
Dor
"AURA!!!"
Lima tahun kemudian...
"Hey... Apa yang kau lakukan disini hmm?" ujar seorang pria dengan stelan kantor yang masih melekat ditubuh kekarnya kepada wanita bergaun putih.
Semilir angin malam menerpa keduanya. Membelai dengan nakal wajah serta rambut ciptaan sang kuasa yang amat rupawan. Bulan tampak bersinar malu malu di balik awan dengan ditemani cahaya ribuan bintang menambah nilai plus akan suasana malam ini.
"Tidak ada hanya memikirkan beberapa hal." jawab si wanita masih dengan menatap ke arah langit malam.
"Apakah kau merindukannya?" tanya pria tersebut sembari merengkuh tubuh wanita kesayangannya dalam dekapan hangatnya.
"Hn."
"Ia sudah bahagia disana."hibur pria itu.
"Ya semoga." ujar wanita itu menggenggam tangan pria yang ia cintai.
"Kau ingin melihatnya?"ucap pria tersebut membuat wanita dalam dekapannya sedikit terkejut.
"Apa boleh?" tanya wanita itu sambil membalikkan badannya menghadap kearah prianya.
"Tentu saja. Besok kita akan mengunjunginya." jawab pria itu dengan senyum menawan yang kini terpatri di bibirnya.
"Pasti ia akan senang bila kau mengunjunginya." tambah pria itu kembali menarik wanitanya kedalam pelukannya.
"Hmm."
"Sebaiknya kita tidur. Sudah malam.. Angin malam tak bagus untuk kesehatanmu serta dirinya." bujuk pria itu dengan suara lembut serta tatapan khawatir yang membuat wanita itu sadar apa yang tengah ia lakukan adalah hal yang bodoh. Ia bisa saja membahayakan dirinya serta 'dia'.
Disinilah mereka bertiga, menemui seseorang yang dirindukan satu satunya wanita diantara ketiganya.
"Hai... Apa kau baik baik saja?"
"Khhh... Kuharap kau baik baik saja."
"Ka.. Kam.. Kami.. Ba... Hiks.. A.. Ku.. Hiks... Me.. Merindu.. Hiks.. Kan.... Mu... Hiks.."tumpah sudah air mata yang Ia tahan sejak ia menginjakkan kaki disini. Ditempat seseorang yang ia sayangi terbaring dalam tidur abadinya.
"Honey... Tenanglah."ujar seorang pria berkemeja hitam polos merangkul wanitanya yang tengah menangis dengan tangan yang mengelus batu nisan dihadapannya.
"Ares nggak akan seneng liat lo nangis apa lagi di hadapan dia, ra." ujar pria lain dengan kemeja merah sembari mengelus punggung si wanita dari arah kiri.
"Hiks... Hiks.. Gu... Gue... Hiks... Ka.. Hiks.. Ngen..." isak aura membuat kevin dan juga stev menatap aura dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Gu... Gue... Hiks... Kangen... Hiks... Ama.... Hiks... Elo.. Hiks.... Kak."kembali aura meracau.
Andai. Andai saja waktu itu ares tak melindungi dirinya pastilah bukan ares yang tengah terbaring di dalam sana melainkan dirinya. Andai saja ia bisa kembali kemasalalu. Andai...
Flasback~
Dor
"AURA!!!!"
Bruk
"ARES!!!" teriak aura begitu melihat tubuh ares terjatuh tepat setelah mendorong dirinya guna menghindari timah panas yang meluncur kearahnya.
"Ares... Lo.. Lo harus bertahan." panik aura begitu melihat darah segar keluar dari perut ares tepat di bagian jantungnya. Jangan... Jangan sekarang.
__ADS_1
"Uhuk... Ra... " panggil ares disela sela nafasnya yang semakin memberat membuat aura makin mengeratkan rengkuhannya kepada ares.
Jangan sekarang tuhan. Jangan.
"Gue.. Uhuk.. Seneng.. Uhuk... Lo... Baik... Hah... Baik... Aja."dengan susah payah ares mengucapkan hal itu. Ia bersyukur ia masih diberikan kesempatan guna menyelamatkan aura.
"Sial... Stev cepet bawak ares kerumah sakit!!"bentak aura kepada stevan yang terdiam tak jauh darinya. Tampaknya ia tengah memproses apa yang baru saja terjadi.
