
Setelah kepergian Ricky Sintia langsung menuju ruang kerjanya, sedangkan Arini bergabung dengan Lia dan karyawan lainnya. Tiba-tiba seseorang datang ke butik dengan wajah penuh amarah. Orang itu langsung menghampiri Arini dan yang lainnya sambil mengembrak meja kasir.
"Mana majikan kalian." Arini yang mendapat serangan mendadak langsung bangun dari duduk nya.
"Heh Siapa lo. Udah datang selonong boy, marah-marah gak jelas lagi." Jelas Arini.
"Rin kayaknya dia cewe yang baru keluar dari RS. jiwa ya." Kata Lia sambil tertawa.
"Diam kalian!" Teriak Tamara. "Udah sana panggil majikan kalian. Si Sintia itu. Cewe pelakor."
Mendengar kata pelakor Arini dan Lia tidak terima. Mereka menyerang Tamara satu lawan dua. Sedangkan Sintia yang baru mau memulai pekerjaannya merasa terganggu dengan kebisingan di luar ruangan. Sintia berjalan meninggalkan ruangan nya menuju tempat karyawan bekerja.
Sintia terkejut saat Arini dan Lia sedang bertengkar dengan seorang wanita. "Siapa wanita itu?" Tanya Sintia dalam hati. Sintia berjalan mendekati semua orang untuk mencari tahu ada kejadian apa sebenarnya.
"Maaf. Ada apa ini kenapa ribut-ribut." Tanya Sintia.
"Lo Sintia kan. Ayo ikut!" Tangan Sintia di tarik kasar oleh Tamara.
"Hey cewe gila lo mau apain sahabat gue." Teriak Arini sambil mengejar Sintia. "Lia lo gak usah ikut, lo jagain aja butik." Kata Arini saat melihat Lia yang mau ikut mengejar Sintia.
"Ba, baik. Gue tunggu disini aja."
***
Saat tiba di sebuah taman kecil yang tidak jauh dari butik, Sintia di dorong sampai jatuh oleh Tamara. Arini yang melihat Sintia di dorong langsung berlari mendekati Sintia.
"Tia." Teriak Arini sambil mendekati Sintia. Arini membantu membangun kan Sintia yang terjatuh.
"Kamu itu siapa sih? Datang tiba-tiba marah-marah begini." Tanya Sintia mulai geram.
"Haha. Lo yang siapa. Lo mengambil suami gue. Apalagi kalau bukan pelakor namanya hah."
"Ngomong apaan sih. To the point aja ngomong nya." Balas Arini yang mulai tidak bisa menguasai dirinya.
"Oke gue jelaskan. Ricky Wijaya Dharmanto seorang lelaki yang terpandang dan paling di segani semua orang, dia adalah." Tamara menggantung perkataan nya. "Dia adalah suamiku, Tamara. Dan serly, dia anak ku."
Apa? Dia Tamara. Jadi ini yang namanya Tamara mantan istri Pak Ricky. Sintia.
Mmm ternyata ini ya yang namanya Tamara. Cewe mantan istri Pak Ricky. Arini.
"Haha." Arini terbahak mendengar ucapan Tamara. "Ya gue percaya lo istri nya Pak Ricky. Tapi..." Perkataan Arini berhenti. "Itukan dulu." Sambung Arini sambil terbahak lagi.
"Mbak Tamara yang terhormat. Saya akan menghargai Anda sebagai mamahnya Serly. Tapi saya juga tidak akan tinggal diam jika anda mau menghancurkan pernikahan saya dan Pak Ricky." Ucapan Sintia membuat Tamara tertawa sinis.
"Sintia. Apa lo gak punya kaca di rumah?" Suara Tamara meninggi. "Lo itu gak pantas berada di samping Ricky. Lo terlalu kampungan buat Ricky." Tegas Tamara.
Sintia yang mendengar dirinya dihina reflek menampar pipi Tamara.
__ADS_1
"Beraninya lo!" Tamara melotot sambil ingin membalas tamparan Sintia. Tiba-tiba tangan Tamara tertahan oleh seorang laki-laki.
Tamara dan Sintia terkejut dengan melihat kedatangan Ricky secara tiba-tiba. Sedangkan Arini tersenyum penuh kemenangan.
Pak Ricky datang? Ya ampun dia bagaikan dewa penolong bagi kamu Tia.
"Pak Ricky." Suara Sintia lirih.
"Tamara apa-apaan kamu." Ricky sudah tidak bisa menahan amarahnya. Dia ingin mendorong Tamara namun Sintia mencegahnya.
"Jangan! Jangan lakukan itu." Kata Sintia sambil menggenggam tangan Ricky.
"Sudah jangan bela dia. Dia harus diberi pelajaran."
"Kalau kamu tetap memukul Tamara aku batalkan rencana nikah kita." Teriak Sintia saat melihat Ricky yang masih tetap ingin memukul Tamara.
Mendengar ucapan Sintia, Ricky langsung melihat ke arah Sintia. Ricky langsung menghampiri Sintia sambil memeluk erat.
