Sweet Psychopat

Sweet Psychopat
SP#30


__ADS_3

Aura melangkahkan kaki dengan santai dikoridor sekolah.Embun pagi,kicau burung,harum khas tanah sehabis hujan.Harum jagung bakar yang diberikan saus kecap manis.Hhhh kurasa ia sedang lapar,hingga berhalusinasi begitu.


     Sang mentari belum bersinar terang saat aura sampai diruang kelasnya yang masih kosong melompong.Dalam keheningan aura kembali mengingat semua kejadian yang telah ia lalui sejak 3 tahun yang lalu.


     Mulai dari sang ibu yang meninggalkannya karna sang ayah,tapi sebenarnya semua itu bukan sepenuhnya salah sang ayah hanya saja ia harus melakukan hal itu guna menjaga kestabilan mentalnya.Jadi ia putuskan untuk menyalahkan ayahnya.


     Lalu pertemuannya dengan stev dan kevin,saat itu ia tengah duduk disalah satu bangku yang ada ditaman bermain yang ada didekat kompleknya.Saat itu ada dua orang anak laki laki datang menghampirinya yang tengah bermain sendiri,setelah itu mereka berkenalan dan berteman hingga menjadi sahabat sampai saat ini ya sampain saat ini....mungkin.Mereka bertiga yang pada dasarnya sama sama Sakit mulai menjadika Sakit mereka sebagai alasan untuk membuat Karya tangan mereka.


     Dan sekarang masalah lain datang menghampirinya.Bukan masalah yang mampu membuatnya kehilangan nyawa dalam sekejab melainkan masalah yang mampu membuatnya bermuram durja dikamarnya.Setiap malam.Mencoba meyakinkan hati kepada siapa sebenarnya hati ini berlabuh.


     Ia belum mampu mengontrol perasaannya.Terkadang tak semua hal dapat ia ungkapkan melalui kata kata.Ia bingung harus melabuhkan hatinya kepada siapa.Aldi yang ia rasa kembali mencoba masuk dalam ruang lingkup kehidupannya atau seseorang yang baru saja ia kenal namun mampu membuat ia memandangnya dalam diam.Lalu sahabat sekaligus rekannya yang selalu ada ketika ia butuh seseorang.


     Sudah banyak malam ia lewati dalam kebimbangan.Berharap tuhan mengirim jawaban dari pertanyaannya ini.


"Ra...."


     Panggilan itu sontak saja membuat aura terperanjak kaget.


"Ngagerin aja lu,RES!"


     Ares malah tersenyum,lalu dengan santai ia berjalan kearah aura yang tengah bersenggut akibat tingkahnya.


"Tumben dateng sendiri?"ujar ares menggoda aura.


"Hah?"


"Biasanyakan ama stev.Tu cowok kan selalu nempel ama elu."jelas ares menyususl aura duduk.


"Aaaa...dia lagi sakit."ujar aura singkat sambil memandang keluar jendela.

__ADS_1


     Bukannya ia tak senang duduk berdekatan dengan ares hanya saja ia harus berusaha mengatur detak jantungnya yang mendadak liar saat berada dekat dengan ares.


"Ra."panggil ares dengan nada serius.


"Ya."toleh aura memandang wajah ares yang entah perasaannya saja atau memang mirip seseorang.


"Gue pengen ngomong sesuatu."utar ares memandang tepat dimanik mata aura dan hal itu membuat aura sedikit gugup.


"Ya...ngomong aja."ujar aura balik memandang tepat dimanik ares.


"Haaaah~~~"


    Kurasa apa yang akan dibicarakan oleh ares adalah hal yang sangat penting terlihat dari mimik wajah lalu suara ares yang terdengar serius lalu dari caranya menghelan nafas tadi terkesan sangat berat seakan akan apa yang akan ia ucapkan adalah hal yang paling susah didunia.


"Gue Sayang ama lo,ra."


     Persisi setelah ares menyelesaikan kata katanya aura menatap ares dengan pandangan yang tak percaya


"emmm...gue...gue harus ketoilet."ujar aura melepas genggaman ares.


"Ra."panggil ares mencegah aura yang akan beranjak pergi.


"Gue harus ketoilet Ares."ujar aura sebelum berlalu pergi meninggalkan ares dengan rasa yang tak menentu.


Disisi lain


     Diperjalanan menuju toilet aura terus memikirkan ucapan ares tadi.Ia bingung dengan perasaanya.Haruskah ia senang atau malah sedih,karna tau bahwa ares memiliki perasaan kepadanya.Semakin ruwet saja masalahnya.


"Ya ampun...gue...hossh.n.hoshhh..manggil lu dari tadi,tapi hosh lo ngak nengok juga ra."ucap aldi dengan nafas yang terputus putus.

__ADS_1


"Kenapa?"tanya aura singkat.Ia sedang tak ingin berurusan dengan siapa pun.Ia ingin cepat cepat sampai di toilet.


"Ada yang mau gue omongin."


"Apa?"tanya aura sedikit was was takut kejadian dikelas tadi terulang kembali.


"Ditaman."


"Disini aja."ujar aura malas.


"Bentar aja."ujar aldi sambil menarik tangan aura menuju taman sekilah.


     Setelah sampai ditaman.Aldi menarik aura menuju sebuah bangku yang ada di bawah pohon mangga madu.


"Buruan."paksa aura kepada aldi.Ia ingin cepat cepat pergi menjauh dari orang.


"Gue...gue..."gugup aldi membuat aura gemas.


"Gue kenapa?"tanya aura sedikit gemas dan juga kesal kepada aldi.


"Gue masih sayang ama lo,ra."ujar aldi dengan nada yang jelas dan tegas.Hal itu menjadi perwakilan bahwa rasa yang ia pendam memang nyata adanya.


     Enam kata satu kalimat dan satu arti barusan mampu membuat aura membeku ditempat.Ia menatap aldi dengan keringat dingin disekujur tubuhnya.Respon yang terlalu berlebihan menurutnya namun tubuhnya merespon begitu,mau bagaimana lagi.


     Kenyataan apa lagi yang ia terima kali ini?Menambah runyam perasaan yang sudah tak tentu,rasa cemas yang kini menjadi rasa takut dan menyisahkan kebingungan yang luar biasa.


     Aura bangkit dari duduknya,meninggalkan aldi yang masih terdiam ditempatnya.Aldi tak berusaha mencegah aura pergi.Dan tampaknya aura pun tak ada niatan untuk berhenti.


     Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang mengawasi mereka dengan perasaan yang was was.Perasaan takut kehilangan pujaan hati mereka.Tak berapa lama setelah aura pergi,kedua pemilik mata itu juga ikut beranjak pergi Dengan tujuan yang berbeda.Kelas dan toilet.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2