
Di Dapur
"Ayah belum pulang?"tanya aura setelah ia sampai didapur dan melihat bi inah yang sedang memebersihkan dapur.
"Astaga non!!Bibi kaget."ujar bi inah sambil mengelus dadanya pertanda ia terkejut akan kehadiran nonanya yang tiba tiba itu.
"Hn."guman aura sambil mengambil tomat yang ada dikulkas.
"Tuan belum pulang non."ucap bi inah sambil memperhatikan apa yang nonanya lakukan.
"Em...non."panggil bi inah sedikit ragu dan juga gugup.
"Hn."
"Non...kalo boleh bibi nanya.Enon kemarin kemana kok ngak pulang?"tanya bi inah dengan perasaan yang sedikit takut,kalau kalau nonanya marah dengan pertanyaannya.
"Dirumah temen."
"Kenapa?"tanya aura setelah menghabiskan beberapa tomat yang ada dikulkas.
"Emm...anu non...Tuan sama den rangga nyariin non."jelas bi inah.
"Dan...tuan juga khawatir ama non,soalnya nomor non ngak bisa dihubungin."ujar bi inah sambil memandang nonanya.
Mendengar hal tersebut mau tak mau membuat aura memasang seringai tipis ya sangking tipisnya bi inah bahkan tak menyadari bila ia tengah menyeringai.
~jangan bercanda~batin aura ingin tertawa sinis.
"Oh."tanggap aura singkat.
"Hon."ujar sebuah suara yang berasal dari pintu masuk dapur membuat aura berbalik menghadap kearah asal suara.Disana stev tengah berdiri dengan rambut yang masih basah dan juga handuk yang ia kalungkan dilehernya.
"Udah mandinya?"tanya aura sambil menghampiri stev dan mengambil alih handuk yang bertengger manis dileher stev.Setelah itu ia berlalu menuju taman diikuti dengan stev yang mengekor dibelakangnya.
Kehadiran stev yang tiba tiba membuat bi inah kaget pasalnya ia tak melihat ada pemuda masuk ke rumah ini.Namun ia memilih diam mungkin pemuda itu adalah teman nonanya atau malah kekasih nonanya.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan tampaknya tuan besar kita baru saja pulang bersama dengan sang putranya yang berada dalam gendongannya.
"Tuan sudah pulang."sambut bi inah sambil membantu tuannya yang tampak kerepotan membawa tas dan juga rangga sekaligus.Dengan sopan bi inah mengambil tas tuannya.
"Apa aura sudah pulang?"tanya sang tuan.
"Sudah tuan."
"Dimana dia?"tanyanya lagi sambil menurunkan sang putra dari gendongannya.
"Kak lala cudah pulang?"tanya rangga dengan suara cadelnya.
"Iya den.Non aura ada ditaman belakang Den."ujar bi iah.
"Baiklah.Bi tolong mandikan rangga."perintah tuan.
"Baik tuan."
"Mari den."ajak bi inah kepada rangga yang langsung di turuti si bocah berumur enam tahun itu dengan semangat.Kurasa ia sedang senang.
Setelah bi inah pergi dengab rangga,ia bergegas menuju ke taman belakang guna menghampiri putrinya.Saat hampir sampai ditaman belakang ia mendengar suara gelak tawa dari putrinya dan juga seorang pemuda ,karna penasaran ia mengintip dari balik pintu penghubung rumah dengan taman belakang.Disana ia melihat putrinya tengah bercanda dengan seorang pemuda yang tak ia kenal.Ia bisa melihat bahwa putrinya tampak tertawa lepas tanpa ada beban.
"Syukurlah kau bisa tertawa lagi ra."gumannya bahagia pasalnya setelah kejadian tiga tahun lalu ia sadar bahwa putrinya yang dulunya adalah gadis yang hiperaktiv dan juga ceria kini menjadi gadis yang pendiam,dingin,datar dan tak tersentuh.Mungkin karna terlalu lama melamun ia tak sadar bahwa ia telah tertangkap basah mengintip keduanya.
"Ekhemm."dehem aura mengagetkan sang ayah.
"Kau sudah pulang?"ujar ayah kikuk.
"Hn."guman aura datar.
"Siapa?"tanya sang ayah sambil menunjuk stev.