"STEVEN!!!"bentakan aura barusan menyadarkan steven dari keterkejutannya. Baru saja ia akan melangkah seseorang mencegahnya.
"Uhkk.. Jangan... "cegah ares dengan darah yang ia muntahkan dari mulutnya membuat aura semakin panik.
"Hiks... Kenapa... Hiks... Kenapa.. Res?"tanya aura dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.
"Khhh.. Uhkkk.. Jangan... Nangis... Hah.. Ra."dengan sisa tenaga yang ares miliki, ia menghapus air mata aura dengan tangannya yang berlumur darah.
"Gue... Hah... Seneng... Wak.. Ukhh.. Lo... Bilang... Arghh... Sayang... Ama... Hah... Gue... "
"Gue... Ukhhh... Seneng.... "
"Nggak... Hiks... Lo... Nggak... Hiks... Boleh... Banyak... Hisk... Ngomong... Hiks res."
"I... Love... You... Aura.... Alanta..."percayalah butuh banyak tenanga hanya untuk mengucapkan lima kata tersebut.
Mendengar hal tersebut aura semakin menangis dengan sejadi jadinya. Tidak ia tak mau kehilangan orang yang ia sayangi lagi. Ia memang menyayangi ares hanya sebagai seorang kakak karna ia hanya mencintai stevan, tetapi tetap saja ia tak mau kehilangan ares. Tidak lagi tuhan.
Stev yang mendengar hal tersebut hanya mampu terdiam. Ia tak tahu harus merespon bagaimana. Ia memang sakit hati hanya saja ia juga sedih ketika melihat keadaan ares saat ini. Sedangkan kevin ia tak berani mengeluarkan suaranya. Ia baru saja akan kembali menolong aura namun tepat ketika ia sampai pemandangan ares berlumur darah serta aura yang menangis membuat ia terpaku ditambaj dengan pengakuan ares barusan. Ia... Entahlah.
"ARGGGGH!!!!"
Raung ares ketika merasakan rasa sakit yang teramat sakit pada seluruh tubuhnya terutama jantungnya. Ia rasa denyut jantungnya semakin lemah dan nafasnya terasa sudah semakin memberat dan tersenggal senggal.
"Ra... "
"Se.. Bagai.. Hah.. Per.. Min.. Ta.. An.. Ter.. Akh.. Ir.. Gu.. Gue... Ma.. Hah... U.. Lo... Hah.. Ci.. Um.. Gu.. Gue..."
"Ra.. Gue.. Mohon..."
Dengan masih menangis aura menundukkan kepalanya guna mencium ares. Hingga akhirnya bibir keduanya bertemu. First kiss yang mereka berikan kepada orang yang mereka cintai dan sayangi. Dengan air mata yang semakin banyak tumpah aura memeluk tubuh ares dengan bibir yang masih menyatu dengan bibir dingin milik ares. Ia tahu sangat tahu malah bahwa ares telah pergi. Aresnya pergi meninggalkannnya.
Tuhan menjemput malaikat tak bersayapnya tepat setelah ia mampu mengutarakan apa yang ia rasakan kepada gadis yang amat ia cintai. Bibir dingin itu bahkan menampilkan senyum manisnya walaupun sang pemilik senyum telah pergi meninggalkan.
"ARESS!!!!"teriak aura membuat semua yang ada disana menundukkan kepala mereka sebagai penghormatan terakhir.
Ia peluk tubuh dingin itu sekuat mungkin seakan akan takut pemilik tubuh itu pergi walaupun sejatinya ares telah pergi.
Tiba tiba saja aura mengangkat kepalanya dari dada ares membuat semua yang ada disana terkejut.
"Sialan kau keparat!"ujar aura menatap carly yang tergeletak lemah dengan mata yang menatap sayu kearahnya.
"Puas lo sialan?"
"Bajingan!!Brengsek!!"umpat aura mengambil revolver yang ada disekitarnya. Dengan amarah yang meluap luap ia berjalan menuju carly yang masih menatapnya sayu dan... Menyesal. Mungkin.
Dor
Dor
Dor
Dor
Dengan tanpa berperasaan aura menembaki carly tepat pada jantung, hati, ginjal dan juga kepala carly. Membuat jasat carly tampak sangat mengenaskan dengan bolongan di berbagai tempat.
