Sweet Psychopat

Sweet Psychopat
SP#32


__ADS_3

"Astaga ra."pekik kevin amat terkejut dengan keadaan aura.


     Dengan segera kevin menuju ke aura dan dengan cekatan kevin menggendong aura dari bathub.Dengan sisa kesadarannya aura menyerukan nama stev sebelum kegelapan menguasainya.Kevin yang melihat aura pingsan menjadi semakin panik dengan tergesa gesa ia menuju rumah sakit terdekat.


Disisi lain


     Seorang pemuda terbangun dari tidurnya karena ia mendapat mimpi buruk.Mimpi tentang seorang gadis.


~Aura~batin si pemuda yang langsung mencari ponselnya guna menelphon gadisnya.Namun sudah berkali kali ia menghubungi nomor si gadis namun tak kunjung diangkat.Hingga panggilan yang entah keberapa panggilan itu diangkat.


"Hallo,hon.Kamu baik baik aja kan?"ujar si pemuda dengan nafas yang memburu.Tampaknya ia benar benar khawatir hingga langsung to the poin saja.


"Hallo stev.Ini gue kevin."ujar seorang pemuda disebrang telphon yang ternyata adalah kevin.Mendengar hal itu stev mengernyitkan dahinya.Bingung.Apa lagi dengan suara yang sedikit ramai disebrang telphon.


"Kok hanphone aura ada di lo?"ujar stev dengan nada yang terdengar bingung.


"Dengerin gue.Pokonya lo harus dengerin gue.Jangan sela omongan gue.Paham?"perintah kevin dengan nada serius yang membuat perubahan dimimik wajah stev ya g awalnya bingung menjadi serius dan cemas walau tertutup dengan wajah yang datar.


"Hn."


"Haaaah~Aura ada di rumah sakit Medika.Ruang rawat nawar nomor 27."jelas kevin yang membuat jantung stev seakan akan berhenti berdetak.


~Apa ini arti mimpi gur?~batin stev makin cemas dan takut.


"A...aura..ke...kenapa?"tannya stev masih dalam keadaan yang syok.


"Nanti gue ceritain.Gue juga belom tau pasti penyebanya.Tapi yang jelas lo harus kesini sekarang,bawak baju aura."perintah kevin dengan nada yang sedikit melembut pasalnya ia tau bahwa stev kini tengah terkejut dan juga panik.Walau ia tutupi dengan wajah sok datar dan tegarnya.Dan juga walaupun ia tak melihat bagaiamana ekspresi stev saat ini,ia bisa menembaknya lewat nada suara stev dan durasi bicaranya.


"Ahh..dan satu lagi.Jangan panik.Lo harus tenang.Kontrol emosi lo.Jangan nekat.Gue tau lo bakal lepas kontrol.Tapi lo harus tau aura sekarang udah ditanganin ama dokter jadi dia bakal baik baik aja."


"Gue bakal bisa tenang kalo udah liat sendiri kalo aura baik baik aja."jawab stev dengan dingin sebelum memutuskan sambungan via suara.Setelah itu stev segera menuju kamar aura dan setelah semua siap,ia bergegas pergi menggunakan mobil yang ada digarasi bawah.


Disisi lain


     Disebuah ruang rawat mawar nomor 27 terlihat seorang pemuda tengah mondar mandir di depan pintu ruangan itu.Sampai akhirnya pintu ruangan dibuka oleh seorang pria dengan stelan putih yang dibalut jas dokter.


"Dok bagaimana keadaan aura dok?"tanya kevin kepada dokter yang menangani aura.


"Keadaan pasien baik baik saja.Untung tidak ada luka serius hanya luka goresan walaupun ada beberapa yang cukup dalam sehingga membuat kami harus menjaitnya."terang sang dokter menjelaskan kondisi pasien yang ia tangani.

__ADS_1


"Emmn...apa aura sudah sadar dok?"


"Nelum.Dikarenakan banyaknya darah yang keluar akibat luka yang ia alami ditambah dengan suhu tubuhnya yang tidak stabil membuat pasinbelum sadar.Kami akan mencoba menibgkatkan suhu tubuh pasien secara perlahan.Mungkin 2 atau 3 jam lagi pasie baru akan sadar."ujar si dokter yang membuat kevin merutuki keterlambatannya menyelamatkan aura.Andai saja ia lebih cepat,mungkin saja aura tak akan terbaring di ranjang rumah sakit.


"Saya boleh masuk dok?"izin kevin dengan raut yang tampak murung.


"Ya.Tentu.Silahkan."ujar si dokter dengan senyum ramah seakan akan mengerti keadaan kevin yang sesikit terguncang.


"Baiklah.Kalau begitu saya permisi."pamit si dokter meninggalkan kevin didepan ruang rawat aura.