"Stevandi.Sahabat aura dan juga teman sekelas aura."ujar stev mengenalkan dirinya.
__ADS_1
"Yoan Bramastra.Ayah aura."ujar ayah menyambut uluran tangan stev.
"Ya saya tau."ujar stev blak blakan.
"Aa...baiklah sebaiknya kita makan malam dulu."ajak ayah aura memimpin jalan diikuti oleh aura dan stev dibelakangnya.
"Hn."guman aura dan stev bersamaan dan hal itu membuat ayah stev sedikit kaget pasalnya tadi ia melihat keduanya tertawa namun nyatanya kini keduanya sama sama datar.
~Apa karna pemuda ini putriku jadi semakin dingin dan pendiam~batin ayah sedikit cemas dengan kedekatan stev dan aura.
Makan malam dilaksanakan dengan penuh khidmad dan khusyuk.Hanya suara dentingan akat makan yang terdengar.Tak berapa lama acara makan mereka usai dan dengan segera ayah menyuruh bi inah membawa rangga ke kamarnya guna beristirahat.
"Ekhem."Dehem ayah mengalihkan atensi aura dan stev.
"Ra.Ayah ingin bicara."
"Hn."
"Haaah~besok ayah akan pergi kesingapur untuk melihat perusahaan yang ada disana."jelas ayah secara perlahan.
"Jadi?"
"Ayah harap kamu baik baik saja selama ayah pergi dan stevandi saya harap kamu dapat menjaga anak saya."tutur ayah kepada kedua muda mudi yang duduk disamping kananya.
"Hn."guman aura.
"Ya."sanggup stev.
"Berapa lama?"tanya aura datar.
"Tidak lama hanya tiga bulan."ujar ayah sambil meminum minumannya.
"Oh...jaga adikku dengan benar."ucap aura dengan dingin serta tatapan intimidasi yang ia pasang membuat ayah terdiam mencerna maksud ucapan putrinya.
"Oh ya..malam ini stev akan menginap disini."tambah aura sebelum berlalu meninggalkan meja makan diikuti stev dibelakangnya.
"Kirimkan lima orang mata mata dan juga sepuluh orang anak didikmu yang lainnya kepadaku besok."ujar seseorang melalui telphone.
"Baiklah.Akan ku kirim.Kemana?Rumah mu atau rumah kalian berdua?"tanya seseorang disebrang sana.
"Rumahku.Pukul 05.30 mereka harus sudah ada disini."ujar seseorang dikamar itu sebelum memutuskan sambungan telphon.
Pagi harinya dirumah aura tepat pada pukul 05.30,sudah berjejer rapi lima belas orang berbadan besr dan juga berseragam rapi dengan setelan jas hitam lalu kaca mata hitam dan juga aerphon yang terpasang dimasing masing telinga mereka.Alat komunikasi.
Bi inah yang sedang membuat sarapan dibuat kaget dan juga bingung dengan kehadiran mereka.Sedangkan aura dan stev yang sudah bangun dan juga sudah siap dengan seragam mereka,bergegas turun terutama aura ia langsung menghampiri kelima belas orang tersebut.
"Sudah datang rupanya."ujar aura setelah sampai diteras,tepat dihadapan kelima belas laki laki itu.
"Baiklah saya yang meminta agar tuan kalian mengirip kalian kesini.Kalian saya tugaskan disini guna mengamankan dan juga menjaga adik saya selama ia pergi ke singapur."ucap aura dengan datar namun ia menggunakan bahasa yang formal guna menjaga tata kramah dan juga wibawanya.
"Saya ingin kalian benar benar menjaganya atau...
JLEBBB
Sebuah pisau yang mereka yakini berasal dari saku rok gadis dihadapan mereka tampak telah menancap indah di salah satu batang pohon yang ada dihalaman tersebut setelah dilempar dengan gerakan yang gesit dan entah kebetulan saja atau bagaimana pohon itu terletak tepat dibelakang kelima belas orang tersebut.
Kalian MATI ditanganku."ancam aura dengan nada yang amat dingin serta tatapan mata yang tajam dan juga aura intimidasi yang menguar dari tubuh si gadis.Dengan sudah payah kelima belas orang itu menelan ludahnya guna membasahi tenggorokan mereka yang tiba tiba kering.