Eh kenapa? Kenapa dia memeluk ku begini?
"Kenapa?"
Apanya?
"Kenapa kamu baik sekali? Dia bahkan ingin membuat mu celaka. Tapi kenapa kamu begitu baik." Ucap Ricky sahdu.
"Aaa iya Pak Ricky Sintia itu memang memiliki hati seperti malaikat. Dia selalu baik bahkan pada orang yang ingin menyakiti nya." Kata Arini sambil melirik sinis ke arah Tamara. "Bukan seperti cewe itu, cantik sih lumayan lah ya. Tapi sayang hatinya ke iblis."
Tamara hanya bisa menahan marah nya saat Arini mengatai dia iblis. Kalau gak ada Ricky udah abis lo. Begitu arti tatapan tajam Tamara pada Arini.
"Kamu gak papa kan?" Tanya Ricky sambil menggenggam tangan Sintia.
"I, iya aku gak papa." Ini hati lembek amat sih. Bisa sampai berdebar begini.
"Lain kali kamu jangan terlalu baik sama perempua itu." Kata Ricky menekankan kata perempuan. "Kalau dia macam-macam lawan aja, jangan sampai kamu terluka olehnya." Ucapan Ricky meyakinkan Sintia kalau dia gak mau Sintia kenapa-napa.
Sintia terharu mendengar ucapan Ricky. Dia hanya membalas dengan anggukan kepala.
"Dan kamu Tamara. Jangan pernah sentuh Sintia seujung rambut pun. Kalau kamu berani menyentuh nya lagi, aku gak akan segan-segan padamu." Kata Ricky sambil menatap tajam ke arah Tamara.
"Mmm Pak Ricky ada apa datang kemari?" Bisik Sintia pada Ricky.
Gak mungkin kan kalau dia datang kesini gara-gara Tamara.
"Ah iya aku hampir lupa tujuan datang kesini. Ayo ikut." Kata Ricky sambil menarik tangan Sintia.
Eh mau kemana?
__ADS_1
"Maaf nona Tamara." Panggil Zaky membuat Tamara tersadar. "Saya ingatkan pada nona. Sebaiknya jangan pernah gangguin kehidupan Pak Ricky lagi. Anda tau kan kalau Pak Ricky sudah marah dia bisa melakukan apa saja yang dia mau. Jadi berhati-hati lah. Sekarang silahkan anda pergi sebelum saya menyeret anda." Ucap Zaky sambil mengganggukan kepala.
Tamara semakin geram hingga tangan nya terkepal. Dia pergi meninggalkan Zaky dan Arini. Setelah kepergian Tamara, Zaky dan Arini menyusul Sintia dan Ricky yang sudah pergi sedari tadi.
"Maaf Pak membuat anda menunggu."
"Sudah gapapa. Gimana kamu udah peringatkan dia kan?"
"Iya Pak saya akan mengurus semuanya."
"Tia ternyata Pak Ricky menakutkan juga ya." Bisik Arini pada Sintia.
"Lo gak tau sih siapa dia."
"Ekhm. Ada apa bisik-bisik." Tanya Ricky.
"Hehe. Gak papa Pak." Kata Arini gugup.
"Ayo Tia."
"Kemana Pak?" Tanya Sintia bingung.
"Memilih gaun untuk pernikahan kita." Jawab Ricky datar.
Dih Pak Ricky sudah pikun apa gimanaa sih. Si Tia ini kan seorang desainer kenapa repot-repot cari gaun pengantin. Arini
Nyari gaun? Bukankah aku ini seorang desainer ya. Sintia
"Maaf ya Pak Ricky. Bukankah Sintia ini seorang desainer? Kenapa harus repot-repot cari gaun pengantin?" Tanya Arini dengan penasaran.
"Repot ya. Kira-kira kalau siapa disini yang akan direpotkan?" Tanya Ricky
"Ya jelas Pak Ricky lah. Kan Pak Ricky yang tadi ngajak Sintia cari gaun pengantin." Balas Sintia yakin.
"Nah itu tau. Saya yang repot kenapa kamu yang sewot." Duarr. Kini Arini merasa malu karena perkataan nya tadi.
Sintia dan Zaky hanya bisa tersenyum mendengar selisih antara Arini dan Ricky.
Hah. Kenapa jadi gue yang terpojok kan.
"Ayo kita pergi sekarang. Ah iya apa kamu mau ikut Rin?"
"Sa, saya." Belum sempat Arini menjawab Ricky sudah berkata lagi.
"Yaudah kalau kamu gak mau ikut. Tunggu aja di butik nanti Tia aku antar kan kesini lagi kok." Kata Ricky sambil tertawa.
Gila ya. Dia mempermainkan gue. Huh dia hanya basa basi mengajak gue ya.
__ADS_1
"Yaudah saya tunggu di butik aja. Kalian pergilah bersenang-senang." Kata Arini sedikit kesal.
Ricky tertawa melihat Arini yang kesal. Kemudian mereka pergi ke tempat rancangan gaun pengantin.