CEKLEKK


     Pintu ruang rawat itu terbuka menampilkan pemandangan seorang gadis yang terbaring dengan selang infus ditangan kanan dan selang yang berisikan darah ditangan kirinya.Dengan langkah yang getir kevin mendekati ranjang rawat aura.Wajah yang pucat,mata tertutup menyembunyikan manik yang serupa dengan langit malam serta alat bantu pernapasan yang bertengger dihidung aura yang mancung.Melihat hal itu membuat rasa bersalah kevin semakin menjadi jadi.


"Ra..maaf."guman kevin sambil menggenggam tangan aura.


"Maaf...seharusnya hiks gue hiks dateng lebih cepet hikss."ucap kevin dengan isak tangis yang mulai pecah.Kurasa ia benar benar menyesal.


BRAKKK


     Pintu ruangan itu terbuka dengan kasar menampilkan seorang pemuda dengan penampilan yang sesikit aut autan serta sebuah tas yang bertengger manis dipunggungnya.


TAP...TAP...TAP...


"Lo siapa?"tanya kevin dengan datar kepada pemuda yang dengan lancangnya berani masuk tanpa izin keruang rawat aura apalagi ia telah membuka pintu dengan kasar.Kalau rusak siapa yang mau yanggung jawab.Masak ia kevin kan ngak lucu.Siapa yang ngerusakin siapa yang bayar.


"Gue temennya aura.Kenapa?"ujar pemuda itu dengan dingin apalagi ditambah dengan tatapan tajamnya,yang seakan akan dapat membunuh kevin bila ia tak menjawab pertanya si pemuda.Lah kok dia yang marah.


"Lepas.Lo siapa berani gini ama gue?"ronta kevin melepaskan cengkraman pemuda itu.


"Gue.Temen aura.Ares."tukas pemuda itu dengan datar.


"Lo tau dari mana aura ada disini?"ujar kevin bingung dan juga curiga.


"Gue ngikutin lo.Karna gue khawatir ama aura."ujar ares sambil memandang aura.


"Apa yang sebenernya terjadi ama aura.Tadi pagi dia baik baik aja dan apa dia kambuh lagi?"tanya area dengan raut sedih yang terpanvar jelas diwajahnya.


"Gue belum tau penyebab aura kayak gini dana apa maksud kata kata lo?"ujar kevin masih dengan mempertahankan nada datar diucapannya walaupun pandangannya mulai melembut ketika memandang aura namun berubah tajam ketika memandang ares.

__ADS_1


"Aura suka ngelukain dirinya sendiri kalo dia ngak bisa ngontrol emosinya.Baik itu marah atau sedih."jelas ares yang membuat kevin terkejut pasalnya yang ia tau hanya ia dan stev yang tau kebiasaan aura.


     Dalam diam kevin memandang bagaimana ares dengan lembut menggenggam tangan aura dan bagaimana mata itu memandnag dengan rasa takut,cemas dan juga khawatir secara bersamaan.


~Apa hubungan aura ama nih cowok.~batin kevin menerka nerkan jenis hubungan yang dijalani aura dan juga ares.Tidak mungkin hanya sekedar teman bila ares sampai tau bahwa aura memiliki kebiasaan yang terbilang cukup ekstrim.


"Ra...bangun...gue sayang elo..ra."guman ares namun masih dapat didengar oleh kevin.Mendengar gumana ares barusan membuat kevin kaget sekaligus takut.Ya takut,takut bila seseorang mendengar apa yang baru saja digumankan oleh pemuda bernama ares ini.


"Mendingan lo pulang."ujar kevin lebih dingin kepada kevin.


"Gue masih mau disini."ujar ares dengan mata yang tak lepas memandang kerah aura.Seakan akan bila ia melepas pandangannya barang sebentar saja aura akan hilang.


"Gue bilang pulang!!"ujar kevin lagi.Ia tak ingin bila apa yang ia takutkan terjadi.


"Tap....


BRAKKK


     Lagi dan lagi pintu ruang itu terbuka secara tak pintusiawi.Ketika pintu terbuka secara lebar,terlihat seorang pemuda berhodi yang tengah berdiri dengan menenteng sebuah tas di tangan kanannya.


"Ngapain lo disini?"tunjuk pemuda itu kepada ares.


"Gue kahawatir ama aura."jawab ares tanpa melepas genggaman tangannya kepada aura.Melihat hal itu,pemuda berhodi langsung saja menerjang ares.


BUKKK


     Satu pukulan pemuda itu layangkan kepada ares tak terima dipukul ares membalas pukulan pemusa berhodi itu.


BUKKK


     Sebelum terjadi aksi bunuh membunuh disini,kevin segera melerai keduanya.


"Stev stop!!"ujar kevin menarik lengan pemuda berhodi yang rupanya adalah stev.


"Ck."decak stev kesal kepada kevin yang menariknya menjauh dari ares padahal ia masih ingin memukul pemuda sialan yang berani beraninya menyentuh gadisnya.


"Hon.."panggil stev pelan sambil mencium kening aura ketika ia telah berada disamping ranjang rawat aura.


"Bangun."ujar stev dengan suara yang parau sambil membelai rambut aura.

__ADS_1


"Kenapa jadi gini?"


Bersambung


__ADS_2