SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA

SUAMIKU SEORANG DUDA KAYA
Perjuangan Tamara


__ADS_3

Setelah mengantar Serly sekolah Ricky menyibukkan dirinya di ruang kerja. Nasib seorang presdir walaupun tidak masuk kantor tetap harus memantau kerja bawahannya walaupun dari jarak jauh. Sedangkan Sintia langsung masuk ke dalam kamar. Dia juga mengecek keadaan butik nya. Setelah semua merasa aman Sintia menjatuhkan diri di sofa. Menyalakan televisi lalu memilih chanel yang menurutnya sedang menayangkan film bagus.


Saat sedang asik-asik nya menonton televisi tiba-tiba suara ponsel Sintia berbunyi ada video call yang masuk.


"Arini." Saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Halo Arini."


"Tiaa..." Yang di sebrang sana memanggil Sintia dengan berteriak sehingga Sintia menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Ada apa dengan mu Rini?" Sintia kaget sekaligus khawatir takut terjadi apa-apa pada sahabat nya itu.


"Tia kenapa kamu gak memberi tahu aku." Sintia bingung apa yang dimaksud Arini. "Kamu tau tadi di kantor ku ada acara pergantian CEO lama ke CEO baru. Dan ternyata CEO baru itu manusia es balok." Teriak Arini sedang suara dibuat se dramatis mungkin.


"Oh begitu." Jawab Sintia manggut-manggut.


Sebenarnya aku juga udah tau itu tapi sengaja aku gak kasih tau kamu Rin.


"Jadi kamu sudah tau?" Sintia menjawab dengan anggukan kepala."Dasar lo ya! Kenapa gak kasih tau dari awal sih."


"Kan kamu gak nanya Rin." Jawab Sintia dengan enteng nya. "Emang kenapa kalau Riyan yang jadi CEO nya." Padahal gak perlu Sintia bertanya pun pasti udah tau alasannya apa.


Gak bisa dibayangin gimana jadinya kalian yang harus bertemu setiap saat karena ada di perusahaan yang sama. Sintia gak bisa bayangin kalau bertemu harus selalu ribut antara CEO dan anak magang.


"Yeh lo itu ya. Kan tau kalau gue sama manusia es balok itu gak akur."


"Yaudahlah terima aja nasib kamu Rin. Toh udah tanggung juga kan masa iya mau resign gara-gara CEO nya Riyan." Arini mengernyit mendengar ucapan Sintia.


Ini Sintia sahabat ku bukan sih. Baru juga satu hari nikah sama Pak Ricky ko sikap songong nya udah nular aja sih.


"Yaudah sana gih kerja yang rajin biar CEO kamu suka sama kinerja kamu punya anak magang yang sangat rajin." Ledek Sintia sambil tertawa.


"Gila lo Tia. Awas aja ya." Arini kesal sendiri dengan sikap sahabat nya yang seperti itu. Dia langsung memutuskan sambungan vidio call nya.


"Kenapa?" Tiba-tiba Ricky muncul dari balik pintu saat Sintia masih tertawa.


"Eh nggak papa kok." Loh ini orang sejak kapan ada di balik pintu itu?


"Siapa yang menelpon?" Sepertinya Ricky tau kalau Sintia baru saja mengakhiri sebuah panggilan.


"Arini." Jawab Sintia singkat. Rupanya Ricky masih ingin tau alasan kenapa Arini sampai menelpon Sintia. "Ah dia tadi bilang kalau di perusahaan tempat kerjanya ada pergantian CEO baru dan dia tidak menyangka kalau CEO baru itu adalah Riyan." Mencoba menjelaskan agar tidak bertanya lagi.


"Aku gak nanya itu." Duarr Sintia berhasil dijahili suaminya lagi.


Tadi aja mukanya seperti minta penjelasan alasan Arini menelpon sekarang malah seperti itu. Dasar ucapan sama mimik wajah tidak sejalan.


"Udah selesai sayang pekerjaannya?" Sudahlah bertanya aja biar gak salah bicara lagi.


"Tadi Zaky nelpon aku." Kata Ricky.

__ADS_1


"Gak nanya." Gumam Sintia pelan sambil mendelik.


"Apa? Barusan kamu bilang apa?" Ternyata Ricky mendengar gumaman Sintia walaupun Sintia mengatakan dengan sangat pelan. "Apa kau sedang balas dendam padaku?" Ricky mendekat kan wajahnya ke wajah Sintia. Sehingga sangat dekat wajah mereka saat ini.


"Haha tidak sayang." Tertawa sambil berusaha menjauhkan wajahnya dari wajah Ricky tapi usahanya gagal dan cup Ricky malah mengecum bibir mungil milik istrinya.


Sintia terbelalak saat mendapat kecupan dari Ricky. Wajahnya bersemu merah menahan malu.


"Hey mau sesenang itu kau mendapat kecupan dari ku? Lihat wajah mu sampai merah padam begitu." Lihat wajahnya mu menjadi semakin imut saja.


"Ah tidak sayang. Aku hanya?


" Apa? "


"Ah tadi Zaky menelpon mu kan? Ada apa sayang?" Sintia malah mengalihkan pembicaraan nya.


"Di kantor ada meeting penting yang tidak bisa di wakilkan." Jawab Ricky lemas.


"Jadi kamu harus kesana?" Tanya Sintia yang dijawab dengan anggukan pelan Ricky. "Yaudah kalau memang itu penting kamu pergi aja. Aku gak papa ko disini kan ada bibi juga yang nemenin."


