Sweet Psychopat

Sweet Psychopat
SP#33


__ADS_3

Ruang rawat aura yang awalnya hening kini menjadi sedikit ramai dengan suara tangisan stev yang masih menggenggam tangan aura.Kevin serta ares yang melihat stev menangis pun turut merasakan kesedihan yang dirasakannya terutama ares.Bagaimana tidak gadis yang ia sayangi kini tengah terbaring lemah diranjang.Mereka larut akan kesedihan masing masing.Stev masih enggan melepas tangan aura,ares masih termenung melihat stev dan juga aura,lalu kevin yang memerhatikan ketiganya sejak tadi dan juga aura yang tampak mulai menunjukkan tanda tanda bahwa ia akan sadar.


     Jari jari yang sejak tadi digenggang erat oleh stev sedikit menunjukkan pergerakannya walau pelan dan juga mata yang tadinya terpejam kini sedikit terbuka secara perlahan.Stev yang melihat hal tersebut segera meminta kevin untuk memanggil dokter yang menangani aura.Dengan tampang yang masih terkejut kevin bergegas keluar ruangan demi mencari dokter sedangkan ares yang terkejut hanya mampu diam terpaku di tempatnya menyaksikan bagaimana stev dengan tangisannya mengucapkan kata syukur dan terus mengecup dahi dan juga tangan aura.Ia menatap sendu keduanya.Hatinya remuk melihat bagaimana stev memeprlakukan sang pujaan hati.


     Tak berselang lama setelah kevin keluar dokter datang dengan seorang perawat untuk mengecek keadaan aura.


"Mohon maaf,tuan tuan silahkan tunggu diluar."ujar si perawat meminta ketiganya keluar dari ruangan aura.


"Tapi sus."bantah stev namun segera kevin menariknya keluar dari ruangan.


"Biarkan mereka menangani aura."ujar kevin sebelum menyeret stev keluar dengan paksa yang diikuti oleh ares dibelakangnya.


     Cukup lama mereka menunggu diluar sampai dokter keluar dari ruang rawat aura beserta dengan suster yang tadi.Mereka tampak berbicara sebentar sebelum si suster pergi meninggalkan sang dokter.


"Bagaimana keadaan aura dok?"serobot stev lebih dulu dari yang lain.Tampaknya ia benar benar khawatir dengan keadaan gadisnya.Gadisnya ehh


"Saya punya kabar bagus untuk kalian.Pasien sudah sadar dan keadaannya mulai membaik."jelas si dokter membuat ketiganya menghelan nafas senang.


"Emm...apakah kami boleh masuk dok?"tanya kevin dengan raut kelegaan uang menghiasi wajahnya.


"Oh..tentu.Tapi saya harap untuk tidak mengganggu istirahat pasien."tutur si dokter sebelum meninggalkan mereka.


     Setelah kepergian sang dokter,stev segera bergegas masuk ke dalam diikuti oleh ares dan juga kevin.Disana mereka melihat aura yang tengah memandang keluar jendela.Melamunkah?

__ADS_1


"Hon."panggil stev mengagetkan aura.


"Stev."ujar aura dengan suara yang parau.


"Apa yang sebenarnya terjadi ra?"bukan suara stev yang terdengar melainkan suara kevin yang terdengar.


     Bukannya menjawab aura malah memilih mengalihkan pandangannya kearah lain yang sialnya malah bertabrakan dengan mata coklat madu milik ares yang kini tengah memandangnya dengan pandangan yang entah apa artinya itu.Ia tak tau.


"Ares.."guman aura pelan namun terdengar oleh mereka bertiga.


"Ya."ujar ares menyauti gumanan aura.


"Bisa kalian keluar.Kecuali kevin."pinta aura sambil melihat kevin dengan pandangan yang memohon dan juga sedikit berair.


"Ada yang mau gue omongin ama kevin."ujar aura dingin sambil memandang ares datar.


"Hon.Kamu bisa ngomong sekarang."kekeh stev tak ingin keluar.


"KELUAR."ujar aura dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk mereka meremang.


     Mendengar hal itu,dengan setengah hati mereka berdua meninggalkan aura bersama kevin.Setelah melihat stev dan kevin keluar dari ruangan aura langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada kevin.Kevin yang mendengar hal utu dibuat kaget,kesal dan juga sedih..tapi entahlah ia pun tak tau bagaimana perasaannya saat ini.


"Gue harus gimana kev.Gue sayang ama stev tapi disatu sisi gue juga sayang ama ares."ujar aura dengan suara yang bergetar menahan tangisannya.

__ADS_1


"Gue beneran bingung kev.Gue bingung."ujar aura mulai menangis.Dengan sekali tarik aura sudah berada dalam dekapan kevin.


"Stttt...lo harus tenang ra."kevin berusaha menenangkan aura dengan memberikan elusan di punggung dan juga pelukan yang semakin ia areatkan guna menenangkan aura.


~Apa gue harus bilang kalo stev juga sayang ama elo ra~batin kevin sambil memberikan beberapa kecupan dipucuk kepala aura.


"Ra."panggil kevin sambil melonggarkan pelukannya.


"Liat gue."perintah kevin membuat aura mendongakkan kepalanya melihat tepat dimanik yang sama dengannya.Manik hitam sehitam arang.


"Stev juga SUKA ama elo."


     Bukannya berhenti menangis aura malah makin menagis sejadi jadinya.Tentu saja kevin menjadi panik melihat sungai yang makin deras mengalir dari manik aura.


"Hiks...hiks..keluar...hiks.."ujar aura sambil menangis dengan kedua tangan yang *** rambutnya kasar.


"Tap.....


"KELUARR!!!"jerit aura kencang.Mendengar jeritan aura kevin segera pergi meninggalkan ruangan aura.Sebenarnya ia enggan meninggalkan aura apalagi dalam kondisi seperti itu tapi ia rasa aura butuh waktu untuk sendiri.


"Gue musti gimana hikss.."tanya aura pelan sangat pelam bahkan hanya ia dan juga tuhan yang tau apa yang baru saja ia ucapkan.


"Ibu...rara harus gimana?"gumannya sambil memukul dadanya pelan seakan akan ada sesuatu yang membuat ia merasakan sakit dan sesak didadanya.Ini salahnya.Seharusnya ia tak membiarkan hatinya bercabang.Lihat akibatnya sekarang,ia bingung sebenarnya hatinya untuk siapa?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2