"Baiklah.Saya ingin lima diantara kalian pergi menuju bandara untuk mengecek keamanan disana dan sepuluh lainnya mengawal adikku nanti."
"Paham!!!"ucap aura dengan intonasi yang naik satu oktav.
"Siap paham!!"jawab mereka serempak.
__ADS_1
"Bagus."ujar aura sambil menyeringai puas dan hal itu tak luput dari pandangan stev yang menggeleng melihat seringai gadisnya.Gadismu ehh.Sedangkan kelima belas orang pria disana hanya bisa bergiding ngeri.
"Hon."
"Hn."
"Lo minta bantuan dia?"tanya stev setelah cukup lama ia diam dan hanya memerhatikan saja.
"Ya."
"Aa..."guman stev kembali diam.
Tak berapa lama ayah dan juga rangga muncul didepan pintu.Mungkin karna suara berisik diluar jadilah mereka keluar unuk melihat ada kegaduhan apa diluar.
"Ada apa ini?"tanya ayah namun diacuhkan oleh aura.
"Rangga kemari."panggil aura kepada rangga.Meminta sang adik mendekat kearahnya.
"Cenapa kak?"tanya rangga setelah berada dihadapan sang kakak.
"Rangga liat kedepan rangga."perintah aura kepada rangga yang langsung dituruti oleh rangga.
"Buka kaca mata kalian."perintah aura kepada kelima belas pria dihadapannya.
"Rangga liat muka mereka..hapalin nama dan wajah mereka."ujar aura kepada rangga.
"Buat apa kak?"tanya rangga bingung.
"Mereka yang bakal jagain rangga nanti."jelas aura singkat padat dan kurasa cukup jelas.Rangga yang mendengar hal tersebut segera menuruti kata sang kakak untuk mengingat wajah mereka.
"Kemanapun rangga pergi mau ke toilet atau kekamar kalian harus ikutin dia.Kalo dia mau pergi delapan diantara kalian harus ikut dia.empat diantara kalian harus nyamar disekitar dia dan empat lainnya ngawasin keadaan dari jauh."
"Jangan membuat adik saya terlalu mencolok dengan keberadaan kalian yang berstatus bodyguardnya menyamar disekitarnya saja kalaupun harus ada yang menemani minimal satu atau dua orang saja."
"Dan sayang tak terima kesalahan apa pun."tambahnya lagi
"Paham!"ujar aura penuh penekanan.
"Paham!!!"jawab mereka lantang.
"Tunggu...ini maksudnya apa ra?"tanya ayah benar benar bingung dengan apa yang dilakukan aura.
"Hanya jaga jaga saja.Mereka orang orang yang kutugaskan untuk MENJAGA rangga selama ia disingapur."jelas aura santai sambil.Mengelus kepala rangga dengan lembut.
"Tapi ini berlebihan."bentak ayah cukup kesal melihat tingkah putrinya yang berlebihan.
"Khhh...berlebihan....ini ku lakukan untuk menjaga adikku.Mengantisipasi kalau kejadian tiga tahun yang lalu kembali terulang dan kurasa kau tak akan bisa menjaga adikku dengan benar ehh...
AYAH...."tutur aura sarat akan sindiran untuk sang ayah.
"Au..."
"Aku malas berdebat."
"Kalian bisa mengerjakan tugas kalian sekarang.Siapkan mobil untuk rangga."perintahnya memotong ucapan sang ayah.Setelah itu ia berlalu pergi dengan rangga yang menggenggam tangan kanannya dan juga stev yang menggandeng tangan kirinya meninggalkan sang ayah yang masih terdiam kaku ditempatnya.
"Bi."teriak aura setelah memasuki rumah.
"Ya non."saut bi inah segera menghadap nonanya.
"Sarapan sudah siap?"
"Sudah non."jawab bi inah dengan sopan.
"Hn."guman aura menuju ruang makan diikuti stev yang menggendong rangga.Tampaknya mereka mulai akrab.Tak berapa lama acara makan pun mereka langsungkan setelah sang taun besar datang keruang makan masih dengan wawajh bingung.
Bersambung
Salam Manis Author#😘
Auratiananggraeni#😊
__ADS_1
SweetPsychopat#😏