Grepp
__ADS_1
Entah sejak kapan stevan berada dibelakang aura. Dengan tanpa permisi stev menarik aura kedalam pelukannya. Mencoba menenangkan amarah aura yang menguasai hati serta fikiran aura.
"Aww..."ringis aura memegangi kepalanya. Membuat stev, kevin serta yoan memandang khawatir kepadanya.
"R... AURA!!" teriak stev kaget ketika tubuh aura limbung kedalam pelukannya.
"Stev."
"Gue urus aura. Dia pingsan. Lo urus ares ama tua bangka sialan itu. Kita langsung balik pakek jet pribadi gue aja!"ujar stev dengan aura dalam gendongannya.
Seminggu kemudian.
Keadaan aura masih sama seperti beberapa hari yang lalu. Sejak kepergian ares ia menjadi gadis yang pendiam, ia mengurung diri ya dikamar serta sering melamuan. Sudah banyak cara steven serta yang lain lakukan guna mengembalikan aura yang dulu.
"Ra."panggil stevan tampaknnya tak mengganggu aura.Menoleh saja tidak apa lagi menyahuti.
"Lo ngak bisa gini terus ra."ujar stev mulai kesal dengan tingkah aura yang tampak semakin frustasi setiap harinya.
"Ares nggak akan tenang. Lo jangan egois. Ares relain nyawanya buat lo. Dia pengen lo hidup. Dia pengen lo bahagia tapi apa? LO MALAH KAYAK GINI."ujar stev panjang mencoba menyadarkan aura. Ia lelah sungguh. Bukan hanya aura yang terpukul disini melainkan ia dan yang lainnya juga, walaupun ia tahu hanya auralah yang paling terpukul.
"Lo EGOIS."
Degh
Entah setan apa yang merasuki stev hingga ia mengatakan hal itu.
"Khhh... Ya gue egois."ujar aura dengan kekehan namun lama kelamaan suaranya makin memelan diakhir ucapannya.
"Gue sayang ama elo ra. Gue cinta ama elo. Plis jangan kayak gini. Lo harus bahagia. Lo harus bangkit ra."
"Demi ares. Demi gue."
Dan respon aura setelahnya mampu membuat stev membelalakkan matanya terkejut. Aura tersenyum. Setelah seminggu ini ia terpuruk.
"Makasih stev."ucap aura tanpa menghilangkan senyuman di bibirnya.
"Ya... Makasih ra."balas stev dengan senyum yang tak kalah lebar. Ia tarik aura kedalam pelukannya.
"Makasih kak/ares."batin keduanya.
Flasback off
Dan kini sudah lima tahun sejak kejadian itu. Semua berjalan baik. Aura yang menikah dengan stev dua bulan yang lalu, aldi dan ayu yang telah bertunangan dan yang terakhir getta ia tampaknnya semakin gencar mendekati kevin.
"Makasih kak. Makasih untuk semuanya. Dan aku punya kabar gembira buat kakak....
... Aku hamil kak. Kakak bakal punya keponakan."ujar aura dengan tangan yangengelus perut ratanya.
"Makasih res. Karna lo gue bisa hidup bahagia ama aura."timpal stev dengan tangan yang ikut mengelus perut aura. Disana... Ya disana ada kehidupan yang harus mereka jaga.
"Makasih juga res. Karna lo gue bisa liat kebahagian dua orang yang gue sayangin terutama aura. Cinta gue."ujar kevin ikut menambahkan. Kurasa menggoda stev sesekali tidak buruk juga?
"Apa lo bilang?"serobot stev tak terima. Ayolah aura sudah menikah dengannya apalagi ia tengah hamil kini.
"Apa?"jawab kevin menantang stevan.
"Lo..
"Udah udah... Kak kita pulang dulu ya. Nanti kita kesini lagi. Aku sayang kakak."ucap aura sambipencium batu nisan bertuliskan Aresta Noval.
"Ya sama sama. Aku mencintaimu selamanya Aura Alanta."bisik seseorang yang sejak tadi menatap mereka bertiga sebelum lenyap tersapu angin yang mengiringi kepergian ketiganya.
TAMAT
__ADS_1
Wah udah tamat ya..... Hhhh... Maaf yang kalo jelek soalnya aku ngak pinter bikin ending cerita. See you di cerita aku yang lain.