"Beneran gak papa?" Tanya Ricky sambil menatap wajah Sintia.


"Iya sayang gak papa kok. Lagian sebentar lagi pasti mamih pulang kan?"


"Ingat ya selama aku pergi kamu jangan cari-cari kesempatan untuk keluar rumah walupun itu hanya ke butik."


"Iya.Iya sayang aku gak akan kemana mana ko." Kata Sintia sambil mengedipkan sebelah matanya. "Yaudah aku siapin dulu pakaian kamu ya." Sintia langsung berjalan menuju ruang ganti untuk menyiapkan pakaian suaminya.


Sesampainya di kantor Ricky langsung menuju ruangan meeting. Hampir tiga puluh menit Ricky baru bisa mengakhiri meeting nya dan akan segera pulang kembali karena dia masih ingin berasama istrinya. Kalau saja tidak ada meeting penting mungkin seharian ini dia gak akan pergi ke kantor.


Sebelum pulang Ricky mampir dulu ke ruangannya. Zaky selalu setia berada di belakangnya.


"Pak nona Sintia mengirim pesan katanya dia izin keluar untuk makan siang bersama nyonya."


"Biarkan saja. Lagian dia pergi bersama mamih kan bukan sendiri."


"Iya Pak."


Saat Zaky mau membuka pintu untuk masuk ke ruangan Ricky tiba-tiba seorang staf berlari menghampiri nya.


"Ada apa?" Tanya Zaky.


"Di depan ada nona Tamara Pak. Katanya mau bertemu dengan Pak Ricky." Ricky mendengus kesal mendengar siapa yang datang.


"Sudah biarkan dia masuk Zaky."


"Tapi Pak kalau anda mau saya bisa mengurusnya."


"Biarkan saja dia menemui ku untuk yang terakhir kalinya." Kata Ricky sedikit kesal.

__ADS_1


"Baiklah." Zaky beserta Staf menuju ke meja resepsionis.


Zaky melihat Tamara sedang bertengkar dengan karyawan yang ada meja resepsionis itu. Baru melihatnya saja sudah membuat Zaky kesal apalagi nanti kalau udah bertemu Ricky. Rencana apa lagi yang akan dilakukan nya.


Benar-benar tidak punya malu ni orang.


"Nona. Ada apa anda datang kesini?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Bukankah aku adalah istrinya Ricky?" Teriak Tamara.


Cih. Zaky sudah mulai geram dengan tingkah laku Tamara.


"Mantan istri lebih tepatnya nona."


"Dimana Ricky. Aku mau bertemu dengan nya." Tamara tidak menggubris perkataan Zaky.


"Mari nona saya antar."


Di dalam life Zaky terus mengingat kan Tamara agar tidak bertindak ceroboh. Ricky bisa saja murka kalau melihat Tamara yang berusaha meminta kembali lagi pada nya.


"Jadi saya harap nona mengerti apalagi sekarang Pak Ricky sudah menikah lagi kan?" Begitu ahirnya Zaky mengingatkan.


Sesampainya di ruangan Ricky, Tamara dengan tidak malunya langsung duduk di samping Ricky. Namun dengan sigap Ricky melirik Tamara agar jaga jarak dengan nya.


"Ada apa kau kemari?" Tanya Ricky datar.


"Ricky."


"Kalau hanya bicara omong kosong sebaiknya kau pergi saja. Aku tidak mau kau mengganggu hidup ku lagi. Dan jangan pernah kau melukai Sintia sedikitpun! Walaupun hanya seujung rambut." Ricky memberi penegasan terhadap Tamara agar dia sadar diri.


"Ricky bisa kah kau memaafkan ku?"


"Huh. Sudah ku bilang jangan bicara omong kosong lagi di hadapan ku. Sekarang pergilah aku udah tau apa yang akan kamu lakukan."


"Ricky apa kau tidak ingat Serly? Dia masih sangat kecil, dia juga butuh kasih sayang dari seorang ibu kan?" Kini mata Tamara sudah mulai berkaca-kaca. "Aku harap kau bisa menerima ku kembali. Demi Serly."


"Ama kalau gila juga harus ada batasnya! Kau tahu kan aku sudah menikah. Dan jangan pernah memakai Serly untuk bisa kembali padaku. Serly juga selalu bahagia apalagi sekarang ada Sintia yang menjadi ibunya lebih baik darimu."


Ricky tidak mau lama-lama lagi berurusan dengan Tamara. Dia bangun dari duduknya menuju meja kerjanya.


"Zaky antar dia ke depan. Pastikan kalau dia benar-benar pergi."


"Baik Pak. Ayo nona saya antar." Tamara menepis tangan Zaky yang menarik nya secara paksa.


"Aku bisa sendiri."


"Bukankah saya sudah bilang. Jangan lakukan hal yang membuat Pak Ricky kesal." Kata Zaky sambil berjalan di samping Tamara.


Ricky benar-benar tidak bisa memaafkan ku. Tapi lihat saja aku gak akan menyerah sampai disini. Kalau aku gak bisa menggunakan mu, aku masih bisa menggunakan Sintia untuk bisa kembali padamu.

__ADS_1


Tamara masih tetap memikirkan cara yang bagus untuk bisa kembali pada Ricky. Sampai di dalam mobil pun Tamara masih memikirkan nya.


__ADS_2