanya tersipu malu mendengar perkataan dari Ricky. Dia kembali pokus mengemudi mobilnya dengan kecepatan sedang.